Sadarsibarani’s Weblog

October 17, 2008

TIMBULNYA MARGA DAN PENGELOMPOKAN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:17 am
Tags: , ,

 

 

D

alam banyak tulisan tentang Batak, belum pernah ada pembahasan mengenai lahir dan terbentuknya marga-marga. Marga diwarisi dari para leluhur dan diterima apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semula, marga berawal dari satu kelompok keluarga kecil (batih), yang terdiri atas seorang ayah dan seorang ibu, bersama anak-anaknya. Kelompok kecil ini biasanya disebut sapanganan (satu tempat makan bersama). Kata sapanganan sering dihubungkan dengan sapa, suatu “piring besar” yang terbuat dari batang kayu bulat dan besar, yang ditoreh berlekuk sehingga menyerupai piring. Pada waktu-waktu tertentu, anggota-anggota keluarga duduk berkeliling dengan sapa di tengah untuk makan bersama. Tidak seorang pun ketinggalan, kecuali karena suatu alasan tertentu. Bagian anggota-anggota yang ketinggalan akan disisihkan di tempat yang disebut parindahanan. Kata ini berasal dari kata par-indahan-an, yaitu sumpit kecil yang biasanya dijadikan sebagai tempat nasi.

Keluarga kecil ini berkembang makin lama makin besar karena anak laki-laki membentuk keluarga baru dan menjadi kelompok sapanganan sendiri. Anggota kelompok adalah orang-orang yang berjenis kelamin laki-laki, sementara anak perempuan tidak dihitung karena kelak dia akan masuk ke dalam kelompok marga suaminya. Akan tetapi, walaupun masih berada dalam lingkup satu keluarga, ada perbedaan antara na mardongan sabutuha dan na mardongan tubu. Istilah na mardongan sabutuha adalah kelompok satu ompu (kakek), sedangkan na mardongan tubu adalah kelompok lain ompu (kakek), tetapi masih dalam lingkup satu marga. Apabila ada acara dalam lingkup satu keluarga, orang-orang yang diundang adalah kelompok na mardongan sabutuha. Akan tetapi, apabila acaranya berukuran lebih besar dari itu, yang melibatkan marga-marga lain, kelompok na mardongan tubu harus diikutsertakan. Hampir seluruh marga Batak terlibat dalam pengelompokan seperti ini. Marga Pasaribu, misalnya, ke luar tetap memakai marga Pasaribu, walau didalam kelompok sendiri mereka masih terbagi seperti Pasaribu keturunan Habeahan, Pasaribu keturunan Gorat, dan Pasaribu keturunan Bondar. Habeahan dan Gorat misalnya adalah  kelompok dongan tubu dari Bondar dan sebaliknya.

Untuk marga-marga yang konsisten menggunakan marga induknya, marga Pasaribu adalah salah satu contoh. Banyak marga yang, karena jarak perpisahannya sudah terlalu jauh, akhirnya menabalkan diri sebagai marga yang berdiri sendiri sehingga marga induknya hampir tidak dikenal lagi. Contohnya adalah marga Pandiangan dari keturunan Lontung. Marga-marga pecahannya  seperti marga Gultom, Sitinjak, Pakpahan, Samosir dan Harianja, lebih dikenal dari marga induknya Pandiangan.

Pada awalnya, nama satu kelompok marga lebih banyak mengacu pada satu nama yang mudah diingat. Nama marga Siahaan, misalnya, muncul karena dia adalah anak sulung (sihahaan-anak pertama). Begitu juga, marga Siagian lahir karena dia adalah anak bungsu (sianggian-anak bungsu) dan marga Silitonga terbentuk karena dia adalah anak di antara sulung dan bungsu (tonga berarti tengah). Tetapi, nama marga dapat juga diambil dari nama tempat tinggal sehingga ada marga Hutagaol, yang berasal dari kata huta dan gaol, karena di kampungnya (huta) banyak tumbuh pohon pisang (gaol). Asal-usul seperti ini berlaku juga untuk marga Hutapea, yang berasal dari kata huta dan pea, karena di kampungnya (huta) ada rawa (pea).

Itulah sebabnya ada beberapa marga yang memiliki nama yang sama dari keturunan yang berbeda, seperti marga Hutapea keturunan Guru Mangaloksa di Silindung dan marga Hutapea keturunan Paittua di Laguboti, marga Lumban Gaol keturunan Marbun di Humbang dan marga Lumban Gaol keturunan Tambunan di Toba, dan marga Siagian keturunan Siregar di Sipirok dan marga Siagian keturunan Tuan Dibangarna di Toba. Padahal, walau mempunyai nama marga yang sama, mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan darah (keturunan).

Ada juga marga yang terbentuk karena suatu kebutuhan yang mendesak. Sebagai contoh, kita ambil kelompok marga keturunan Guru Mangaloksa. Guru Mangaloksa dalam perantauannya dijadikan menantu oleh Pasaribu dan tinggal menumpang di kampung mertuanya di Silindung. Dari hasil perkawinannya, lahir pula anak- anak yang tangkas dan rupawan. Sudah tentu timbul persoalan: Apakah kelak anak ini akan menumpang terus-menerus di tempat mertuanya?

Melihat kesuburan tanah yang dihuni mertuanya, hatinya tergoda dan ingin memperoleh sedikit dari tanah tersebut untuk dirinya dan anak-anaknya kelak. Hal itu dikemukakan kepada mertuanya. Mertuanya menanggapinya dengan memberi sedikit (sebakul?) tanah kepada menantunya, sesuai permintaannya. Guru Mangaloksa tersinggung, merasa dipermainkan oleh mertuanya. Karena itu, dia mencari jalan dan, dengan akal-bulusnya, mertuanya dipaksa untuk lari terbirit-birit, meninggalkan wilayah Silindung. Pelarian itu terjadi pada malam  yang gelap-gulita setelah Guru Mangaloksa menginjak-injak enceng, yang dikira oleh Pasaribu sebagai bunyi letusan senjata. Cerita tentang “Pasaribu ni eak ni Poring” (poring adalah sejenis enceng yang, apabila diinjak, akan mengeluarkan bunyi letusan) hingga saat ini masih tetap segar dalam ingatan keturunan marga Pasaribu maupun keturunan Guru Mangaloksa. Sampai sekarang, bilamana seorang keturunan Guru Mangaloksa bertemu dengan marga Pasaribu, akan selalu menghaturkan sembah, mohon maaf atas peri laku leluhurnya dahulu.

Keturunan Guru Mangaloksa pada awalnya berkembang dengan lambat. Penyebabnya adalah tempat tinggalnya yang begitu terisolir, sehingga keturunannya sulit untuk mencari jodoh. Pencarian jodoh ke tempat-tempat lain hanya dimilik oleh orang-orang yang memiliki nyali besar. Pada zaman itu, jalan-jalan di luar kampung bukanlah tempat yang aman. Itulah sebabnya banyak anak laki-laki maupun anak perempuan tetap hidup sendiri, hingga ubanan tanpa menemukan jodoh. Hal ini meresahkan para orang tua. Apalagi, dalam pergaulan sehari-hari, mereka melihat para remaja sering bercanda (margere-gere huhut marsigoitan). Walaupun melakukannya dalam batas-batas norma adat dan susila, hal itu sangat mengkhawatirkan. Puncaknya ialah ketika seorang yang bernama si Bindoran membunuh Ompu Lompo karena dia dituduh berbuat cabul kepada iboto (saudara perempuan)-nya. Khawatir peristiwa yang sama akan terulang lagi, keturunan Guru Mangaloksa kemudian mengambil satu kesepakatan untuk manompas bongbong (melanggar aturan yang selama ini berlaku). Larangan kawin dalam kelompok sendiri diibaratkan sebagai pembatas (bongbong) yang harus diretas (ditompas) agar air mengalir, tidak menimbulkan banjir.

Caranya ialah dengan meniadakan larangan kawin di antara kelompok mereka. Dengan demikian, anak-anak mereka tidak lagi mengalami kesulitan untuk mencari pasangan hidup (jodoh). Dengan kesepakatan ini, ke empat turunan Guru Mangaloksa membentuk kelompok marga yang mandiri dan masing-masing diberi nama sesuai dengan nama kampungnya: Hutabarat, Hutagalung dan Hutatoruan. Keturunan yang satu lagi, Panggabean, dari awal sudah mempunyai nama panggilan,  sehingga  dikecualikan. Nama Panggabean sendiri berawal berawal dari kegalauaan hati Guru Mangaloksa yang memperdaya mertuanya. Ada rasa sesal dalam dirinya dan dia khawatir  rasa sesal ini akan berakibat tidak baik terhadap anak yang dikandung oleh isterinya. Rasa khawatir itu menjadi sirna setelah anak yang lahir ternyata sehat dan begitu pula ibunya. Anak yang lahir  inilah yang  diberi nama Panggabean (gabe berarti tuah).

Setelah pembentukan kelompok sendiri disetujui, sesuai kesepakatan mereka dibenarkan untuk saling mengawini (marsiboruan). Marga Hutabarat dibenarkan kawin dengan marga Hutagalung, Hutatoruan atau Panggabean, dan begitu pula  sebaliknya,  sehingga kesempatan untuk memperoleh jodoh terbuka lebar. Rura Silindung menjadi ramai dan penuh dengan suka-cita. Pesta-pesta kawin berlangsung dengan tidak putus-putusnya dan berkat pun diberikan asa maranak sampulu pitu, marboru sampulu onom (memiliki banyak anak laki-laki dan perempuan). Tidak mengherankan, apabila ditelusuri di antara seluruh Puak Toba, keturunan Guru Mangaloksa  adalah marga  yang paling banyak jumlahnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: