Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

PERPECAHAN KETURUNAN SORBA DIBANUA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 10:48 am
Tags: , ,

1. Munculnya Kelompok Sobu, Sumba dan Pospos

Pada awalnya, Sorba Dibanua mempunyai seorang isteri. Dalam buku-buku tarombo dikatakan bahwa, dari isterinya Anting Malela, dia memperoleh lima anak: Sibagot Nipohan, Paittua, Silahi Sabungan, Siraja Oloan, dan Juara (Huta Lima). Dapat dikatakan bahwa, dari segi keturunan, Sorba Dibanua adalah orang na gabe karena ukuran hagabeon dalam adat Batak adalah keturunan yang banyak.

Bila dari segi hagabeon ini, tidak ada alasan bagi Tuan Sorba Dibanua untuk kawin lagi. Menurut adat, hanyalah apabila seseorang tidak mempunyai keturunan laki-laki dibenarkan kawin. Akan tetapi, walau Sorba Dibanua punya banyak anak, dia kawin lagi dan hal ini menjadi penyebab hubungan antara isteri pertama bersama anak-anaknya di satu pihak dan isteri kedua bersama anak-anaknya di pihak lain menjadi renggang.

Ada cerita yang berkembang tentang perkawinan ini. Suatu ketika, Tuan Sorba Dibanua jatuh sakit. Berbagai ramuan telah diminum, tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh. Kemudian, isterinya memanggil namboru-nya yang berprofesi sebagai sibaso. Sibaso adalah tukang urut yang membantu seorang ibu pada waktu melahirkan. Lewat urut-mengurut ini, Tuan Sorba Dibanua akhirnya jatuh hati kepada sibaso tersebut. Hubungan pun berlanjut, bukan lagi sebatas antara pasien dan sibaso, tetapi lebih dari itu. Mereka melanjutkannya ke jenjang perkawinan.

Perkawinan kedua Sorba Dibanua menyebabkan hubungan kekeluarga antara kedua wanita tersebut menjadi tidak lagi jelas, karena isteri muda tersebut masih kerabat dekat isterinya atau lebih tepatnya namboru nya. Bagaimanakah Anting Malela memanggil isteri muda ini? Kalau dia memanggilnya sebagai adik, tidak mungkin, karena isteri muda tersebut adalah saudara perempuan ayahnya, atau namboru-nya. Kalau dia memanggilnya namboru, lebih tidak mungkin karena namboru-nya telah menjadi isteri muda suaminya. Hal ini menyebabkan hubungan di antara keduanya serba salah. Inilah penyebab hubungan kekeluargaan mereka dirasakan pahit (paet). Sejak itu, isteri kedua ini dikenal dengan panggilan Siboru Baso Paet. Jadi, tidak seperti yang dikatakan “orang yang sok pintar” bahwa Siboru Baso Paet adalah puteri Majapahit hanya karena ada kata paet dalam nama panggilan boru baso paet.

Untuk menjaga agar hubungan keduanya tetap berjalan dengan harmonis, Sorba Dibanua membuka perkampungan baru di Lumban Gala-gala. Di sinilah isterinya yang kedua ditempatkan, sedangkan isterinya yang pertama bersama anak-anaknya masih tetap tinggal di Lumban Gorat, Balige. Dari isterinya yang kedua tersebut, Tuan Sorba Dibanua memperoleh tiga anak: Sobu, Sumba, dan Pospos. Tuan Sorba Dibanua tetap berupaya untuk mengakrabkan putera-puteranya dari kedua isteri tersebut dengan cara bermain bersama, terutama dalam ilmu bela diri. Sayangnya, hal ini pulalah yang menjadi sumber malapetaka.

Ada beberapa versi yang tercatat tentang pertikaian di antara kedua keluarga satu ayah ini, yang menyebabkan mereka menyingkir ke tempat yang jauh. Versi pertama, menurut Wasinton Hutagalung, berkaitan dengan suatu kecurangan. Dalam latihan perang-perangan, Juara melakukan kecurangan dengan mengisi pimping yang menjadi senjatanya dengan besi. Senjata ini dilemparkan Juara, lalu ditangkap saudaranya dari keturunan isteri kedua, kemudian dilemparkan lagi ke arah Juara. Tidak disangka-sangka, pimping yang berisi besi ini menembus mata Juara. Konon, luka di mata inilah yang menjadi penyebab kematian Juara kemudian hari. Untuk menghindar dari dendam keturunan isteri pertama, keturunan isteri kedua pindah ke Humbang dan kemudian bermukim di sana. Sebagian keturunan isteri kedua ini kemudian pergi ke arah Porsea.

Versi lain, yang ditulis oleh Raja Patik Tampubolon dalam bukunya Pustaha Tumbaga Holing, berisikan kisah yang berbeda tentang kepindahan keturunan isteri kedua tersebut. Dalam bukunya, Raja Patik antara lain mengatakan, “Jolma na bisuk do Sibagot Nipohan, pangoloi jala porasi roha. Ala ni bisuk na do umbahen buhar borngin pinompar ni Boru Baso Paet sian tano Balige Raja. Ndang dohot porang manang bada, angkal do dibahen ibana asa sampak mudar ni nasida sahuta i, ndang pola dilele, nunga laho maringkati.” Artinya, Sibagot Nipohan adalah orang yang pintar dan baik hati. Kepintarannya itu digunakan untuk menakut-nakuti keturunan Baso Paet sehingga mereka meninggalkan Balige Raja, bukan karena permusuhan atau perang. Dengan akalnya, dia menakut-nakuti keturunan Baso Paet sehingga mereka lari terbirit-birit. Inilah kebaikan hati versi Raja Patik.

Apa pun versinya, yang jelas keturunan Siboru Baso Paet dengan terpaksa minggat ke tempat jauh dan bermukim di sana semata-mata untuk mencegah pertikaian di antara mereka yang bersaudara tiri. Keturunan Siboru Baso Paet, sebagaimana ternyata kemudian menjadi marak, sekarang telah mengisi wilayah-wilayah kosong sampai ke Dolok Sanggul dan Parlilitan/Dairi.

Belakangan ini timbul persoalan. Dari wilayah Dairi, muncul kelompok marga yang mengaku sebagai keturunan Jor Parliman. Mereka adalah marga Maha dan Sambo, yang menurut pengakuannya adalah keturunan Siraja (Juara) Huta Lima dari Toba. Hal ini membuat ahli tarombo geger karena, di Toba, dikabarkan bahwa Raja (Juara) Huta Lima telah mati muda tanpa keturunan. Muncul dugaan bahwa Juara yang memang suka bertualang ini telah kawin di tempat lain tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Pada waktu dia pulang ke Balige, karena rindu dengan kampung-halaman, dia juga bermaksud untuk memberitahukan bahwa di perantauan dia telah berumah tangga. Sayangnya, kepulangannya hanyalah untuk mengantarkan nyawanya tanpa sempat memberitahu kepada saudara-saudaranya tentang perkawinan itu. Kemungkinan besar, sewaktu pulang ke Balige, Juara tidak tahu bahwa dalam rahim isterinya telah ada janin. Anak Juara ini kemudian diberi nama Jor Paliman, yang menurunkan dua marga besar di Dairi: Maha dan Sambo.

2. Munculnya Kelompok Paittua, Silahi Sabungan

dan Raja Oloan

Pohan, anak sulung Tuan Sorba Dibanua, terkenal keras. Itulah sebabnya mengapa namanya diimbuhi dengan bagot (enau, yang memang pohonnya keras) sehingga, di Toba, nama ini dikenal sebagai Sibagot Nipohan, sementara di wilayah lain nama Pohan tetap digunakan. Sejak kecil, Pohan membimbing adik-adiknya dengan sangat keras. Karena abangnya bersikap keras, mereka tidak berani untuk membantah. Sebenarnya, hal ini jugalah yang menyebabkan keluarga Siboru Baso Paet meninggalkan Balige Raja. Kepergian anak-anak yang disayanginya ini menyebabkan Sorba Dibanua masygul. Usianya yang sudah uzur membuat dirinya menjadi rentan sehingga dia jatuh sakit. Melihat hal ini, Pohan menyuruh adik-adiknya mencari ramuan untuk dijadikan obat. Mereka bertiga¾Paittua, Sabungan dan Oloan¾pergi ke dalam hutan untuk mencari ramuan yang dimaksud.

Cukup lama mereka berkeliling di hutan tetapi ramuan yang dimaksud tidak juga ditemukan. Karena sudah lama berada di hutan tanpa hasil, mereka memutuskan untuk pulang dengan risiko bahwa mereka akan mendapat amarah abang mereka Pohan. Setiba di kampung, Paittua dan kedua saudaranya sangat terkejut. Mereka melihat orang ramai; sebagian sedang menggulung tikar dan sebagian lagi merapikan perangkat gendang. Sewaktu ketiganya bertanya tentang apa yang sedang terjadi, jawabannya lebih mengejutkan lagi: “Pohan baru saja selesai mengadakan pesta untuk memberikan sulang-sulang (makanan) kepada ayahandanya Sorba Dibanua.” Kalau tadinya mereka takut akan dimarahi karena tidak membawa ramuan yang dicari, keadaannya pun berbalik. Paittua bersama kedua saudaranya marah kepada Pohan dan memprotes kejadian tersebut. Mereka menuduh Pohan sengaja menyuruh mereka masuk hutan untuk menyingkirkan mereka. Inilah dialog di antara mereka, yang dikutip dari buku Sejarah Batak, karya Batara Sangti dengan gelar Ompu Buntilan Simanjuntak:

Paittua dan Adik-adiknya:

Na so uhum do ale hahang pambahenan mi. Ia hami burju roha nami mangoloi hatam laho mangalap pulung-pulungan tu harangan, hape hami do huroha na naeng pasiding-sidingon mu, unang dohot hami margondang. Asa molo tung hombar do i nuaeng pembahenan mi tu adat dohot uhum maradophon hami anggim, ba rap horas ma hita. Alai anggo na mangalaosi do ho antong di si, di adat dohot uhum ni Ompunta dohot Amanta, ba tung ho ma na sari di si.”

Sibagot Nipohan:

“Olo anggia, taringot tu sarita muna i, ba alusanku ma jolo tutu. Taringot tu si, ba ndang ahu na sala di si, asa hamu do na sala, ai malelenghu do hamu asa ro. Tangkas do hu paboa na baru on tu hamu, tingki ni horja i, jala hudok asa tibu hamu ro, ha pe malambathu do hamu. Molo tung na so jumpa hamu nian pulung-pulungan i, ba tibu hamu mulak paboahon, asa boto on marhusari. Ianggo on, dung jolo salpu horja asa mulak hamu, asa ndang ahu na sala di si. Alai datik pe hudok songon i, ba na sihol do ahu anggia maranggi. Ba pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi, na tading niulahan, na sega tapauli. Taulakhon pe mangan horbo santi sahali nari.”

Diaolog di atas diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:

Paittua dan Adik-adiknya:

Abang, sungguh tidak patut tindakanmu ini. Engkau suruh kami masuk hutan untuk mencari ramu-ramuan, tetapi rupanya itu engkau sengaja untuk menjauhkan kami, agar engkau sendiri berpesta (margondang, penulis). Kalau memang tindakanmu ini sesuai dengan adat dan hukum, mudah-mudahan kita selamat. Akan tetapi, apabila tindakanmu itu tidak benar, biarlah engkau sendiri yang menanggung akibatnya.”

Sibagot Nipohan: “Tentang penyesalan kalian, baiklah saya jawab. Dari jauh hari telah saya beritahukan tentang waktunya kita berpesta. Akan tetapi, kalian terlalu lama tinggal di hutan tanpa kabar. Kalau pun ramuan-ramuan tidak ditemukan, mengapa kalian tidak pulang saja dan kita cari jalan keluarnya. Namun, karena saya juga sayang kepada kalian, nanti acara seperti ini akan kita selenggarakan lagi.”

Apabila kita simak dialog di atas, ada perbedaan pendapat tentang pesta dan saat berpesta. Menurut Pohan, dari awal juga sudah diberitahukan mengenai hari pestanya. Paittua dan adik-adiknya malah tidak menyinggung hal itu dan mereka balik menuduh bahwa Pohan sengaja menyingkirkan mereka. Mereka kemudian meninggalkan Pohan dengan hati yang kesal. Akhirnya, mereka sepakat untuk pindah ke tempat lain karena Pohan sendiri tidak lagi menginginkan kehadiran mereka di Balige Raja. Sebagaimana diketahui, wilayah ini adalah daerah yang sangat subur dan letaknya yang berada di pinggir Danau Toba cukup menjanjikan. Di pinggiran danau terhampar dataran yang cukup luas yang dapat dijadikan sebagai areal persawahan. “Tanah ini kelak dapat diwariskan kepada anak-cucu,” begitu yang timbul dalam pikiran Pohan.

Walaupun berperilaku keras, ternyata Pohan mau mengalah. Dia tidak mau di cap adik-adiknya mau menang sendiri. Itulah sebabnya dia berkata: “ pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi, na tading ta ulahi, na sega ta pa uli yang berarti bahwa, apabila ada sesuatu yang terlupakan, kita masih dapat mengulanginya dan, apabila ada kesalahan, kita masih dapat diperbaiki. Pohan menyarankan agar suatu waktu diadakan lagi pesta horbo santi. Jawaban ini tidak berterima di hati Paittua dan adik-adiknya. Pesta dapat saja dilakukan kapan saja, tetapi apa dasarnya? Pohan menjawab bahwa pesta tersebut dapat dilakukan dalam rangka memindahkan tulang-belulang adik mereka Juara. Ini dianggap Paittua dan adik-adiknya sebagai sesuatu yang mengada-ada. Bagaimana mungkin tulang-belulang orang yang meninggal tanpa keturunan dipindahkan dengan acara memukul gendang dan memotong kerbau? Namun, mereka diam saja, tanpa membantah.

Akhirnya, setelah tiba waktu yang telah ditentukan, pesta pun segera akan dilaksanakan lagi. Pohan kembali menyuruh adik-adiknya mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Paittua mencari rotan untuk digunakan sebagai tambatan kerbau (borotan), Sabungan mencari kayu pilihan (haundolok) dan Oloan mencari dedaunan (sijagaron). Mereka kembali meninggalkan kampung, tetapi bukan terutama untuk mencari bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan yang diperintahkan abangnya. Mereka lebih dulu berkelana untuk mencari pemukiman baru yang dapat menjadi tempat mereka berpindah apabila suatu waktu mereka berpisah dengan abangnya. Tidak dijelaskan bagaimana cara mereka menelusuri tempat pemukiman baru tersebut, tetapi sebagaimana ternyata kemudian Paittua memilih tempat di Laguboti dan Oloan memilih tempat di Siogung-ogung, Pangururan. Sabungan yang belum menikah masih belum merasa penting untuk memilih tempat pemukiman. Dia memilih tetap tinggal untuk sementara bersama adik bungsunya Oloan di Siogung-ogung.

Setelah semua bahan pesta yang yang diminta oleh abang mereka dianggap sudah mencukupi, mereka pun pulang. Pohan sendiri memilih untuk berdiam diri walaupun dia merasa dongkol karena mereka begitu lama berada di tengah hutan, padahal bahan-bahan yang disuruh untuk dicari adalah bahan yang mudah ditemukan di mana-mana. Rasa dongkolnya dia pendam dalam hati. Dia hanya memerintahkan agar persipan untuk pesta segera dikerjakan. Pesta pun berlangsung, walaupun tidak begitu meriah. Namun, ketika tiba waktu pembagian jambar, terjadilah silang-selisih.

Paittua dan adik-adiknya menuntut agar seluruh jambar dibagi dengan sama rata. Sebaliknya, Pohan mengatakan bahwa bagian-bagian hewan kurban tertentu tidak boleh dibagi-bagi karena bagian tersebut adalah persembahan untuk para leluhur. Kedua belah pihak bersikukuh dengan pendiriannya dan tidak satu pun mengalah. Paittua dan adik-adiknya, yang memang sudah bertekad untuk pindah dari Balige Raja, memanfaatkan hal ini sebagai alasan. Sepertinya, mereka tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Perhatikanlah dialog berikut:

Sibagot Nipohan:

“Anggo angka parjambaran na ginoaran muna i, jambar ni suhut do i, jala sibahenon tu raga-raga, sipanganon horbo santi.”

Paittua dan Adik-adiknya:

“Ba na laho di ho do hape angka jambar i sasude. Anggo songon i do, ndang olo hami di si. Alani i, laho ma hami. Asa tung timus ni api nami pe, molo dompak ho ingkon intopan nami. Nang gaol nami pe, molo dompak ho jomba na, ingkon manigor tampulon nami. On pe, gabe i ma gabem, mago i ma magom, tung na so guru di ho be hami.”

Diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:

Sibagot Nipohan:

“Tentang bagian-bagian daging yang kalian minta, itu adalah hak tuan rumah, yang akan digunakan sebagai persembahan.”

Paittua dan Adik-adiknya:

“Oh, rupanya seperti itulah yang engkau inginkan, agar seluruh jambar menjadi milikmu. Karena itu, kami akan pergi. Sejak saat ini, urus sendirilah segala urusanmu dan jangan lagi kami diikutsertakan. Bahkan, apabila asap api kami mengarah padamu akan kami padamkan dan apabila jantung pisang kami mengarah padamu akan kami tebang.”

Paittua dan adik-adiknya pun mengemasi barang-barang mereka, lalu pergi menuju tempat yang semula telah direncanakan. Paittua memboyong keluarganya menuju Laguboti dan Oloan bersama keluarganya dengan ditemani abangnya Sabungan pergi menuju Siogung-ogung di Pangururan. Sejak kepergian mereka, kelompok ini masing-masing menjadi kelompok yang berdiri sendiri. Karena berpisah dengan jarak yang jauh, muncullah empat kelompok baru dalam keturunan Tuan Sorba Dibanua yaitu: Sipaettua, Silahi Sabungan, Siraja Oloan dan Sibagot Nipohan. Dan bagaimanakah kisah selanjutnya dari Sabungan yang menemani adiknya cukup lama di Siogung-ogung ? Inilah kisahnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: