Sadarsibarani’s Weblog

October 17, 2008

MUNCULNYA “RAJA-RAJA TOBA”

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:06 am
Tags: , , , ,

Dalam kurun waktu yang cukup lama, barang-barang pusaka milik R. Sorimangaraja tidak pernah ditemukan. Sementara itu masyarakat semakin berkembang dimana dibutuhkan seorang rajaparhata oloan” (yang menjadi panutan). Karena barang pusaka tersebut belum diketemukan, apakah masyarakat dibiarkan tanpa pimpinan? Seperti biasanya orang Batak tidak kehilangan akal. Karena seorang raja belum bisa di tabalkan (penemu barang pusaka,pen), turunan Sibagot Nipohan sepakat mengangkat bukan hanya satu raja, bahkan empat orang sekaligus yang mereka sebut “raja na opat”, sebagai pimpinan “kollegial” (pimpinan bersama). Raja na opat ini diambil dari 4 kelompok turunan Sibagot Nipohan yaitu turunan Tuan Sihubil, Tuan Somanimbil, Tuan Dibangarna dan Sonak Malela. Dalam bukunya PUSTAHA TUMBAGA HOLING  Raja Patik Tampubolon mencatat gelar  raja-raja tersebut yaitu Pande Nabolon untuk turunan sulung Tuan Sihubil, Pande Raja untuk turunan nomor dua, Tuan Somanimbil, Pande Mulia untuk turunan nomor tiga, Tuan Dibangarna dan Pande Namora untuk turunan nomor empat, Sonakmalela. Ke–empat raja ini disebut “raja ijolo”. Masih belum puas dengan hanya empat raja, mereka masih mengangkat wakil masing-masing sebagai “paidua ni harajaon” dengan gelar-gelar sebagai berikut:  saniang naga”,  wakil Pande Nabolon, “parsinabul” wakil Pande Raja, “parsirambe” wakil Pande Mulia, “mamburbulang” wakil Pande Namora. Masih kurang puas, masih ada “raja undot solu”,  pangulu raja”, “pande aek” dan “pangulu dalu”.  

Pada waktu-waktu tertentu raja-raja ini berkumpul dibawah kerindangan pohon, merundingkan banyak hal, termasuk bila ada hal-hal yang mengganggu ketertiban. Pada saat raja-raja berkumpul, rakyat juga ikut  berkumpul, yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak orang untuk jual-beli berbagai kebutuhan. Lama kelamaan tempat ini menjadi ramai layaknya pekan, sehingga tempat tersebut kemudian diberi nama Onan Raja (pekan yang timbul pada saat berkumpulnya raja-raja). Walaupun oleh Pemerintah Belanda pasar ini kemudian di pindah ke tempatnya yang sekarang, nama Onan Raja masih melekat sebagai nama tempat. Tidak dipungkiri, bahwa dengan adanya kepemimpinan kollegial ini orang Batak dapat hidup dalam keteraturan. Akan tetapi tidak pula dipungkiri bahwa ruang lingkup yang ada dibawah dibawah jurisdiksi raja na opat tersebut terbatas hanya pada turunan Sibagot Nipohan, tidak menyangkut marga yang lain.

Karena kepemimpinan seperti diatas terasa manfaatnya, kelompok turunan Guru Tatea Bulan  merasa perlu  membentuk   raja na opat sendiri,  juga berasal dari 4 kelompok marga mereka. Menurut Mangaraja Salomo dalam bukunya TAROMBO NI BORBOR MORSADA inilah nama-nama gelar yang diberikan kepada turunan Borbor diberi gelar Raja Oloan, turunan Limbong diberi gelar Jonggi Manaor, turunan Sagala bergelar Raja Mulamula dan turunan  Lauraja diberi gelar Raja Sori. Ke empatnya juga merupakan pimpinan kollegial dan disebut raja ijolo.

Mereka juga membantuk wakil masing-masing yang tugasnya sama dengan yang dilakukan turunan Sorba Dibanua. Hanya gelarnya yang berbeda yaitu Borsak Saniangnaga kepada turunan Borbor, Borsak Naburahan kepada turunan Limbong, Borsak Bungabunga kepada turunan Sagala dan Borsak Suliraja kepada turunan Lauraja. Mereka disebut paidua ni harajaon.

Belakangan timbul niat dari kelompok “si opat pusoran” atau lebih dikenal Turunan Guru Mangaloksa (Hutabarat, Panggabean, Hutagalung dan Hutatoruan) untuk membentuk raja na opat sendiri. Agar dapat diakui sebagai raja na manjujung baringin na, mereka berangkat ke Barus menghadap hula-hulanya Pasaribu memberikan persembahan sebagai permohonan maaf atas peri laku moyang mereka dahulu yang menyebabkan hula-hula nya tersebut lari malam dari Silindung (lih: Pasaribu ni eak ni poring). Pasaribu yang kebetulan menjadi Penguasa di Barus Hilir setuju dan selain memberikan hadiah juga memberi gelar kepada mereka. Menurut Iypes inilah gelar yang diberikan itu. Turunan Hutabarat diberi gelar Baginda Maulana, turunan Panggabean bergelar Rangkaya Tua, turunan Hutagalung bergelar Bagot Sininta dan untuk turunan Hutatoruan diberi gelar  Elamula.

Sepanjang yang kita ketahui hanya turunan Lontung Morsada yang tidak terpengaruh dengan susunan raja berampat ini. Mereka konsisten dengan kumpulan si pitu ama dibawah kepemimpinan Ompu Palti Raja. Dan sejauh itu mereka tidak pernah menggunakan istilah raja di depan nama marganya. Mereka lebih nyaman dengan sebutan TOGA  seperti Toga Sinaga, Toga Situmorang,  Toga Siregar dan Toga-Toga yang lain.

Inilah awal mula munculnya banyak raja-raja di Tanah Batak Utara, karena semua marga membentuk raja-raja na opat sendiri. Begitu pula setelah Manghuntal Sinambela ditabalkan sebagai raja benaran,  eksistensi raja-raja na opat tetap diakui dan tidak dihapuskan.  Merekalah kemudian dijadikan  sebagai kepanjangan tangan dari Raja Sisingamangaraja, sehingga Raja Sisingamangaraja tidak perlu mengangkat sendiri pembantunya. Karena berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama hal tersebut telah mendarah daging dikalangan orang Batak khususnya di Toba, sehingga orang Batak Toba menganggap diri sebagai turunan raja;  RAJA-RAJA TOBA.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: