Sadarsibarani’s Weblog

October 12, 2008

HIPOTESA PANTAI TIMUR

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 2:52 am
Tags: , ,

Tidak adil jika kita kemukakan satu hipotesa baru yang menyimpulkan bahwa orang Batak pertama bermukim di pantai barat Sumatera, tepatnya di Barus, tanpa mengemukakan hipotesa sebelumnya yang menyimpulkan bahwa orang Batak pertama bermukim di pantai timur Sumatera, tepatnya di Pasai dan Samudra, sebagai perbandingan.

Pendapat bahwa orang Batak pertama bermukim di pantai timur bersumber dari buku Hikayat Raja-raja Pasai. Dalam hikayat tersebut tertulis kisah berikut: “Ada pun diceritakan oleh yang empunya cerita, ada suatu kaum orang dalam negeri itu tiada mahu masuk Islam, maka dia lari ke hulu sungai Peusangan maka karena itulah dinamai orang dalam negeri itu Gayur, hingga datang pada sekarang ini.” Gayur yang berarti “berlari cepat” yang dimaksud dalam cerita ini adalah orang (Batak) Gayo.

Hikayat Raja-raja Pasai ini adalah suatu naskah yang unik karena tulisan itu tidak ditemukan di Aceh atau bahkan di Indonesia, melainkan di London, Inggris. Lebih unik lagi, naskah itu tadinya berada di tangan bupati Demak di Jawa yang kemudian, atas permintaan Sir Thomas Stamford Raffles, diminta untuk dibuatkan salinannya. Catatan penyalin pada akhir naskah, tertanggal 21 Muharram 1230 H (tanggal 2 Januari 1814), ditandatangani oleh Sangking Kyai Haji Suradimanggala, bupati Sapupuh Demak, negeri Bogor. Salinan naskah tersebut kemudian diserahkan oleh Nyonya Sophia, janda Raffles, kepada Royal Asiatic Society di London untuk disimpan. Mengapa Raffles sampai merasa perlu untuk menyalin naskah ini? Jawabannya tentu saja ialah karena, walaupun tulisan ini berbentuk hikayat yang kebenaran ilmiahnya tidak sepenuhya dapat dipercaya, banyak sisi naskah tersebut mempunyai kaitan dengan fakta-fakta kejadian di sekitar Pasai dan Samudra pada waktu itu, terutama menyangkut perkembangan Islam di Nusantara.

Naskah ini pertama kali dialihlatinkan oleh Dr. A.H. Hill dan kemudian dijadikan sebagai bahan studi oleh Dr. Ed. Duraurier, seorang ahli bahasa Melayu. Pada tahun 1874, naskah tersebut disalin seluruhnya oleh Aristide Merre ke dalam bahasa Prancis dengan judul Histoire de Rosi de Passay. Perubahan judul hikayat tersebut dengan menggunakan kata histoire (sejarah) membawa konsekuensi. Apa pun yang sudah tertulis dalam hikayat tersebut berubah menjadi fakta sejarah. Belakangan, sejumlah ahli tertarik pada naskah ini dan turut mengambil bagian dalam pembahasannya. Hal ini menyebabkan buku Hikayat Raja-raja Pasai menjadi terkenal dan menjadi kajian banyak ahli. Celakanya ialah banyak ahli berpendapat bahwa orang-orang yang gayur ke hulu Peusangan itu adalah orang-orang yang kemudian menjadi leluhur orang Batak. Pandangan ini juga dianut W.K.H. Iypes, seorang ahli peneliti Belanda, yang dikutip oleh Wasinton Hutagalung dalam bukunya Tarombo ni Suku Batak. Hanya saja, perkiraan tahunnya adalah sekitar tahun 1.000 S.M., jauh sebelum agama Islam masuk ke Nusantara. Mengenai kekuatan fakta sejarah Hikayat Raja-raja Pasai tersebut, Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli tentang Aceh, berpendapat sebagai berikut:

Dia tercatat dalam sejarah Melayu dari Kerajaan Pase (Hikayat Raja-raja Pase) yang ditulis oleh Duraurier. Sebagai cerita historis, kronik tentang Pase ini kurang mempunyai arti dan penjelasan, yang jika disajikan satu dengan lainnya, saling berlawanan. Juga demikian halnya dengan Anjing si Pase, dua cerita tradisional yang disajikan nyata antara keduanya saling berbeda.”

Pendapat ini dikemukakan pada saat memberikan ulasan tentang orang-orang Gayo yang, menurut beliau, adalah suku tersendiri yang bukan Aceh dan bukan pula Batak. Beliau menyediakan banyak bukti tetapi bukti ini rupanya tidak cukup memadai karena, sampai saat ini, orang Gayo dan juga orang Alas tetap mengakui mereka adalah orang Batak. Bahkan, secara berseloroh mereka sering berkata bahwa mereka adalah saudara tua dari Batak yang lain.

Dari sekian banyak pendapat yang pernah dikemukakan tentang keberadaan orang Batak pertama di pantai timur Sumatera, sampai sekarang belum pernah ada orang yang membantah. Akan tetapi, tentang di daerah mana tepatnya mereka bermukim di pantai timur Sumatera tersebut dan apa sebabnya akhirnya mereka masuk ke tengah hutan yang lebat dan penuh bahaya, tidak ada penjelasan yang memadai. Alasan pengislaman Pulau Sumatera yang baru terjadi sekitar awal abad 13, menyebabkan mereka gayur, sulit diterima.

Alasan-alasan yang tidak memadai ini jugalah yang menjadi salah satu faktor penyebab mengapa orang Batak lebih percaya pada legenda-legenda yang menyelimuti dirinya. Walaupun pada saat ini banyak orang Batak menghuni daerah-daerah di pantai timur Sumatera, seperti di Asahan, Labuhan Batu, Langkat, Delitua dan Deli Serdang, kebanyakan di antaranya adalah pendatang. Tidak ada satu bukti pun yang dapat dijadikan sebagai pegangan bahwa orang Batak tersebut pernah bermukim di pantai timur Sumatera. Upaya untuk mencoba mencari hubungan antara Dolok Pusuk Buhit dan pantai timur sepertinya sangat sulit. Sampai saat ini, tidak ada satu hal pun yang dapat dijadikan sebagai bukti hubungan antara pantai ini dan Tanah Batak, seperti hubungan antara Barus (di pantai barat) dan daerah pedalaman Tanah Batak yang bahkan banyak disebut-sebut dalam cerita-cerita rakyat (folklore).

Salah satu folklore yang terkenal dari pantai barat ini adalah cerita tentang pertemuan Raja Manghuntal dengan Raja Uti. Menurut cerita tersebut, Manghuntal berangkat ke Barus untuk meminta kembali barang-barang pusaka leluhurnya Raja Sori Mangaraja yang pernah dikuasai oleh Raja Uti secara tidak sah. Keberangkatannya ke Barus pada hakikatnya bertujuan agar eksistensinya sebagai “raja” dapat diakui sesuai dengan amanat Tuan Sori Mangaraja kepada keturunannya. Cerita tentang keberangkatan Manghuntal ke Barus ini dijadikan sebagai dongeng oleh Mangaraja Salomo dalam bukunya Tarombo ni Borbor Marsada.

Ada juga folklore lain tentang hubungan antara Toba dan Asahan dengan judul “Si Nagaisori” atau “Si Piso Somalin”. Folklore ini menceritakan bahwa Si Nagaisori dan hambanya Si Piso Somalin berkunjung ke tempat tulang-nya di Asahan. Dalam perjalanan, ketika Si Nagaisori sedang mandi, Si Piso Somalin mengambil dan mengenakan pakaian Si Nagaisori. Karena pakaian menandakan suatu status sosial seseorang, sejak itu mereka berdua pun bertukar kedudukan. Si Nagaisori akhirnya menjadi hamba dan si Piso Somalin menjadi tuannya. Folklore ini merupakan suatu cerita tentang seorang hamba yang berganti bulu (pakaian) menjadi tuan, mirip dengan cerita Petruk menjadi raja dalam cerita wayang versi kebudayaan Jawa.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: