Sadarsibarani’s Weblog

October 12, 2008

BARUS SEBAGAI PILIHAN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 2:50 am
Tags: ,

Sebagai jawaban atas teka-teki tersebut, kemungkinan pertamanya adalah Barus di pantai barat Sumatera. Barus adalah suatu kota pelabuhan yang sudah dikenal sejak zaman dahulu. Dr. Salomon Muller menulis tentang satu kerajaan di Sumatera pada abad IX dalam bukunya Ancienner Relations des Indes de la Chine (Paris 1718) di suatu pulau yang bernama Fantsoer. Diceritakan bahwa pulau tersebut terletak di antara Harkland (India) dan Sjelahat. Dikatakan bahwa negeri ini diperintah oleh banyak kekuasaan dan kaya dengan kapur (kamfer) serta tambang emas.

Fantsoer yang dikatakan sebagai pulau yang banyak menghasilkan kamfer tersebut pastilah Pulau Sumatera. Penghasil kamfer satu-satunya di pulau ini adalah Barus. Dahulu kala, di daerah ini¾tepatnya di sekeliling Sungai Barumun¾juga terdapat banyak emas, sebelum dikuras habis oleh para penambang emas dari India. Tempat ini kemudian ditinggalkan setelah emasnya tekuras habis dan yang tersisa di sana hanyalah sejumlah biara yang merupakan saksi bisu. Dari keberadaan biara-biara tersebut dapat dipastikan bahwa tempat itu tadinya cukup ramai dihuni orang yang menganut agama Hindu, sehingga diperlukan sejumlah biara tempat pemujaan.

Laporan Salomon tersebut juga menyebutkan bahwa negeri itu diperintah oleh banyak kekuasaan. Tidak pelak lagi, yang dimaksud dengan istilah “banyak kekuasaan” adalah para “primus” raja-raja Batak. Masing-masing primus memiliki kekuasaannya sendiri dan satu sama lain lain tidak mau berada di bawah atau tunduk pada primus yang lain. Selain catatan Salomon tersebut, ada juga laporan yang ditulis oleh H. Moh. Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad.

Dalam laporan itu terdapat bagian yang mengatakan sebagai berikut:

“Abu Zayd Hasan (tahun 918) menyebut Rami, juga menceritakan tentang kemenyan dan kapur barus. Mas’udi (meninggal tahun 945) menulis lebih banyak, dia menyebut Al Ramin, di mana didapati tambang emas dan letaknya dekat pulau Fansur yang masyhur dengan kapurnya. Seorang Muslim Parsi yang bernama Buzurg (955) tatkala menunjuk Sriwijaya menyebut letaknya di selatan Lamuri. Menurut Buzurg, dari pantai Barus dapat dilakukan jalan darat ke Lamuri. dia menceritakan bahwa orang-orang yang karam di Laut Barus, telah berupaya pergi ke Lamuri karena di sana diharapkan akan bertemu dengan kawan senegara (Parsi) dan supaya diperoleh pengangkutan untuk pulang kampung.”

Tulisan ini memberi petunjuk, betapa ramai lalu-lintas perdagangan antara Barus dan Timur Tengah pada waktu itu. Hal ini dimaklumi karena, konon, kapur barus dipakai sebagai bahan pengawet mayat yang banyak digunakan oleh raja-raja Mesir kuno. Begitu banyaknya pedagang datang dari Mesir ke Barus sehingga di Barus pada abad itu telah berdiri suatu Gereja Nestorian Mesir. Senada dengan tulisan H. Moh. Said ini, dalam bukunya Sumatera Barat hingga Pelakat Panjang, Rusli Amran menulis sebagai berikut:

Suatu berita asal dari Arab dari Syaikh Abu Salih Al-Armini menyebut bahwa sudah semenjak abad ke tujuh di Fansur telah bermukim sekelompok manusia beragama Kristen. Berita demikian ditambah lagi dengan fakta bahwa nama Barussai telah dikenal semenjak kira-kira awal tahun Masehi (karena kapur barusnya pernah disebut oleh Potlomeus) begitu pula dugaan-dugaan hubungan Barus dengan Sriwijaya Purba menimbulkan gagasan di kalangan sementara ahli bahwa mungkin sejak abad 6 atau 7 telah ada suatu Kerajaan Batak di daerah tersebut.”

Ada dua prasasti yang perlu mendapat perhatian dengan keberadaan kerajaan-kerajaan di Sumatera, termasuk Barus. Prasasti yang pertama diabadikan oleh Rajendra Cola I pada tahun 1030 Masehi di Tanjore-India

Selatan. Prasasti tersebut melukiskan hasil serangannya ke beberapa negeri di Sumatera dan Semenanjung Melayu sekitar tahun 1023-1024 Masehi. Prasasti itu diterjemahkan oleh Prof. Nilakanta Sastri ke dalam bahasa Inggris dan kemudian dialihbahasakan oleh H. Muhammad Said dalam Aceh sepanjang Abad sbb:

Setelah mengirimkan sejumlah kapal yang sangat besar ke tengah-tengah laut lepas yang bergelombang, setelah menawan Sanggrama Wijayatunggawarman, Raja Kadaram, sekaligus menghancurkan armada gajahnya yang besar dan sebagai laut layaknya pertempuran, (ia menyebut juga) harta benda yang sangat banyak yang baru saja dikumpulkan oleh yang tersebut tadi, Widyadorana, pintu gerbang ratna mutu manikam terhias sangat permai, pintu gerbang batu-batu besar permata, Sriwijaya yang subur mekar, Panai berair tangkahan mandi-mandi, Malayur tua (seperti) parit Illangosongam tak tertahan (dalam) pertempuran-pertempuran dahsyat; mappapalam, dipertahankan oleh perairan yang banyak dan dalam, Mawilimbagam, dipertahankan oleh tembok-tembok yang cantik, Walaipanduru (serentak) memiliki tanah-tanah yang dikerjakan dan tidak dikerjakan, Talaitakkolam, dipuji oleh orang-orang besar (pandai dalam) pengetahuan; Madamalinggam tidak goyang dalam pertempuran besar dan mahadahsyat, Ilamuridecam yang telah menghunjamkan kehebatan pasukannya ke pertempuran; Manakawaram, dengan kebun bunganya tempat menghirup madu dan Kadaram dengan kekuatan yang tiada terhingga, diperlindungi oleh laut sekitarnya.”

Dipastikan bahwa yang dimaksudkan dalam tulisan tersebut adalah kerajaan Sriwijaya. Rajanya hanya dijadikan tawanan dan kemudian dilepas setelah mengaku takluk. Begitu juga, penaklukan Barus lebih ditujukan untuk mengamankan jalur perdagangan yang pada waktu itu berlangsung sangat ramai di Lautan Hindia. Para pedagang dari Arab dan Gujrat datang ke India Selatan (Colamandala atau Coromandel) untuk membeli barang-barang yang kemudian dibawa ke Timur Tengah. Ke tempat ini sejumlah pedagang dari Eropa maupun dari Cina datang untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan untuk kemudian dijual kembali. Jalur yang mereka tempuh inilah yang disebut sebagai Jalur Sutera.

Prasasti kedua berupa suatu batu bertulis ditemukan oleh Controleur G.J.J. Deutz di Lobu Tua (Barus) pada tahun 1872. Dalam bukunya, Rusli Amran menulis tentang penemuan tersebut sebagai berikut:

Pada tahun 1872, Deutz banyak menemukan pecahan batu bekas peninggalan zaman Hindu yang telah dilupakan orang, telah berlumut. Tiga buah pecahan umpamanya berasal dari suatu tiang batu segi enam yang mulus, setinggi lebih kurang 83 cm, sebesar antara 22 cm dan 25 cm dengan tulisan pada tiga segi, berbentuk prasasti, ditulis pada dua bagian, mungkin yang dipecahkan Pangkat dahulu.

Selain itu, kontrolir Deutz menemukan bermacam-macam peninggalan kuno berupa perhiasan emas dan perak, berbagai bentuk kerajinan tangan dari tanah, mata uang dan lain-lain. Atas petunjuk rakyat, dia juga pernah mengunjungi tempat-tempat di mana dahulu bangsa Tamil pernah bermukim. Seorang epigraf Pemerintah Inggris di India yang bernama Hultzch, akhir abad yang lalu, sedapat-dapatnya menterjemahkan prasasti Lobu Tua itu. Yang pasti tahun pembikinannya, tahun 1088. Selain itu dikatakan pula bahwa bangsa Tamil yang ada di situ bersatu dalam suatu usaha dagang yang bernama “kelompok 1500.”

Dari prasasti ini diketahui keberadaan Bangsa Tamil di Barus memakan waktu yang cukup lama. Hal itu diketahui dari prasasti Rajendra Cola ( 1024 M) dan batu bertulis yang ditemukan oleh Deutz (1088 M). Mereka menguasai bidang perdagangan dan untuk menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat mereka membentuk suatu organisasi (gilde) yang bernama Kelompok 1500. Mereka hidup berdampingan dengan penduduk pribumi dan melihat budaya Batak yang ada sekarang baik di bidang seni maupun kepercayaan banyak mendapat pengaruh dari budaya Hindu.

Akan tetapi, zaman selalu berubah. Kesultanan Ottoman di Turki, yang terdiri atas orang-orang nomaden dari Asia Tengah, menaklukkan Bizantium yang merupakan pusat kerajaan Romawi di Asia Tengah, setelah sebelumnya menaklukkan Iran, Siria dan negara-negara Arab. Nama Konstantinopel yang dijadikan sebagai ibu kota diganti menjadi Istanbul. Sejumlah wilayah di daratan Eropa, terutama Balkan, ditaklukkan dan diislamkan. Negara Spanyol sebagai salah satu negara terkuat di Eropa juga diserang, tetapi serangan hanya berhasil sampai di Selat Gibraltal dan mengganti namanya dengan selat Jabal al Tarik. Kekaisaran yang didirikan oleh Othman ini menjadi sangat besar dan memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Afrika Utara.

Suatu kesalahan yang berakibat fatal adalah ditutupnya Yerusalem, kota suci umat Nasrani, yang sebelumnya ramai dikunjungi oleh orang-orang Kristen dari Eropa. Hal ini menimbulkan kemarahan negera-negara Eropa. Secara bersama-sama, mereka meminta Paus Urbanus II untuk mempersatukan seluruh negara Eropa guna mengeroyok Turki. Perang yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib ini berlangsung sangat lama, dari tahun 1096 sampai tahun 1291. Perang Salib melahirkan dua nama yang melegenda, yaitu Sultan Salahuddin (Saladin) dari Turki yang berhadapan dengan Raja Richard si Hati Singa (the Lion Heart) dari Inggris.

Pecahnya perang menyebabkan tertutupnya Jalur Sutera bagi pedagang-pedagang Eropa. Akibatnya, mereka kemudian berupaya untuk mencari komoditas langsung ke sumbernya. Mereka mencarinya melalui jalur laut sesuai dengan dengan apa yang diceritakan oleh Marco Polo dalam bukunya Il Milione. Banyak pelaut Eropa yang kemudian hari menjadi terkenal, seperti Ferdinand Magelhaens, Vasco da Gama, Alfonso d’Albuquerque, melakukan pelayaran yang berani untuk membuka jalur perdagangan ini. Christopher Colombus misalnya, dengan dukungan ratu Spanyol yang membuka jalur sendiri, melakukan pelayaran menuju Hindia yang menurut Marco Polo terkenal kaya-raya. Dengan asumsi bahwa “dunia adalah bulat,” dia melakukan pelayaran ke arah Barat dan memastikan bahwa mereka akan tiba di Timur (Hindia). Ternyata dia mendarat di Benua Amerika, tetapi mengira bahwa dia telah tiba di India. Itulah sebabnya penduduk pribumi pertama yang ditemukannya dia namakan orang Indian, nama yang disandang penduduk asli Amerika sampai saat ini.

Keberhasilan para penjelajah ini menyebabkan dunia Timur dibagi-bagi, bagaikan membagi kavling. Wilayah yang ditemukan seseorang diklaim sebagai milik sendiri. Negera-negara Eropa yang terlibat dalam pencaplokan wilayah ini antara lain adalah Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris. Inilah awal terjadinya penjajahan bangsa Inggris hampir di seluruh belahan dunia.Juga, hal inilah yang menimpa Cola Mandala (Coromandel). Pelaut-pelaut Inggris, yang berlayar di sekitar Lautan Hindia dengan ombaknya yang ganas, mencari tempat untuk beristirahat dan sekaligus mencari sumber air tawar. Mereka menemukan suatu tempat di bagian selatan India. Tempat itu mereka rebut dan kemudian dinamakan dengan Seilon. Wilayah ini kemudian dianeksasi dan dipinggir pantai didirikan benteng pertahanan. Aneksasi pulau ini menyebabkan hubungan dengan pedagang Tamil yang ada di Barus akhirnya menjadi putus. Banyak di antara mereka kembali ke Seilon tetapi di sana mereka menemukan kenyataan pahit. Perahu dan barang-barang yang dibawa disita dan orang-orangnya dijadikan sebagai tawanan.

Hal yang sama juga dialami oleh Marco Polo. Bersama ayahnya, seorang saudagar, dia melakukan perjalanan ke Timur lewat Jalur Sutera dan menghantarkannya sampai di Cina. Di negara ini, Marco Polo sempat diangkat sebagai orang kepercayaan Khu Bilai Khan, cucu Zengis Khan, orang Mongolia yang pernah menaklukkan Cina. Berulang kali Marco Polo ditugasi sebagai duta besar Cina sehingga dia cukup banyak mengetahui keadaan berbagai negara di Asia. Dia cukup lama berada di Cina dan kemudian pulang dengan pelayaran lewat laut. Dalam perjalananan pulang tersebut, tercatat dalam bukunya bahwa dia sempat singgah di Pasai dan Samudra.

Sebelum sampai di Venesia, tempat kelahirannya, hartanya dirampas dan dia dimasukkan ke bui. Selama di bui, dia tinggal satu sel dengan seorang penulis roman yang bernama Roscatello. Karena khawatir dia akan mati di penjara, dia mendiktekan pengalaman perjalanannya ke Timur tersebut, yang ingin diwariskannya sebagai harta yang tidak ternilai. Kerja sama keduanya pun menghasilkan suatu buku tebal. Itulah sebabnya buku tebal ini diberi judul Il Milione. Perjalanannya lewat Jalur Sutera yang menghantarkannya ke Cina hingga kepulangannya lewat laut dijelaskan dengan sangat teliti. Setelah diterbitkan, buku ini sangat disukai dan dialihkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris dengan judul The Way to the East.

Kabar penyitaan dan penawanan ini, sampai di telinga pedagang-pedagang India yang tinggal di Barus. Karena pulang ke kampung-halaman dianggap terlalu berisiko, mereka memilih untuk tinggal menetap dan berbaur (berasimilasi) dengan penduduk setempat. Dengan kerja sama dengan penduduk setempat, mereka menata kehidupan yang lebih baik. Raja-raja Batak yang ada di Barus dipersatukan dan seorang di antara mereka dipilih dan dijadikan sebagai raja dengan gelar Sori Mangaraja, dialah yang tercatat sebagai Raja Batak yang pertama dan diberi gelar Sori Mangaraja

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: