Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

SEJAUH MANA PENGARUH PERUBAHAN ITU?

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:41 am
Tags: ,

Perubahan yang begitu cepat, mengilhami penulis lagu dengan menciptakan lagu rakyat SITARADINGDANG. Syairnya, nunga mumpat angka talutuk, nunga sega gadu-gadu, menggambarkan kegalauan akan perubahan tersebut. Menurut syair lagu tersebut, segala sudah berubah, tidak ada lagi pembatas (talutuk-gadu2) hingga timbul ke khawatiran. Tetapi, benarkah ?

Harus diakui bahwa perubahan itu, berlangsung dengan sangat cepat. Dan harus diakui pula tatanan hidup orang Batak, sangat banyak berubah. Akan tetapi perubahan tersebut hanya menyentuh kulit luarnya saja. Sisi paling dalam kehidupan orang Batak, terutama adat dan budayanya, masih tetap berjalan sebagaimana biasa. Kita ambil contoh suatu perkawinan, tata cara adat lebih mendominasi upacara pemberkatan yang dilakukan di gereja. Walaupun upacara pemberkatan di gereja dilakukan lebih dulu, segera sesudahnya keluarga kedua mempelai mengimbau sanak famili dengan sapaan, “Asa rap udur ma hita, marindahan na las dohot minum aek sitio-tio, huhut manggarar adat na hombar tusi” (Agar semua kerabat makan dan minum bersama dan kemudian melaksanakan upacara adat yang dimaksudkan, untuk membayar adat sehubungan dengan perkawinan tersebut). Upacara adat perkawinan ini penuh dengan pernak-pernik yang membutuhkan banyak waktu dan biaya.

Dengan perkataan lain, perubahan tersebut tidak membawa akibat yang mendalam bagi kehidupan adat dan budaya orang Batak karena mereka masih tetap memegang prinsip-prinsip seperti yang tertuang di bawah ini. Prinsip-prinsip hidup tersebut tertuang dalam bentuk umpasa-umpasa yang telah diwarisi secara turun-temurun:

Sinuan bulu sibahen na las, sinuan adat sibahen na horas.

Ini adalah umpasa orang Batak tentang betapa pentingnya adat. Hanya dengan berpegang teguh pada adat inilah orang Batak percaya, kehidupannya akan sejahtera. Akan tetapi, apakah adat orang Batak itu? Adat ialah aturan tingkah laku yang mengatur hak dan kewajiban orang-perorang ketika ia berada dalam kelompoknya dan juga ketika ia berhadapan dengan kelompok lain di luar kelompok sendiri. Kelompok sendiri disebut sebagai na mardongan tubu dan kelompok lain disebut sebagai hula-hula dan tau boru. Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang telah mereka warisi turun-temurun. Sepanjang menyangkut sikap berdasar kasih ini, sama sekali tidak ada perubahan yang dilakukan oleh gereja.

Ia ojakan ni adat i ma marga, ndang hataan adat ia so marojahan tu marga.

Maksudnya ialah marga adalah dasar dari adat. Tidak ada yang dapat dibicarakan dalam adat, apabila marga-marga tidak ada sebagai landasannya. Maka bilamana seorang tidak setuju dengan adat, yang harus dilakukan ialah tidak mencantumkan marga dalam namanya. Marganya harus dibuang jauh-jauh karena, karena sepanjang seseorang masih menggunakan marga, ia akan tetap terikat dengan kelompoknya dan marga lain, setidaknya marga keluarga ibu yang melahirkannya.

Inilah faktor yang penyebab, apabila seorang anak hendak kawin dengan seorang pria atau wanita dari suku non-Batak, bila perkawinan akan dilaksanakan menurut tata cara adat, hal pertama yang harus dilakukan ialah memberikan marga kepada calon pasangan tersebut. Bila yang akan diberi marga tersebut adalah laki-laki (mangain anak), biasanya marga yang diberikan adalah marga boru (marga saudara perempuan bapak). Apabila calon pengantin tersebut adalah wanita (mangain boru) maka marga yang diberikan adalah marga hula-hula (marga saudara laki-laki ibu)

Persoalan akan sedikit rumit, bila yang akan di ain (yang diangkat) calon pengantin pria. Bila hal itu yang terjadi, maka persetujuan dari saudara-saudara, juga persetujuan dari kelompok ompu na mar haha-mar anggi sangat diperlukan. Acara untuk hal ini harus dibuat secara khusus, dimana hula-hula dari sang bapak angkat juga hadir dan memberi ulos kepada berenya (tubu magodang-lahir sudah besar). Tata cara yang sama berlaku juga untuk seorang calon pengantin wanita, akan tetapi karena marga yang disandang tidak dipakai dalam keseharian, upacaranya dapat dilakukan secara sederhana.

Si sada somba, si sada raga-raga; si sada hasangapon, si sada hailaon.

Ini adalah prinsip orang Batak dalam membina kesatuan marga. Karena itu, merombak sikap hidup yang mereka warisi tersebut akan sangat sulit sepanjang orang Batak masih menggunakan marga sebagai suatu identitas kelompok. Kelompok ini saling mempunyai keterkaitan dengan kelompok lain entah sebagai akibat perkawinan diri sendiri atau perkawinan ayah dan saudara ayah. Di kalangan kelompok marga sendiri, orang-orang Batak harus saling asih dan saling asuh. Alasannya ialah karena apa pun yang terjadi dalam diri seseorang, selalu ditekankan bahwa ai si sada somba, si sada raga-raga, si sada hasangapon, si sada hailaon do na mardongan tubu. Artinya, semua yang terjadi dalam diri kita, suka atau duka adalah milik bersama.

Karena itu, sebesar apa pun silang-sengketa yang timbul di kalangan orang-orang satu marga, selalu diupayakan penyelesaiannya. Orang-orang yang bersaudara dalam satu marga diibaratkan sebagai tampulon aek (air yang ditebas). Hubungan mereka tidak akan pernah putus, bagaikan air yang ditebas dengan golok atau pedang, setajam apa pun.

Anak do hamatean, boru hangoluan.

Ungkapan ini bicara tentang kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan dalam satu keluarga. Mengapa orang Batak selalu mendambakan anak laki-laki? Alasan yang pertama ialah perannya sebagai penerus keturunan karena anak laki-lakilah yang dapat melanjutkan tarombo dalam marganya. Alasan yang kedua ialah karena, apabila seseorang meninggal dunia, dia harus meninggal di rumahnya sendiri di hadapan anak laki-lakinya dan tidak boleh di rumah anak perempuannya. Anak perempuan (boru) memang berkewajiban untuk membantu, apabila orang tuanya sudah tua dan sakit-sakitan, tetapi tugasnya hanya terbatas di situ. Begitu juga, apabila orang tuanya meninggal dunia, biasanya sebagian biaya menjadi beban boru. Itulah sebabnya dikatakan boru hangoluan. Biasanya, boru melakukan tugas-tugas ini dengan harapan bahwa Tuhan akan memberi berkat yang lebih kepadanya, karena ia sudah melakukan kewajibannya menghormati orang tuanya.

Julu ni mual sipatio-tioon, tanduk ni ursa sipausa-usao.

Inilah ungkapan orang Batak yang memberikan gambaran tentang sikap terhadap hula-hula. Bagi orang Batak, hula-hula adalah sumber berkat, bagaikan mata air yang harus dijaga kebersihannya. Apabila mata air dikotori, air yang dialirkan pun akan kotor sehingga tidak dapat lagi diminum. Setiap orang harus menjaga agar sumber air minum tersebut tidak kotor. Tanggung jawab yang utama dalam hal ini ada di pihak boru. Karena itu, boru mempunyai kewajiban untuk menjaga kehormatan keluarga mertuanya. Artinya, apabila ada sesuatu yang kurang atau diperlukan, boru akan melakukan apa pun demi menjaga kehormatan itu. Dengan demikian orang Batak percaya, dia akan memperoleh berkah yang berkelimpahan. Sering terjadi, seorang yang hidupnya susah dan sering berdoa kepada Tuhannya akan tetapi karena hidupnya terus dirundung susah, kembali menilik perlakuannya terhadap hula-hulanya. Adakah sesuatu yang kurang?

Si soli-soli do adat; siadapari gogo;

Ini adalah suatu prinsip dalam memberi dan menerima dalam satu acara adat. Bagi orang Batak, adat bukan semata-mata menyangkut perkawinan, sejak dilahirkan dan bahkan sampai meninggal pun, orang Batak tetap terikat pada adat. Karena itu, apabila seseorang tidak ingin tersisih dari masyarakat adat, dia harus menggeluti adat ini dan hadir dalam acara-acara keluarga, khususnya acara yang menyangkut adat. Pada saat hadir, dia akan memberikan sesuatu yang sudah ditetapkan dalam aturan adat, bergantung pada kedudukannya pada waktu itu. Ada orang yang membawa beras (boras si pir ni tondi), ada yang membawa ikan (dengke si mudur-udur), dan ada yang memberi sumbangan dalam bentuk uang (tumpak) dan ada yang memberi ulos. Semuanya itu dicatat karena, apabila suatu waktu nanti orang yang memberikan itu mengundang orang yang sedang menyelenggarakan acara adat, dia akan menerima kembali minimal senilai yang sudah pernah diberikannya.

Aturan main itulah yang ingin diungkapkan oleh prinsip ai dos do nangkokna, dos do nang tuatna; si soli soli do adat, siadapari gogo (naik atau turun sama saja karena, apabila hari ini kita menerima adat, besok kita harus membayarnya). Inilah yang disebut adat, suatu pola tingkah laku yang mengatur hak dan kewajiban seseorang dalam hubungannya dalam kelompok sendiri maupun dengan kelompok di luarnya. Karena dilakukan berdasarkan kasih, gereja merasa tidak perlu membatasinya.

Asing dolok, asing do duhut na; asing luat, asing do nang adat na.

Ungkapan ini ingin menandaskan bahwa adat sebagai suatu norma berlaku umum pada seluruh puak Batak. Yang berbeda ialah tata caranya dalam mengimplementasikannya, yang berlainan di masing-masing wilayah. Di wilayah Toba misalnya, menurut tata cara yang sudah dibiasakan, pihak keluarga pengantin wanita (hula-hula) memberi ulos kepada pihak keluarga pengantin laki-laki (boru). Sebaliknya, di wilayah Pakpak (Dairi), pihak boru memberikan ulos kepada hula-hula-nya. Apakah orang Toba akan mencap orang-orang yang berasal dari Pakpak (Dairi) sebagai orang yang tidak beradat? Prinsip asing dolok, asing do nang duhut na; asing luat, asing do nang adat na (masing-masing wilayah mempunyai adat-kebiasaan tersendiri) merupakan solusi dalam perbedaan tersebut. Dalam hal seperti ini, berlaku juga prinsip yang mengatakan bahwa si dapot solup do na ro, yang berarti bahwa, si pendatang sendirilah yang harus menyesuaikan diri dengan adat yang berlaku di wilayah setempat.

Aek godang, tu aek laut; dos ni roha do sibahen na saut.

Menurut pepatah Melayu: Bulat air dalam pembuluh, bulat kata dalam mufakat. Adat adalah suatu kesepakatan, artinya dalam hal-hal tertentu, adat itu dapat menyesuaikan diri pada situasi dan lingkungan. Kita tidak dapat memaksakan satu hal, bila situasinya tidak memungkinkan. Kalau sesuatu itu akan memberatkan suhut, tidak ada salahnya diambil kebijakan.

Tata cara adat harus tetap pada prinsip ai sinuan bulu sibahen na las, sinuan adat sibahen na horas,- artinya, adat itu dibuat dengan maksud agar si pelaku adat melakukannya dengan penuh bahagia. Prinsip-prinsip inilah yang sejak lama telah dianut para leluhur orang Batak, sehingga adat dapat bertahan di bawah gempuran segala pengaruh, termasuk pengaruh modernisasi. Selalu diusahakan agar tata cara adat, tidak memberatkan orang yang kurang mampu. Karenanya orang tua berkata lata pe na lata, duhut-duhut do sibutbuton, hata pe ni pa hata, hata ni suhut do si unduk on.

Artinya apa pun yang dibicarakan, pedomannya adalah kemampuan suhut. Bila suhut mampu, tidak ada masalah, akan tetapi bila suhut kurang punya kemampuan, jangan dipaksakan. Hanya dengan acuan ini, adat yang telah dimulai oleh leluhur (pinungka ni parjolo) akan dapat bertahan langgeng, tidak lekang oleh panasnya matahari dan tidak luntur karena hujan (tu ari so ra biltak, tu aek so ra mengge). Karena adat bagi orang Batak adalah sesuatu yang perlu di lestarikan, sebagai identitas diri, yang patut dibanggakan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: