Sadarsibarani’s Weblog

October 12, 2008

MERANTAU KE TANAH DELI

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 2:40 am
Tags:

Dahulu, wilayah Sumatera Utara hanya dihuni oleh dua suku. Kelompok yang pertama adalah suku Batak dan yang kedua adalah suku Melayu. Suku Batak bermukim di pantai barat Sumatera dan suku Melayu bermukim di pantai timurnya. Wilayah mereka dipisah oleh batas alam -Bukit Barisan-dengan hutan-hutannya yang lebat dan jurang-jurangnya yang dalam. Kenyataan bahwa banyak suku Batak kemudian bermukim di pedalaman dan suku Melayu tetap tinggal di pinggir-pinggir pantai dijadikan sebagai alasan mengapa suku Melayu dianggap sebagai pendatang yang menyusul kemudian.

Mata pencaharian utama suku Melayu sebagai pedagang dan nelayan menyebabkan mereka banyak berhubungan dengan pedagang-pedagang dari Arab. Itulah sebabnya mereka kemudian memeluk agama Islam. Kehidupan suku Melayu mulai meningkat sejak di daerah ini, beberapa maskapai asing membuka perkebunan besar. Dengan memanfaatkan hasil penelitian yang dilakukan para ahli seperti Junghuhn, suatu perusahaan yang bernama Deli Maschappij (Deli Mij) membuka perkebunan tembakau di Tanah Deli.

Karena perusahaan ini meraup keuntungan yang sangat besar, berbagai perusahaan asing lainnya, seperti Horrison Crossfield dari Inggris, Socfindo dari Prancis, United States Rubber Sumatra Plantation dari Amerika, HVA (Hollands Vereniging Amsterdam) dari Belanda berlomba-lomba untuk menanam modal dengan membuka perkebunan. Perusahaan-perusahaan ini memperoleh hak sewa tanah jangka panjang (erfacht) dari para sultan. Selain menamam tembakau di Tanah Deli, perusahaan-perusahaan tersebut menanam karet di Asahan dan Labuhan Batu dan kelapa sawit di Deli Serdang. Di Simalungun sendiri, HVA menanam karet sehingga orang-orang di Simalungun juga mengenal karet dengan nama lain yaitu “hapea” (pengucapan dari HVA).

Bukan hanya di bidang perkebunan, suatu perusahaan asing yang bernama Batavsche Petroleum Maschappiy (BPM) melakukan usaha pengeboran minyak di Pangkalan Berandan, Langkat. Sultan Langkat bernama Tengku Abdul Aziz, memperoleh 1 benggol (2 ½ sen), untuk setiap 16 liter minyak yang di sedot dari bumi Langkat. Itu sebabnya pada waktu itu Kesultanan Langkat merupakan Kesultanan yang paling kaya di daerah Swapraja Sumatra Timur.

Suatu pelabuhan khusus dibuka di Belawan untuk membawa bahan-bahan mentah tersebut ke berbagai negara. Untuk mendukung usaha ini diperlukan jalur transportasi. Sejumlah jalan raya dibangun dengan mulus. Di samping itu, didirikan pula suatu perusahaan transportasi berskala besar dengan nama DSM (Deli Spoorweg Maschapiy). Mereka membuka jalur kreta api mulai dari Medan menuju Tebing Tinggi. Di tempat ini, jalur tersebut bercabang dua, satu menuju Pematang Siantar dan satu lagi menuju Labuhan Batu. Dari Kisaran, jalur kereta api tersebut bercabang dua lagi, satu ke arah Tanjung Balai dan satu lagi ke arah Rantau Perapat. Juga dibuka jalur kreta api menuju Aceh, dengan melewati Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu. Hingga muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM), rel kereta api ini masih tetap utuh, tanpa pernah dirusak. Kurang jelas apa penyebabnya, jalur kereta api tersebut tidak pernah difungsikan.

Dengan dibukanya perkebunan-perkebunan ini, terbuka pula banyak lapangan kerja. Pihak yang pertama memperoleh keuntungan dengan masuknya perusahaan-perusahaan ini ialah para Sultan yang ada di Sumatera Timur. Sultan Langkat misalnya memproleh uang dari setiap liter minyak bumi yang di sedot dari bumi Pangkalan Susu dan Pangkalan Berandan. Sultan Deli memperoleh uang dari hak sewa tanah dari perkebunan tembakau. Sultan Serdang begitu pula, memperoleh hak sewa atas tanah yang dibuka sebagai perkebunan karet dan kelapa sawit. Juga Sultan Asahan, Raja-Raja Simalungun, Sultan Bilah dan Sultan Kota Pinang. Selain memperoleh kekayaan dari sewa tanah mereka juga mendapat gaji bulanan dari Pemerintah. Jika kita perhatikan, mereka yang diangkat sebagai Sultan di Sumatera Timur, lebih bernuansa boneka pemerintah jajahan. Sang Naualuh Raja Siantar, yang berpendirian, tidak sejengkal pun tanahnya diberikan kepada Belanda, dimakzulkan lalu dibuang ke Bengkalis. Sultan dan raja-raja bentukan Belanda ini, hidup mewah dan berkecukupan, sementara rakyat hidup serba kekurangan. Hal inilah yang kelak memicu timbulnya revolusi sosial, begitu penjajah Belanda angkat kaki.

Di belakangnya menyusul orang-orang dari Tanah Batak Selatan yang, selain karena mereka telah lebih dahulu memperoleh pendidikan, juga banyak memperoleh kemudahan dari sultan Deli. Mereka bahkan diberikan sebidang tanah di Sungai Mati untuk dijadikan sebagai perkampungan yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Baru. Disamping itu oleh pendatang dari Tanah Batak Selatan ini juga membeli sebidang tanah di dekatnya yang dijadikan sebagai tempat pemakaman khusus untuk kelompok mereka.

Ibarat setumpuk gula yang dirubung semut, wilayah ini banyak diminati perantau dari Cina dan India. Orang Cina pada umumnya berasal dari Hokian. Seorang perantau Cina, bernama Cong A Fie datang dari Hokian. Dengan bermodal sepotong kayu pikul untuk mengumpul goni-goni bekas dan botol-botol kosong, dia berhasil membangun kerajaan bisnisnya di Medan. Dia membangun toko yang diberi nama Kesawan dan Canton, yang kemudian menjadi nama kawasan tersebut. Sayangnya, tidak seorang pun di antara anak dan cucunya mampu mempertahankan bisnis Cong A Fie. Rumahnya yang begitu megah di Kesawan, masih berdiri dengan kokoh menunjukkan sisa-sisa kejayaan Cong A Fie.

Sebagian orang Cina perantauan ini pada awalnya bermukim di Kwan Te Bio (sekarang Jalan Irian Barat), bersebelahan dengan Kesawan. Nama ini pada awalnya adalah nama kelenteng yang dibangun di sana dan jalan di depannya cukup lama diberi nama Jalan Kwan Te Bio, nama klenteng tersebut. Sebagian lagi mereka tinggal di Lho A Yok (sekarang Jalan Asia). Orang-orang Cina perantauan ini bergabung dalam suatu organisasi yang diberi nama Hwa Kiaw Kong Hui atau Perkumpulan Cina Perantauan.

Wilayah ini juga menarik minat pedagang dari India, berasal dari Bengal sehingga orang menyebut mereka orang Benggali. Mereka bergerak di bidang perdagangan tekstil dan juga mengembangkan usahanya dalam pemeliharaan lembu (farming). Mereka mengelola bisnis ini dengan baik, sehingga dapat mensuplai susu untuk seluruh kota Medan. Lembu punya susu, Benggali punya nama, merupakan pemeo orang Medan akan dominasi orang Bengal dalam bidang ini. Juga ada orang India (Tamil) yang yang didatangkan dari Madras, untuk pembuatan jalan raya. Mereka bermukim di sebuah perkampungan yang sampai sekarang dinamakan kampung Madras, walau lebih dikenal dengan nama kampung keling. Sebuah sekolah khusus turut pula dibangun dengan nama Khalsa English School dengan kata pengantar bahasa Inggeris.

Sementara itu, para pendatang dari Minang, ditempatkan disebuah tempat didepan istana Sultan. Karena bakat dagangnya tempat ini dipersiapkan sebagai satu kota, hingga dinamakan Kota Maksum disekitar jalan Puri dan Amaliun sekarang. Pemukiman ini sampai sekarang masih didominasi oleh orang-orang yang berasal dari Minangkabau dan sedikit diantaranya berasal dari Aceh. Banyaknya pendatang ini menyebabkan Medan yang pada awalnya didirikan oleh seorang pendatang dari Tanah Batak bernama Guru Patimpus, berubah menjadi kota besar.

Banyaknya bidang usaha yang dibuka, membutuhkan tenaga kerja kelas bawah yang di Sumatera Utara sangat kurang. Untuk itu, pemerintah Belanda mengeluarkan Besluit No. 1 Tahun 1880 tentang Koolie Ordonantie atau lebih dikenal sebagai Poenale Sanctie. Sejumlah penduduk miskin di Pulau Jawa diiming-iming dengan pekerjaan yang enak dan penghasilan yang besar. Banyak orang tergoda dan membubuhkan cap jempol dalam kontrak yang isinya tidak mereka ketahui sama sekali. Mereka ditempatkan di sejumlah emplasemen perkebunan. Keturunan kuli-kuli kontrak inilah yang sekarang dikenal sebagai Puja Kesuma¾Putera Jawa Kelahiran Sumatera.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: