Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

PENDATANG BARU DAN ATURAN-ATURAN BARU

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:30 am
Tags: , ,

Di antara sejumlah orang kulit putih yang datang ke Tanah Batak Utara, hanya dua orang, Lyman dan Munson, tidak mengecap ‘keramahtamahan’ orang Batak. Ingwer Ludwig Nommensen sendiri, semasa tinggal di Barus, didatangi enam orang raja Batak yang memintanya hadir di tengah mereka. Permintaan itu ditolak karena persoalan izin yang dihadapinya.

Ketika I.L. Nommensen berada di Tanah Batak, berkecamuk pula suatu penyakit yang ditingglkan oleh pasukan Paderi. Penyakit ganas itu yang penyebabnya belum diketahui, menyerang penduduk sehingga banyak kampung dipenuhi ratap tangis. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena penyakit itu datang dengan tiba-tiba entah dari mana. Banyak dukun dikerahkan tetapi mereka sendiri tidak luput dari serangan. Mereka menyebut penyakit ini begu antuk, yang sebenarnya adalah penyakit kolera.

Kehadiran penyakit ini, menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Nommensen. Kebetulan, pada waktu itu, Huta Dame baru ditempati. Sementara penduduk di huta (kampung) sekitarnya dipenuhi ratap tangis, tidak seorang pun penduduk di Huta Dame menjadi korban. Akibatnya, mereka menganggap Nommensen sebagai “dukun sakti” sehingga mereka beramai-ramai datang meminta taor (obat) kepadanya.

Nommensen memberi taor bukan dengan pil atau tablet, melainkan dengan kata-kata. Untuk melawan begu antuk tersebut, dia mengajarkan perlunya kebersihan dan sanitasi. Mereka diminta untuk tidak “buang air besar” di sembarang tempat dan memasak air sebelum diminum. Mereka menyaksikan hasil yang luar biasa sehingga orang-orang percaya kepadanya.

Apabila semula dia dituduh sebagai kaki tangan gomponi (kompeni), kini mereka percaya bahwa Nommensen membawa Barita Na Uli (Injil). Karena mereka sudah percaya, kepada mereka kemudian diperkenalkan firman Tuhan, mulai dari firman pertama yang memperkenalkan Tuhan Allah Maha Pencipta langit, bumi dan segala isinya. Mereka dapat mengartikannya dengan mudah karena, jauh sebelumnya, mereka telah mengenal-Nya dalam wujud Mulajadi Nabolon. Juga, mereka dianjurkan untuk tidak membuat pahatan-pahatan atau patung-patung untuk disembah dan itulah firman yang kedua. Hal ini juga dapat mereka pahami dengan mudah karena mereka tidak pernah melakukan hal seperti itu. Di Tanah Batak tidak ada pahatan, kecuali gorga dan si singa yang merupakan hiasan di depan sebuah ruma (rumah) Batak.

Apalagi, tentang larangan menyebut nama Tuhan Allah secara sembarangan sebagai firman yang ketiga, aturan ini sangat berterima di lubuk hati mereka karena, jangankan menyebut nama Tuhan Allah, menyebut nama orang tua, ayah dan ibu, bagi mereka adalah sesuatu yang sangat tabu. Namun, sesuatu yang mengherankan bagi mereka adalah firman keempat yang mengatakan bahwa bumi dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan dalam tempo enam hari dan Dia beristirahat pada hari yang ketujuh. Mereka menerimanya dengan setengah tidak percaya. Orang-orang yang percaya beranggapan bahwa pastilah Tuhan Allah yang diperkenalkan oleh Nommensen jauh lebih hebat daripada Mulajadi Nabolon yang mereka kenal.

Di sinilah terlihat bagaimana kehebatan Nommensen. Dia berkata bahwa Debata (Allah) yang diperkenalkannya adalah Mulajadi Nabolon yang telah mereka kenal sebelumnya. Debata Mulajadi Nabolon (Allah Maha Pencipta) menjadi suatu nama yang merupakan perpaduan ajaran yang dibawa oleh Nommensen dengan kepercayaan mereka sebelumnya. Hal ini sangat melegakan karena ajaran yang diberikan oleh Nommensen bukanlah ajaran yang mengubah kepercayaan mereka, melainkan menyempurnakannya.

Sejumlah aturan-aturan gereja diperkenalkan pula. Aturan yang pertama tentu saja adalah berkumpul di rumah Tuhan (gereja) pada hari yang ketujuh (Minggu). Mereka bersama-sama mendengarkan firman Tuhan, nyanyian-nyanyian kudus diperdengarkan, doa-doa dipanjatkan, dan mereka tidak lupa mengumpulkan persembahan dalam bentuk uang (kolekte). Ini merupakan penyempurnaan dari sesuatu yang telah mereka lakukan jauh sebelumnya. Nyanyian-nyanyian dalam bentuk gondang, doa dalam bentuk tonggo-tonggo, dan persembahan dalam bentuk hewan¾kerbau atau lembu¾telah biasa mereka lakukan sebelumnya. Hal yang tidak biasa ialah bahwa, jika dahulu persembahan dilakukan sekali setahun ketika mereka menyelenggarakan pesta mangase taon (tahun baru Batak), sekarang mereka melakukannya sekali seminggu.

Dalam hal ini, Nommensen juga cukup bijaksana. Pesta tahun baru yang biasanya dilakukan orang Batak pada Artia Sipaha Sada (hari pertama pada bulan pertama menurut kalender Batak yang biasanya jatuh pada masa-masa turun ke sawah), sekitar bulan April tahun Masehi, diubah tanggalnya menjadi 1 Januari. Dengan latar belakang ini, pesta tahun baru (taon baru) adalah salah satu pesta besar di Tanah Batak Utara dan diperingati jauh lebih besar daripada perayaan Natal. Pesta ini dimulai pada tengah malam setiap awal tahun ketika keluarga berkumpul untuk mengucapkan doa puji-pujian. Kemudian, anak-anak yang masih kecil dan yang beranjak remaja keluar dari rumah dalam kelompok-kelompok untuk mendatangi rumah kerabat dekat. Dengan bernyanyi sekaligus mengucapkan selamat tahun baru, mereka disambut oleh para orang tua dengan minuman dan kue-kue dan mereka juga diberi hadiah dalam bentuk uang.

Firman Tuhan yang kelima, tentang kewajiban menghormati orang tua, jauh sebelumnya telah diterapkan orang-orang Batak, bahkan cenderung berlebihan. Penghormatan kepada orang tua bukan saja dilaksanakan semasa hidupnya, bahkan juga sesudah kematian mereka. Tulang-belulang mereka, pada waktu yang sudah disepakati, digali dan dikumpulkan untuk disemayamkan kembali di sebuah pemakaman baru (tambak na pir). Acara penggalian ini dilangsungkan dalam suatu pesta besar yang memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Bukti-bukti tentang hal ini, berupa bangunan tambak na pir, masih dijumpai sepanjang jalan-jalan raya di Tanah Batak Utara.

Gereja secara bijaksana tidak melarang hal ini dengan syarat bahwa orang yang sudah meninggal tersebut tidak boleh diberi sesajian, seperti layaknya perlakuan terhadap orang-orang yang masih hidup, yang merupakan kebiasaan orang Batak dahulu kala. Untuk mencegahnya, tulang-belulang yang sudah digali harus dititipkan di suatu tempat yang memungkinkan penatua gereja dapat melakukan pengawasan sampai tiba waktunya disemayamkan kembali di kuburannya yang baru. Inilah cara yang menjadi kekhasan Nommensen: memadukan kultur dengan agama.

Hal yang sama terjadi pula dalam perkawinan. Jika dahulu seseorang dibenarkan kawin dengan lebih dari satu orang isteri, gereja mengeluarkan aturan yang ketat. Seorang pria hanya dibolehkan kawin dengan satu orang wanita. Mereka tidak boleh bercerai kecuali karena kematian. Perkawinan dengan isteri kedua, karena tidak mempunyai keturunan¾biasanya anak laki-laki¾dari isteri pertama, hanya ditolerir dan dibernarkan oleh adat, bukan gereja. Juga dalam hal usia, dilakukan suatu pembatasan yang tegas. Pria hanya boleh menikah setelah ia mencapai usia 18 tahun dan seorang wanita berusia 16 tahun.

Upacara adat dalam perkawinan dapat dilakukan setelah upacara pemberkatan di gereja. Upacara adat ini dianggap penting karena, menurut adat, suatu perkawinan baru dianggap sah apabila segala hutang dan kewajiban adat yang menyangkut perkawinan telah dipenuhi. Sesuai dengan aturan adat, orang Batak selalu beranggapan bahwa, walaupun suatu perkawinan telah dikukuhkan setelah diberkati menurut aturan gereja, perkawinan itu baru dianggap sah apabila hutang yang timbul sebagai akibat perkawinan itu dilunasi. Kawin lari, misalnya, adalah contoh yang pas untuk itu. Seorang pria dapat membawa lari wanita pilihannya dan meminta gereja untuk memberkati mereka berdua untuk menjadi suami-isteri. Perkawinan itu dianggap sudah sah menurut aturan gereja, tetapi belum sah menurut adat.

Firman-firman Tuhan lainnya, seperti firman yang keenam (Jangan membunuh!), firman yang ketujuh (Jangan berzinah!), firman yang kedelapan (Jangan mencuri!) , firman yang kesembilan (Jangan bersaksi dusta!), dan firman yang kesepuluh (Jangan menginginkan milik sesamamu!), semuanya bersifat universal karena larangan-larangan tersebut berlaku umum di mana pun. Perbuatan-perbuatan jahat tersebut bukan hanya dilarang menurut agama mana pun (Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu) tetapi juga dilarang dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali dalam kehidupan orang Batak.

Perbedaannya terletak dalam bentuk sanksinya, yang dalam hukum adat Batak mengandung aturan-aturan tersendiri. Tujuannya ialah untuk mengatur ketertiban masyarakat. Juga, perbedaan lainnya terdapat pada cara memberi hukuman tu angka parsala. Orang Batak, misalnya, mengenal hukuman mati bagi penzinah atau hukuman pengucilan bagi pembuat onar. Dalam aturan gereja, hukum mati dilarang karena nyawa manusia adalah milik Tuhan. Juga, bersaksi dengan cara martolon (sumpah) diganti dengan cara meletakkan tangan di atas Kitab Suci. Menurut keyakinan gereja, Tuhan kelak akan memberikan hukuman kepada orang-orang yang bersaksi dusta. Agama Kristen mengajarkan bahwa kelak akan ada suatu kehidupan baru yang memastikan semua orang akan dihakimi berdasarkan kesalahan maupun kebajikan yang dibuatnya. Itulah yang harus dipercayai.

Tidak dapat dibantah bahwa aturan-aturan yang diberlakukan gereja sangat bermanfaat untuk membenahi tata tertib masyarakat. Misalnya, penetapan batas umur untuk kawin memberikan manfaat yang sangat besar. Dahulu, sebelum masuk agama Kristen, seorang anak dapat dijodohkan (dipaorohon) dengan seorang anak yang berusia berapa saja, bahkan walaupun anak itu masih berada dalam kandungan.

Hal yang sama juga terjadi dengan sinamot (mas kawin), terutama menyangkut seorang perempuan yang meninggal tanpa keturunan. Apabila seorang wanita tidak melahirkan anak, keluarga laki-laki dapat menuntut keluarga wanita untuk mengembalikan mas kawin yang pernah diterimanya. Begitu pula, seorang wanita yang meninggalkan suami diharuskan untuk mengembalikan dua kali lipat jumlah sinamot yang diterimanya (na sada gabe dua utang ni si pahilolong). Hal tersebut sering menimbulkan pertikaian yang tidak habis-habisnya dan melibatkan bukan saja keluarga, tetapi juga dapat meluas menjadi pertentangan antar-marga.

Di samping itu, ada juga aturan yang turut melibatkan pemerintah, seperti penetapan hari pasar (onan) yang sebelumnya diselenggarakan setiap empat hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa, apabila hal tersebut dibiarkan, akan ada masa-masa pasar yang jatuh tepat pada hari Minggu. Hal ini sangat mengganggu hati Nommensen dan dianggap menghambat upaya kristenisasi di Tanah Batak. Karena itu, Nommensen mengambil prakarsa untuk membicarakan hal ini dengan “raja-raja” lewat bantuan controleur Belanda. Atas kesepakatan mereka bersama diputuskan bahwa hari pasar berlaku setiap tujuh hari dan tidak akan ada hari pasar yang jatuh pada hari Minggu.

Dalam penetapan pertama, hari pasar ditentukan demikian: hari Senin di Laguboti, hari Selasa di Narumonda, hari Rabu di Uluan, hari Kamis di Habinsaran, hari Jumat di Balige, dan hari Sabtu di Sigumpar. Penetapan hari pasar ini berkembang dalam skala yang lebih luas sehingga berlaku sampai sekarang aturan yang menetapkan pasar diselenggarakan hari Senin di Laguboti, hari Selasa di Siborong-borong, hari Rabu di Porsea, hari Kamis di Dolok Sanggul, hari Jumat di Balige, dan hari Sabtu di Tarutung.

Inilah antara lain aturan-aturan baru yang ditetapkan setelah masuknya Nommensen ke Tanah Batak.Harus diakui bahwa aturan-aturan tersebut membawa manfaat yang sangat banyak bagi masyarakat. Contohnya, aturan mengenai monogami sangat bermanfaat untuk mewujudkan tatanan keluarga yang baik. Dahulu kala, seseorang dibenarkan untuk mempunyai isteri lebih dari satu (poligami). Hal ini sering menimbulkan persoalan yang berlarut-larut di antara orang-orang yang bersaudara tiri. Persoalan ini terutama menyangkut hak atas tarombo dan hak atas barang pusaka. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak persoalan yang timbul, dimulai dari persoalan seperti ini. Dalam kaitan ini, status seorang anak harus jelas dulu, apakah dia anak mata (anak yang lahir dari perkawinan sah menurut adat) atau anak ni imbang (anak yang lahir dari isteri kedua yang tidak di sahkan menurut adat).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: