Sadarsibarani’s Weblog

October 12, 2008

R A J A B A T A K

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 2:35 am
Tags: , , , , , , , ,

Bab 1

Batak adalah satu kelompok suku yang bermukim di suatu wilayah yang sangat luas di daerah Sumatera Utara¾tepatnya di pantai sebelah barat¾mulai dari pesisir pantai Natal yang berbatasan dengan Minangkabau hingga daerah Singkil, yang berbatasan dengan pantai Barat Aceh. Pantai Barat ini hanya sedikit dapat dihuni karena ganasnya ombak Lautan Hindia. Daerah yang dapat dihuni adalah Natal, Karan, Tabuyung dan Batu Mundan. Daerah ini masuk dalam wilayah Tapanuli Selatan. Pantai Barat lainnya, seperti Sibolga, Sorkam, Barus dan Manduamas berbatasan dengan wilayah Daerah Istimewa Aceh.Daerah pedalaman hingga Langgapayung dan Kota Pinang, yaitu kota yang berbatasan dengan Labuhan Batu, lebih banyak dihuni orang Batak yang berasal dari puak Mandailing. Daerah pedalaman lainnya, seperti Tapanuli Utara dan Simalungun, dihuni oleh Puak Toba dan Simalungun. Begitu juga, wilayah Dairi dihuni oleh puak Pakpak dan Dataran Tinggi Karo sampai Kotacane, kota yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Aceh, dihuni oleh Puak Karo. Selebihnya, Aceh Timur dan Aceh Tengah dihuni oleh Puak Gayo dan Alas yang masih digolongkan sebagai rumpun suku Batak.

Wilayah yang sangat luas inilah yang umumnya dikatakan sebagai wilayah Tanah Batak. Persoalannya ialah, sebelum mereka menempati wilayah yang mahaluas ini, di manakah mereka pada awalnya bermukim. Sebagai pendatang dari Hindia Muka, demikian pendapat para ahli, di manakah mereka pertama kali menjejakkan kakinya, mendirikan perkampungan, lalu berkembang. Pertanyaan ini perlu mendapat jawaban karena seluruh suku Batak, mulai dari puak Mandailing/ Angkola, puak Toba, puak Simalungun, puak Pakpak (Dairi), puak Karo, dan puak Gayo dan Alas mengaku dirinya sebagai orang Batak. Akan tetapi, apabila kepada masing-masing puak ditanyakan tentang asal-usul leluhurnya, hampir tidak satu pun dapat memberikan jawaban yang pasti. Hanya puak Toba, walaupun hanya didasarkan pada legenda, dapat mengatakan bahwa mereka berasal dari suatu kampung yang bernama Sianjur Mula-mula di kaki Dolok Pusuk Buhit, di pinggir Danau Toba. Konon, di kampung inilah Raja Batak bermukim dan mempunyai dua orang putera, yaitu Guru Tatea Bulan dan Siraja Isumbaon. Kampung Sianjur Mula-mula sekarang masih ada, terpelihara dengan baik, dan dihuni oleh marga Limbong dan Sagala, yang merupakan keturunan Guru Tatea Bulan.

Walaupun pada awalnya hanya berupa legenda, orang Batak, khususnya puak Toba, percaya akan asal-usul ini. Apa alasannya? Karena itulah yang tertulis dalam tarombo (sejarah). Sayangnya, tarombo ini terbatas hanya di kalangan orang-orang yang berasal dari puak Toba, padahal suku Batak tidak hanya terdiri atas puak Toba, melainkan juga puak-puak lain seperti Karo, Simalungun, Mandailing/ Angkola, Pakpak, Gayo dan Alas. Karena itu, pendapat bahwa Sianjur Mula-mula adalah asal-mula orang Batak sulit diterima. Tarombo yang ditulis menurut versi puak Toba tersebut tidak menerangkan dengan jelas hubungan antara leluhur puak Batak Toba dan puak-puak Batak yang lain, kecuali hanya reka-rekaan belaka.

Karena hubungan yang tidak jelas ini, sementara di lain pihak masing-masing puak mengaku dirinya sebagai orang Batak, timbul pertanyaan: Apakah tidak ada sesuatu yang mengikat mereka sehingga menjadi satu kesatuan? Inilah yang mendorong diselenggarakannya suatu seminar dengan tema “Seminar tentang Norma-norma Adat Batak” pada bulan September 1982, yang mencoba untuk mengambil suatu pendekatan dari segi kultural. Bersama beberapa eksponen generasi muda Batak, antara lain M. Jailani Sitohang, S.H., Abidan T.L. Sitohang, Pandapotan Hutabarat, Sumuran Harahap, Muhammad Simatupang, Raja Lumbantobing, Bastian Rajagukguk, John Kr. Limbong, Syahren Hasibuan, Fajar Lubis, Barita Pasaribu dan Justianus Naibaho, diadakan satu seminar yang dimaksudkan untuk mencoba memperoleh jawaban pertanyaan di atas.

Seminar tersebut berlangsung dari tanggal 2–4 September. Banyak pemuka Batak dan generasi mudanya hadir pada waktu itu. Di antara tokoh-tokoh tua yang hadir antara lain terdapat Pangulu Lubis, H.A.K. Pulungan, Bismar Siregar,

S.H., M.D. Siregar, Effendy Siregar, Hadeli Hasibuan dari Tapanuli Selatan; Selamat Ginting dan Bagin dari puak Karo; T. Djano Damanik dan Jahali Saragih dari puak Simalungun; M.D. Maha dan Marisi Tumangger dari puak Pakpak; dan Guru Nalom Siahaan, C.B. Tampubolon (Ompu Boksa II), Anton Hes Simbolon, M.T. Siregar, H. Baksa Napitupulu dan ahli hukum adat Prof. Mr. Herman Sihombing dari Universitas Andalas dari Puak Toba.

Seminar tersebut dipimpin oleh H. Djamaluddin Tambunan, R.P. Manurung, S.H. dan Bachtiar Ginting, dengan dibantu oleh Sadar Sibarani. Seminar berlangsung selama tiga hari dan berjalan dengan sukses. Di antara seluruh pembicara diperoleh kesepakatan bahwa seluruh puak mengakui bahwa adat dan budaya Batak berpola pada dalihan na tolu. Prinsip dalihan na tolu, yang pada puak Karo disebut sebagai sangkep sitelu, adalah satu pola adat yang hidup turun-temurun sejak leluhur orang Batak untuk mengatur tata pergaulan dan hubungan kekerabatan sehingga terikat dalam satu kesatuan.

Dalam pidato penutupan, H. Djamaluddin Tambunan, mantan gubernur Jambi, sambil menitikkan air mata berkata: “Baru pertama kali saya melihat suku Batak duduk secara bersama, berbicara tentang dirinya tanpa ada silang-selisih.” Dalam pertemuan tersebut tidak satu puak pun menolak keberadaan mereka sebagai keturunan Raja Batak dan menyangkal larangan kawin satu marga (dongan tubu atau dongan sabutuha), yang menjadi tiang utama dalihan na tolu. Artinya, keberadaan Raja Batak dan larangan kawin semarga ini diakui dan berlaku pada umunya bagi semua suku Batak.

Lalu, siapakah sesungguhnya Raja Batak itu? Dalam buku tarombo Batak, khususnya puak Toba, nama ini akan senantiasa ditemukan. Nama Raja Batak tetap berada di puncak sebagai leluhur puak Batak (Toba). Akan tetapi, apabila kita simak suatu skema indah yang diciptakan oleh O. H. Sihite Panderaja (1941) dalam bentuk pohon beringin (baringin tumbur jati), diperlihatkan bahwa kakek Raja Batak adalah Ompu Raja Ijolma dan anaknya adalah Raja Domia. Anak Raja Domia adalah Sori Mangaraja (Raja Batak). Sesudahnya, kita temukan nama Sisiak di Banua, lalu kembali muncul nama Sori Mangaraja. Setelah itu, di bawahnya ada nama Sinambeuk, yang anaknya kembali bernama Raja Batak.

Raja Batak yang merupakan anak Sinambeuk inilah yang digambarkan dalam setengah lingkaran dan mempunyai dua orang putera, yaitu Ompuntuan Doli dan Raja Sumba. Ompuntuan Doli berputera Guru Tatea Bulan, sedangkan Raja Sumba berputera Tuan Sori Mangaraja. Dalam skema itu terlihat bahwa Raja Batak yang pertama adalah Sori Mangaraja. Sebelum nama Raja Batak yang tercatat dalam tarombo sebagai leluhur orang Batak, masih ada nama Sori Mangaraja lain, yang merupakan kakek (ompung) Raja Batak. Begitu pula, dalam buku Pustaha Tumbaga Holing, karya Raja Patik Tampubolon, disebutkan bahwa masih ada lagi beberapa generasi di bawah Sori Mangaraja, barulah kemudian muncul nama Raja Batak sebagai leluhur puak Batak di Toba.

Jauh sebelum munculnya nama Raja Batak, telah ada nama Sori Mangaraja yang dikenal sebagai Raja Batak. Mengingat bahwa nama Sori Mangaraja sering disebut, hal itu menjadi petunjuk bahwa Sori Mangaraja bukanlah suatu nama, melainkan suatu gelar, sama halnya dengan gelar Raja Si Singamangaraja, yang digunakan oleh para penggantinya bahkan sampai 12 generasi. Berarti bahwa, dalam suatu periode tertentu, orang Batak pernah dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Sori Mangaraja, jauh sebelum periode Raja Si Singamangaraja, yang diakui sebagai Raja Batak yang bermukim di Bakkara.

Di antara kedua periode ini, masih ada nama raja yang lain, walaupun tidak sebesar pendahulunya, yaitu Raja Hatorusan. Nama Raja Hatorusan muncul sebagai gelar putera sulung Gr Tateabulan. Hanya saja nama ini menjadi sebuah legenda karena konon sejak dia dilahirkan, mempunyai bentuk yang aneh-berupa segumpal daging-mempunyai mulut, mata dan telinga, akan tetapi tidak mempunyai kaki dan tangan. Karena tidak punya kaki dan tangan dia ibarat segumpal daging sehingga dia diberi nama raja Miok-miok atau raja Gumeleng-geleng.

Tidak puas dengan bentuk tubuhnya yang aneh, miok-miok atau gumeleng-geleng meminta kepada ibundanya untuk diantarkan ke puncak Dolok Pusuk Buhit untuk bertemu dengan maha pencipta-Mulajadi Nabolon. Setelah bertemu, Gumeleng-geleng meminta agar tubuhnya disempurnakan. Permintaannya dikabulkan, tetapi sayang berlebihan; bentuknya menjadi seperti bengkarung (kadal) dan diberi pula sepasang sayap. Konon, Mulajadi Nabolon membuat tampangnya seperti itu agar dia tidak bergaul dengan manusia yang penuh dengan dosa “karena engkaulah penerus sembah (hatorusan ni somba) kepadaku,” demikian Mulajadi Nabolon. Sejak saat itulah Gumeleng-geleng menyandang gelar Raja Hatorusan.

Akan tetapi bila kita merujuk sebuah korespondensi antara Raja Si Singamangaraja XII yang ditujukan kepada Toengkoe Ilir di Barus, raja tersebut masih menyebut Toengkoe Ilir sebagai Raja Hatorusan. Itu berarti setidaknya di Tanah Batak Utara, gelar yang melegenda ini masih hidup, sejak pertama sekali disandang oleh Gumeleng-geleng, dan kemudian diteruskan oleh para penggantinya baik Toengkoe Hulu sebagai gelar raja di Barus Hulu dan Toengkoe Ilir sebagai gelar raja di Barus Hilir. Perlu diketahui, kerajaan di Barus terbagi dua, sejak muculnya keturunan Sultan Ibrahim dari Pagarruyung di Barus. Untuk menghindarkan pertikaian, mereka sepakat membagi dua kerajaan tersebut yaitu Barus Hulu untuk mereka yang berketurunan Batak dan Barus Hilir untuk mereka yang berketurunan Minangkabau.

Sementara Raja Uti, menjadi raja na manjujung baringin na di Barus, dia oleh turunan Gr Tateabulan dijadikan tokoh mistis dan kemudian melegenda bahwa dia adalah tokoh yang tidak pernah mati karena dia dipercaya hatorusan ni somba tu Mulajadi Nabolon (jalan untuk menghaturkan sembah kepada maha pencipta).

Khusus tentang Raja Si Singamangaraja I, masih diperlukan penelitian yang mendalam: Mengapa keturunan bungsu (Raja Oloan¾Sinambela) dari Tuan Sorba Dibanua dapat diakui sebagai raja? Hal ini menjadi pertanyaan karena, dalam adat partuturon Batak (Hukum Adat Batak), putera bungsu menjadi raja i jolo bertentangan dengan hukum adat. Tulisan Adniel Lumbantobing yang berceritera tentang seorang ibu yang mandi di hutan (harangan sulu-sulu), lalu hamil dan melahirkan anak yang luar biasa, yang sarat dengan berbagai mitos dan dongeng, sulit diterima, apalagi untuk masa sekarang. Begitu pula rasa sayang kepada sang adik, seperti yang dilansir Ompu Buntilan dalam bukunya SEJARAH BATAK adalah cerita omong kosong. Pasti ada satu kejadian yang luar biasa yang menyebabkan putera si anak bungsu ini diakui sebagai raja. Karena sahala sihahaan (hak si anak sulung) sebagai raja i jolo, sampai saat ini masih kental dalam hidup orang Batak.

Lalu, bagaimanakah dengan keberadaan Raja Sori Mangaraja, yang namanya banyak disebut dalam buku tarombo? Namanya sering disebut, sementara cerita tentang dirinya tidak pernah ada. Itulah yang menyebabkan Raja Sori Mangaraja menjadi suatu misteri yang, apabila dapat dijawab, akan membuka tabir yang meliputi asal-muasal puak-puak Batak.

Kita yakin bahwa, pada zaman Tuan Sori Mangaraja, orang Batak masih bermukim di suatu tempat dan belum terbagi-bagi ke dalam beberapa puak. Di tempat ini mereka membangun sistem kemasyarakatan yang patrilineal. Untuk menjamin keutuhan sistem ini, dibentuk satu pola hubungan yang kita kenal dengan Dalihan Natolu. Pelanggaran atas pola ini, terutama yang menyangkut perkawinan dalam kelompok sendiri (sedarah) dapat menyebabkan seseorang si si pulpulon tu ruang batu, sitaha on tu ruang bulu, tidak ada tempat yang aman baginya, bahkan ke liang batu atau ke dalam ruang bambu. Kehidupan inilah yang mereka lakoni selama ratusan tahun.

Pasti ada suatu alasan mengapa mereka kemudian berpisah dan berada dalam jarak yang begitu berjauhan. Faktor jarak ini penyebab komunikasi mereka terputus, yang mengakibatkan mereka menjadi kelompok-kelompok yang berdiri sendiri-sendiri. Kelompok-kelompok ini mengembangkan diri dengan kebiasaan sendiri, namun dasar yang mengikat tata pergaulan tidak pernah berubah yaitu pola dasar dalihan na tolu.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: