Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

INGWER LUDWIG NOMMENSEN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:24 am
Tags: , , ,

Ingwer Ludwig Nommensen adalah satu nama yang harus diakui sebagai seorang yang berjasa membawa masa cerah di Tanah Batak, khususnya di Tanah Batak Utara. Perubahan dari masa gelap menjadi masa terang dimulai sejak kehadirannya di Tanah Batak Utara. Tanpa kehadirannya dapat dipastikan bahwa keberadaan orang Batak tidak akan lebih daripada saudara-saudaranya yang lain yaitu suku-suku yang masih terbelakang, atau bahkan mungkin juga seperti suku Anak Rimba (Kubu). Karena jasa dan pengabdiannya yang besar bagi mereka, orang Batak memberi Nommensen gelar tertinggi dalam masyarakat adat Batak, yaitu ompui, suatu gelar yang tadinya hanya diberikan kepada Raja Si Singamangaraja.

Kegagalan penginjil-penginjil terdahulu tidak menyebabkan upaya kristenisasi Tanah Batak menjadi kendur. Pada tahun 1856, suatu yayasan di Ermelo, Belanda, memberangkatkan empat orang pendeta ke Tanah Batak, yaitu van Dalen, Koster, van Asselt dan Dammerboer. Hanya saja, karena yayasan ini, tidak mempunyai dana yang cukup, mereka dimodali dengan sejumlah kepintaran seperti bertukang. Dengan kepintaran ini diharapkan mereka dapat mencari nafkah, sambil bekerja di ladang Tuhan. Sayang, kepintaran ini tidak terlalu dibutuhkan di Tanah Batak. Mereka terpaksa mencari pekerjaan lain, van Dalen, Koster dan Dammerboer lebih banyak bertugas sebagai pengawas sekolah, van Asselt bekerja serabutan, kadang-kadang menjadi pengawas perkebunan kopi dan kadang-kadang menjadi sinder (pengawas pembuatan jalan). Hal ini menyebabkan mereka tidak dapat melaksanakan tugas kegerejaannya secara maksimal.

Berbeda dengan ke-empat penginjil di atas, Nommensen datang ke Tanah Batak, dikirim oleh Reinische Mission Gesselschaf (R.M.G.) yang berkantor pusat di Barmen, Jerman, suatu yayasan yang memiliki keuangan yang lumayan kuat. Nommensen diberangkatkan ke Tanah Batak dengan menumpang kapal Pertinax dan tiba di Padang pada tahun 1862, setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Bersama Nommensen turut dikirimkan Dina Malga, tunangan Pendeta van Asselt, yang sudah lebih dulu bertugas di Tanah Batak.

Sambil menunggu kapal yang akan berlayar menuju Sibolga dari Padang, Nommensen menghadap gubernur untuk meminta izin dalam menunaikan tugasnya di Tanah Batak. Izin diberikan untuk bekerja di Barus dan wilayah sekitarnya. Masalah “sekitarnya” ini kelak menimbulkan persoalan antara Nommensen dan penguasa di Barus.

Dengan kapal Samuel, dia bersama Dina Malga dan Punrau berangkat ke Sibolga. Punrau adalah seorang Dayak yang tadinya bekerja pada Pendeta Rott. Rott kemudian bertugas di Borneo. Sayangnya, Root bersama isterinya dibunuh dengan sadis, Punrau mealarikan diri dan sampai di Padang dengan maksud mencari pekerjaan.

Bersama Punrau, Nommensen menuju Barus setelah lebih dahulu menyerahkan Dina Malga kepada tunangannya yang sudah menunggu di Sibolga. Mereka tiba di Barus pada 25 Juni 1862 dan untuk sementara menginap di rumah Tuan Stible, wakil pemerintah penjajah di Barus. Nommensen kemudian menyewa sebuah rumah kecil dekat pasar di pinggir pantai. Pekerjaannya yang pertama dimulai dengan menebus dua orang pria yang disandera karena hutang judi. Di tempat ini, seperti yang biasa berlaku di Tanah Batak, seorang yang mempunyai hutang dapat disandera dengan cara memasungnya. Orang itu, baru akan dilepaskan apabila keluarganya menebusnya. Apabila tidak ditebus, orang tersebut akan dijadikan sebagai budak, bahkan sampai turun-temurun.

Nommensen, sengaja menebus kedua orang ini¾kebetulan dua-duanya orang Batak¾ dengan maksud agar ada orang yang dapat membantunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, tujuan yang lebih penting lagi ialah agar ada orang yang dapat diajak untuk mengobrol guna memperlancar bahasa Batak yang sudah dia pelajari sebelumnya. Karena keduanya diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, tidak terniat dalam hati mereka untuk melarikan diri.

Sementara itu, di Barus, dia berupaya untuk mengadakan pendekatan dengan pemuka masyarakat setempat. Pemuka masyarakat inilah yang mau mendampinginya untuk mengadakan kunjungan ke pedalaman Tanah Batak. Keikutsertaan pemuka masyarakat ini menyebabkan Nommensen diterima dengan baik. Sebelumnya, para pemuka masyarakat ini telah mengenal orang-orang dari pedalaman tersebut dalam transaksi jual-beli di Barus. Perjalanan yang sangat melelahkan dengan naik-turun gunung dan melewati jalan-jalan yang terjal dan licin menyebabkan Nommensen dua kali jatuh sakit.

Setelah kembali ke Barus, dia mendapat teguran keras dari penguasa setempat. Alasannya ialah karena izin yang diperolehnya ialah sebatas seperempat jam perjalanan dari Barus, sementara Nommensen telah mengadakan perjalanan selama berhari-hari. Karena teguran ini, harapannya untuk kembali masuk ke pedalaman menjadi sirna. Merasa tidak ada yang dapat dikerjakan di Barus, Nommensen mengemasi barang-barangnya untuk pulang kembali ke Sibolga. Dari tempat ini, dia bermaksud untuk pergi ke Sipirok yang menjadi tempat van Asselt dan kawan-kawannya lebih dahulu bekerja. Sebelum berangkat, Nommensen melepaskan orang-orang yang bekerja untuk dia, kecuali Punrau. Dia berlayar ke Sibolga dengan sebuah perahu yang mesinnya rusak. Mereka tiba di Sibolga dengan kekuatan dayung dan layar yang patah-patah.

Di Sibolga, Nommensen bertemu dengan orang yang bekerja pada van Asselt. Nommensen mengikuti mereka melewati perjalanan yang berliku-liku. Alangkah gembira hati Nommensen ketika ia bertemu dengan orang-orang yang bekerja di ladang Tuhan. Nommensen mendengar berbagai cerita suka dan duka ketika mereka berbincang-bincang. Walaupun ada banyak dukanya, semangat mereka tidak pernah kendur. Keluhan yang utama ialah kesulitan dana.

Dalam perbincangan itu, timbul pemikiran dalam benak Nommensen: Apakah orang-orang itu tidak lebih baik bergabung dengan yayasan yang mengirimnya ? Untuk itu, di Parausorat diadakan musyawarah antara Nommensen dan sejumlah pendeta yang telah lebih dahulu dikirim oleh Kongsi Bijbel Nederland. Rapat yang diadakan pada tanggal 7 Oktober 1861 itu kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan. Dalam rapat diputuskan bahwa tugas yang selama ini diemban oleh Kongsi Bijbel Nederland yang berpusat di Emerloo; Belanda, dialihkan kepada Reinische Mission Gesselschaft yang berpusat di Barmen; Jerman. Kemudian, di antara mereka diadakan pembagian tugas. Nommensen sendiri mendapat tugas di Silindung sesuai dengan keinginannya.

Nommensen berangkat ke Silindung pada 7 November 1863. Pada kedatangannya yang pertama, Nommensen menginap di sopo Ompu Tunggul, kerabat Obaja Lumbantobing (Raja Pontas). Dia diusir secara halus dengan alasan karena, pada waktu itu, sedang musim panen. Nommensen pindah ke sopo lain tetapi, tiga hari kemudian, dia diusir lagi dengan alasan yang sama. Karena mendapat perlakukan seperti ini, Raja Amandari Lumbantobing dari kampung lain mengirimkan utusan dan mempersilakan Nommensen datang ke kampungnya.

Kejadian ini membuat Obaja marah kepada Ompu Tunggul. Sebuah rumah kosong di Pearaja, yang ditinggalkan pemiliknya karena sering sakit-sakitan, dibeli oleh Nommensen melalui Raja Pontas. Banyak hambatan dihadapi Nommensen dalam pembangunan rumah ini, mulai dari para pekerja yang sering dihasut oleh raja-raja sampai tidak adanya orang yang mau menjual kayu kepadanya. Dengan rasa dongkol karena sering dihalang-halangi, akhirnya Nommensen mengundang raja-raja Silindung. Setelah mereka berkumpul, Nommensen mengeluarkan dua surat bermaterai, satu dari gubernur di Padang dan satu lagi dari residen Tapanuli di Sibolga, yang mengizinkannya bekerja di tempat itu.

Dalam pertemuan itu, Nommensen meletakkan sebuah buku tebal dihadapannya dan siap untuk mencatat nama orang-orang yang hadir. Kemudian Nommensen bertanyak kepada mereka nama masing-masing untuk dicatat dalam buku besar yang sudah tersedia. Juga kalau ada diantara mereka yang tidak setuju dengan pembangunan rumah tersebut supaya dinyatakan apa alasannya. Apakah yang kemudian terjadi?

Khawatir bahwa catatan itu akan membawa masaalah dikemudian hari, satu persatu mereka menjawab bahwa mereka tidak mempunyai nama. Mereka juga berkata bahwa mereka bukan tidak setuju dengan pembangunan rumah, akan tetapi mereka mengusulkan sesuai kebiasaan, diusulkan agar Nommensen memotong seekor kerbau untuk disantap bersama. Merasa sudah berada di atas angin, Nommensen menolak. “Pelit juga tuan ini” kata mereka bergumam.

Akhirnya, rumah selesai didirikan dan kampung yang menjadi tempat rumah itu berdiri diberi nama Huta Dame. Nama ini bermakna bahwa dari tempat inilah dimulai suatu misi yang didasarkan pada kasih. Keberhasilan Nommensen mendirikan perkampungan ini diikuti oleh keberhasilan-keberhasilannya yang lain dengan susul-menyusul. Pekerjaannya benar-benar diberkati Tuhan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: