Sadarsibarani’s Weblog

October 12, 2008

MUNCULNYA TAPANULI SEBAGAI KARESIDENAN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 2:39 am
Tags:

Menjadi “orang tapanuli” mempunyai sejarah sangat panjang. Perkataan Tapanuli ini pertama sekali diperkenalkan sewaktu Batta Districh dipisah dari Hoofd Afdeling Minangkabau. Kata “tapanuli” itu sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Pemerintah Belanda. Pada tahun 1823 dengan Keputusan Gubernur Jenderal No. 18 pada tanggal 4 November 1823, karesidenan Minangkabau dibagi menjadi dua hoofdafdeling yaitu Hoofdafdeling Minangkabau dan Hoofdafdeling Padang. The Tapian Na Uli Territories, yang sebelumnya adalah wilayah dibawah otoritas pemerintah Inggeris meliputi Natal sampai dengan Sibolga, dimasukkan dalam Karesidenan Minangkabau. Dahulu kala tempat ini menjadi tempat persinggahan kapal-kapal layar Inggeris, untuk mengisi air minum dalam pelayaran dari Calcutta ke Bengkulen. Sejak itulah wilayah ini dimasukkan dalam otoritas Britania Raya ( 1724-1825). Akan tetapi dengan ditanda tanganinya Traktat London (1824), Inggeris dengan terpaksa melepas wilayah ini, termasuk juga wilayah lain kepada pemerintah Belanda. The Tapian Nauli Territories dimasukkan dalam Hoofdafdeling Minangkabau.

Pada masa C.Th. Elout sebagai komisaris jenderal yang dihunjuk oleh pemerintah jajahan untuk mengambil over eks jajahan Inggeris, timbul keinginan, untuk memisah Natal dan sekitarnya menjadi satu distrik sendiri dengan nama Batta Districht. Keinginan tersebut muncul, karena perbedaan ethnis yang berdiam di wilayah ini. Natal dan sekitarnya dan begitu pula Mandailing dan Sibolga dihuni oleh ethnis Batak, sementara Minangkabau dihuni oleh ethnis Minang. Itu sebabnya namanya pun diberi nama Batta Districht sesuai nama penghuninya.

Pemberian nama Batta Districht, pengganti nama The Tapanuli Territories ditolak oleh orang-orang Mandailing, dengan alasan orang Mandailing bukan orang Batak. Karena banyak bergaul dengan orang-orang Minang dan kebetulan menganut agama yang sama (Islam), mereka merasa lebih dekat dengan orang Minang dan merasa allergi dengan kata “batak”. Akan tetapi pemerintah tetap berpendirian akan tetap memisah wilayah ini. Oleh karenanya dicari sebuah nama yang kira-kira dapat diterima oleh mereka yang menentang. Dengan merubah kata Tapian Na Uli yang dulu dipakai oleh Inggeris, menjadi Tapanuli, diperkenalkan nama baru yaitu Residente van Tapanoeli meliputi wilayah Groot Mandailing dan Natal, Sibolga dan sekitarnya, termasuk Barus. Kata “tapanuli” berasal dari gabungan tiga kata tapian na uli, yang berarti tempat permandian (tapian) yang (na) indah (uli). Pemberian nama indah ini, ternyata tidak mendapat tantangan dari mereka yang semula menentang. Bersamaan dengan pemisahan itu, diangkat pula beberapa regent di Sumatera Barat dengan gaji

f300 per bulan. Menyusul di Tanah Batak Selatan, untuk pertama sekali, diangkat seorang regent bernama Raja Gadumbang Lubis. Kedudukan regent ini, menurut janji pemerintah Belanda, disamakan dengan sultan di Pulau Jawa. Akan tetapi, sebagaimana ternyata kemudian, janji tersebut tidak pernah ditepati. Setelah Raja Gadumbang mangkat dalam perang melawan tentara Paderi, dia digantikan Sutan Kumala Bulan Nasution. Setelah itu, tidak ada lagi regent di Tapanuli. Sebuah sistem pemerintahan yang baru, diperkenalkan dimana setiap negeri dipimpin oleh seorang kepala luhak.

Mengapa nama Batta Districht ditolak oleh orang-orang Mandailing ? Alasan yang utama ialah karena pada masa itu orang Batak masih digolongkan orang-orang bodoh, bebal dan kepala batu dan mereka tidak mau dimasukkan kelompok seperti itu. Bila kita membaca tulisan van deer Tuuk, yang menyetakan bahwa orang-orang Batak dari pedalaman, menjadi makanan empuk para pedagang Melayu dan Minang yang ada di Barus, membuktikan bahwa orang-orang Batak pada waktu itu, benar-benar masih “bodoh” sehingga dapat diperdaya dengan mudah.

Alasan yang kedua, suku Batak sering dihubungkan dengan laporan Charles Miller dan Giles Holloway dan kemudian ditulis oleh W Marsden dalam bukunya The History of Sumatra, tentang satu suku di pedalaman yang masih kannibal. Orang Batak makan orang, merupakan satu streotipe yang sukar untuk dihilangkan akan suku yang satu ini.

Alasan yang ketiga ialah orang Mandailing sudah sejak lama mempunyai hubungan dengan orang Minangkabau. Banyak guru-guru mengaji yang didatangkan dari Minangkabau mengajarkan agama Islam di Tanah Batak Selatan. Begitu pula orang-orang Mandailing banyak belajar berdagang dari orang Minangkabau, menyebabkan hubungan mereka sangat akrab. Dalam bahasa Minang, perkataan batak itu mempunyai arti yang jelek yaitu rampok. Orang-orang Mandailing tidak mau disebut sebagai pembatak (perampok).

Inilah awal pertama munculnya nama Tapanuli, menjadi nama satu wilayah karesidenan. Kemudian nama tapanuli oleh proses ruang dan waktu, juga menjadi sebutan bagi orang-orang yang berasal dari karesidenan itu. Mereka menyebut dirinya “orang Tapanuli” (yang berasal dari karesidenan tapanuli), sebagai penganti “orang Batak”. Secara tersirat, sebutan ini sebenarnya lebih merupakan “pengingkaran diri”, karena malu, di cap sebagai orang bodoh, bebal dan kepala batu, apalagi kannibal. Dan itu pula sebabnya orang-orang Batak yang merantau ke luar pulau lebih nyaman menyebut dirinya sebagai orang seberang. Sementara dalam intern mereka sendiri, mereka menyebut diri halak hita (orang kita= Batak)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: