Sadarsibarani’s Weblog

October 17, 2008

AWAL TERBENTUKNYA TAROMBO

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:20 am

Di atas telah diuraikan tentang terbentuknya marga karena jarak suatu generasi dengan marga induknya sudah terlalu jauh sehingga ada kelompok yang menabalkan diri sebagai kelompo (marga)  tersendiri. Juga ada peristiwa tertentu, yang menjadi pemicu, apakah karena sakit hati misalnya karena pembagian jambar yang tdak adil dan atau akibat perkawinan sedarah, sehingga mereka terpaksa membentuk kelompok sendiri lepas dari marga induknya.  Keturunan marga Pandiangan misalnya, seolah terbenam karena marga pecahannya seperi Gultom, Samosir, Pakpahan dan Harianja lebih dikenal dari pada marga induknya. Juga kelompok yang dibentuk karena kebutuhan khusus, seperti keturunan Guru Mangaloksa. Dalam hal seperti ini, pembentukan kelompok berlangsung secara normal.

Akan tetapi sering terjadi pengelompokan terjadi akibat timbulnya rasa sakit hati. Perpecahan antara kelompok Lontung dan kelompok Borbor misalnya, begitu pula perpecahan di antara keturunan Tuan Sorba Dibanua  dimulai dari  tidak ada kesepakatan dalam pembagian jambar.  

Jambar adalah bagian-bagian tertentu dari seekor hewan kurban yang dipotong pada satu acara adat. Bagian tertentu ini, dibagi-bagi menurut ketentuan yang telah disepakati sesuai kesepakatan ( jolo diseat hata asa diseat raut). Artinya, disepakati dulu siapa mendapat apa, barulah dibagi-bagi.  Masing-masing kelompok kemudian membagikannya kepada seluruh anggotanya yang hadir – yang tidak hadir tidak kebagian – sehingga ada kalanya jambar tersebut hanya berupa sekerat daging. Namun, anggota  kelompok menerimanya dengan suka cita, asa na metmet ndang marungut-ungut, na ma godang marlas ni roha. Artinya, tidak seorang pun mengomel karena dia telah memperoleh bagian yang menjadi haknya,  betapapun  kecilnya.  

Namun, walaupun jambar hanya berupa sekerat daging, apabila seseorang tidak memperolehnya sesuai dengan haknya, hal itu dapat dikategorikan sebagai suatu penghinaan. Tentang jambar, ada pemeo yang mengatakan: Pangkuling tos nia ate, papangan hasisirang. Itu berarti bahwa, kalau orang salah bertutur kata, hal itu paling menimbulkan rasa sakit hati (pangkuling tos ni ate) tetapi, kalau seseorang tidak memperoleh jambar yang seharusnya menjadi haknya, hal itu dapat mengakibatkan putusnya tali persaudaraan (papangan hasisirang).

Apabila kita mengacu pada pandangan bahwa jambar adalah bukti si soada pusung ( tidak ada yang di kucilkan ),  pemakaian jambar hata tampaknya sangat tidak tepat. Jambar hata adalah hak untuk berbicara yang hanya dimiliki orang tertentu, sedangkan jambar juhut adalah hak semua orang tanpa kecuali,  yang pembagiannya telah lebih dahulu di sepakati.

Ini adalah awal, orang Batak begitu rajin menyusun daftar nama anggota keluarganya, agar bila diperlukan, tidak seorangpun yang tidak di undang (di pusungi). Dalam pertemuan antar-keluarga, daftar ini mereka bicarakan dengan asyik, misalnya, si Anu adalah keturunan si Anu dan sekarang ada di (…….. mana). Dari pembicaraan seperti ini, tersusunlah satu daftar yang panjang dan bercabang-cabang. Inilah awal  timbulnya tarombo, suatu daftar nama yang sangat panjang, di dalam daftar mana kedudukan seseorang dapat diketahui dengan jelas.

AWAL TERJADINYA PENGELOMPOKAN

Pada kehadirannya yang pertama, menurut tarombo, ada dua kelompok besar marga Batak, yaitu kelompok marga keturunan Guru Tatea Bulan dan kelompok marga keturunan Isumbaon. Akan tetapi, pada masa-masa awal, tepatnya pada generasi ketiga keturunan Guru Tatea Bulan, diantara turunan Guru Tatea Bulan telah terjadi pengelompokan baru yaitu kelompok Lontung Morsada disatu pihak dan kelompok Simarata  dipihak lain. Begitu pula di kalangan turunan Raja Isumbaon, salah satu dari turunan Tuan Sori Mangaraja, yaitu turunan Tuan Sorba Dibanua, terjadi perpecahan yaitu turunan isteri kedua yang terdiri dari Sobu, Sumba dan Pospos memisahkan diri membentuk kelompok sendiri. Masih dikalangan turunan isteri pertama  yaitu Paittua, Silahi Sabungan dan Oloan juga memisahkan diri dari saudaranya Bagot Nipohan. Berikut kisahnya:

1. Lahirnya Kelompok Lontung Morsada

Pada waktu Guru Tatea Bulan masih hidup, hubungan di antara Iborboran dan Lontung¾dua bersaudara lain ibu¾terjalin dengan baik.  Hubungan baik itu dibuktikan dengan keduanya pernah bersama-sama mencari Tunggul Nijuji untuk membalaskan dendam dan sakit hati orang tuanya Saribu Raja. Konon, Tunggul Nijuji,  pernah mempermalukan Saribu Raja lewat permainan judi. Dalam suatu permainan judi, Saribu Raja kalah sehingga tidak ada lagi yang dapat dipertaruhkan. Karena tidak ada lagi yang dapat di pertaruhkan selain bulu mata, permainan pun terus berlanjut. Saribu Raja kalah terus, sehingga bulu matanya pun dicabut satu per satu. Betapa malunya Saribu Raja,  tampil tanpa bulu mata.

Berita ini sampai ke telinga kedua puteranya, Lontung dan Iborboran. Setelah mendengar orang tuanya dipermalukan, keduanya sepakat untuk mencari Tunggul Nijuji dan sekaligus membalaskan dendam orang tuanya. Inilah awal-mula pemeo yang dikenal dengan utang ni Saribu Raja.[1]

Kalau pada masa itu hubungan keduanya berlangsung dengan baik, tidak demikian halnya pada masa Balasahunu. Balasahunu lebih mendekatkan diri pada kelompok Limbong, Sagala, dan Lauraja, mengingat adanya perjanjian (padan) di antara orang tua mereka.  Balasahunu ber-alasan, semasa  ayahnya Iborboran masih  berada dalam kandungan telah ada perjanjian diantara orang tua mereka yang disepakati pada masa kakeknya  Gr Tatea Bulan. Balasahunu berkata  bahwa perjanjian (padan) itu tidak boleh diubah begitu saja. Jadi walaupun berdasarkan garis keturunan, ikatan persaudaraan antara Lontung di satu pihak dan Iborboran di pihak lain adalah sesuatu yang alami karena mereka berdua dilahirkan dari ayah yang sama, akan tetapi karena ada padan yang telah disepakati jauh sebelumnya (Balasahunu berpegang pada hal itu) dan mendekatkan diri Limbong, Sagala dan Lauraja yang bersatu dalam apa yang disebut kelompok NAMARATA.

Dengan alasan di tao parbubuan, di pasir parompanan, togu pe partubu, togu an do dongan sa padan (walau hubungan persaudaraan adalah erat, hubungan karena perjanjian tetap jauh lebih erat). Balasahunu lebih mengutamakan ikatan perjanjian dari ayahandanya. Menurutnya, perjanjian ini tidak boleh diingkari, tidak boleh diubah sesuka hati (padan na so jadi mose, uhum na so jadi muba). Inilah awal perpisahan antara dua saudara se -ayah dan berlainan ibu ini menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Lontung di satu pihak dan kelompok Borbor dipihak lain. Balasahunu bergabung dengan marga Limbong, Sagala dan Lauraja.

Perpisahan antara Balasahunu dan Lontung mulai menjadi suatu pertikaian terbuka pada waktu Balasahunu menyelenggarakan pesta. Sebagai keturunan keluarga “satu ayah,” turunan Lontung menuntut jambar yang sudah menjadi haknya, sebagaimana sudah berlaku pada masa  Iborboran. Balasahunu menolak dengan alasan adanya padan di atas. Inilah dialog yang terjadi diantara dua bersaudara lain ibu tersebut:

Lontung:     Adong do sarita nami tu hamu raja nami, si sada jambar do hita; martimbanghon si tolu partalian, hape tung so adong do jou-jou mu tu hami, agia di panortoran, agia di parjambaran.”

Balasahunu:  Ndang pola dohonon mu hami na lupa, ai ndang holan ahu sibahen i, ai andorang di bortian dope amanta Raja Iborboran, nunga marpadan hian hami.”

Lontung:   “Ndang tading parbubuan, bahenon ni parompanan; ndang tading  partubuan,  bahenon ni parpadanan.”

Balasahunu:  “Dohot do di titi ni si jolo-jolo tubu, na so adong padan, partubu tilihon, alai na adong padan, i do ingot on; songon ni dok ni umpama, di tao parbubuan, di pasir parompanan, togu pe partubu, toguan do dongan sapadan.”

Lontung: “Molo togu urat ni bulu, alai tumogu urat di padang; togu  do hape partubu,    alai tumogu hata ni padan. Jadi, ala so dohot do hami margugu, beha dohot do hami parjambaran?”

Balasahunu: “Hasea do nang partubu, alai hasea do nang padan. Taringot tu gugu dohot parjambaran, ba mardua di roha, marbagi di tangan, ba di hami sampulu gukguk, di hamu sada bilangan.”

Dialog tersebut kami terjemahkan kurang lebih sebagai berikut:

Lontung: Kami sangat menyesalkan tindakanmu ini. Seharusnya kita berdua  harus bersama-sama dalam berhadapan dengan sitolu partalian (Limbong, Sagala, Lauraja; penulis).”

Balasahunu: “Itu tidak benar, karena jauh sebelumnya, waktu kakek kita Raja Iborboran masih dalam kandungan, kami telah terikat perjanjian (padan).”

Lontung: “Walaupun kalian terikat perjanjian, kita adalah tetap saudara  satu   ayah.”

Balasahunu:  Memang benar kita adalah saudara satu ayah, tetapi perikatan karena perjanjian bagi kami lebih utama daripada perikatan karena hubungan kekeluargaan.”

Lontung: “Kalau memang janji itulah yang kamu utamakan, bagaimana soal jambar, apakah kami ikut kebagian?”

Balasahunu: “Bukan kami katakan hubungan keluarga tidak penting, tetapi tentang jambar untuk kami sepuluh bagian dan untuk kalian satu bagian.”         

Penolakan tersebut sangat mengecewakan keluarga Lontung. Ucapan yang mengatakan sepuluh bagian untuk Balasahunu dan satu bagian untuk Lontung sangat tidak berterima bagi keluarga Lontung. Inilah awal perpecahan di antara dua saudara yang berlainan ibu ini. Kelompok keturunan marga Lontung membentuk kelompok sendiri yang diberi nama kelompok “LONTUNG MORSADA” dan keturunan Iborboran bersama keturunan Limbong, Sagala dan Lauraja membentuk kumpulan sendiri yang diberi nama  “NAMARATA”.

Pada tanggal 16 Mei 1937, pada masa M. Salomo Pasaribu, diadakan satu Kongres turunan Gr Tatea Bulan di Haunatas Laguboti. Inilah kali pertama mereka berkumpul setelah beberapa dekade terlibat pertikaian. Kongres ini merupakan Kongres Persatuan dan Kesatuan diantara seluruh turunan Gr Tatea Bulan dimana diantara mereka terjadi saling maaf memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.  Kelompok baru dibentuk dengan nama PUNGUAN BORBOR MORSADA dan sejak saat itu nama kelompok Namarata mulai ditinggalkan.

2. Pertikaian pada keturunan Iborboran

Telah dikemukakan sebelumnya tentang anak yang lahir dari perkawinan Saribu Raja dengan Nai Margiring Laut yang bernama Iborboran. Iborboran kemudian mempunyai seorang anak, yang bernama Balasahunu. Telah dikemukakan pula tentang sebuah tombak yang diperoleh Iborboran dari kakeknya Tatea Bulan sewaktu dia masih berada dalam kandungan. Tombak ini, yang diberi nama hujur siringis dan yang juga dikenal dengan nama hujur jambar baho, dimaksudkan adalah simbol persatuan dan kesatuan keturunan Tatea Bulan. Pada waktu cerita ini berkembang, perawatan tombak  diserahkan kepada Datu Pulungan Tua, anak sulung Tuan Saribu Raja II.

Datu Pulungan Tua mempunyai dua saudara, Datu Marhandang Dalu dan Datu Bara. Mereka hidup rukun di sebuah kampung yang bernama Sipultak di sekitar Dolok Sanggul sekarang. Keturunan Datu Pulungan Tua kelak  bermarga Lubis dan keturunan Datu Marhandang Dalu bermarga Pasaribu, sementara keturunan Datu Bara bermarga Batubara. Mereka hidup dari hasil pertanian dan dengan mengumpulkan hasil-hasil hutan, seperti kemenyan, yang sewaktu-waktu mereka bawa ke Barus untuk ditukarkan dengan kebutuhan mereka yang lain.

Sebagai keturunan Guru (Tatea Bulan), ketiganya tidak melupakan ajaran leluhurnya yang ada dalam buku Pustaha Laklak. Tidak heran, karena alemualemu yang dikuasainya, mereka diberi gelar datu atau guru  pada awal namanya. Alemualemu ini ternyata kemudian menimbulkan malapetaka dalam bentuk permusuhan di antara dua bersaudara Datu Pulungantua dan Datu Marhondang Dalu. Permusuhan ini menyebabkan keturunan mereka tersebar ke mana-mana dan mereka tidak mau berada di tempat yang saling berdekatan karena dapat dipastikan mereka akan bertikai.

Pertentangan habis-habisan antara Datu Pulungan Tua dan Datu Marhandang Dalu berawal dari tombak yang dipinjam oleh Datu Marhandang Dalu dari abangnya Datu Pulungan Tua. Konon, se-ekor babi hutan selalu menghabisi tanam-tanaman Datu Marhandang Dalu. Segala jenis senjata sudah digunakan akan tetapi tidak mempan. Marhandang Dalu berkesimpulan bahwa satu-satunya senjata yang dapat membunuh babi hutan itu hanyalah tombak keluarga mereka (hujur siringis). Datu Marhandang Dalu mendatangi abangnya, untuk meminjam tombak tersebut. Datu Marhandang Dalu setuju, asalkan tombak  dikembalikan dengan utuh. Datu Marhandang Dalu setuju, akan tetapi ternyata kemudian syarat inilah menjadi  sumber mala petaka.

Dengan bermodal tombak itu, Datu Marhandang Dalu melakukan pengintaian di ladangnya. Pada waktu babi hutan dengan tenang melahap tanamannya, diam-diam Datu Marhandang Dalu datang mendekat. Tombak dilemparkan dan mengenai babi tersebut tetapi, malang, babi itu tidak mati, melainkan malah berlari kencang dengan tombak yang masih tertancap di badannya. Datu Marhandang Dalu mengikuti ceceran darah dengan harapan bahwa tombak tersebut akan diketemukan. Malang bagi Datu Marhandang Dalu, dia hanya menemukan gagang tombak, sedangkan mata tombaknya terbawa oleh babi tersebut entah ke mana. Datu Marhandang Dalu melaporkan kejadian ini kepada abangnya dan mengatakan bahwa dia bersedia menggantinya.

Apa jawaban Datu Pulungan Tua? “Sesuai perjanjian tombak yang  dipinjam harus dikembalikan dengan utuh,” katanya. Datu Marhandang Dalu diminta untuk mencarinya dan tidak boleh kembali sebelum benda itu ditemukan. Datu Marhandang Dalu terpaksa kembali masuk hutan untuk mencari ujung tombak tersebut. Begitu lama dia mencari dan banyak penderitaan dia alami. Karena penderitaan ini, dia bertekad untuk membalas tindakan abangnya pada suatu waktu. Cerita tentang penemuan ujung tombak tersebut dalam legenda penuh dengan dongeng yang tidak masuk akal. Namun, sesuatu yang tidak diceriterakan ialah kisah berikut.

Selama di hutan, Datu Marhandang Dalu berhasil menangkap seekor anak ayam hutan. Untuk mengusir rasa bosan dalam melakukan pengintaian, anak ayam itu dipelihara. Selama dalam peliharaan, kepada anak ayam itu diajarkan oleh Datu Marhandang Dalu berbagai kepintaran. Karena dilatih dari kecil, ayam hutan itu dapat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Ayam hutan peliharaan itu dibawa pulang bersama ujung tombak yang sudah diketemukan.

Pada suatu ketika, Datu Pulungan Tua mengadakan pesta. Para pengunjung pesta yang datang ke kampung harus melewati kampung Datu Marhandang Dalu. Di tempat ini, Datu Marhandang Dalu mempertontonkan kepintaran ayamnya. Pengunjung pesta yang sedianya harus datang ke tempat Datu Pulungan Tua, karena asyik menonton tingkah ayamnya, akhirnya lupa dengan tujuan mereka. Ada juga orang yang sampai di halaman Datu Pulungan Tua tetapi, ketika ditanya mengapa mereka terlambat, mereka menceritakan apa yang dilihatnya. Orang-orang tampaknya tidak percaya. Karena ingin membuktikan sendiri, satu persatu mereka angkat kaki.

 Kampung Datu Pulungan Tua yang seharusnya ramai menjadi lengang karena ditinggal para undangan. Datu Pulungan Tua mendatangi adiknya dengan alasan untuk memeriahkan pestanya, dia pun meminjam ayam tersebut. Datu Marhandang Dalu tidak merasa keberatan dengan syarat bahwa ayam itu harus dikembalikan kepadanya sebagai pemilik tanpa kurang suatu apa pun. Datu Pulungan Tua setuju. Dia membawa ayam yang dia pinjam itu dengan diiringi para penonton. Ayam itu kemudian dimasukkan ke dalam kurungan dan pesta pun kembali dilanjutkan. Selesai pesta, Datu Pulungan Tua bermaksud untuk mengambil ayam yang ada dalam kurungan tadi untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Akan tetapi, ayam telah raib dan, ke mana pun dicari, hewan pintar itu tidak diketemukan. Datu Pulungan Tua melaporkan kehilangan ayam itu kepada adiknya Datu Marhandang Dalu.

Apa jawab Datu Marhandang Dalu? “Ayam harus dikembalikan sesuai dengan perjanjian,” katanya dengan tegas. Datu Pulungan Tua baru menyadari bahwa sebenarnya dia telah masuk perangkap yang dia galinya sendiri. Karena ayam tidak pernah diketemukan lagi, terjadilah permusuhan di antara keduanya. Keduanya saling adu kuat, adu akal dan okol, bahkan sampai “menerbangkan lesung dan batu-batu besar.” Begitu dahsyat pertempuran itu, sehingga kampung Sipultak, tempat mereka tinggal, berubah menjadi ambar (rawa). Tempat itu terletak antara Siborong-borong dan Dolok Sanggul.

Untuk menghindarkan perseteruan, keturunan Datu Pulungan Tua pun mencari tempat yang lebih jauh sebagai tempat bermukim. Dalam pencarian wilayah baru, mereka cukup lama menjadi pengembara sebelum mereka akhirnya bermukim di Pakantan dan menamakan dirinya marga Lubis. Keturunan Datu Marhandang Dalu sendiri, yang menjadi marga Pasaribu, memilih suatu lembah di Silindung sebagai tempat untuk menetap. Sementara itu, sebagian keturunan adik mereka Datubara pergi menuju Selatan dan sebagian lagi pergi menuju Utara dan memilih tempat dekat Tambunan untuk tinggal menetap.

Datu Marhandang Dalu tinggal bersama menantunya Guru Mangaloksa tinggal di lembah Silindung. Dari Silindung kemudian mereka berpencar,   satu kelompok pergi ke arah Barus,  satu kelompok lagi menuju Lintong, dan kelompok terakhir,  di Aek Nabara. Di Aek Nabara, mereka menghadang lajunya pasukan Tuanku Rao yang bergerak ke Tanah Batak Utara. Perang dengan pasukan Paderi ini dikenal sebagai Perang Balut dan marga Pasaribu sendirilah yang menghambat pasukan Paderi lewat Habinsaran.


[1] Dalam hukum adat Batak, istilah utang ni Saribu Raja dihubungkan dengan hutang yang tidak dapat dibayar karena pelanggaran adat yang sangat serius. Pelanggaran seperti ini, misalnya, adalah kawin dengan seseorang dari marga sendiri,  membakar perkampungan (manurbu huta) atau membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: