Sadarsibarani’s Weblog

October 12, 2008

HIPOTESA PANTAI BARAT

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 2:45 am
Tags: ,

Raja Batak diakui sebagai leluhur orang Batak. Tentang asal-usul orang Batak, hingga saat ini belum diperoleh kesepakatan. Begitu juga tentang asal-usul namanya. Dalam kamus Batak, ada kata “batahi” yang berarti alat pemecut kerbau yang terbuat dari ranting bambu yang panjang atau kata “mambatak” yang berarti berlomba (aducepat) dengan menunggang kerbau. Sulit menghubungkan kata “batak” dengan suatu nama atau mencari kata lain yang memiliki pengertian sepadanan. Sepertinya, kata “batak” hanyalah sekadar satu nama yang digunakan seseorang untuk dirinya. Dia adalah Raja Batak yang dikenal dan diakui oleh orang Batak sebagai leluhurnya. Jadi, nama ini tidak jauh berbeda dari nama-nama yang lain, seperti kata “raja” dalam Raja Inal Siregar yang mantan gubernur Sumatera Utara atau Raja Kami Sembiring yang mantan Panglima Kodam di Irian Jaya. Kedua orang ini sama sekali bukanlah raja walaupun di depan nama mereka terdapat kata “raja.” Jelaslah bahwa nama “raja” di depan nama Batak tidak serta-merta dapat dihubungkan dengan satu kerajaan yang lengkap dengan perangkat kekuasaannya. Walaupun beberapa periode, ada raja yang hidup ditengah orang Batak, raja dalam bentuk pemegang tampuk kekuasaan, tidak pernah ada.

Menurut legenda asal muasal orang Batak, dikisahkan seorang puteri khayangan yang bernama Siboru Deak Parujar jatuh ke suatu lautan ketika dia melarikan diri karena dia tidak mau dipaksa kawin dengan seorang pilihan orang tuanya. Dia kemudian menciptakan bumi lewat sekepal tanah yang dikirimkan oleh Mulajadi Nabolon kepadanya. Begitu Siboru Deak Parujar selesai menciptakan bumi, Mulajadi Nabolon mengirimkan seseorang yang bernama Raja Ihat Manisia, yang kemudian menjadi teman hidupnya. Dari perkawinan Raja Ihat dan Boru Deak Parujar, setelah beberapa generasi kemudian, muncul nama Raja Batak. Masih menurut legenda tersebut, Raja Batak bermukim di kaki Dolok Pusuk Buhit di suatu kampung yang bernama Sianjur Mula-mula. Kampung ini hingga sekarang masih terpelihara dengan baik dan dihuni oleh marga Sagala, yang merupakan keturunan Guru Tatea Bulan.

Raja Batak, konon, mempunyai beberapa putera dan dua di antaranya, yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Dalam buku tarombo, apabila marga-marga Batak Toba dirunut ke atas, keseluruhannya akan mengarah pada dua nama itu. Di puncaknya bertengger satu nama yaitu Raja Batak. Inilah yang dijadikan sebagai alasan mengapa Raja Batak diakui sebagai leluhur orang Batak, setidaknya untuk orang-orang yang bermukim di Toba (puak Toba).

Berdasarkan nama ini disusunlah satu daftar silsilah yang lebih dikenal dengan nama tarombo. Buku tarombo Batak yang pertama ditulis oleh seorang ambtenar Belanda yang bernama W.K.H. Iypes. Buku tersebut ditulis berdasarkan hasil wawancara dengan banyak orang sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya.

Penulisan tarombo itu pada awalnya dimaksudkan dalam upaya untuk melakukan kampung vorming (penataan kampung) menurut versi pemerintah penjajah. Tujuannya ialah agar, dalam penentuan “raja-raja” lokal, tidak timbul silang-sengketa. Dalam masyarakat adat Batak, hak sebagai raja ijolo (raja yang di-kedepan-kan) adalah hak keturunan sulung dari tiap marga. Hak tersebut masih tetap diakui bahkan hingga saat ini. Keturunan raja-raja ijolo inilah yang diangkat oleh pemerintah penjajah sebagai kepala-kepala kampung dan kepala-kepala negeri. Mereka diberi gaji bulanan dengan syarat setia pada penjajah.

Untuk tujuan itu Iypes melakukan sejumlah wawancara dengan tetua-tetua marga. Hasil wawancara ini yang pada awalnya hanyalah suatu laporan, ditulis dalam bahasa Belanda, dimaksudkan sebagai buku pegangan bagi para ambtenar yang menyusul kemudian. Akan tetapi, karena isinya dianggap cukup bagus, laporan tersebut kemudian diterbitkan menjadi satu buku dengan judul Bijdrage tot de Kennis van de Stamverwantschappen en het Gronden Rech der Toba en Dairibataks.

Terbitnya buku ini menumbuhkan inspirasi bagi penulis-penulis pribumi untuk menulis buku-buku tarombo. Penulis tarombo pribumi yang pertama dan yang kedua adalah ambtenar Belanda dengan jabatan Demang. Jabatan yang mereka emban sebagai Demang atau Asisten Demang, banyak menyelesaikan sengketa-sengketa batas wilayah satu kelompok marga. Jabatan inilah yang mendorong mereka menulis tarombo tersebut.

Buku pertama dalam bahasa Batak ditulis oleh Waldemar Hutagalung, dengan judul Tarombo Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak (1926), menyusul Mangaraja Salomo Pasaribu, yang khusus menulis tentang Tarombo ni Borbor Marsada (1929). Buku M. Salomo Pasaribu sangat menarik karena tulisannya dimulai dengan legenda tentang terjadinya bumi dan manusia.

Kemudian muncul karya H.B. Siahaan gelar Mangaraja Asal seorang berprofesi guru. Beliau memfokuskan diri menulis tarombo kelompok marga turunan Sibagot Nipohan walau bukunya berjudul Tarombo ni T.S. Dibanua (1941). (T.S. dimaksudkan adalah Tuan Sorba-Pen). Pengkhususan ini menyebabkan bukunya berisi satu daftar nama yang sangat panjang, kering dan tanpa isi, sepertinya ditujukan khusus untuk turunan Sibagot ni Pohan yang sudah begitu marak. Buku Mangaraja Asal ini sampai sekarang masih dipergunakan turunan marga Sibagot Nipohan sebagai bahan acuan bilamana diantara mereka terjadi silang selisih.

Buku lain yang menarik yang juga ditulis seorang pensiunan demang, adalah karya Wasinton Hutagalung. Dengan judul Tarombo ni Suku Batak, (1960). beliau menyusun suatu daftar nama para leluhur marga Batak dalam urutan dengan nomor urut. Dalam daftar yang disusunnya, Raja Batak ditempatkan pada urut nomor satu dan pada urutan nomor dua terdapat dua nama yaitu Tatea Bulan dan Isumbaon. Kemudian lewat kedua nama ini, setiap nama dirunut begitu rupa ke bawah sehingga dapat diketahui pada generasi ke berapa suatu marga muncul, setelah Raja Batak.

Dari skema yang dibuatnya, maka akan terlihat jelas, suatu kelompok marga muncul pada generasi ke berapa, sejak Raja Batak. Artinya munculnya satu marga tidak berada pada generasi yang sama. Marga Situmorang misalnya dari kelompok marga Lontung muncul pada generasi ke lima dibanding marga Sagala yang muncul pada generasi ke tiga. Dari skema tersebut diketahui bahwa marga Limbong, Sagala dan Malau adalah marga yang paling tua.

Daftar yang disusun oleh Wasinton Hutagalung ini banyak dijadikan sebagai bahan acuan dalam menentukan nomor urut generasi keturunan marga-marga lain. Penentuan nomor urut generasi ini dianggap sangat penting karena, dalam adat Batak, usia tidak dapat dijadikan sebagai tolok-ukur. Ada kemungkinan bahwa orang tua yang sudah ubanan, memanggil “bapak” (amangtua atau amanguda) kepada orang yang masih remaja dalam kelompok satu marga. Untuk memperoleh kepastian tentang kedudukannya, mereka saling mencocokkan nomor urut generasi masing-masing dan dengan demikian akan dapat diketahui siapa dan memanggil apa terhadap yang lain.

Diantara para penulis ini ada dua pendapat yang berbeda:

  1. Yang pertama ialah mereka yang percaya pada legenda bahwa Raja Batak adalah manusia “par banua ginjang” (di turunkan dari langit lewat gunung olimpus Pusuk Buhit). Pendapat ini di anut oleh Waldemar Hutagalung, Mangaraja Salomo Pasaribu dan Mangaraja Asal Siahaan.

  2. Yang kedua berpendapat bahwa leluhur orang Batak pada awalnya menginjakkan kakinya di pantai timur dan secara perlahan-lahan masuk ke pedalaman dan akhirnya bermukim di kaki gunung Dolok Pusuk Buhit. Pendapat ini dianut oleh WKH Iypes dan Wasinton Hutaglung.

Walau berbeda pendapat mereka sepakat bahwa leluhur orang Batak (khususnya Batak Toba) pada awalnya bermukim di kampung Sianjur Mula-Mula ( di kaki Dolok Pusuk Buhit) dan kemudian berserak ke segala penjuru menempati lahan-lahan kosong di wilayah sekitarnya.

Apabila daftar marga yang disusun oleh Wasinton ini dijadikan sebagai bahan acuan, usia orang Batak sejak pertama kali bermukim di kaki Dolok Pusuk Buhit masih sekitar seusia dengan marga Limbong, Sagala dan Malau, ditambah dengan dua generasi di atasnya yaitu Tatea Bulan dan Raja Batak.

Berdasarkan urutan marga ini dan dengan mengingat bahwa marga Limbong masih berada dalam posisi nomor urut generasi ke-22 (menurut pengakuan seorang marga Limbong-saat buku ini ditulis-pen), dapat di duga bahwa keberadaan orang Batak di Dolok Pusuk Buhit masih terbilang ratusan tahun. Namun, jika angka ratusan tahun ini dibandingkan dengan pendapat para ahli yang menyatakan bahwa orang Batak adalah tergolong Melayu Tua¾itu berarti usianya sudah ribuan tahun¾mereka merupakan penghuni Nusantara pertama bersama suku-suku lain seperti Samang, Kubu, Toraja. Bila demikian halnya, akan timbul pertanyaan: Di manakah mereka bermukim sebelum menetap di kaki Dolok Pusuk Buhit?

Ada banyak pendapat tentang asal-usul orang Batak ini. Salah satu di antaranya¾dan pendapat ini didukung banyak pakar¾mengatakan bahwa orang Batak berasal dari Hindia Muka. Karena suatu sebab, mereka hijrah ke Nusantara dan mendarat di berbagai tempat. Merekalah yang kemudian menjadi leluhur berbagai suku di Indonesia. W.K.H. Iypes mengatakan bahwa, pada kedatangannya yang pertama, leluhur orang Batak mendarat di sekitar pantai timur Sumatera. Akan tetapi, karena terdesak oleh para pendatang baru, secara pelan-pelan mereka menarik diri ke pedalaman di antaranya ke hutan-hutan Alas dan Gayo sekarang. Dari sanalah penyebaran orang Batak dimulai. Sebagian pergi ke daerah Karo dan Dairi dan sebagian lagi masuk wilayah Dolok Pusuk Buhit, demikian kata Iypes.

Rasa enggan untuk bergaul dengan para pendatang baru, dijadikan sebagai alasan utama mengapa mereka masuk ke pedalaman. Alasan ini sepertinya kurang masuk akal karena, berdasarkan kulturnya, orang Batak bukanlah orang yang mau dan mudah mengalah, apalagi sampai harus surut jauh ke pedalaman di Dolok Pusuk Buhit yang ter isolir secara sempurna. Pasti ada alasan-alasan lain mengapa mereka mengambil kawasan ini sebagai tempat untuk bermukim.

Alasan pertama ialah bahwa, untuk sampai ke kampung Sianjur Mula-mula, dahulu hanya ada satu pintu masuk, yaitu lewat Tele. Desa Tele terletak antara Dolok Sanggul dan Sidikalang, di suatu dataran tinggi dengan hawanya yang dingin. Dari desa inilah satu-satunya terdapat jalan darat menuju Dolok Pusuk Buhit dan selanjutnya ke pulau Samosir. Dahulu, jalan tersebut hanyalah jalan setapak dan kemudian hari dirombak menjadi jalan raya. Walaupun telah berubah menjadi jalan raya, dibutuhkan kehati-hatian untuk menyusurinya karena di sebelah jalan tersebut terdapat jurang-jurang terjal yang menganga. Sekadar memberikan sedikit gambaran, di jalan raya inilah Letnan Jenderal Sahala Rajagukguk mengalami kecelakaan karena mobil yang ditumpanginya terjatuh ke jurang yang dalam dan akhirnya meninggal dunia.

Alasan kedua ialah bahwa di tempat ini ada lahan kosong yang dapat diolah sebagai tanah pertanian. Lahan tersebut terletak di lembah yang indah dan lumayan luas untuk ukuran jumlah penduduk pada masa itu. Lahan ini begitu subur dan mempunyai sumber mata air yang mengalir dari pegunungan, bukan sawah tadah hujan.

Alasan ketiga ialah bahwa tempat ini terletak tidak begitu jauh dari Danau Toba, yang penuh dengan ikan air tawar. Dari danau ini mereka mengharapkan sumber makanan nabati yang tidak habis-habisnya. Inilah alasan-alasan yang agak masuk akal mengapa mereka memilih tempat ini.

Karena terisolir secara sempurna, dunia mereka, terbentang hanya sejauh mata memandang. Karena itu, tidak salah jika keturunan orang Batak lebih mempercayai legenda-legenda yang hidup di sekelilingnya, seperti kisah yang tertuang dalam legenda “Siboru Deak Parujar.” Mereka percaya bahwa, menurut legenda, orang Batak adalah suku bangsa yang diciptakan oleh “Mulajadi Nabolon,” yang diturunkan lewat puncak Gunung “Olympus” Pusuk Buhit dan bermukim di Sianjur Mula-mula. Legenda penciptaan ini sangat dipercaya oleh orang Batak, sehingga mereka menganggap dirinya adalah suku yang lain dari suku-suku yang ada di Nusantara. Karena dipercaya sebagai asal-mula orang Batak, banyak orang sengaja berkunjung ke tempat ini untuk sekadar ingin tahu apa sesungguhnya yang terdapat di sana. Namun, ada beberapa alasan untuk meragukannya.

Pertama, sejak dulu, orang Batak telah mengenal aksara khas mereka sendiri. Aksara ini dipakai oleh hampir seluruh puak Batak. Menurut apa yang diyakini, ada dua buku besar yang menjadi buku pusaka orang Batak, yaitu Pustaha Tumbaga Holing dan Pustaha Laklak. Buku pusaka ini sama-sama ditulis di atas kulit kayu. Bahan penulisan yang berbeda, di samping beda isi, menyebabkan kedua buku ini diberi nama yang berbeda. Pustaha Tumbaga Holing ditulis dengan tinta yang terbuat dari mangsi (getah kayu), sedangkan Pustaha Laklak ditulis dengan tinta yang terbuat dari itom (cairan hitam dari dedaunan). Dari segi isinya, Pustaha Tumbaga Holing memuat aturan-aturan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, sedangkan Pustaha Laklak memuat berbagai aji-ajian (mantra), yang umumnya tentang pengobatan dan ramalan. Pustaha Tumbaga Holing, ditulis oleh turunan Raja Isumbaon, sementara Pustaha Laklak ditulis oleh turunan Tatea Bulan.

Kedua, orang Batak sudah memiliki pengetahuan tentang arah mata angin. Kedelapan mata angin ini berturut-turut disebut sebagai Purba (timur), Anggoni (tenggara), Dangsina (selatan), Nariti (barat daya), Pastima (barat), Manabia (barat laut), Utara (utara) dan Irisanna (timur laut). Pengetahuan tentang arah mata angin biasanya diperlukan apabila seseorang berada di suatu wilayah yang sangat luas, seperti lautan atau gurun pasir, di mana tidak ada benda-benda yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk menentukan arah. Kehidupan mereka di pinggiran Danau Toba dan sekitarnya tidaklah membutuhkan penentuan arah seperti itu.

Ketiga, orang Batak juga telah mengenal sistem kalender yang disebut parhalaan. Sistem penanggalan mereka didasarkan pada perputaran bulan (lunar system) sehingga mereka menemukan bahwa dalam sebulan terdapat 30 hari dan dalam setahun terdapat 12 kali bulan berputar. Parhalaan (kalender) biasanya diperlukan dalam mengikat janji untuk bertemu, atau juga untuk menentukan hari yang baik. Dalam kalender Batak, hal itulah yang banyak digambarkan. Tiap “hari” mempunyai arti dan makna, yang diberi gambar hala (kalajengking)

Berdasarkan kenyataan tersebut, kita mengambil kesimpulan bahwa dahulunya orang Batak tinggal di suatu tempat yang berdekatan dengan atau mempunyai hamparan permukaan yang sangat luas¾daratan, air, atau padang pasir¾yang membutuhkan alat penentuan arah untuk memastikan lokasi satu tempat. Tempat tersebut juga pasti ramai dikunjungi orang dan karena itu dibutuhkan penentuan hari untuk membuat janji pertemuan. Yang menjadi pertanyaan: Di manakah tempat tersebut ? Dalam tempo yang cukup lama hal ini menjadi teka-teki. Namun, walaupun menjadi teka – teki.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: