Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

VAN DER TUUK

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:16 am
Tags: , ,

Van der Tuuk dikenal sebagai manusia eksentrik. Tinggi dan berat badannya berukuran super, yang menjadikannya cukup menonjol bahkan di kalangan bangsanya sendiri. Pria ini lahir di Malaka pada tahun 1824 dari seorang ayah Jerman dan ibu, yang menurut Van Der Tuuk, adalah keturunan Alfonso D’albuquerque. Van der Tuuk adalah seorang ahli bahasa Arab dan Sansekerta. Kepintarannya mempelajari bahasa menyebabkan dia dipilih oleh Kongsi Bibel (Nederlands Bijbelgenootschap) menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Batak, yang menurutnya merupakan “suatu pekerjaan yang tidak disukainya.”

Perkenalannya yang pertama dengan aksara Batak dimulai di London. Di tempat ini, dia meneliti sejumlah tulisan dari kulit kayu. Pada tahun 1849, dia bertolak ke Batavia dan selanjutnya menuju ke Padang. Dari Padang, beliau melanjutkan perjalanan menuju Barus karena tempat itu cukup memadai untuk mempelajari bahasa dan tulisan Batak. Dia juga sering pergi ke Sipirok dan Penyabungan dan di sana dia bertemu dengan Raja Lambung yang memberikan keterangan bahwa pusat kerajaan Batak ada di kampung Bakkara di pinggir Danau Toba. Juga, cerita tentang keindahan danau ini didengarnya dari Raja Lambung. Van der Tuuk belum mengenal siapa Raja Lambung dan Raja Lambung sendiri tidak pernah memberi tahu siapa dirinya.

Pada awalnya, banyak orang menduga bahwa van der Tuuk ingin mempelajari ilmu perdukunan karena hanya ilmu inilah satu-satunya yang diketahui orang Batak. Dia begitu rajin membuat catatan. Bahkan, “lidahnya juga ikut menulis,” demikian kata orang karena van der Tuuk mempunyai kebiasaan mengigit-gigit pensil. Di kalangan orang Batak, dia dikenal sebagai si balga igung karena, selain badannya, juga hidungnya berukuran besar. Akan tetapi, dia lebih dikenal sebagai Si Pandoltuk (Tukang Gebuk) karena, selain bunyi julukan mirip dengan bunyi van der tuuk, dia selalu membawa tongkat untuk mengusir hewan-hewan perliharaan orang Batak yang mendekat kepadanya. Kepada orang Batak, dia memperkenalkan diri sebagai Si Raja Tuk. Dalam bahasa Batak, kata tuk berarti mampu. Sebagaimana dia katakan sendiri, dia cukup mampu membantu orang Batak dari tipu daya orang-orang pesisir¾Padang dan Melayu¾yang berprofesi sebagai pedagang. Para pedagang ini sering memperdaya mereka dalam jual-beli. Hasil bumi dari pedalaman sering dihargai sangat murah sementara barang kebutuhan sehari-hari dijual dengan harga yang sangat tinggi. Ketika itu, cap orang Batak sebagai orang bodoh dan bebal masih sangat kental.

Untuk mempermudah dirinya berkomunikasi, dia membuka sebuah warung kecil didepan rumahnya yang, menurut sahabat yang pernah mengunjunginya, tidak lebih baik daripada kandang sapi. Bagi orang Batak yang membeli sesuatu dari warungnya, harganya sering dibuat lebih murah sehingga orang-orang Batak tertarik untuk berbelanja. Orang-orang sering heran, karena orang yang berbelanja selalu diajak mengobrol dan dia tidak lupa mencatat kata-kata yang tidak dimengertinya. Lebih mengherankan lagi, kalau ada orang yang dapat menuliskan cerita-cerita yang diketahuinya, dia berani membayarnya dengan uang yang jumlahnya lumayan besar.

Dari orang-orang Batak yang sering datang kepadanya, dia mendengar cerita tentang ‘seorang raja yang terkenal sakti,’ yang bermukim di Bakkara. Orang-orang tidak berani menatap mata raja ini dan bahkan menyebut namanya saja dianggap tabu. Hal ini mendorongnya untuk pergi ke Bakkara guna bertemu dengan raja tersebut. Kepergian itu juga didorong oleh keinginannya untuk melihat Danau Toba, yang juga dia dengar sebagai danau yang sangat indah. Keinginan kerasnya ini menyebabkan ada sangkaan bahwa van der Tuuk sebenarnya adalah Raja Lambung yang ingin menuntut haknya sebagai raja di Bakkara. Salah sangka ini pulalah yang menjadi sumber kesalahpahaman ketika van der Tuuk diterima langsung oleh Raja Si Singamangaraja di Bakkara.

Pada awalnya, van der Tuuk berharap akan tinggal lama di Bakkara. Dengan bekerja langsung di jantung Tanah Batak, dia yakin bahwa dirinya akan dapat mengerjakan tugasnya dengan lebih mudah. Namun, sayangnya, keinginannya itu tidak terwujud karena dengan terpaksa, pada suatu malam yang gelap, dia harus angkat kaki dari Bakkara. Tentang peristiwa ini, berikut ini dikutip tulisan W.A. Brassem yang dimuat dalam majalah Gema, Tahun II, November 1962:

“Soal yang kedua ialah, oleh sesuatu yang tidak jelas diketahui, orang percaya, bahwa ‘Si Pan Dor Tuk’ sebetulnya adalah putera Raja Batak, tidak kurang dari Raja Lambung sendiri. Raja Lambung ini ialah saudara yang lebih tua dari Raja Si Singamangaraja yang berkuasa pada masa itu (Raja Pendeta Gaib dari orang Batak). Pada suatu ketika, Raja Lambung ini tertawan pada suatu serangan orang-orang Melayu yang beragama Islam dari Selatan dan dibawa lari. Dialah sebetulnya yang berhak atas takhta kerajaan Raja Si Singamangaraja. Inilah sebabnya juga, ketika van der Tuuk kemudian sebagai orang Eropa yang pertama mengadakan perjalanan ke Danau Toba, dia dimusuhi oleh Raja Si Singamangaraja yang ketika itu bertakhta di Bakkara.

Sebenarnya kesalahpahaman itu juga timbul akibat kesalahan van der Tuuk. Dia sering menyebut dirinya Si Raja Tuk seperti yang biasa dia lakukan dalam memperkenalkan diri. Tuk gogo na berarti mampu untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain. Orang Batak percaya bahwa orang yang mempunyai kemampuan seperti itu hanyalah Raja Si Singamangaraja. Inilah sumber kesalahpahaman tersebut. Pengertian tuk gogo na inilah yang ditafsirkan dengan keliru. Orang Batak menduga van der Tuuk adalah Raja Lambung yang, dengan mengubah wujud aslinya, datang untuk menuntut haknya sebagai raja di Tanah Batak. Raja Si Singamangaraja yakin dengan hal itu.

Untuk mencegah terjadinya perebutan takhta, suatu rencana akhirnya disusun untuk membunuh van der Tuuk. Rencana itu ternyata bocor sehingga, di tengah malam yang gelap gulita, diam-diam van deer Tuuk meninggalkan Bakkara dengan perasaan sedih. Dia merasa sedih bukan karena apa-apa, tetapi karena tadinya dia berpikir bahwa di tempat ini dia akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Namun, akhirnya van der Tuuk dapat juga menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya dengan sangat baik. Banyak karya van der Tuuk sekarang tersimpan di perpustakaan di Belanda. Di samping terjemahan Bibel dalam Bahasa Batak, dia juga menyusun kamus bahasa Batak–Belanda dan tata-bahasa Batak yang pertama. Di samping itu, dia mengumpulkan banyak bahan tulisan, termasuk cerita-cerita rakyat dan juga aji-ajian para dukun.

Selain mempelajari bahasa Batak, van der Tuuk juga ditugaskan untuk mempelajari bahasa Lampung dan Sunda. Terakhir, dia ditugaskan untuk mempelajari bahasa Bali dan tinggal di Buleleng. Karena suka bekerja keras, walaupun usianya sudah lanjut dan hidup tidak teratur, dia akhirnya jatuh sakit. Dia dibawa ke Surabaya untuk menjalani pengobatan, tetapi sayangnya pada tanggal 16 Agustus 1894 dia meninggal dunia.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: