Sadarsibarani’s Weblog

October 17, 2008

BATAK 27

Filed under: Uncategorized — rajabatak2 @ 6:48 am

K

 

elompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah orang-.      orang Alas dan Gayo, yang sampai saat ini masih diragukan apakah mereka tergolong salah satu puak Batak. Keraguan ini timbul terutama karena, secara geografis, wilayah yang menjadi tempat mereka bermukim termasuk dalam wilayah Daerah Istimewa Aceh, yang sekarang menjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di samping itu, agama yang mereka anut seluruhnya adalah Islam. Hal inilah yang dijadikan acuan oleh sementara orang sehingga mereka disebut sebagai orang Aceh.

 Ada beberapa versi tentang keberadaan orang Gayo. Versi pertama ialah pendapat yang hidup di antara kebanyakan suku di Indonesia. Menurut versi ini, moyang orang Gayo berasal dari Negeri Rum, bernama Genali, yang terdampar di suatu pulau yang kemudian dikenal sebagai Pulau Sumatera. Dia kawin dengan seorang puteri dari Johor dan kemudian menurunkan orang Gayo. Versi kedua, menurut Hikayat Raja-Raja Pasai, menyatakan bahwa orang Gayo pada awalnya bermukim di pantai timur Pulau Sumatera. Akan tetapi, karena tidak mau menganut Islam, mereka gayu atau gayur ¾yang berarti melarikan diri dan menjadi asal nama Gayo¾ke hulu Sungai Peusangan. Keturunan para pelarian inilah yang kemudian dikenal sebagai orang Gayo.

  Versi ketiga, menurut Dr. Snouckh Hurgronje, dalam buku Het Gayoland en Zijne Bewoners yang berisikan kajiannya tentang keturunan orang Gayo, menyatakan, “Kalau ada orang Gayo yang bertetangga apalagi satu atap dengan orang Aceh, akan   cenderung  berpikir,  apakah  nenek  moyang  mereka  berasal dari keturunan Batak yang karena ingin memeluk Islam lalu diusir dari tanah airnya dan terpaksa   lari   ke   Tanah   Gayo,   atau   bukankah   orang  Batak itu sendiri berasal dari

 keturunan orang Gayo, karena tidak mau memeluk Islam lalu lari ke Selatan dan di sana mendapat panggilan dengan nama-nama Batak.” Kendatipun mereka tidak bisa menentukan manakah diantara dua pendapat ini yang benar, akan tetapi bahwa anggapan bahwa mereka adalah bersaudara dengan puak–puak Batak yang lain,  masih hidup dalam masyarakat Gayo sampai sekarang. Tidak salah jika secara seloroh mereka sering berkata sebagai saudara tua puak-puak Batak yang lain. 

 

Imigran Batak dan Kisah Batak 27

Bahwa ada hubungan antara orang Gayo dan orang Batak, yang telah menjadi, cerita turun-temurun dalam masyarakat Gayo, dapat dibaca dalam buku Dr. Snouck Hurgronje, dengan judul Gayo, Masyarakat dan Kebudayaannya, yang diterjemahkan oleh Hatta Hasan Aman Asnah dan diberi kata pengantar oleh Dr. Junus Melalatoa. Dalam buku tersebut terdapat kutipan berikut:

Dahulu banyak orang Batak datang ke Tanah Gayo dengan bermacam-macam cara, yang kini bermukim di sebelah barat Danau Laut Tawar, Pengasingan serta Celala, sekarang keturunannya tidak dapat dibedakan lagi. Akan tetapi, ada satu kenangan yang masih melekat dalam benak orang Gayo, yaitu yang terjadi terhadap anak buah Reje Cik Bebesan dan Ketol. Seterusnya adalah pada keturunan salah seorang reje yang ternama dan terkemuka di Tanah Gayo yang mendiami bagian timur daerah aliran sungai Jemer yaitu, Reje Linge. Orang Gayo yang dimaksud ialah orang Gayo Bebesan yang berdiam di bagian barat Danau Laut Tawar yang kalau bertengkar dengan kampung tetangganya sering diejek Batak Bebesan atau Batak Dua Puluh Tujuh.”

Dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan tentang seorang yang bernama Lebe Keder, yang datang untuk menuntut bela kematian kawannya yang meninggal karena dibunuh dan hartanya dirampok. Ketika itu, sebanyak 20 orang Batak, yang salah satunya bernama Lebe Keder, lewat Alas dan Tanah Gayo, berangkat menuju Aceh, dengan tujuan untuk masuk Islam dan belajar mengaji. Selain untuk ongkos dan belanja sendiri, mereka juga membawa titipan ongkos untuk pulang bagi tujuh teman mereka. Melihat pundi-pundi penuh dengan uang, timbul niat jahat dalam hati salah seorang raja Gayo, yaitu Reje Bukit, yang memerintah di bagian barat Danau Laut Tawar yang mengajaknya bermain judi.

Ternyata, pada waktu itu, Reje Bukit bernasib sial. Dia kalah dan mau tidak mau   harus    merelakan    sebagian    kekayaannya    berpindah  ke  dalam pundi-pundi  orang  Batak  tadi.  karena  dihantui  oleh  perasaan  marah,   kesal,

malu dan iri, Reje Bukit nekad memancung salah seorang di antara mereka, lalu menggantungkan kepalanya di atas sebatang pohon bambu tidak jauh dari Bebesan. Karena itulah tempat itu disebut Pegantungan sampai saat ini. Kesembilan belas orang-orang Batak lainnya sangat ketakutan dan langsung melarikan diri menuju Aceh untuk menemui kawan-kawannya, sekaligus bermaksud untuk mengadukan kezaliman reje Gayo tersebut kepada raja Aceh. Sultan memberi mereka restu untuk memerangi reje Gayo itu dan yakin bahwa mereka akan dapat mengalahkannya, tetapi Reje Bukit sendiri tidak boleh dibunuh.

Singkat cerita, orang Batak ini mengalahkan pasukan Reje Bukit. Reje Bukit sendiri, dalam keadaan panik, melarikan diri dan tersesat ke dalam suatu paya (rawa-rawa) dekat kampung Kebayakan, sehingga tempat itu disebut Paya Reje sampai saat ini. Setelah itu dibuatlah perjanjian yang menyatakan bahwa Reje Bukit bersama anak buahnya ditunjuk untuk menempati kampung Kebayakan sekarang dan ke-26 orang Batak tersebut, yang semua sudah masuk Islam, menempati wilayah yang sekarang sudah menjadi kampung induk Raja Cik, yaitu kampung Bebesan. Di tempat ini mereka berkembang dan keturunannya sering disebut Batak Bebesan atau Batak 27.

Ada beberapa indikasi mengapa mereka digolongkan sebagai orang Batak. Pertama, sama dengan orang Batak umumnya, mereka mempunyai marga yang disebut belah. Belah pada orang Gayo, antara lain, adalah Linge, Munte, Cebero, Tebe dan Melala yang dapat dihubungkan dengan marga Lingga, Munte, Siboro, Toba dan Meliala. Bahkan, di kalangan satu belah, anggota-anggotanya tidak dibolehkan saling kawin. Perkawinan dalam satu belah hanya dapat dilakukan lewat berpenrata, yang sama dengan manompas bongbong dalam adat Puak Toba. Itu pun hanya dimungkinkan apabila sesama belah telah bermukim di tempat yang berjauhan. Kedua, mereka juga mengenal sistem kekerabatan patrilineal. Seorang anak laki-laki mengikuti belah ayahnya dan anak perempuan mengikuti belah suaminya, suatu kebiasaan yang berlaku bagi suku Batak. Ketiga, dari segi bahasa, menurut banyak peneliti, bahasa Gayo adalah campuran antara bahasa Melayu, Singkil, Karo, Pakpak dan Toba. Orang Gayo sendiri terdiri atas beberapa kelompok: Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Lues, Gayo Serbejadi dan Gayo Kalul. Pengelompokan ini terjadi lebih banyak karena wilayah yang terpisah-pisah akibat batas-batas alam, seperti hutan, bukit atau sungai. Sarana transportasi sangat buruk sehingga komunikasi di antara mereka sangat jarang terjadi. Wilayah kediamanan orang Gayo di Aceh Tengah merupakan wilayah yang paling terkurung. Ada dua jalur jalantransportasi darat menuju wilayah ini,

yang satu lewat Takengon menuju Blangkejeren di Barat dan yang satu lagi lewat Kotacane di Tenggara. Hal ini menyebabkan suatu keinginan untuk membuka daerah ini dengan suatu proyek raksasa yang dikenal dengan nama Ladia Galaska, singkatan dari Lautan Hindia-Gayo-Alas-Selat Malaka. Akan tetapi, proyek ini banyak ditentang para ahli lingkungan hidup, khususnya jalan yang akan membelah Gunung Leuser, ruas jalan antara Pinding dan Lokop. Dikhawatirkan, apabila proyek ini diteruskan, akan terjadi perambahan hutan yang sulit dikendalikan dan hal itu akan merusak ekosistem di sana.

Kehidupan orang Gayo sarat dengan seni sastra yang sangat tinggi. Hampir seluruh kehidupan orang Gayo penuh dengan seni ini. Seni tersebut dinamai kekitikan, kekeberan, didong dan sebuku. Kekitikan adalah seni berteka-teki dan seni seperti ini dahulu juga hidup dalam masyarakat Puak Toba dengan taruhan. Pihak yang tidak dapat menjawab harus membayar dalam jumlah yang besar. Kekeberan adalah seni bercerita lewat syair dan lagu. Dahulu kala, hal seperti ini sering dilakukan oleh seorang kakek kepada cucunya. Seni ini sangat mirip dengan andung-andung yang, sesudah masuknya agama Kristen, menjadi hal yang terlarang di kalangan Puak Toba. Didong adalah seni berpantun dengan saling berbalas-balasan. Seni berpantun dipertandingkan antara dua kelompok. Seni ini masih dapat ditemukan dalam Puak Mandailing (Angkola).

Pertandingan didong dapat berlangsung semalam suntuk dan yang kalah ialah kelompok yang tidak lagi meneruskan pantun. Selama pantun masih terjawab, pertandingan akan berjalan terus dengan dukungan penonton kedua belah pihak dan, dengan dukungan ini, pertandingan menjadi meriah. Orang Gayo sangat menghargai seni berpantun ini. Para pemain dalam satu kelompok terdiri atas sekitar 30 orang. Mereka bertepuk tangan secara serempak dan teratur, yang disertai gerak tubuh, sesuai dengan irama lagu. Tepuk tangan mengatur ritme, sementara biduan, yang disebut ceh, mengumandangkan nyanyian berbentuk pantun yang serasi dengan ritme tersebut. Pantun yang didendangkan oleh ceh kelompok yang satu dijawab oleh ceh kelompok yang lain. Demikianlah kedua kelompok bersahut-sahutan sampai satu kelompok tidak dapat lagi meneruskannya dan kelompok yang tidak dapat meneruskan pantun tersebut dianggap kalah.

Kehidupan orang Gayo sangat banyak dipengaruhi seni ini. Dalam acara perkawinan, misalnya, acara ini sangat berperan. Seorang gadis, sebelum menikah, dipisah dari keluarganya di suatu tempat. Begitu acara perkawinan dimulai,   dia   dibawa    kembali   ke   keluarganya  untuk  ber-sebuku. Ber-sebuku

adalah salah satu unsur dalam upacara perkawinan, biasanya dilakukan oleh keluarga pihak perempun. Sebuku adalah pengungkapan perasaan yang terjalin dalam bentuk puisi yang diucapkan kepada seluruh orang yang akan ditinggal: ibu, bapak, saudara-saudara, dan teman-teman. Upacara ini memakan waktu yang lama dan penuh dengan linangan air mata orang-orang yang mengikutinya.

Sementara itu, di tempat keluarga laki-laki diselenggarakan keramaian berupa pertandingan didong. Pertandingan didong diadakan antara dua kelompok. Kelompok keluarga pengantin lali-laki dan kelompok perempuan.

 Akan tetapi, sering pula terjadi bahwa pihak keluarga kampung lain membawa kelompok sendiri untuk turut bertanding. Dalam hal seperti ini, dipastikan suasana akan bertambah ramai dan dapat berlangsung hingga pagi hari. Oleh masyarakat Gayo yang tinggal di Jakarta, pertandingan didong pernah diadakan di Ancol dan mendapat sambutan yang sangat hangat. Pertandingan meriah ini berlangsung hingga pagi hari.

Hubungan orang Batak dengan Puak Gayo dan Alas dahulu berlangsung dengan akrab. Banyak perantau dari Tanah Batak yang pergi ke Aceh, khususnya Kotacane, diberi tanah untuk diolah menjadi lahan pertanian. Karena tanahnya yang subur banyak imigran-imigran dari tanah Batak Utara berpindah kesana malah secara berkelompok. Menganggap bahwa pendatang tersebut adalah saudara, para perantau dari tanah Batak ini, hidup tenteram disana. Keturunan para pendatang ini beranak pinak disana dan hanya sesekali mereka pulang ke kampung halaman, karena wilayah ini telah mereka anggap sebagai kampung halaman sendiri. Sampai sekarang banyak pendatang dari Tanah Batak Utara yang bermukim dan berfanak pinak disana. Juga, dalam perang Raja Si Singamangaraja XII melawan Belanda, banyak di antara putra orang Gayo dan Alas membantu perjuangan beliau dan mereka tewas sebagai kesuma bangsa.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: