Sadarsibarani’s Weblog

November 5, 2008

Tuanku Rao

Filed under: Uncategorized — rajabatak2 @ 5:20 am

M.O.Parlindungan; Adniel L.Tobing; Hamka; Basyral Hamidy Harahap.

TUANKU RAO, adalah judul sebuah buku yang diterbitkan pertama sekali pada tahun 1964. Buku yang dterbitkan oleh yayasan Tanjung Pengharapan ini, buah karya seorang pensiunan militer bernama M.O. Parlindungan bermarga Siregar. Walau penulisannya sangat “tidak biasa”, akan tetapi isinya banyak memberi informasi yang sangat berharga, sehingga buku ini merupakan buku yang selalu dicari-cari. Beruntung pada Maret 2007 buku ini kembali diterbitkan oleh LkiS Jakarta, yang dalam Kata Pengantar penerbitannya dikatakan “menghadirkan kembali, seperti apa adanya buku ini sebelumnya, baik bahasa, perwajahan dan bahkan setting/lay out-nya…. Sejak 43 tahun lalu, buku ini terus menerus menjadi rujukan, kritik dan bahkan cercaan”.

Buku ini sejak terbit memang menimbulkan debat dimana-mana. Tidak kurang dari seorang intelektual muslim, Haji Abdulkarim Amarullah atau lebih dikenal dengan HAMKA, terlibat polemik dengan M.O.Parlindungan. Karena polemik kemudian dihentikan, karena tidak puas, HAMKA kemudian menerbitkan sebuah buku berjudul ANTARA KHAYAL DAN FAKTA SEPUTAR TUANKU RAO; (Bulan Bintang Jkt 1971).

Salah satu yang menjadi kontroversi ialah tentang siapakah sebenarnya Tuanku Rao, yang diklaim oleh M.O. Parlindungan sebagai orang Batak bermarga Sinambela, yang dibantah oleh Hamka dengan mengutip pengakuan Asrul Sani yang merupakan turunan langsung dari Yang Dipertuan di tanah Rao. Inilah awal pemicu debat dan lalu melebar kemana-mana, sampai-sampai kepada sejarah perkembangan agama Islam di Indonesia. M.O. Parlindungan menjadi sangat sibuk dan mungkin karena merasa capek melayani sejumlah pertanyaan dan debat, beliau kemudian menarik buku tersebut dari peredaran.

Baru-baru ini terbit sebuah buku berjudul GREGET TUANKU RAO, karya Basyral Hamidy Harahap. Basyral yang saya kenal adalah seorang dosen di sebuah Universitas terkemuka dan peneliti di LIPI, lewat buku ini, memberikan saya informasi yang benar-benar mengejutkan. Awalnya, saya ber assumsi bahwa kaum Paderi melakukan kekejaman hanya di Tanah Batak Utara. Akan tetapi dari buku karya Basyral, saya jadi tahu, bahwa kekejaman itu bukan saja terjadi di Tanah Batak Utara, juga di Tanah Batak Selatan, juga kepada mereka sesama penganut agama Islam. Hal ini menimbulkan tanda tanya, ada apa sebenarnya dengan “kaum berjubah putih” ini? Apakah syiar Islam yang merupakan alasan kedatangan mereka ke Tanah Batak hanyalah kedok? Basyral sendiri dalam bukunya mempertanyakan hal ini.

Jika kedatangan mereka ke Tanah Batak Utara, lebih banyak merupakan balas dendam, dapat kita baca dalam karya M.O. Parlindungan. Dendam pertama. “Tuanku Rao” versi M.O. Parlindungan, atau Sipokki Nangolngolan versi Tanah Batak Utara, mempunyai dendam yang sangat dalam kepada kerabatnya yang waktu itu menjadi raja di Tanah Batak (M.O. Parlindungan hal. 56/66). Dendam kedua, marga Siregar mempunyai dendam yang sangat dalam, kepada keturunan Tuan Sorba Dibanua, (M.O.Parlindungan hal. 40/41). Kedua dendam, berpadu menjadi satu, dan kesempatan untuk melampiaskan dendam ini terbuka, waktu mereka datang ke Tanah Batak.

Agar semuanya menjadi jelas tulisan ini memuat:

1. Siapakah sebenarnya “Tuanku Rao” versi M.O. Parlindungan dan Sipongki Nangolngolan versi Tanah Batak Utara.

2. Bagaimanakah persoalan antara marga Siregar dan turunan Tuan Sorba Dibanua; mengapa sampai timbul dendam diantara keduanya?

3. Apakah benar peristiwa itu terjadi disekitar 1818-1820 menurut versi M.O. Parlindungan atau 1825-1829 menurut versi Almanak HKBP atau dua-duanya tidak benar.

SIAPAKAH TUANKU RAO ?

Berikut adalah petikan yang ada dalam perpustakaan kami yang memuat tentang Tuanku Rao. Pertama tulisan Adniel Lumbantobing dalam bukunya RAJA SISINGAMANGARAJA I-XII, yang kedua tulisan M.O. Parlindungan dalam bukunya TUANKU RA0 dan yang ketiga tulisan HAMKA dalam bukunya ANTARA KHAYAL DAN FAKTA SEPUTAR TUANKU RAO.

VERSI ADNIEL LUMBANTOBING:

TUANKU RAO ADALAH KEPONAKAN

SI SINGAMANGARAJA X

Menurut Adniel Lumbantobing, Si Pongki Nangolngolan adalah kemanakan Si Singamangaraja X yang lahir dari rahim kakak perempuannya Nai Hapatian dengan ayah yang pernah menjadi raja Aceh Tengah. Semasih dalam kandungan, Si Pongki Nangolngolan sudah kehilangan ayahnya. Semula Si Pongki Nangolngolon bernama Tangkal Tabu karena ia terlahir bagaikan tabu (labu). Walaupun mirip tabu, sejak di dalam kandungan, Tangkal Tabu sudah memperlihatkan kemampuan-kemampuan istimewa. Bahkan, karena merasa terancam dengan kemampuan Tangkal Tabu, tulang-nya sendiri Si Singamangaraja X memasukkannya ke dalam peti dan mengapungkannya di Danau Toba. Ajaibnya, Tangkal Tabu tidak meninggal, tetapi bertahan hingga ditemukan Marpaung Djae. Karena itulah ia mengganti namanya menjadi Si Pongki Nangolngolan.

Setelah ia gagal menemui kembali Si Singamangaraja di Bakara dan juga cintanya dengan puteri Si Singamangaraja tidak pernah kesampaian, akhirnya Tangkal Tabu pergi ke Selatan melalui Garoga dan Pangaribuan. Pada saat itulah Si Pongki Nangolngolan tertangkap oleh pasukan Tuanku Rao di Bonjol dan dijadikan sebagai kepala pasukannya berkat kemampuan-kemampuannya yang sangat luar biasa. Bahkan, Si Pongki Nangolngolan dijadikan sebagai menantu oleh Tuanku Rao. Dalam jabatan dan kedudukan seperti itu, Si Pongki Nangolngolon memiliki kesempatan untuk membalaskan rasa sakit hatinya kepada Si Singamangaraja X dengan lebih dulu memperdayanya. Berikut inilah kisah lengkapnya seperti yang dituturkan Adniel Lumbantobing:

…..“Nai Hapatian memiliki kebidjaksanaan serta kesaktian yang hampir mengimbangi apa yang dimiliki adiknya Singamangaraja X. Hal itu sedikit banyaknya dapat mempengaruhi ketenangan fikiran Singamangaraja X, dan itulah sebabnya Baginda memanggil kakaknya tersebut seraya berkata: “Kak! Dunia ini tidak mungkin disinari oleh dua matahari, demikian pula negeri ini tidak mungkin di bawah kekuasaan dua orang radja. Agar kita sama-sama mempunyai daerah kekuasaan, baiklah kakakku pindah kesebelah Utara dan saya sendiri di Selatan.

Pendapat Singamangaraja X dapat diterima oleh Nai Hapatian, dan anjuran adiknya dilaksanakan dengan hati yang ikhlas tetapi dibarengi dengan perasaan sedih dan pilu. Sewaktu Nai Hapatian berangkat menuju ke Utara, beliau tidak lupa membawa barang-barang pusaka kerajaan yang diberikan oleh ayahanda Singamangaraja IX. Perjalanan beliau sangat jauh, masuk hutan keluar hutan dan sering-sering ketiadaan bahan makanan. Dalam hal ini “Pungga Omasan” yang disebut dimuka, penting artinya.

Akhirnya sampailah Nai Hapatian ke Aceh Tengah. Pada waktu beliau berhenti melepaskan lelahnya, tiba-tiba beliau mendengar suara riuh dan setelah diperiksa lebih jauh, ternyata bahwa di daerah itu sedang berkecamuk peperangan. Tampak padanya bahwa telah banyak mayat bergelimpangan sehingga timbullah rasa kasihan padanya. Beliau melambai-lambaikan ulos pusaka kerajaan, yaitu ulos sampuborna, untuk meredakan peperangan itu. Serentak dengan lambaian itu, angin pun berhembus dengan kencang disertai petir yang sabung-menyabung serta hujan lebat dan makin lama makin mendekati kedua belah pihak yang sedang berperang itu. Memperhatikan kejadian yang sangat menakjubkan itu, kedua belah pihak segera menghentikan pertempuran dan menjumpai Nai Hapatian dengan perasaan takut. Mereka meletakan semua senjata di hadapan Nai Hapatian yang menganjurkan agar pertempuran itu dihentikan. Selanjutnya beliau berkata: ”Masaalah-masaalah yang bagaimanapun sulitnya pasti dapat diatasi apabila pikiran sudah tenang kembali. Pulanglah ke kampung masing-masing untuk mencari nafkah sehari-hari.”

Anjuran itu diterima oleh kedua belah pihak dan sebagai tanda setia-janji, masing-masing raja dari kedua belah pihak menyerahkan sebilah keris kepada Nai Hapatian. Kedua belah pihak kembali ke kampung masing-masing dalam keadaan aman dan damai. Mereka yakin bahwa Nai Hapatian adalah seorang yang sakti sebab sanggup menandatangkan hujan, angin dan petir.

Setahun kemudian, terjadilah musim kemarau di negeri itu. Semua penduduk dikuasai oleh rasa ketakutan, khawatir kalau musim kemarau akan bertambah lama lagi. Ladang telah kering dan air sungai tampaknya makin lama makin kecil. Raja-raja teringat kepada Nai Hapatian yang sanggup mendatangkan hujan. Dengan demikian, raja-raja dan penduduk negeri pergi berbondong-bondong ke sebuah gunung di mana Nai Hapatian bertempat. Kedatangan rombongan itu diterima dengan baik oleh Nai Hapatian. Setelah mendengar keluh-kesah penduduk, Nai Hapatian menetapkan suatu waktu untuk mengadakan upacara menabuh gendang.

Pada hari yang ditentukan, semua penduduk telah berkumpul untuk menghadiri upacara yang dimaksud, ingin mempersaksikan sendiri apa yang akan diperbuat oleh Nai Hapatian. Sesudah lengkap segala sesuatunya, Nai Hapatian bertonggo (berdoa) ke hadirat Yang Maha Kuasa. Kemudian melambai-lambaikan ulos sampuborna sedang gendang pun ditabuh untuk mengiringi tarian beliau. Selesai menari, beliau berkata: “Bapak-bapak serta ibu-ibu sekalian! Aku mempersilakan bapak-bapak serta ibu-ibu agar kembali ke kampung masing-masing karena hujan akan turun sebentar lagi. Percayalah!

Sungguh benar karena hujan turun bagaikan yang dicurahkan dari langit setelah penduduk tiba di tempatnya masing-masing. Sudah barang tentu penduduk bergembira karena terlepas dari bahaya yang sedang mengancam. Rasa cinta dan hormat penduduk makin tebal kepada Nai Hapatian karena jasa-jasanya dan kesaktiannya. Raja-raja negeri itu datang menjumpai Nai Hapatian untuk menyampaikan terima kasih penduduk dan menanyakan siapa sebenarnya Nai Hapatian dan dari mana asalnya. Banyak di antara pertanyaan-pertanyaan yang dimajukan itu dijawabnya dengan baik tetapi tentang asalnya dan dari mana datangnya, tetap dirahasiakan.

Tidak berapa lama kemudian, raja Aceh Tengah meminang Nai Hapatian untuk dijadikan isteri. Akan tetapi, dalam kehidupan perkawinannya lebih banyak mengalami penderitaan kehidupan daripada kebahagiaan. Belum lagi setahun masa perkawinannya, suaminya telah berpulang ke rahmatullah. Siksaan batin yang dialami oleh Nai Hapatian mungkin tidak akan terjadi, kalau Singamangaraja X tidak menganjurkan Nai Hapatian meninggalkan Bakkara. Akan tetapi, tidak lama setelah suaminya meninggal, tampaklah tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Nai Hapatian telah mengandung. Beliau bertekad untuk pulang ke Bakkara, tempat asalnya. Tetapi di tengah jalan, beliau menjadi bimbang karena teringat pada anjuran adiknya Singamangaraja X, ditambah pula dengan keadaan tubuhnya yang berubah dengan tidak disertai suami. Memikirkan hal-hal tersebut di atas, Nai Hapatian membulatkan tekad untuk tinggal di daerah pegunungan sampai tiba saatnya untuk bersalin.

Ketika Nai Hapatian mengasoh dan menyandarkan badannya pada sebatang pohon, beliau merenungkan kesakitan-kesakitan yang akan menimpa dirinya kelak pada hari-hari berikutnya. Menurut perkiraannya, waktunya telah dekat untuk bersalin. Siapa yang membantu dan dari mana dapat makanan? Ketika sedang memikir-mikirkan ini dan itu, tiba-tiba muncullah seekor harimau putih mendekati beliau. Pada mulanya, Nai Hapatian sangat takut, tetapi rasa takutnya segera menjadi hilang setelah harimau itu menunjukan sikapnya yang sangat jinak. Kenyataan, bahwa harimau putih inilah yang menjaga keselamatan Nai Hapatian terhadap binatang-binatang buas lainnya dan yang kadang-kadang memberikan daging rusa kepada Nai Hapatian.

Sebulan kemudian, Nai Hapatian pun bersalinlah. Anak yang dilahirkan itu lain dari yang biasa, tidak berupa manusia tetapi tabu-tabu (labu). Melihat keanehan itu, timbullah rasa takut padanya, sedangkan tempat bertanya tidak ada. Ada tiba-tiba beliau mendengar suara sepoi-sepoi yang mengatakan: ”Sambilu do bahenon mamola i,” yang artinya “Ambillah sembilu untuk membelahnya.” Nai Hapatian memandang kesekelilingnya tetapi tidak tampak olehnya seorang jua pun. Akhirnya beliau membelah yang dilahirkannya itu dengan sembilu, dan ternyata di dalamnya ada seorang bayi lelaki.

Tangkal Tabu

Karena bayi itu sewaktu lahir menyerupai tabu-tabu (labu), si ibu memberi namanya: Tangkal Tabu. Memperhatikan wajah bayi itu mirip benar dengan ayahnya Singamangaraja IX, timbullah pikiran padanya untuk membawa anaknya kepada adiknya Si Singamangaraja ke-X. Setelah Tangkal Tabu berumur kurang-lebih dari satu tahun, mereka pun meneruskan perjalanan menuju Bakkara. Di tengah jalan, kembali Nai Hapatian teringat pada anjuran Singamangaraja X yang tidak mengingini beliau untuk tinggal di Bakkara.

Di dalam hatinya ia berkata: ”Lagi pula mungkin adikku Singamangaraja tidak percaya bahwa saya telah mempunyai anak karena saya datang tanpa suami.” Karena hasratnya untuk kembali ke Bakkara tidak kunjung padam, ia meneruskan juga perjalanan dengan menyamar sebagai orang asing supaya tidak dikenal oleh adiknya.

Akhirnya Nai Hapatian beserta anaknya sampai di pekarangan Baginda Singamangaraja X dan kebetulan bertemu dengan seorang anak perempuan yang sedang bertenun, yaitu puteri Baginda sendiri yang bernama Pinta Omas. Dengan penuh hormat Nai Hapatian menegor anak itu katanya: ”Sudilah kiranya tuan puteri memberikan kami sesuap nasi karena kami telah lapar menempuh perjalanan yang jauh, masuk hutan keluar hutan.” Karena Pinta Omas adalah seorang penyayang dan pengasih mereka dipersilakan ke rumah dan melayani dengan baik. Pinta Omas memperhatikan roman muka Tangkal Tabu yang cantik, seolah-olah bercahaya-cahaya sehingga menarik hatinya. Timbul niatnya untuk memelihara anak itu sampai besar.

Upaya Nai Hapatian dalam keadaan menyamar itu sungguh ternyata berhasil. Atas persetujuan Baginda, mereka berdua diberi izin bertempat tinggal di sebuah gubuk. Nai Hapatian diberi tugas untuk membantu pekerjaan di rumah Baginda. Setelah Tangkal Tabu berumur 7 tahun, ia pun disuruh menggembala kerbau. Tetapi pekerjaan ini rupanya tidak menggembirakan hatinya.

Jikalau ia mempergunakan jari telunjuknya menunjuk salah satu di antara ternak-ternaknya itu, ternak itu pun segera mati. Hal ini diketahui oleh Baginda dan kemudian mengganti pekerjaan Tangkal Tabu dengan tugas menjemur padi. Tetapi di sini pun tampak kesaktian-kesaktian Tangkal Tabu karena, walaupun ia tertidur, seekor ayam pun tidak ada yang berani memakan padi jemurannya. Semua keajaiban yang diperbuat oleh Tangkal Tabu diperhatikan dengan saksama oleh Pinta Omas, puteri Baginda. Pada suatu malam Tangkal Tabu meniup sordamnya. Suara sordamnya yang sangat merdu menyebabkan Pinta Omas terbangun dari tidurnya. Makin lama makin tertarik hatinya untuk mendengarnya. Akhirnya, Pinta Omas turun ke halaman menuju gubuk Nai Hapatian. Dari celah-celah dinding, jelas dilihatnya bahwa Tangkal Tabu sendirilah yang meniup sordam itu.

Pinta Omas tidak tahan lagi menyembunyikan isi hatinya dan dengan membukakan pintu ia permisi masuk dan bertanya: ”Siapakah yang meniup sordam itu? Siapakah sebenarnya kamu berdua? Sungguh merdu serta mengandung arti suara sordam itu.” Nai Hapatian dan Tangkal Tabu meladeni pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik, kecuali soal asal-usul mereka, yang tetap dirahasiahkan oleh Nai Hapatian.

Dengan merahasiakan asal-mula mereka, dapatlah mereka tinggal sampai bertahun-tahun di Bakkara. Makin lama, makin banyak keajaiban-keajaiban yang diperbuat oleh Tangkal Tabu. Pada suatu hari datanglah dua orang yang berselisih mengahadap Baginda. Putusan raja-raja yang menimbang perkara itu tidak adil menurut pendapat Tangkal Tabu. Ia memberanikan diri menghampiri sidang dan bermohon kepada Baginda untuk berbicara. Setelah dipersilakan, Tangkal Tabu berdiri dan berkata: “Seandainya aku yang berkuasa, aku akan memilih yang benar dan menghukum yang salah.” Ketika mengucapkan kata-katanya yang terakhir, ia menunjuk dengan jarinya orang yang dianggap salah. Sangat menghebohkan. Orang yang ditunjuknya itu segera terjatuh ke lantai dan menghembuskan nafas yang penghabisan pada saat itu juga. Rasa heran dan takut kepada Tangkal Tabu mulai bersarang di dalam hati penduduk, termasuk Baginda sendiri. Memperhatikan kejadian tersebut, Baginda mencari jalan untuk menyingkirkan Tangkal Tabu dari negeri itu. Baginda menyuruh orang membuat peti yang dapat terapung di atas permukaan air dengan memasukkan orang di dalamnya.

Setelah siap, pada suatu malam baginda memerintahkan mengambil Tangkal Tabu dari tempatnya dan memasukkannya ke dalam peti itu. Dengan tidak sadar, Tangkal Tabu dimasukkan ke dalam peti tadi. Tetapi maksud baginda tidak dapat terlaksana dengan cepat karena peti tersebut tidak dapat diangkat atau digeser oleh petugas-petugas Baginda.

Sesudah Tangkal Tabu terbangun dari tidurnya dan mengetahui apa yang akan diperbuat oleh mereka terhadap dirinya, ia berkata kepada petugas-petugas: ‘Agar maksud kalian terlaksana, izinkanlah saya bertemu dengan bundaku.’ Permintaannya dikabulkan dan Nai Hapatian pun dipanggillah.

Sebaik bundanya sampai, Tangkal Tabu diizinkan keluar dari peti itu. Nai Hapatian segera merangkul anaknya dan mengecupinya. Sesudah keduanya dengan hati yang pilu mengucapkan kata-kata perpisahan, ibunya memberikan padanya barang-barang pusaka kerajaan yaitu cincin (tintin tumbuk) dan batu wasiat (pungga omas). Tangkal Tabu tidak lupa memberikan pertanda bagi ibunya. Ia mengambil sebuah alu dan menancapkannya ke dalam tanah, seraya berkata:

“Jika alu ini bertunas, ingatlah bahwa aku anakmu ini masih hidup dan, apabila alu ini lapuk atau busuk, ketahuilah bahwa aku telah mati.”

Setelah semua permintaannya dikabulkan, ia pun dimasukkan kembali ke dalam peti. Barulah peti itu dapat diangkat dan kemudian dicampakkan ke Danau Toba sesuai dengan perintah Baginda Singamangaraja X. Tampaklah peti itu terapung-apung di atas permukaan air, diombang-ambingkan ombak ke sana ke mari, tidak menentu. Menjelang sebulan terapung-apung di atas permukaan air, badai pun turun sehingga peti tercampak ke sebelah Porsea (Narumonda) yang menuju sungai Asahan, tidak jauh dari kampung Marpaung Jae. Di dalam peti, perasaan lapar dan dahaga tidak terasa olehnya karena khasiat batu wasiatnya pungga omasan.

Kebetulan pada waktu itu kampung dari Marpaung Djae baru saja diserang penyakit sampar. Semua penduduk kampung tersebut menjadi korban terkecuali keluarga Marpaung Djae. Akibatnya, penghidupan keluarga Marpaung Djae sangat sulit, antara lain kehabisan padi.

Alu pertanda yang ditancapkan oleh Tangkal Tabu menunjukan keheranan kepada penduduk di Bakkara karena alu itu tumbuh dan bertunas. Nai Hapatian memuji Tuhan Yang Mahakuasa karena menyelamatkan anaknya dari marabahaya. Setelah mengetahui bahwa anaknya selamat, ia pun bersama-sama dengan Ompu Palti meninggalkan Bakkara dan berangkat menuju tempat yang terakhir, Aceh Tengah. Pada suatu waktu ketika Marpaung Djae beristirahat di rumahnya, ia mendengar suara: “Hai Marpaung Djae! Apabila hari sudah terang, tidak ada padi yang engkau jemur dan sesudah petang, tidak ada beras yang akan engkau tanak!”

Setelah diperiksa sekeliling rumahnya, tidak seorang pun yang tampak dan ia pun pulang. Pada hari ke dua, kembali Marpaung Djae mendengar suara yang serupa. Ia bertanya kepada isterinya: “Burungkah gerangan yang berteriak-teriak itu?” Belum lagi isterinya menjawab, terdengar lagi suara yang ajaib itu dan berkata: ”Marpaung, Marpaung Djae! Apabila hari sudah terang, tidak ada yang engkau tanak! Pergilah ke danau mengail agar ada yang engkau jemur di siang hari dan engkau tanak di petang hari. Ia Marpaung Djae!” Setelah mendengar suara yang berulang-ulang itu, isterinya menganjurkan supaya menuruti petuah itu. Benar juga apa yang dinyatakan suara tersebut karena sebentar saja ia mengail sudah banyak ikan yang diperolehnya. Ikan itu dijualnya ke pekan dan uangnya cukup pembeli padi atau beras.

Pada suatu hari, sewaktu Marpaung Djae pergi ke danau, tampak padanya sebuah peti terapung-apung menuju pantai. Pada mulanya ia merasa takut karena disangkanya peti mayat. Tetapi setelah berfikir-fikir, ia bertekad untuk memeriksa isinya dan lantas menyeret peti itu kepantai.

Marpaung Djae membuka peti itu dan ia pun terkejut setelah melihat seorang lelaki terbaring di dalamnya. Sesudah memajukan beberapa pertanyaan, Marpaung Djae mengajaknya untuk menginap di rumahnya. Setelah diberi makan sebaik-baiknya terhadap tamu yang belum dikenal itu, Marpaung Djae menanyakan namanya dan hal ikhwalnya.

Si Pongki Nangolngolan

Karena tidak busuk direndam air, untuk menjawab pertanyaan Marpaung Djae, Tangkal Tabu menamai dirinya: Si Pongki Nangolngolan. Nama itu disesuaikan dengan kekebalannya dan penderitaannya. Pongki ialah sejenis kayu yang tahan direndam di dalam air. Nangolngolan artinya yang lama ditunggu-tunggu. Sejak itu nama Tangkal Tabu digantinya dengan nama: Si Pongki Nangolngolan (Pongki yang lama menunggu-nunggu). Pada waktu itu, Si Pongki Nangolngolan sudah berusia 17 tahun. Ia teringat pada ibunya dan barang-barang pusaka yang diberikan kepadanya. Ketika menerima cincin (tintin tumbuk) tersebut, ibunya berkata: ”Cincin ini adalah suatu pertanda bahwa ananda adalah keturunan dari keluarga Singamangaraja.” Setelah mengucapkan terima kasih kepada Marpaung Djae, pada suatu hari Si Pongki Nangolngolan meminta diri dari Marpaung Djae karena ia akan berangkat ke Bakkara. Melihat desakan Si Pongki Nangolngolan yang tidak dapat ditahan-tahan untuk berangkat ke Bakkara, Marpaung Djae yakin bahwa Si Pongki Nangolngolan adalah keturunan raja. Keyakinannya diperkuat oleh barang pusaka-pusaka kerajaan yang dimiliki oleh Pongki. Pongki Nangolngolan dilepaskan oleh Marpaung Djae dengan doa restu tetapi dengan hati yang berat karena akan berpisah untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya. Sepeninggal Pongki Nangolngolan, keluarga Marpaung Djae makin bahagia dan Marpaung Djae menjadi raja di daerah itu.

Setelah beberapa hari di dalam perjalanan, menjelang petang hari sampailah Pongki Nangolngolan ke tempat yang dituju. Dari jarak yang agak jauh ia mendengar bahwa ada orang yang sedang menumbuk padi. Ia berhenti untuk melepaskan lelahnya, sambil meniup talatoit (sejenis sordam). Tidak berapa lama kemudian orang yang menumbuk padi itu menghentikan pekerjaannya, tertarik oleh suara sordam Pongki Nangolngolan yang sangat merdu. Pongki Nangolngolan mengetahui bahwa penumbuk padi itu telah tertawan hatinya mendengar suara sordamnya dan ia pun lalu berhenti meniup sordamnya. Tetapi apabila penumbuk padi itu mulai lagi menumbuk, Pongki Nangolngolan mulai pula dengan sordamnya. Demikianlah terjadi sampai beberapa kali, sehingga penumbuk padi itu, yaitu Pinta Omas, Puteri Baginda Singamangaraja ke X, merasa heran.

Akhirnya, Pinta Omas mengambil tekad untuk melihat orang meniup sordam itu. Sesudah melihat bahwa peniup sordam itu adalah seorang pemuda yang tampan, hatinya pun merasa tertawan. Dengan hati yang agak sangsi-sangsi, Pinta mengajak pemuda itu singgah ke rumah katanya: “Mengapakah kakanda di ladang ini? Rupanya kakanda dalam kesedihan. Marilah ke rumah karena hari sudah mulai gelap.”

Pongki Nangolngolan menjawab: ”Terima kasih. Tetapi sebelum itu, bolehkah dinda terangkan di mana rumah mamanda Singamangaraja?”

Pinta Omas menjadi terkejut dan akhirnya menjawab: “Yah, saya akan beritahukan nanti. Marilah kerumah.” Pongki Nangolngolan menjawab: “Sebelum kuketahui di mana rumah mamanda, saya tidak akan bermalam di rumah siapa pun.” Selanjutnya Pongki Nangolngolan menunjukan cincin yang diterimanya dari bundanya sebagai pertanda bahwa ia termasuk keluarga Singamangaraja.

Berhubung karena sepanjang pengetahuan Pinta Omas, ayahnya tidak mempunyai kemanakan, ia pun pergi ke rumah menanyakan kebenarannya. Mendengar laporan puterinya, Baginda terkejut, teringat kepada kakaknya Nai Hapatian yang mungkin telah mempunyai anak. Tetapi baginda merahasiakannya dan menjawab: “Saya tidak mempunyai saudara perempuan, apa lagi kemanakan. Walaupun demikian, biar siapa pun dia, bawalah kemari!”

Mendengar pesan Baginda yang disampaikan oleh Pinta Omas, Pongki Nangolngolan menolak untuk singgah dirumah baginda, dan sekali lagi ditandaskannya bahwa ia tidak akan singgah di rumah siapa pun kecuali di rumah mamandanya. Melihat kekerasan hati Pongki Nangolngolan, Pinta Omas berkata: “Tanah yang kakanda injak inilah kampung yang kakanda cari. Dan sayalah puteri Baginda.” Pongki Nangolngolan menjawab: “Terima kasih adinda! Saya akan menghadap mamanda untuk menyembahnya.”

Dengan bersembah sujud, Pongki Nangolngolan menghadap Baginda dan menunjuk tintin tumbuk seraja berkata: ”Mamanda! Barang ini kuterima dari bundaku. Bunda berkata bahwa inilah satu-satunya barang bukti yang menunjukan bahwa saya keturunan keluarga mamanda.”

Setelah berpikir sebentar, Baginda berkata: “Saya tidak mempunyai saudara perempuan. Dengan demikian tidak mungkin pula saya bertemu dengan kemanakan. Tetapi kalau engkau ingin tinggal di kampung ini, baiklah! Ingat, engkau hanya sebagai penumpang saja.”

Pongki Nangolngolan menolak untuk tinggal di kampung itu dan dengan kata-kata yang halus ia menjawab: “Sebelum saya berjumpa dengan mamanda, saya tidak bersedia tinggal dikampung ini.” Dia pun meninggalkan rumah itu dengan hormat dan pergi menuju pancuran yang terletak dipinggir danau.

Setelah mengingat kembali wajah-wajah orang yang dicampakkan ke danau dan memperhatikan kepergian ibu yang tidak dikenal itu, Baginda berkata dalam hatinya, “Mungkin inikah orangnya?” Baginda menasehati Pinta Omas supaya tidak menghiraukan pemuda itu. Pada suatu hari, sewaktu Pinta Omas mengambil air dari pancuran, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara, sedangkan orangnya tidak tampak, katanya: “Hai puteri yang baik hati, sudilah kiranya tuan puteri memberikan seteguk air pada saya yang sangat kehausan ini.”

Pinta Omas menjawab: “Suara siapakah gerangan yang menawan hati itu? Ia, manusia yang bersuara merdu! Tampakkanlah dirimu supaya kukenal.” Tetapi Pongki Nangolngolan tidak mau menampakkan dirinya, hanya berkata: ”Tanyakanlah ayahmu, mamanda, siapa saya dan dari mana. Saya adalah kemanakan beliau kalau baginda benar Si Singamangaraja.” Dengan tidak berpikir panjang lagi, Pinta Omas meninggalkan tempat itu dan melaporkannya kepada Baginda. Walaupun Baginda sudah mempunyai cukup bukti bahwa Pongki Nangolngolan adalah kemanakannya, Baginda tetap menyangkalnya.

Kemudian Pinta Omas pergi lagi ke pancuran. Setelah agak lama menunggu-nunggu suara yang dinantikannya, ia berteriak: ”Ia, manusia yang menyembunyikan diri, di manakah engkau? Pongki Nangolngolan menjawab: “Ia, adinda, apakah adinda sudah menanyakan baginda siapakah aku?” Pinta Omas menjawab: “Ia, kakanda, saya telah mengenalmu. Dari suaramu kuketahui bahwa engkau seorang lelaki yang menyerupai singa-jaya, pemurah dan pengasih. Marilah, hai kekasihku, tunjukanlah dirimu, aku sudah rindu padamu.” Pongki Nangolngolan menjawab: “Tidak ada artinya pertemuan kita, jika hanya adinda sendiri yang mengakui saya anak bibimu, kemanakan Baginda.” Dengan kejadian yang berulang-ulang seperti tersebut diatas, Pinta Omas merasa tersiksa, karena menghadapi kekasih yang tidak nampak. Pada suatu hari di musim panen, Pinta Omas pergi kepancuran untuk mengambil air. Dari jauh didengarnya suara sordam yang merdu dan menyedihkan. Pinta Omas meneteskan air mata karena sedihnya serta menghubung-hubungkan kejadian-kejadian yang jauh sebelumnya dan kejadian-kejadian terakhir. Ia berpikir: ”Inikah gerangan orangnya yang menumpang bersama ibunya menjadi pekerja di rumah kami? Inikah orangnya yang meniup sordam pada waktu saya menumbuk padi di mana kami mulai berkenalan? Dan inikah gerangan orangnya yang tidak menampakkan dirinya di pancuran? Cara-caranya berlainan tetapi alunan suara serdamny tetap, kemerduan dalam kesedihan. Pinta Omas pun memeriksa sekeliling pancuran itu.

Alangkah terkejutnya Pinta Omas tatkala ia bertemu dengan orang yang sangat tua, apalagi paras mukanya sangat buruk. Dengan hormat Pinta Omas bertanya: ”Kakek! Siapakah yang meniup sordam tadi?” Orang tua itu menjawab: ”O, barusan dia pergi karena ia tidak berjumpa dengan mamaknya. Inilah sordam yang dipakainya tadi. Dan kalau cucunda hendak bertemu dengan dia besok pagi, datanglah ke pancuran ini. Biar kupesankan nanti padanya.” Pinta Omas tidak sampai hati menuduh bahwa si “kakek“ itulah yang meniup sordam tadi.

Besok paginya Pinta Omas pergi ke pancuran mengingat janjinya dengan orang tua itu. Alangkah marahnya tatkala pancuran dijumpainya kosong; si orang tua tidak tampak, apalagi si orang muda. Sesudah Pinta Omas selesai mengambil air dan hendak pulang, ia mendengar suara yang lemah lembut: ”Mengapakah saudari marah kepada hamba yang hina dina ini? Ketahuilah bahwa aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum mengetahui dengan jelas di mana mamanda Singamangaraja.” Pinta Omas menjawab: ”Apakah kakanda tidak mengetahui bahwa aku inilah puteri Baginda? Marilah, silakan ke rumah, kakanda yang budiman, tunjukanlah wajahmu, aku telah rindu padamu. Marilah!”

Pongki Nangolngolan menjawab: ”Saya tahu bahwa engkau cinta kepada kemanakan Baginda, tetapi saya ketahui juga bahwa upayamu gagal untuk mempengaruhi Baginda agar menerima kemanakannya. Karena itu, kalaupun kita saling cinta-menyintai, kita tidak mungkin kawin. Biarlah saya yang hina dina ini meninggalkan daerah ini.”

Pinta Omas berkata: ”Kakanda, jangan tinggalkan aku!”. Pongki Nangolngolan menjawab: ”Kalau adinda rindu melihat aku, pandanglah aku nanti di puncak gunung Dolok Tolong. Itulah saat yang terakhir bagi kita untuk berapandang-pandangan. Saya akan pergi ke negeri yang jauh”. Tiada berapa lama kemudian, Pongki Nangolngolan pergi menuju Dolok Tolong.

Setelah Pinta Omas melihat seorang pemuda yang berparas cantik, bercahaya-cahaya di puncak Dolok Tolong dengan pakaian kerajaan, Pinta Omas pun berlari-larilah menuju gunung tersebut. Malang baginya, pada saat ia berlari menuju gunung tersebut, hujan pun turun dengan lebat serta angin kencang dan kilat yang sambung-menyambung dan banjir pun terjadi. Lalu Pinta Omas dihanyutkan dan akhirnya menemui ajalnya di Danau Toba.

Badan halusnya itulah yang kini terkenal di Danau Toba dengan nama Boru Saniang Naga (Puteri Sang Hiyang Naga).

Karena kesedihan yang bertimbun-timbun, Pongki Nangolngolan pada saat itu juga meninggalkan daerah tersebut dan pergi menuju ke Selatan, melalui Garoga dan Pangaribuan. Pada suatu saat, ia sangat kehausan. Atas kemurahan hati Tuhan, dia bertemu dengan mata air di kaki sebuah bukit yang terletak di perbatasan Tapanuli dengan Sumatera Barat. Tempat ini penting artinya bagi Pongki Nangolngolan karena di sinilah dia beristirahat selama setengah bulan.

Tempat tersebut cukup indah. Mata air terletak di liang batu, di kaki bukit tersebut dan pemandangan sekitarnya cukup memuaskan. Setelah merasa segar kembali, ditentukanlah arah ke mana tujuan selanjutnya. Tetapi di tengah jalan, arahnya berobah karena perhatiannya tertarik pada sebatang pohon yang meranggas. Setelah memperhatikan pohon tersebut, ternyata ada empat ekor ular yang berbentuk lingkaran tergantung di salah satu dahan, cukup membuat bulu roma berdiri. Sedang berfikir-fikir, tiba-tiba didengar suara: “Ambillah ular itu dan masukkan pada pergelanganmu. Hanya dengan jalan demikian saya dapat membantumu.” Pada mulanya, Pongki Nangolngolan merasa bimbang mengambil ular tersebut karena diketahuinya ular sangat berbisa dan dahan-dahan pohon tersebut telah lapuk. Tetapi didorong oleh keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan, didekatinya juga. Pada waktu mau mengambilnya, tiba-tiba ular itu berubah menjadi gelang emas, sedangkan pohon itu lenyap dari pandangan mata. Setelah mengenakan gelang emas itu pada pergelangan, ia pun meneruskan perjalanannya menuju dataran menurut rencana semula. Tidak beberapa lama kemudian, Pongki Nangolngolan mendengar kokok ayam dan tahulah dia bahwa kampung sudah dekat.

Belum sempat memasuki kampung itu, dia terus ditangkap oleh pengawal-pengawal tentara Tuanku Rao. Kedatangannya mencurigakan karena kebetulan pada saat itu terjadi peperangan di daerah Bonjol. Karena penyergapan yang tiba-tiba, ia tidak sempat mengadakan perlawanan. Akhirnya, ia menjadi tawanan dari tentara Tuanku Rao. Selama Pongki Nangolngolan di dalam tahanan, tentara Tuanku Rao cukup pening kepala memikirkan hal tawanan baru itu. Segala jenis siksaan sudah dilakukan, namun ia tidak gentar, bahkan tersenyum manis. Kabar kegagahan dan kekebalan Pongki Nangolngolan akhirnya sampai juga kepada Tuanku Rao.

Karena kesulitan dalam menghadapi musuh, pada suatu hari Tuanku Rao mengumumkan sebagai berikut: “Barang siapa mengalahkan musuh yang kejam itu akan menjadi menantuku.” Ditunggu sampai beberapa lama, tidak seorang pun berani menerima tawaran itu. Setelah mengetahui hal yang demikian, Pongki Nangolngolan yang masih meringkuk di dalam penjara menyatakan kesediaannya dan kesanggupan untuk tugas yang dimaksud. Ketika Baginda mendengar laporan dari pengawal tentang kesediaan Pongki Nangolngolan, ia pun menyuruh Pongki Nangolngolan menghadap. Di hadapan Tuanku Rao, Pongki Nangolngolan berkata: ”Ampun Tuanku, ampun! Jika baginda menyuruh hamba untuk mengusir musuh yang kejam itu, patik pun akan bersedia melaksanakannya untuk keamanan negeri.” Tuanku Rao sangat heran melihat tingkah laku Pongki Nangolngolan yang disertai dengan budi bahasa yang halus. “Orang asing dari manakah ini, apakah orang ini termasuk keluarga raja?” katanya dalam hati.

Setelah upacara doa, Pongki Nangolngolan cepat mengadakan persiapan seperlunya dengan melatih tentara pilihan untuk menaklukan musuh. Dengan dipelopori oleh Pongki Nangolngolan, akhirnya beberapa orang raja-raja disekitar Tanah Bonjol menyerah kepada Tuanku Rao. Dengan kemenangan yang gilang-gemilang itu, Pongki Nangolngolan telah menjadi calon menantu Baginda Tuanku Rao. Tetapi, karena Baginda belum mengetahui asal-usulnya dan agamanya, Baginda menyuruh perantaranya menanyakan Pongki Nangolngolan. Takdir tidak dapat dicegah, Pongki Nangolngolan akhirnya dikawinkan dengan puteri Baginda yang bernama: “Aysjah Siti Wagini.” Dengan masuknya Pongki Nangolngolan sebagai tokoh yang terkemuka di daerah itu, ia pun memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam dan adat-istiadat di daerah itu.

Berkat kepribadian yang tinggi, Baginda pun mengangkat Pongki Nangolngolan menjadi kepala tentara di seluruh tanah Bonjol. Walaupun demikian, pangkat ini tidak menyenangkan hatinya, sebelum ia dapat membalas dendam kepada pamannya Singamangaraja X. Ia berpendapat bahwa inilah satu-satunya saat yang terbaik untuk membalas dendam kepada mamandanya Singamangaraja X, seraya menaklukkan tanah Batak.

Permohonannya untuk membawa sebagian pasukannya ke Tanah Batak, dengan tujuan membunuh Singamangaraja X dan mengislamkan tanah Batak, dibenarkan oleh mertuanya Tuanku Rao.

Si Singamangaraja X Dibunuh Pongki Nangolngolan

Dari Tarutung, pasukan Bonjol meneruskan perjalanannya ke Sipoholon dan dilanjutkan ke arah Butar. Setelah tiba di Butar, sampailah khabar kepada Si Singamangaraja X tentang kedatangan kemanakannya Si Pongki Nangolngolan lengkap dengan pasukannya yang amat besar. Si Singamangaraja X berpendapat bahwa maksud kedatangan kemanakannya tersebut tidak lain tidak bukan hanyalah untuk membalas dendam kepadanya. Dengan demikian, Baginda memperkuat pasukannya untuk melakukan perlawanan.

Oleh sebab Pongki Nangolngolan mempunyai keyakinan bahwa ia tidak akan sanggup membunuh mamaknya Si Singamangaraja jika hanya dengan mengadu tenaga saja, maka dicarilah satu tipu muslihat. Ia mengumpulkan semua raja-raja di Butar dan kepada mereka diumumkan bahwa kedatangannya bukanlah untuk berperang. Selanjutnya beberapa orang di antara raja-raja dimintanya supaya menemui Si Singamangaraja untuk menyampaikan pesannya, yaitu hendak berjumpa dengan mamaknya tersebut karena sudah sangat rindu. Dan menurut nasihat datu supaya menyampaikan piso-piso yaitu sejumlah uang selaku persembahan agar ia memperoleh rezeki yang baik.

Si Singamangaraja X tidak dapat mempercayai isi pesan tersebut. Baginda yakin bahwa itu hanyalah tipu muslihat saja, hendak memancingnya, agar mudah melakukan sesuatu yang dihajatnya. Baginda tidak percaya pada kejujuran kemanakannya apalagi setelah diketahuinya tentang kekejaman pasukan kemanakannya yang banyak melakukan perampokan, pembunuhan dan perkosaan-perkosaan. Berulang-ulang Pongki Nangolngolan menyuruh orang-orangnya untuk membujuk Si Singamangaraja X tetapi tetap ditolak oleh Baginda. Untuk ketujuh kalinya disuruh lagi seorang perempuan untuk menyampaikan pesan yang serupa dengan tambahan, apabila mamaknya sangsi atas kejujurannya, Baginda boleh membawa 10 orang pengawal sedang ia sendiri hanya membawa 5 orang saja. Dan tempat pertemuan dihunjuk di bawah pohon ara di Dolok Imun. Akhirnya, Si Singamangaraja X percaya kepada kemanakannya bagindapun berangkat menuju tempat yang dijanjikan dengan ditemani 10 orang pengawal. Pongki Nangolngolan sangat gembira sesudah mamaknya percaya padanya. Gembira karena rencananya membunuh mamaknya yang telah lama terkandung di dalam hatinya akan terlaksana.

Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan itu, ia telah berada di bawah pohon ara yang tumbuh di Dolok Imun dan mamaknya pun sudah tampak datang menghampiri dia. Dengan jalan merenungkan segala kejadian yang sudah-sudah ia pun berhasil mengeluarkan air matanya dan pura-pura menangis tersedu-sedu. Melihat itu Baginda Si Singamangaraja segera merangkul dan memeluk kemanakannya dan Pongki Nangolngolan pun pura-pura merangkul mamaknya. Sewaktu berangkul-rangkulan, Pongki Nangolngolan dengan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher mamaknya sehingga terputus sama sekali. Tetapi sangat menakjubkan karena kepala mamaknya segera membubung ke atas. Kemana pun dicari-cari oleh Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pongki Nangolngolan merasa tidak puas walaupun sebenarnya mamaknya telah dapat dibunuhnya. Oleh karena marahnya, pasukannya disuruh lagi membakar Bakkara, Lintong Nihuta dan Butar sendiri. Akhirnya, Pongki Nangolngolan beserta pasukannya kembali menuju Bonjol. Semua orang-orang tawanan turut dibawa serta.Cita-citanya semula untuk memiliki kepala mamaknya Si Singamangaraja X untuk dibawa ke Bonjol sebagai tanda kemenangannya tidak sampai.”

VERSI M.O. PARLINDUNGAN:

PONGKI NANGOLNGOLAN

MENJADI TUANKU RAO

Pongki Nangolngolan di Bakkara/Toba

Masa kecil dari Tuanku Rao, Panglima Tentara Cavalary Islam yang menjadi Wali Susuhunan Pembawa Agama Islam ke Tanah Batak, tidak cukup diketahui secara exact berikut Angka-angka Tahunan. Akan tetapi, tidak begitu parah halnya seperti pada: Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar, Senopati, Singamangaraja XII dll. Pahlawan-pahlawan Indonesia.

Perihal Tuanku Rao, segala-galanya dapat diketahui secara exact berikut Angka-angka Tahunan dalam Tarich Hijrah, sejak dia pada tanggal 9 Rabi Ul Awal tahun 1219 H (1804 M), di-Islamkan dari seorang pagan yang bernama Pongki Nangolngolan Sinambela menjadi Umar Katab. Di-Islamkan lengkap dengan Chitanan, serta Ucapan Sahadat di Kamang/Minangkabau oleh Tuanku Nan Renceh.

Orang-orang Tanah Batak Utara umumnya, serta orang-orang Marga Sinambela khususnya, senantiasa berupaya black-out dari Pongki Nangolngolan Sinambela, walaupun dia sebenarnya untuk sepanjang zaman adalah Mahaputera Yang Terbesar dari Tanah Batak Utara. Tegasnya, di situ Pongki Nangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao bukannya dibanggakan, malahan sebaliknya: Tetapi sengaja silenced-out. Why? Karena Pongki Nangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao katanya membunuh pamannya Singamangaraja X. Sedangkan Singamangaraja Dynasty dianggap unvulnerable, serta penuh Alemu-Alemu – Magic Powers. Di tanah Batak Utara, dari pihak Toba, ada sesuatu Mytos, yakni: “Mytos Si Pongki Nangolngolan” di mana yang dititikberatkan tentulah Alemu-alemu dari Singamangaraja Dynasty, dan tentulah bukan jasa-jasa dari Tuanku Rao penyebar agama Islam di Tanah Batak. Mythos tersebut ini selaku nutsell isinya sebagai berikut. Katanya, Tuanku Rao semasa kecil bernama Pongki Nangolngolan, tanpa nama-marga. Dia adalah Babere–Sister Son– Kemenakan dari Singamangaraja IX. Walaupun Ibunya adalah the sister of the King, tetapi di Tanah Batak Utara selamanya silenced-out entah siapa Ayahnya!! Very suspicisious. Dia dibesarkan oleh Pamannya Singamangaraja X di Bakkara Toba, the capital city dari Singamangaraja Dynasty sejak 10 keturunan.

Entah karena apa tidak ada orang di Toba yang mengetahui, Pongki Nangolngolan dalam usia 9 tahun di-vonis hukum mati oleh his own Uncle Singamangaraja X. Bloodless execution, dengan cara diikat pada sesuatu batang kayu, diberat-berati, dengan batu-batu, lalu drowned as a cat di dalam air Danau Toba, just beyond the front garden in Bakkara. Tidak pula disebutkan di Toba, kenapa seorang Tulang = Mothers Brother, sampai hati begitu kejam terhadap his only 9 years old Babere = Sister’s Son. Very strange family custom, over there in Toba. Not drowning Cats, but drowning nephews. Tetap very strange, walaupun pada waktu itu, 80 tahun sebelum datang Pendeta Nommensen. Orang-orang Toba masih happily cannibalistic.

Pongki Nangolngolan katanya berhasil menyelamatkan diri dari air Danau Toba dan dia pergi merantau entah ke mana. Dengan demikian, Pongki Nangolngolan menjadi semacam Mozes = Nabi Musa, di dalam legends Batak. Sama-sama selamat dari air. Entah pun episode air itu, historic atau ornamental. Sampai di dalam legends Maories di New Zealand, ada pahlawan-pahlawan yang selamat dari air. Grand Old Man Mozes bukannya monopoly Yahudi. No Sir. Orang-orang Batak tidak mau kalah kepada Orang-orang Jepang, dan tentulah tidak mau kalah kepada Orang-orang Yahudi. Don’t worry. Punya Mozes.

Katanya, 20 tahun kemudian Pongki Nangolngolan kembali lagi ke Toba. Bukannya barefeet berupa The Prodigal Nephew, tetapi sangat bengis dengan pedang terhunus on horseback, sudah naik daun menjadi Tuanku Rao, Panglima Tentara “Pidari.” Datang untuk membalas dendam terhadap Pamannya His Majesty King Singamangaraja X. Seluruh daerah Toba devastated oleh “Pidari,” ohne Ausnahme semuanya rumah-rumah dibakar dan puluhan ribu wanita-wanita rusak diperkosa. Mimpi Neraka yang benar terjadi di Toba, dan yang pada tahun 1824 reported oleh Pendeta Burton dari British Mission, untuk Pemerintah Kolonial Inggris di Tapian Nai Uli/Teluk Siboga.

Katanya, Singamangaraja X cukup bodoh suka dipancing keluar dari perbentengannya di Bakkara, untuk menjemput sesuatu bingkisan dari his nephew Tuanku Rao di Butar/Siborongborong. Singamangaraja X diserang dari belakang oleh Pongki Nangolngolan alias Tuanku Rao, dan berhasil dipancung. Why?? Katanya, Tuanku Rao serta “Pidari” adalah cannibalistic head-hunters, yang katanya datang untuk memperoleh kepala dari Singamangaraja X. Katanya, karena Alemu-alemu pada Singamangaraja Dynasty: Segera lepas dipancung, kepala dari Singamangaraja X terbang tinggi ke Banua Ginjang. Kecilek Tuanku Rao. Dengan tangan kosong, tanpa bloody head dari Singamangaraja X, “Pidari” terpaksa kembali ke Selatan, dari mana hanyalah malapetaka yang dapat datang. Begitulah nonsense ”Si Pongki Nangolngolan” hingga ini hari masih dipercaya di Toba, walaupun Orang-orang Toba sudah 80 tahun beragama Kristen. Bahwa Tentara Padri yang di bawah commando Tuanku Rao diutus untuk mengembangkan Agama Islam.

Nonsense, ”Si Pongkinangolngolan” edition Toba. Itulah untuk oleh Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional Indonesia bukanlah head hunters, hal itu tentulah tidak diinsyafi oleh pihak Toba yang masih pagan. Sutan Martua Raja menjadi starting point, menyelidiki asal-usul yang sebenarnya dari Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Panglima Tentara Padri, Pembawa Agama Islam ke Tanah Batak. Seperti detective pieced together oleh Sutan Martua Raja, selama 15 tahun yakni: 1903–1918. Hasilnya sebagai berikut:

Pongki Nangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao pasti adalah Babere = Sister Son dari Singamangaraja X. Dengan demikian, Ibu dari Pongki Nangolngolan mestilah seorang puteri dari Singamangaraja IX dan mestilah bernama-marga Sinambela seperti Singamangaraja Dynasty. Akan tetapi, oleh pihak Toba dengan total black-out selamanya silenced-out: Apakah gerangan nama-marga dari ayah dari Tuanku Rao?? Sangat dicurigai oleh Sutan Martua Raja!! Karena di Toba, mempunyai nama-marga, seperti: Tuan Situmorang, Tuan Panggabean, Tuan Siagian, etc, etc. Look out, something wrong bahwa Pongki Nangolngolan tanpa nama-marga dilahirkan oleh the Kings Sister bukan sembarangan. Sutan Martua Raja mendapat first clue in this mystery, dari Controleur Poortman, seorang Controleur/BB di Sipirok yang sebelumnya lama Controleur/BB di Singkil. Poortman di Singkil sudah menyelidiki sesuatu small community orang-orang Muslim yang bernama marga Sinambela, dan yang mengaku keturunan dari Singamangaraja VIII. Di dalam mereka punya family papers di dalam Tulisan Arab tertulis, bahwa Tuanku Rao di dalam perjalanan Naik-Haji ke Mekkah pada tahun 1227 H = 1812 M, singgah di Singkil dan di situ Ziarah di kuburan Ayahnya: Prince Muhammad Zainal Amirudin Sinambela, seorang Putera dari Singamangaraja VIII yang exiled dari Bakkara Toba dan dimakamkan di Singkil. Sutan Martua Raja bersama Controleur Poortman mencapai hasil sebagai berikut.

1. Ayah dari Tuanku Rao adalah seorang Putera dari Singamangaraja VIII, yang semula bernama Prince Gindoporang Sinambela. “Gindoporang,” di dalam Bahasa Batak, artinya kira-kira “Pangeran Bintoro” di dalam Bahasa Jawa. Di Tanah Batak Utara, nama itu tidak dipakai lagi sejak disumpah oleh Singamangaraja IX.

2. Ibu dari Tuanku Rao adalah seorang puteri dari Singamangaraja IX yang bernama “Puteri Gana Sinambela, di dalam Bahasa Batak: Gana Boru Nambela.

3. Painful Conclusion: Pongki Nangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao lahir dari Incest = “Bloedshande,” antara seorang Uncle dengan his Niece. Itu dia penyakit!! Selamanya ditutup-tutup oleh Fihak Tanah Batak Utara, karena mengenai seorang Princess Of The Singamangaraja Dynasty.

Incest tidak selamanya membawa degeneration, seperti diajarkan di SMP/SMA supaya anak-anak jangan main kayu. Umpamanya pada Raja-raja Fir’aun di Mesir/Kuno, malahan Brother and sister marriages, sangat digemari agar sifat-sifat baik dari Dynasty menjadi double turun-temurun. Di Arabia sangat digemari pula perkawinan antara putera-putera serta puteri-puteri dari Brothers. Di Arabia meminang seorang wanita, istilahnya “Oh Lovely Daughter Of My Fathers Brother.” Di Tanah Batak sangat berlainan, menjadi “Rege-rege Ni Ampang, Laklak Ni Singkoru, Babere Ni Damang, Anak ni Namboru.” Tidak diterjemahkan karena disitu terbukti “Congestion Boru-boru Batak “ yang sangat parah sejak PD II. Very dangerous for You, Sonny Boy, dapat dijapuik dengan Adat Matriarchy.

Orang-orang Batak berpegang teguh kepada Adat Dalihan Natolu, Marhulahula, Mardongan sabutuha, Maranakboru” Tolu = Three. Adat Dalihan natolu = Three Clans Exogamic Marriages.” Di situ “Mono Clan Intermarriages,” seperti Tobing dengan Tobing, Harahap dengan Harahap, Sinambela dengan Sinambela. Etc. etc hukumannya sangat berat yakni dirajam = dipukul mati dengan batu-batu. Di Abad Ke-XX sudah banyak Orang-orang Batak intellektuel yang menyeleweng, dan sayang sekali tidak boleh lagi dipukul mati dengan batu-batu. Very sorry patut dibanting modar dengan soban = kayu bakar, for the beauties of their own clan. Analysa dari “Three Clans Exogamic Marriages” paling baik dapat dipelajari dari buku: ‘ Totem Und Tabu,’ karangan Herr Professor Doctor Sigmund Freud. Sayang sekali, buku tersebut satu pun Pria atau Wanita Batak, tidak ada yang sanggup membacanya. Enak baca cerita-cerita Bintang-Bintang Pilem.

Karena illegal pregnancy out of wedlock, dan dari incest pula, maka: Singamangaraja IX terpaksa mengusir his own daughter Princess Gana boru Nambela, serta his half-brother Prince Gindoporang Sinambela. Daripada dibolehkan dipukul mati dengan batu-batu oleh khalayak ramai, lebih baik diam-diam exiled keluar dari Singamangaraja Realm, di tepi Sungai Simpang Kanan, di daerah Uti yang merupakan Buffer Province antara Singamangaraja Realm serta Kesultanan Aceh. Dari situ, mereka pergi down river ke pelabuhan Singkil yang sudah termasuk Jajahan Takluk dari Kesutanan Aceh.

Di Singkil Prince Gindoporang Sinambela masuk Mounted Police Forces Aceh, karena dia sangat pandai bertempur sambil naik kuda. Dia masuk Islam dengan nama ”Muhammad Zainal Amirudin Sinambela.” Princess Gana Sinambela tetap tinggal Pagan. Karena dia masih sangat mengharap-harapkan entah boleh kembali ke Bakkara/Toba, jika kelak Ayahnya Singamangaraja IX sudah digantikan oleh adiknya yang menjadi Singamangaraja X. Pagan Priest King. Selaku Muslimat pasti Princess Gana Sinambela tidak boleh kembali ke Bakkara/Toba, The Holy City Of The Pagan Toba Bataks. Akibatnya, Muhammad Zainal Amirudin Sinambela tidak dapat nikah secara Islam, dengan his allready pregnant niece yang menolak mengucapkan Kalimah Sahadat.

Di dalam unhappy situation yang begitulah, Princess Gana Sinambela di Singkil melahirkan seorang Putera. Oleh Muhammad Zainal Amirudin Sinambela kepada anak itu diberikan nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Oleh Princess Gana Sinambela anak itu disebutkan: “Pongki Na Ngolngolan” = “Fakih Yang Menunggu-nuggu” yakni: Menunggu entah boleh ke Bakkara-Toba. Pongki Na Ngolngolan = Pongkinangolngolan oleh Ibunya dibesarkan secara Pagan!! Muhammad Zainal Amirudin Sinambela estranged dari his son dan dari his Niece, dan dia nikah dengan Siti Kumala Sari Pohan, Puteri dari Nachoda Hadji Achmad Samil Pohan dari Barus.

Sembilan tahun lamanya Pongki Nangolngolan dibesarkan oleh Ibunya saja di Singkil. Tidak belajar Agama Islam, tetapi Anyhow belajar Bahasa Minangkabau/Dialect Pesisir. Sehingga 7 Tahun kemudian di Lubuksikaping, Pongki Nangolngolan segera lancar pandai Bahasa Minangkabau.

Singamangaraja IX wafat dan digantikan oleh Puteranya yang menjadi Singamangaraja X, Pagan Priest King Di Bakkara/Toba, Singamangaraja X benar memaafkan faux-pas dari his sister, to be pregnant dari their Uncle. Singamangaraja X mengutus Delegation ke Singkil, untuk menjemput puteri Gana Sinambela and her Son, of cource not included the Islamised double scoundrel: Prince Gindoporang Sinambela.

Di dalam usia 9 tahun Pongki Nangolngolan datang di Bakkara, Toba, dan terutama menjadi pembantu Singamangaraja X di dalam hal berburu rusa on horseback. Pongki Nangolngolan menjadi Anak-Mas dari Singamangaraja X. Ada sedikit kesulitan, bahwa Pongki Nangolngolan selaku Putera dari Princes Gindoporang Sinambela, being also an incest born Sisters Son dari Singamangaraja X. Untuk Orang-orang Batak sangat sulit, seorang ‘Babere’ serta dia punya ‘Tulang,” nama-marganya sama.

Singamangaraja X ada akal memberikan nama Marga Simorangkir kepada Pongki Nangolngolan. Simangaraja X punya other Sister. Yakni: Princess Sere Sinambela, isteri dari Hulubalang Jomba Simorangkir. That’s it. Di dalam sesuatu Upacara Adat. Pongki Nanggolngolan dijual pro-forma seharga: 1 Ringgit Burung plus 1 hewan b-2, oleh Princess Gana Sinambela kepada Princess Sere Sinambela and her husband General Jomba Simorangkir. Singamangaraja X sendiri hadir pada jual/beli pro-forma itu.

Datang 3 orang Datu’s = Witch Doctors, di bawah pimpinan Datu Amantagor Manullang mengacau jual/beli pro-forma itu. Mereka keras kepala menuntut, bahwa: Incest tidak boleh legalised, oleh seorang Simangaraja. Berbahaya sekali, jika ditiru oleh Rakyat Jelata. Membahayakan Adat Batak, Adat Dalihan Natolu: Marhula-hula, Mardongan sabutuha, Marboru. Mungkin merembet-rembet membahayakan sociologic and diplomatic equilibrium, antara Huta ke Huta di seluruh Toba di seluruh Singamangaraja Realm. Lebih parah lagi: 3 Witch Doctors itu membawa seekor white chicken pula, tidak untuk sate ayam, tetapi untuk menendung. Di depan Singamangaraja X serta di depan Pongki Nangolngolan sendiri, 3 orang Witch Doctors itu menendung dengan chicken intestines, bahkan Pongki Nangolngolan, akan membunuh Pamannya Singamangaraja. It’s that imagine membunuh Pamannya yang notabene begitu baik untuk untuk dia. Witch Doctors dengan Suara Bulat menuntut, bahwa: Pongkinangongolan harus put to death!! Seorang Calon Uncle Murderer, yang lahir dari incest pula. Pfui Singamangaraja X not easy to be outwitted, berfikir panjang Benar, bahwa: dia selaku Singamangaraja tidak boleh legalising incest, walaupun his own sister yang salah wessel.

Singamangaraja X terdesak ke dalam ‘burning question: How to save his now/beloved nephew Pongki Nangolngolan, without contradicting those 3 powerful Witch Doctors?? Singamangaraja X mendapatkan way out, yang memuaskan untuk 3 Witch doctors, tetapi: Memberikan kesempatan kepada Pongki Nangolngolan, to slip out.

Singamangaraja X menjatuhkan vonnis sesuai dengan tuntutan. Yakni: Pongki Nangongolan harus put to death. Akan tetapi: Dia tidak boleh dipancung seperti criminal biasa, agar supaya: Darahnya of an incest born jangan menodai The Holy Ground of Bakkara. Pongki Nangolngolan harus dihukum mati secara bloodles. How?? Ditenggelamkan di Danau Toba!! Witch Doctors tertipu, acc.

Dilihat oleh Witch Doctors, Pongki Nangolngolan diikat pada sebatang kayu, yang diberat-beratkan pula dengan batu-batu. Pongkinangongolan diam saja, dan memandang kepada Pamannya Singamangaraja X, satu-satunya manusia yang mengkasihani dia di seluruh Bakkara/Toba. Ibu dari Pongki Nangolngolan berganti pakaian menjadi seluruhnya serba putih, siap/sedia bunuh diri mengikuti Puteranya ke banua Ginjang. Pongki Nangolngolan serta Ibunya mulai mengerti, pada waktu Singamangaraja X diam-diam tanpa terlihat orang, menyelipkan satu kantong kulit berisi silver corns, ke dalam baju dari Pongki Nangolngolan yang sudah immovable erat diikat atas batang kayu.

Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura last inspection tali-tali yang mengikat Pongki Nangolngolan serta mengikat batu-batu, pada batang kayu. Tidak kelihatan orang, tertutup oleh badan dari Puteri Gana Sinambela yang menangisi puteranya, Singamangaraja X dengan Keris Pusaka gajah Dompak melonggarkan tali-tali yang mengikat Pongki Nangolngolan serta mengikat batu-batu pada batang kayu. Dengan air mata bercucuran. Pongki Nangolngolan mencium Ibunya, serta mencium tangan dari Pamannya Singamangaraja X. Thanks a lot, Good Old Uncle!! Singamangaraja X mencucurkan air mata, lebih parah lagi daripada Pongki Nangolngolan, Bye-Bye, Pongki Nangolngolan Boy, Bye-Bye, Vaya Con Dios…….

Tuanku Rao di Minangkabau

Dari Lubuk Sikaping, Djamangarait kembali ke Parausorat. Pongki Nangolngolan tinggal di Lubuk Sikaping dan segera pula mendapat pekerjaan dengan free board and logging di situ. Yakni: Pada Datuk Bandaharo Ganggo menjadi stable boy merawat kuda2 beban yang dia turut giring dari Tanah Batak. Pongki Nangolngolan mudah saja menyesuaikan diri di Lubuk Sikaping, karena dia di Singkil sudah belajar bahasa Minangkabau Pesisir.

Datuk Bandaharo Ganggo adalah ulama/guru agama Islam. Akan tetapi, dia tidak sempat mengajarkan Islam kepada konco2-nya karena: Dia sedang sibuk mempersiapkan kepergian ke Kamang/Agam untuk selama beberapa bulan. Datuk Bandaharo Ganggo hendak pergi ke Kamang karena: Khabarnya di Kamang sedang berkembang Gerakan Pembersihan Agama Islam di bawah pimpinan kawannya Tuanku Nan Renceh. Khabarnya pula di Kamang ada 3 orang haji2 yang baru kembali dari Mekkah yakni: Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik, yang mengajarkan Islam yang maha murni yakni: Agama Islam/Mashab Hambali yang katanya berlainan sekali dengan agama Islam yang pada waktu itu lazim di Minangkabau yakni: agama Islam/Mzhab Syiah. Tiga orang Haji itu khabarnya dijamin oleh Tuanku Nan Renceh di Padang.

Datuk Bandaharo Ganggo serta Tuanku Nan Renceh adalah class mates di Universitas Islam Ulakan/Pariaman. Datuk Bandaharo Ganggo mendapat undangan dari Tuanku Nan Renceh, supaya bersama alim-ulama dari daerah Lubuk Sikaping, datang melihat2 di Kamang/Agam serta dekat mempelajari pula perbaikan2 yang disebabkan oleh Gerakan Pembersihan Agama Islam. Untuk pergi ke Kamang dengan rombongan besar, untuk itulah perlu dipesan kuda2 beban dari Tanah Batak. Rombongan Datuk Bandaharo Ganggo termasuk wanita dan anak2 dari Lubuk Sikaping berangkat ke Kamang. Ikut serta Pongki Nangolngolan.

Tidak selaku anggota rombongan, akan tetapi: very humble selaku kacong/perawat kuda beban dalam usia 16 tahun. Ikut pula seorang pengawal bersenjata yang sudah berusia 28 tahun Peto Syarif. Selama perjalanan terjadilah persahabatan antara Pongki Nangolngolan dan Peto Syarif.

Tuanku Nan Renceh di Kamang sibuk pula memimpin Gerakan Pembersihan agama Islam = Gerakan Islam kaum Putih di Minangkabau, sebagaimana lebih lanjut akan diuraikan next chapters. Di dalam situation begitulah Tuanku Nan Renceh mendengar hal ikhwal serta keturunan dari Pongki Nangolngolan the Pagan stable boy. Tuanku Nan Renceh segera mengerti bahwa: Pongki Nangolngolan selaku keponakan dari Singamangaraja X serta selaku Cucu dalam Garis Lelaki dari Singamangaraja VIII, tentulah sangat baik digunakan di dalam rencana merebut serta mengislamkan Tanah Batak.

Tuanku Nan Renceh meminta kepada his friend Datuk Bandaharo Ganggo, supaya Si Pongki Nangolngolan di-over kepada dia. Datuk acc. Pongki Nangolngolan pada Tuanku Nan Renceh tidak menjadi stable boy, tetapi menjadi kacong rumah tangga di dalam arti anak samang yang dididik serta disekolahkan Induk Samang.

Atas anjuran Tuanku Nan Renceh, Pongki Nangolngolan lengkap dengan syarat2 chitanan serta syahadat, pada tanggal 9 Rabi’ulawal 1219/H = 1804 M diislamkan dengan nama Umar Katab. Nama itu dipilih oleh Tuanku Nan Renceh derivated dari nama: “Umar Chatab“ Chulafaur Rasyidin Yang kedua dari Panglima Cavalry Tentera Islam yang terbesar sepanjang sejarah. Oleh Tuan Nan Renceh diselipkan pula ke dalam nama itu keturunan dari protégée-nya jakni: Umar Katab dibalik menjadi Umar Batak. ”

VERSI HAMKA:

TUANKU RAO ADALAH

ORANG MINANG

Hamka sendiri membantah bahwa Tuanku Rao adalah orang Batak. Menurutnya, di Minangkabau sama sekali tidak dikenal cerita yang telah luas disiarkan di Toba bahwa Tuanku Rao adalah putera Batak, yang bernama Si Pongki Nangolngolan. Ia mengatakan bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, bukan dari Bakkara. Karena itu, Tuanku Rao adalah orang Minang, bukan orang Batak. J.B. Neumann menulis bahwa Tuanku Tambusai bergabung di Rao dengan Tuanku Rao dan bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi. Ia sama sekali tidak menyebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba. Neumann sendiri menulis pada tahun 1866, dengan mengambil sebagian sumber karangannya dari Residen T.J. Willer, yang berada di Tapanuli apada tahun 1835 dan dianggap sebagai sumber tangan pertama. Selengkapnya, tulisan Hamka sendiri dalam menanggapi polemik tentang asal-usul Tuanku Rao telah dikutip secara utuh dan dapat dibaca di bawah ini:

Orang manakah Tuanku Rao?

Mohammad Said menulis dalam bukunya Singa Mangaraja XII, “Ada pun pemimpin perang yang telah memperhatikan benteng ‘Amerongan’ itu adalah Tuanku Rao sendiri, dalam hal ini dia dibantu dengan kerja sama kompak oleh Tuanku Tambusai.”

Dalam sumber lain sekali-kali tidak dikenal dan tidak diketahui apa yang di bagian wilayah Toba Batak telah meluas disiarkan bahwa Tuanku Rao ini adalah seorang putera suku Batak, atau Si Pongki Nangolngolan. Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Bukan orang Bakkara! Sebab itu beliau orang Minang. Bukan orang Batak. J.B. Neumann Kontelir B.B. yang menulis tentang ”Studies over Bataks en Batakschlanden,” pada halaman 51 ketika menyebut bahwa Tuanku Tambusai bergabung di Rao dengan Tuanku Rao, disebutnya bahwa Tuanku Rao ini adalah berasal dari Padang Matinggi, tidak disebut-sebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba. Sumber Neumann yang menulis di tahun 1866, sebagian mengambil sumber karangannya dari Residen T.J. Willer, yang berada di Tapanuli dalam tahun 1835, tegasnya lima puluh tahun sebelumnya, yaitu masa peristiwa yang bersangkutan masih dalam tahun-tahun, di mana orang yang bercerita turut berada, dengan demikian boleh dikatakan sumber dari tangan pertama. Menurut suatu sumber memang benar bahwa Tuanku Rao telah kawin dengan puteri dari Yang Dipertuan Rao dan karena Yang Dipertuan bukan seorang penganut Wahabiah dan tidak begitu bersemangat untuk menentang agresi Belanda telah diambil-alih oleh menantunya, yang kemudian dikenal sebagai Tuanku Rao itu” (Lihat Si Singamangaraja XII, Mohammad Said, hal 77-78).

Keterangan H. Asrul Sani

Karena ingin tahu dari orang Rao sendiri, gembiralah hati saya seketika seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang berasal dari Rao datang ziarah ke rumah saya. Saya langsung bertanya tentang Tuanku Rao. Apakah ada pengetahuannya tentang beliau.

Mahasiswa itu menjawab bahwa, sebagai seorang pemuda, masihlah kurang pengetahuannya, kalau maksud saya bertanya itu hendaknya mengadakan semacam riset. Tetapi dia menunjukan orang yang ahli dan berhak menjawab pertanyaan saya di sekitar Tuanku Rao. Orang itu kata pemuda itu ialah Drs. H. Asrul Sani (seniman dan sastrawan dan panyair yang terkenal). Dia adalah keturunan dari Yang Dipertuan Padang Nunang Rao, masih saudara dari pemangku gelar dan adat Yang Dipertuan yang sekarang.

Gembira hati saya mendengar keterangan itu. Sebab, Asrul Sani adalah sahabat yang saya hargai. Pada suatu waktu dapatlah saya pergi menemuinya, dan diterimanya saya di Taman Ismail Marzuki disaksikan pula oleh Penyair yang terkenal Taufiq Ismail. Dan saya mulailah pertanyaan tentang Tuanku Rao, dan bagaimana pendapatnya tentang Tuanku Rao seperti yang diceritakan oleh Parlindungan. Asrul Sani memberikan keterangan: “Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi sendiri, Rao Padang Nunang. Kaum keluarga dan suka-saka yang terdekat masih dapat dicari sekarang di sana. Jubah beliau masih tersimpan sebagai barang pusaka yang dipelihara baik-baik. Tetapi sayang sekali, kitab-kitab pusaka beliau sudah berserak-serak, karena tidak ada lagi anak-cucu yang sanggup memeliharanya.”

Kata Asrul Sani selanjutnya: ”Beliau meninggal sebagai syahid dalam pertempuran dengan Belanda, tetapi jenazahnya hilang di laut. Sampai sekarang masih ada sebuah gosong diberi orang nama Gosong Tuanku Rao. Parit-parit pertahanan yang dibangun beliau masih dapat dilihat bekasnya sampai sekarang, sebagai benteng Bukit Tajadi di Bonjol juga. Parit pertahanan itu telah saya persaksikan. Saya kagum, sebab mengarah-arah Maginotlinie di Prancis. Panglima yang diangkat Tuanku menjadi wakilnya menjaga parit itu bernama Panglima Ibrahim. Kata Asrul Sani selanjutnya: “Bagi kami di daerah Rao, yang lebih banyak diajarkan oleh guru-guru mengaji kami atau orang tua-tua kami ialah riwayat Perang Padri. Hikayat Cindur-Mato hanyalah yang kedua, dan tidak begitu mendalam kesannya di jiwa kami. Kalau Hikayat Perang Padri sangatlah berkesan.”

Ketika saya tanyai tentang pribadi Asrul Sani seorang bangsawan adat di Rao, keturunan yang Dipertuan, spontan Asrul menjawab: “Itu tidak perlu lagi dibanggakan sekarang!” Lalu saya tanyakan pula bagaimana tanggapannya tentang cerita orang bahwa Tuanku Rao itu adalah orang Batak, nama kecilnya Si Pongki Nangolngolan. Asrul Sani dengan sikapnya yang terkenal tenang itu menjawab bahwa timbulnya ceritera demikian dapat juga dimaklumi. Serangan besar-besaran Tuanku Rao ke tanah Toba sangatlah dahsyatnya dan perlawanan orang di sana pun hebat pula. Dan akhirnya Toba kalah, buat mengobat hati dikatakan sajalah bahwa yang mengalahkan mereka bukan orang lain, melainkan putera mereka sendiri. Dengan demikian terobat jugalah luka perasaan karena kekalahan.” Sekian Asrul Sani.

Mohammad Rajab dalam bukunya Perang Paderi menulis, “Daerah Rao banyak menanggung kerusakan, disebabkan oleh perang saudara, hanya di Padang Matinggi masih ada rumah-rumah yang bagus.

Tuanku Rao dibujuk oleh letnan van Bevervoosden supaya menyerah, tetapi ia mengatakan akan naik haji ke Mekkah dan tidak mau memerintah lagi. Raja Rao yang tadinya tinggal di belakang selama kaum Paderi berkuasa, muncul lagi dan dalam suatu rapat para pengulu dan rakyat, ia diangkat oleh pihak Belanda sebagai Regen Rao” (halaman 139). Kalau apa yang ditulis oleh M. Rajab ini dipertalikan dengan keterangan Mohammad Said, Tuanku Rao adalah orang Rao, bukan orang Batak. Teranglah bahwa pada mulanya beliau mengambil kekuasaan dari tangan mertuanya Yang Dipertuan Rao, tetapi setelah Rao kalah, Tuanku Rao menarik diri, mencari dalih mengatakan hendak berangkat ke Mekkah, dan kekuasaannya diserahkan Belanda kepada mertuanya kembali.

Penulis Putera Batak sendiri, Alm. Sanusi Pane tidak ada membayangkan sama sekali bahwa Tuanku Rao itu orang Batak. Malahan dianggapnya bahwa Tuanku Rao dengan Tuanku Tambusai adalah orang yang satu itu juga. Beliau menulis: “Sebagai telah diterjemahkan, Tuanku Tambusai telah beberapa lamanya mengembangkan kuasanya di Padang Lawas dan Angkola, Kota Nopan dan Mandailing pun pernah dikepungnya, tetapi tidak dapat direbutnya karena pembelaan orang Mandailing dan Belanda. Ke Sipirok dan daerah Toba pun datang juga ia melanggar.” (Sejarah Indonesia II, 106). Kemudian pada noot di bawah ditulisnya: “Dalam cerita-cerita Batak ia disebut Tuanku Rao. Yang datang melanggar itu disebut “orang Rao.”

Sekian saja yang perlu saya kutip dan merupakan penggalan-penggalan buku yang begitu tebal.

DENDAM SIPONGKI

Tangkal Tabu di Tanah Batak Utara, Tuanku Rao di Sum. Barat.

Tangkal Tabu di Tanah Batak Utara, Tuanku Rao di Sum. Barat.

Keterangan sebagai penjernihan:

Si Pongki Nangolngolan adalah anak yang dilahirkan oleh boru Sinambela yang masih kerabat dengan Raja Si Singamangaraja. Pengakuan sebagai kerabat raja inilah yang sebenarnya dituntutnya dalam waktu yang lama, sehingga dia diberi gelar Si Pongki Nangolngolan. Pongki adalah sejenis kayu yang sangat keras dan nama pohon ini digunakan untuk menunjukkan kekerasan hatinya dan ngolngol berarti sabar. Jadi, Si Pongki Nangolngolan berarti pengakuan yang ia tuntut dengan keras hati dan dilakoninya dengan penuh kesabaran bahwa ia adalah kerabat Raja Si Singamangaraja.

Raja Si Singamangaraja sendiri menolak pengakuan ini karena, apabila permintaan itu dikabulkan, akan merusak tatanan adat yang berlaku di Tanah Batak. Mengapa? Karena Pongki adalah hasil perkawinan sedarah, sesuatu yang sangat terlarang dalam adat Batak. Sesuai dengan hukum adat, orang yang melakukan hal ini akan mendapat hukuman mati. Hal inilah sebenarnya yang menimpa Gana boru Sinambela tetapi, karena masih kerabat raja, dia hanya diasingkan ke wilayah yang jauh dari Bakkara. Dengan diantar oleh beberapa orang pengawal, dia masuk ke sebuah hutan yang lebat dan kemudian ditinggal di sana dalam kesendirian. Ia mengalami nasib yang mirip dengan Siboru Pareme yang dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam hutan.

Diharapkan, dengan ditinggal sendirian di hutan, Gana akan mati. Akan tetapi, nasib berkata lain. Gana boru Sinambela tidak mati dan bahkan, dengan kekuatannya sendiri, dia berhasil tiba di sebuah perkampungan dekat Singkil dimana dia melahirkan seorang anak laki-laki yang rupawan. Dia menumpang di tempat ini dan menyembunyikan asal-usulnya. Sampai tiba waktunya, Raja Singamangaraja IX wafat dan digantikan oleh iboto-nya yang menjadi Raja Singamangaraja X. Bagi Gana, inilah saat yang ditunggu-tunggu untuk kembali ke Bakkara, kampung halamannya. Dia bawa anaknya untuk kembali ke Bakkara.

Setelah tiba di Bakkara, Gana tidak serta merta memperkenalkan siapa dirinya. Pertimbangannya ialah bahwa dia datang dalam keadaan miskin dan papa dan, karena penderitaan yang dialaminya, dia tidak lagi secantik pada masa gadisnya. Dapat saja dia dituduh hanya mengada-ada. Pertimbangan lain ialah karena peristiwa tersebut adalah peristiwa yang memalukan dan dia khawatir raja belum tentu akan memaafkannya. Kalaupun dia dimaafkan, belum tentu masyarakat dapat menerimanya. Itulah sebabnya sewaktu tiba di Bakkara, dia menumpang di sekitar kampung itu dan membantu keluarga raja. Demikian juga, anaknya Si Pongki Nangolngolan diberi pekerjaan untuk merawat kuda. Kuda yang dirawat ini begitu dekat dengan Pongki sehingga sering ditunggangi tanpa setahu raja.

Di samping pintar menunggang kuda, Pongki juga menunjukkan perilaku yang sangat mengesankan. Dia juga pintar meniup sordam. Apabila malam tiba, satu-satunya pekerjaannya adalah meniup sordam. Suara sordam ini terdengar begitu mendayu-dayu dan seolah-olah berceritera tentang nasib peniupnya. Suara sordam ini sering menyebabkan air mata orang yang mendengarnya, menitik. Hal itu menjadi pembicaraan banyak orang, sehingga timbul pertanyaan: Siapakah gerangan anak ini? Pertanyaan yang sama juga datang dari puteri raja yang setiap malam dengan setia menunggu sordam berbunyi.

Pada suatu malam yang gelap, entah karena panggilan suara sordam, puteri raja menyambangi kedua anak-beranak ini di rumah tumpangannya. Sang puteri bertanya kepada ibu yang malang tersebut: Siapakah mereka sebenarnya? Gana hanya mampu menjawab dengan isakan dan linangan air mata. Hal ini menimbulkan keheranan bagi puteri raja. Puteri raja menceritakan hal itu kepada ayahandanya. Ayahandanya hanya tampak termangu karena ia teringat peristiwa yang menimpa kakak perempuan (iboto)-nya. Dalam benaknya berkecamuk bayangan yang dialaminya semasa dia masih kecil, dimana iboto-nya sendiri harus diusir dari kampung halamannya. “Apakah itu mereka?” dia bertanya dalam hati. Akan tetapi, semua bayangan itu dibuang jauh-jauh dari pikirannya.

Tetapi, sayangnya, puteri raja telah terlanjur jatuh cinta pada pemuda tampan itu. Tanpa malu-malu, hal itu dia kemukakan kepada sang ayah. Hal inilah yang kemudian mendorong raja suatu hari berkunjung ke rumah Gana. Dia bertanya kepada Gana tentang siapakah dia sebenarnya. Isak-tangis pun tidak dapat dibendung setelah raja tahu bahwa ibu yang malang ini adalah kakak perempuan kandungnya. Raja menjadi serba salah dengan nasib Si Pongki. Kalau raja memanggilnya sebagai lae (ipar), hal itu tidak benar sebab dia adalah anak pamannya. Kalau raja memanggilnya adik, hal itu tidak mungkin karena dia adalah anak iboto-nya.

Hatinya menjadi gundah, terutama karena anak gadisnya sudah terlanjur jatuh cinta. Karena sudah terlanjur jatuh cinta, untuk meramal nasib puterinya, sang raja memanggil dukun. Sangat mengejutkan, menurut ramalan sang dukun, anak ini nanti akan membunuh sang raja.Tidak percaya dengan ramalan ini, dia kemudian memanggil dukun lain. Dukun ini pun memberikan ramalan yang tetap sama, sampai kepada dukun terakhir hasilnya tetap sama, bahwa kelak anak itulah yang akan membunuhnya. Ramalan para dukun ini bagaimanapun membuat raja sangat gundah.

Raja Si Singamangaraja sangat gundah, apalagi ketika ia mengingat apa yang diramalkan oleh para dukun tersebut. Anak itu kelak akan membunuhnya. Untuk menghindarkan hal itu, pada suatu waktu ia memanggil iboto-nya, Gana. Dengan alasan untuk menghindarkan hubungan Pongki dengan puterinya yang masih sedarah, Gana dan anaknya diminta untuk keluar dari Bakkara.

Ini adalah suatu hal yang sangat menyakitkan bagi ibu yang malang itu, karena dia terusir untuk kedua kalinya dari tanah tumpah-darahnya. Keinginannya untuk membesarkan anak dan dikuburkan di kampung-halamannya sendiri pupus sudah. Raja berpesan agar mereka pergi tanpa diketahui siapa pun, termasuk puterinya.

Dengan diam-diam pada suatu malam, Gana beserta anaknya, dengan naik perahu, pergi entah ke mana, bergantung pada seberapa kuat mereka mendayung. Pongki, walaupun hatinya penuh tanda tanya, mengambil sikap diam. Dia hanya tahu bahwa pasti ada sesuatu yang memaksa, sehingga mereka diam-diam meninggalkan kampung yang sudah begitu dicintainya. Dalam pikirannya terbayang pula puteri raja yang sudah menjadi dambaan hatinya. Mereka akhirnya terdampar di pinggiran Sungai Asahan di Porsea. Pada awalnya, di tempat inilah mereka menumpang untuk tinggal. Akan tetapi, mereka menetap di sini tidak lama. Rupanya, raja-raja di Porsea secara mendengar kabar cerita tentang anak ini yang di usir dari Bakkara. Karena takut akan mendapat amarah dari raja, mereka kemudian meminta ibu dan anak itu meninggalkan Porsea. Sungguh kasihan nasib ibu yang malang itu! Dalam keadaan sakit karena kesedihan yang menimpa dirinya, ia terpaksa dipapah dan sesekali terpaksa digendong. Mereka pergi menuju Laguboti tempat perkampungan Paittua.

Untuk dapat mempertahankan kehidupan mereka, Pongki bekerja serabutan. Dia mengerjakan apa saja, mulai dari menyabit rumput untuk makanan kuda atau kerbau, bekerja di sawah orang, mencangkul, hingga menuai padi. Semua dia kerjakan demi ibundanya yang sakit-sakitan. Di tempat ini Pongki lebih dikenal dengan nama Tangkal Tabu, suatu nama yang sangat menghina bagi dirinya sebagai seorang keturunan raja. Tangkal adalah kotoran hewan. Tabu berasal dari kata tabutabu, sejenis tanaman liar yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Jadi, nama itu berarti si anak liar yang bau, layaknya kotoran hewan. Nama itu muncul bukan tanpa sebab.

“ Selentingan terdengar bahwa Pongki masih kerabat raja. Mengingat adanya padan antara Paittua-Silahi Sabungan dan Oloan, Paittua ingin kejelasan apakah hal itu benar. Dan kalau benar Pongki adalah kerabat raja, sudah barang tentu Pongki dan ibunya tidak mungkin dibiarkan terlunta-lunta. Akan tetapi ketika hal itu ditanyakan langsung kepada raja, R. Sisingamangaraja membantahnya”.

Sejak itulah orang teringat cerita “Si Piso Somalin dan Si Tangkal Tabu,” suatu cerita rakyat di Tanah Batak tentang seorang anak hatoban (budak) yang mengaku sebagai anak raja. Sosok si Tangkal Tabu dalam cerita tersebut di personifikasikan dalam wujud Pongki Nangolngolan.

Peristiwa paling menyakitkan yang dirasakannya ialah pada waktu ibundanya meninggal dunia. Tidak ada kerabat yang menangisi, tidak ada acara adat, dan tidak ada orang yang memberikan ulos saput kepada jasad ibunya. Ibunya dikuburkan begitu saja, layaknya mengubur anak kecil, sesuatu yang harusnya tidak terjadi andaikata mereka diakui sebagai kerabat raja. Peristiwa inilah yang paling menyakitkan, menyebabkan Pongki begitu dendam.

Setelah kematian ibunya, beban Si Pongki pupus sudah. Dia kemudian bekerja pada saudagar-saudagar kuda beban, yang membawa ikan asin dan garam dari Bandar Pulau (Asahan). Pedagang-pedagang ini mendaki bukit di Habinsaran dan kemudian turun menuju Sitolu Ama. Di Laguboti mereka ber istirahat, sebelum menuju berbagai wilayah di Tanah Batak. Garam dan ikan asin diperdagangkan bahkan sampai ke Minangkabau. Saudagar kuda beban biasanya disertai oleh sejumlah pengawal karena pada waktu itu ada banyak begal di jalan.

Kesempatan ber istirahat ini digunakan oleh Pongki untuk mencari pekerjaan. Tidak sulit baginya memperoleh pekerjaan, mengingat selama di Bakkara, dia dipercaya merawat kuda-kuda milik R Sisingamangaraja. Dan pengetahuannya akan kuda-kuda ini menyebabkan dirinya dengan mudah mendapat pekerjaan.

NASIB BERUBAH BAGAIKAN RODA PEDATI

Bersama pedagang kuda beban, akhirnya Pongki Nangolngolan berangkat menuju Tanah Batak Selatan. Pengetahuannya akan kuda-kuda ini menyebabkan Pongki Nangolngolan menjadi rebutan. Terakhir, dia bekerja pada seorang saudagar kaya Mandailing, yang banyak berhubungan dagang dengan Minangkabau. Pongki menjadi andalan, karena di jalan yang dilalui, sering terjadi pertarungan yang selalu dimenangkan si Pongki.

Pongki menjadi orang yang disegani dan dihormati. Itulah kemudian yang membawanya sampai di Rao. Disini dia dipercaya membawahi satu pasukan Yang Dipertuan di Rao. Cerita tentang Pongki ini sampai juga kepada Tuanku Imam di Bonjol. Pongki kemudian dipanggil dan, bersama pemuda-pemuda yang lain, dikirim untuk mempelajari agama Islam di Bonjol. Dia kemudian secara resmi memeluk agama Islam. Setelah itu, Pongki dikawinkan dengan puteri Yang Dipertuan di Tanah Rao. Sesuai dengan garis keturunan Minangkabau yang matrilineal, Pongki dipersiapkan untuk menggantikan mertuanya yang sudah mulai uzur untuk menjadi Yang Dipertuan di Rao. Itulah awalnya mengapa Pongki, sering disebut sebagai Tuanku Rao, yang sampai meninggalnya tidak pernah kesampaian.

Itulah sedikit cerita tentang Si Pongki Nangolngolan. Penderitaan yang dialaminya sejak kecil hingga penghinaan orang-orang lain dengan memberi namanya Tangkal Tabu sangat menyakitkan hatinya. Sebaliknya, di Tanah Minang, dia benar-benar dihargai sebagai seorang pemuda yang layak dihormati. Nasib Si Pongki begitu bertolak belakang antara tanah asalnya dan di tempat perantauan. Apabila di Tanah Batak dia diejek dengan julukan Tangkal Tabu, di Minangkabau dia dihormati.

Apakah dia kemudian menjadi Yang di Pertuan di Rao ? Hal inilah yang dipersoalkan oleh M.O. Parlindungan dan Hamka. M.O. Parlindungan mengatakan bahwa menantunya tersebut adalah Si Pongki Nangolngolan, yang berasal dari Tanah Batak, yang dibantah sangat keras oleh Hamka. Hamka mengatakan bahwa menantu Tuanku Rao adalah orang Rao juga.

Rao adalah suatu wilayah perbatasan antara Tapanuli Selatan dan Sumatera Barat. Banyak di antara penduduk di sekitar wilayah ini, selain menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa ibu, juga fasih berbahasa Batak dengan dialek Mandailing. Dahulu kala, banyak guru mengaji yang didatangkan dari daerah ini menjadi guru mengaji di Mandailing. Sebaliknya, banyak orang Batak dari Tapanuli Selatan pergi ke Rao untuk belajar mengaji dan berdagang. Kepandaian berdagang (markumango) orang Mandailing banyak diperoleh dari orang Minangkabau.

Di Tanah Batak Utara sendiri, Si Pongki Nangolngolan adalah tetap Si Pongki Nangolngolan. Pada waktu Si Pongki Nangolngolan berada di Rao, kehadirannya di sana jatuh bertepatan dengan maraknya upaya pembaharuan agama Islam di daerah Minangkabau yang diprakarsai oleh Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka dikenal dengan nama kaum Paderi atau Pidari yang biasanya mengenakan jubah putih. Dengan cara keras, mereka membasmi kaum adat yang masih suka bermain judi, mabuk-mabukan, dan mengisap madat. Kebiasaan main judi dan mabuk-mabukan ini juga merupakan kebiasaan orang Batak pada waktu itu, termasuk di Tanah Batak Selatan. Hal inilah yang dijadikan alasan oleh Si Pongki Nangolngolan untuk menyebarkan agama Islam ke Tanah Batak.

Pemuka-pemuka Islam di Minangkabau menyetujui usul tersebut. Rombongan Si Pongki Nangolngolan tiba di Tanah Batak Selatan pada waktu kebiasaan main judi dan mabuk-mabukan tersebut sudah begitu meresahkan. Banyak orang terpaksa hidup sebagai budak akibat utang judi. Mereka yang menjadi budak ini diberi cap, layaknya sapi peliharaan di Amerika. Sayangnya, sekali seseorang menjadi budak, keturunannya pun akan tetap menjadi budak. Sampai sekarang, status sosial keturunan na marcap (orang yang diberi cap) di Tanah Batak Selatan, masih dianggap kelas rendah. Dengan alasan bahwa semua manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah, kaum Paderi membebaskan semua budak-budak tersebut. Karena tujuannya yang mulia itu, kedatangan mereka di Tanah Batak Selatan mendapat sambutan. Itulah salah satu faktor mengapa agama Islam tumbuh subur di Tanah Batak Selatan. Mereka dengan rela melepaskan kepercayaan lama dan menganut kepercayaan baru, Islam.

DENDAM MARGA SIREGAR

Porhas Siregar, Huta Baringin-Lobu Siregar, Manghuntal Sinambela (Raja Sisingamangaraja I).

Porhas Siregar, Huta Baringin-Lobu Siregar, Manghuntal Sinambela (Raja Sisingamangaraja I).

sS

sS

S

SSudah sejak lama, sejak tewasnya R. Sori Mangaraja III dalam perang melawan Aceh, orang Batak hidup tanpa kehadiran seorang pemimpin. Tidak ada satu orangpun pemimpin yang dapat dijadikan panutan yang punya kewibawaan yang dapat memberikan satu putusan yang adil, bilamana terjadi satu silang sengketa. Tidak ada, yang oleh orang Batak dikatakan sebagai pamuro so mantat sior, parmahan so mantat batahi, si tiop dasing pamonoran, tu ginjang so ra mungkit-tu toru so ra monggal, gambaran dari satu pribadi pemimpin yang adil dan bijaksana.

Tidak adanya pemimpin ini menyebabkan masing-masing kelompok marga mengangkat rajanya sendiri yang dikenal dengan raja mar opat, yaitu 4 orang pemimpin yang diambil dari tetua marga masing-masing. Mereka inilah (yang di aku sebagai raja) bertindak menetapkan berbagai hal dalam kelompoknya, termasuk menyelesaikan silang sengketa. Akan tetapi otoritas mereka sangat terbatas, yaitu hanya dalam kelompok marga mereka sendiri. Hal inilah yang terjadi sampai di tabalkannya Manghuntal Sinambela sebagai raja orang Batak pertama dengan gelar Raja Sisingamangaraja.

Sejak ditabalkan sebagai raja, banyak cerita yang berkembang sekitar raja ini. Cerita-cerita yang menyelimuti dirinya, sejak masih dalam kandungan, masa remaja sampai pada masa kepemimpinannya yang mau tidak mau menyebabkan orang ber-decak kagum. Menurut cerita orang-orang tua, konon dia sering menyamar sebagai orangtua renta, meminta segelas air atau sesuap nasi kepada penduduk. Hal ini dilakukan karena sering terjadi, bila beliau melewati sebuah tempat, penduduk sudah lebih dahulu melepas orang-orang yang terpasung, bahkan melepas burung yang ada dalam sangkar, karena beliau sangat tidak senang melihat mahluk yang ter-aniaya. Kharismanya yang begitu besar, menyebabkan orang tidak berani bertatap pandang dengannya, bahkan untuk menyebut namanya, seseorang harus meminta ma’af lebih dahulu.

Cerita-cerita seperti inilah yang berkembang ditengah masyarakat, sehingga tidak heran, bila seorang Jend. Maraden Panggabean dalam otobiografinya menyatakan kekagumannya akan raja ini, walau beliau hanya mendengar cerita tentang raja ini dari ayahanda dan para orang tua. Dan bagaimana pula cerita tentang R. Sisingamangaraja XII yang bernama Patuan Bosar ? Inilah pengakuan C.B. Tampubolon yang lebih dikenal dengan Oppu Boksa II, ayahanda Ir. G.M. Tampubolon pendiri Institut Teknology Indonesia (ITI).

Pada waktu saya kecil”, demikian cerita Op.Boksa II yang kala itu telah berumur 82 tahun, “saya bermain-main di pasar Balige. Karena hari pekan, suasana pasar begitu ramai. Tiba-tiba suasana menjadi hening, ibarat jarum jatuh pun akan kedengaran. Saya heran lalu dengan susah payah saya menyelinap ingin tahu apa yang terjadi. Jalan di sekitar pasar kosong, sementara di kedua sisi jalan banyak orang berdiri, menatap ke kejauhan. Dari jauh saya melihat seorang penunggang kuda yang berjalan perlahan. Begitu dia lewat, pasar kembali ramai. Saya mencoba bertanya siapa orang tersebut. Tidak ada yang menjawab. Belakangan saya tahu bahwa yang lewat itu adalah Raja Sisingamangaraja”. Itulah cerita C.B. Tampubolon kepada saya pada tahun 1984.

Munculnya cerita-cerita tentang raja ini bukan tanpa sebab. Bila merunut pada silsilahnya dari marga Sinambela, adalah tidak mungkin dia diakui sebagai raja. Hal ini terutama karena hingga kini, sahala sihahaan (hak anak sulung) masih kental dalam masyarakat Batak. Sementara clan Sinambela adalah turunan bungsu, (anak ke 4) dari turunan Tuan Sorba Dibanua. Bila mengacu pada silsilah tersebut, munculnya Manghuntal sebagai raja, memang satu hal yang mencengangkan. Pasti ada sesuatu yang istimewa atas pemuda yang satu ini, sehingga dia diakui sebagai raja. Dari sinilah cerita-cerita diatas ber awal.

Adniel Lumbantobing sendiri, penulis pertama yang menulis riwayat raja ini, dalam awal tulisannya, merasa perlu memohon maaf dan mengucapkan sejumlah mantra yang bertujuan agar dia tidak dapat kutukan dari sahala raja tersebut. Dan bila memperhatikan pengucapan tonggo-tonggo (mantra) pada awal tulisannya, seolah ada rasa takut dalam dirinya, bila menuliskan sesuatu yang tidak benar mengenai raja tersebut.

Setelah kata-kata mantra, cerita dilanjutkan sekitar kelahiran sang raja. Dimulai dengan kehamilan ibundanya yang sudah lama ditinggal pergi oleh suaminya Raja Bona ni Onan, tanpa diberi nafkah lahir maupun bathin. “Suatu ketika, setelah lelah bekerja di sawah”, demikian menurut Adniel Tobing, “ibu yang malang ini pergi mandi ke sebuah sungai di tengah hutan (harangan sulu-sulu). Dari tempat inilah kehamilannya berawal, konon, tanpa melakukan hubungan badan dengan seorang lelaki”.

Cerita berlanjut dengan masa kehamilan yang sampai mencapai 17 bulan, menyebabkan banyak orang terheran-heran. Begitu pula ketika si anak lahir, telah mempunyai gigi yang lengkap dan, konon, lidahnya berbulu. Selain itu, pada masa kanak-kanaknya, beliau telah banyak melakukan hal-hal yang menakjubkan, termasuk berbagai mukjizat. Hal-hal seperti itu banyak diceriterakan dalam buku tersebut. Dan aneh memang, diantara sejumlah buku karya penulis orang Batak, buku ini mempunyai rekord tersendiri sebagai buku yang paling banyak di cetak ulang. Banyak buku yang diterbitkan tentang raja ini, mulai dari yang ditulis oleh A. Sibarani, atau H. Moh. Said atau O. L. Napitupulu dan bahkan oleh Prof. DR. W.B Sijabat, diterbitkan hanya sekali dan sesudah itu dilupakan orang.

Akan tetapi diantara seluruh tulisan yang saya baca, tidak satupun yang menulis, tentang siapa sebenarnya Manghuntal dan bagaimana sepak terjangnya hingga diakui sebagai raja. Tulisan singkat ini memuat hal itu, karena kemunculannya sebagai raja, kemudian membawa akibat yang sangat parah bagi penduduk di Tanah Batak Utara, yaitu perang dengan pasukan Paderi yang dipimpin seorang kerabatnya bernama Pongki Nangolngolan.

Sebelum menjadi raja Batak, dia bernama kecil Manghuntal bermarga Sinambela. Pada masa remajanya, dia telah menunjukkan bakat-bakat kepemimpinan yang luar biasa. Di samping pintar berbicara, dia juga adalah seorang pemberani. Pada masa remajanya, Balige adalah pusat negeri Toba. Pada waktu-waktu yang disepakati, di tempat ini berkumpul para “raja” dari seluruh wilayah tetangga dimana mereka membicarakan banyak hal. Pada waktu mereka berkumpul, banyak pedagang yang datang kesana, menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dari peristiwa inilah awal munculnya nama onan raja yang sekarang. Pantai danau Toba, yang juga berfungsi sebagai kota pelabuhan menjadi sangat ramai.

Akan tetapi, sering terjadi, ketika para pedagang melakukan perjalanan ke Balige, banyak di antara pedagang ini tidak sampai di tempat. Kalaupun mereka sampai, perahu yang mereka tumpangi sudah kosong karena dibajak di tengah danau oleh sekelompok orang dibawah pimpinan bernama Porhas, yang menjadi pemimpin “bajak danau” di perairan Balige. Dia adalah manusia yang paling ditakuti karena kemampuannya menyerang lawan dengan tiba-tiba. Si korban dapat kehilangan nyawa tanpa menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Hal inilah penyebab mengapa orang yang mati tiba-tiba, dikatakan di soro porhas (direnggut porhas) suatu perumpamaan yang mengisi perbendaharan bahasa Batak.

Ulah Porhas ini sangat mengganggu wibawa keturunan Sibagot Nipohan, yang pada masa itu telah diakui sebagai penguasa di Onan Raja Balige. Berkali-kali mereka mendatangi Porhas di Muara dan meminta agar dia tidak mengulangi perbuatannya, akan tetapi dia tidak pernah ambil pusing. Celakanya lagi, mereka balik di ancam untuk tidak campur tangan. Karena ulah Porhas tersebut, keturunan Sibagot Nipohan berupaya untuk menghimpun saudara-saudara mereka dari keturunan Sorba Dibanua. Mereka yakin bahwa, kalau mereka bersatu, Porhas akan dapat ditaklukkan.

Untuk maksud tersebut, pertama-tama mereka mendatangi keturunan Paittua di Laguboti. Walaupun merasa prihatin dengan apa yang terjadi, keturunan Paittua menjawab, “Semuanya bergantung pada saudara yang lain. Kalau mereka sepakat, kami juga akan sepakat.” Demikian kata turunan Paittua. Akan tetapi, sebagaimana ternyata kemudian, keturunan Paittua tidak pernah muncul di Balige sehingga mereka dikatakan sebagai orang na paet lagu. Inilah awal dari nama Paittua berubah menjadi Paettua atau Sipaettua dan nama kampungnya diberi nama lagu-lagu boti (Laguboti).

Jawaban yang sama diterima pada waktu keturunan Sibagot Nipohan mengunjungi turunan Sabungan di Silalahi Nabolak. Karena tidak menerima jawaban yang memuaskan, seorang keturunan Sabungan yang ditemukan sedang menggembala dibujuk dan dinaikkan ke perahu. Anak ini kemudian dibawa ke tempat turunan Oloan di Siogung-ogung [1].

Melihat anak remaja tersebut yang dikenal sebagai keturunan Sabungan, keturunan Oloan menyambut mereka dengan hangat dan yakin bahwa saudaranya dari turunan Sabungan akan hadir. Rasa rindu karena sudah lama berpisah menyebabkan mereka menyambut tamunya dengan rasa gembira.

Tiba hari yang telah ditentukan, keturunan Oloan hadir di Onan Raja Balige. Mereka disambut lebih hangat lagi. Walau mereka merasa tidak enak karena ketidakhadiran saudara-saudara mereka yang lain¾keturunan Paittua dan keturunan Sabungan¾penyambutan yang begitu luar biasa menyebabkan mereka sungkan untuk mundur. Pada acara marsisungkunan (mempertanyakan maksud pertemuan), keturunan Sibagot Nipohan mengutarakan ancaman yang dilakukan Porhas Siregar. Keturunan Sibagot Nipohan mengusulkan agar mereka secara bersama-sama menghadapi ancaman ini.

Turunan Oloan merasa serba salah. Memberikan jawaban “ya” tidak mungkin, karena mereka telah terikat sumpah untuk tidak mencampuri urusan Sibagot Nipohan. Memberikan jawaban “tidak” juga tidak mungkin karena sambutan yang begitu bersahabat. Karena itu, untuk menolak, secara halus mereka mengajukan syarat yang, menurut mereka, tidak mungkin akan dipenuhi. Syarat tersebut ialah bahwa, kalau Porhas dapat ditaklukkan, mereka harus diakui sebagai raja.

Mengherankan, walaupun syarat itu bertentangan dengan adat kekeluargaan orang Batak, semua turunan Sibagot Nipohan menyatakan persetujuannya. Turunan Oloan menjadi serba salah. Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa, apabila Porhas dapat ditaklukkan, walaupun keturunan Oloan adalah anggi di partubu, hak sebagai raja (haha di harajaon) akan diberikan kepada mereka. Sesuatu yang sangat tidak lazim dalam adat partuturon Batak.

Jalan untuk mundur bagi keturunan Siraja Oloan pun sudah tidak ada lagi. Waktu mereka pulang, hal itu menjadi bahan pembicaraan. Keturunan sulung dari Oloan, berbicara kepada adik-adiknya dengan berandai-andai: Sekiranya Porhas dapat ditaklukkan, siapakah yang menjadi Raja? Mereka serempak menjawab, “Ba ho Raja” (“Silakan, engkau menjadi raja”). Inilah awal dari nenek moyang marga Naibaho, sebagai keturunan sulung, diberi gelar Baho Raja. Tiba waktu yang sudah disepakati, keturunan Oloan, dengan sejumlah perahu dan sampan, melancarkan penyerangan ke Muara.

Penyerangan tersebut dilakukan keturunan Oloan dari arah Nainggolan, sedangkan keturunan Sibagot Nipohan melakukan penyerangan dari arah Balige. Menghadapi serangan dari dua arah, pasukan Porhas akhirnya kewalahan. Mereka mundur ke Muara dengan maksud melakukan perlawanan di darat. Sesampai di darat, Manghuntal bersama beberapa pengawalnya telah menunggu sambil bersila di tengah halaman. Porhas sangat terkejut karena tidak menduga Manghuntal sudah ada di sana.

Manghuntal mempersilakan Porhas duduk di atas tikar yang sudah digelar. Pasukan Oloan dan Sibagot Nipohan yang mengejar dari danau juga tidak percaya. Mereka menunggu apa yang bakal terjadi. Ternyata Manghuntal dan Porhas melakukan perundingan. Lewat perundingan, akhirnya dicapai kesepakatan: Mereka berdua, Porhas dan Manghuntal, akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Apabila salah satu kalah, pasukannya dipersilakan untuk meninggalkan tempat dan tidak seorang pun boleh dilukai.

Porhas menerima tantangan ini dan yakin akan memenangkan pertarungan dengan mudah, apalagi, orang yang dihadapi adalah pemuda yang masih bau kencur. Pertarungan dimulai dengan disaksikan pasukan kedua belah pihak. Kedua petarung itu dengan kepintarannya masing-masing beradu kuat. Pertarungan kedua jagoan berlangsung lama, akan tetapi karena masih muda Manghuntal menang tenaga. Walaupun Porhas menang pengalaman, sepertinya tidak ada artinya berhadapan dengan Manghuntal yang masih muda. Porhas akhirnya tewas, lebih karena kehabisan tenaga.

Melihat kenyataan ini, nyali pasukan Porhas pun ciut. Mereka menyerah, lalu seperti menggiring hewan, mereka digiring ke Hutabaringin. Huta baringin inilah yang kemudian berubah nama Lobu Siregar hingga saat ini. Dari tempat ini kemudian mereka diusir, tanpa bekal. Mereka hidup menggelandang. Semula mereka menuju Humbang akan tetapi disana mereka dihadang oleh marga Sihombing. Begitu pula waktu mereka menuju Pahae dihadang oleh marga Sitompul. Dalam perjalanan yang memakan waktu yang lama sebelum tiba di Sipirok yang waktu itu merupakan tanah kosong tidak berpenghuni, kadang kala mereka hanya memakan umbi alang-alang (ri) atau daun pakis (pahu). Sebagai peringatan akan penderitaan yang mereka alami, anak-anak yang lahir dalam perjalanan dinamakan Siregar Ri dan Siregar Pahu. Penderitaan inilah yang mengakibatkan mereka menaruh dendam terhadap keturunan Sorba Dibanua.

TENTANG TEWASNYA R.SISINGAMANGARAJA

Diatas telah kita uraikan tentang dendam Sipongki Nangolngolan, terhadap kerabatnya dan juga kepada penduduk Toba yang menghinannya. Begitu pula dengan dendam marga Siregar pada turunan Tuan Sorba Dibanua. Kedua dendam inilah yang berpadu menjadi satu, waktu mereka datang ke Tanah Batak Utara dengan kedok syiar Islam.

Bahwa penyiksaan itu ada dan selalu diceriterakan orang-orang tua kepada cucunya bahkan sampai saat ini. M. O. Parlindungan dalam bukunya menjelaskan penyiksaan itu secara lebih terperinci lagi. Banyak wanita yang diperkosa, anak-anak dan orang tua dipancung secara semena-mena dan mereka yang melawan dibelah perutnya dan malah ada yang dijadikan objek latihan dipancung dengan pedang. Kita membacanya antara percaya dan tidak.

Yang dipertanyakan ialah cara tewasnya R. Sisingamangaraja. Menurut cerita yang berkembang di Tanah Batak Utara, tewasnya R. Sisingamangaraja adalah karena diperdaya. Catatan Richard Burton, salah seorang penginjil yang dikirim Inggeris Baptis Mission (1824) dalam sebuah laporan yang dikirimkannya kepada Resident Prins di P. Poncan menyatakan: “Singah Maharaja, Raja orang Batak telah tewas karena kebodohannya sendiri”. Kebodohannya sendiri itu sesuai cerita yang berkembang, R. Sisingamangaraja pergi ke Butar (keluar dari bentengnya-pen) untuk sesuatu hadiah yang dijanjikan kepada pamannya. Menurut catatan I.L. Nommensen dalam buku yang diterbitkan anaknya tertulis sbb:

“Kemudian datanglah pasukan Padri dari Padangjulu yang dipimpin Tuanku Imam dan Tuanku Rau, yaitu Si Pongki, kemenakan Raja Si Singamangaraja, membunuh pamannya nenek (maksudnya kakek, pen.) dari Si Singamangaraja yang terakhir. Mereka datang dari Bonjol. Tuanku Rau berpesan kepada pamannya Si Singamangaraja agar datang menjumpai dia ke Butar karena ia hendak memberikan buah tangan kepada beliau. Ia akan menunggu di bawah pohon rambung besar yang ada di Butar.”

Dengan alasan memberikan buah tangan atau hadiah, dia memancing raja untuk keluar dari Bakkara. Pada awalnya para penasihat memberi saran untuk tidak pergi. Kalau niatnya jujur, apakah tidak sebaiknya Si Pongki sendiri yang datang? Akan tetapi, terdorong rasa rindu pada kemanakannya Raja mengabaikan nasehat itu. Raja Si Singamangaraja berangkat dengan para pengiringnya membawa ulos (selendang), yang akan diberikan kepada kemanakannya itu. Tetapi setelah mereka bertemu, Tuanku Rau memenggal kepala pamannya dan pengiring Si Singamangaraja pun larilah…”

Dan menurut Adniel Lumbantobing dalam bukunya R.Sisingamangaraja I-XII tertulis sebagai berikut:

Oleh sebab Pongki Nangolngolan mempunyai keyakinan bahwa ia tidak akan sanggup membunuh mamaknya Si Singamangaraja jika hanya dengan mengadu tenaga saja, maka dicarilah satu tipu muslihat. Ia mengumpulkan semua raja-raja di Butar dan kepada mereka diumumkan bahwa kedatangannya bukanlah untuk berperang. Selanjutnya beberapa orang di antara raja-raja dimintanya supaya menemui Si Singamangaraja untuk menyampaikan pesannya, yaitu hendak berjumpa dengan mamaknya tersebut karena sudah sangat rindu. Dan menurut nasihat datu supaya menyampaikan piso-piso yaitu sejumlah uang selaku persembahan agar ia memperoleh rezeki yang baik.

Si Singamangaraja X tidak dapat mempercayai isi pesan tersebut. Baginda yakin bahwa itu hanyalah tipu muslihat saja, hendak memancingnya, agar mudah melakukan sesuatu yang dihajatnya. Baginda tidak percaya pada kejujuran kemanakannya apalagi setelah diketahuinya tentang kekejaman pasukan kemanakannya yang banyak melakukan perampokan, pembunuhan dan perkosaan-perkosaan. Berulang-ulang Pongki Nangolngolan menyuruh orang-orangnya untuk membujuk Si Singamangaraja X tetapi tetap ditolak oleh Baginda. Untuk ketujuh kalinya disuruh lagi seorang perempuan untuk menyampaikan pesan yang serupa dengan tambahan, apabila mamaknya sangsi atas kejujurannya, Baginda boleh membawa 10 orang pengawal sedang ia sendiri hanya membawa 5 orang saja. Dan tempat pertemuan dihunjuk di bawah pohon ara di Dolok Imun. Akhirnya, Si Singamangaraja X percaya kepada kemanakannya bagindapun berangkat menuju tempat yang dijanjikan dengan ditemani 10 orang pengawal. Pongki Nangolngolan sangat gembira sesudah mamaknya percaya padanya. Gembira karena rencananya membunuh mamaknya yang telah lama terkandung di dalam hatinya akan terlaksana.

Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan itu, ia telah berada di bawah pohon ara yang tumbuh di Dolok Imun dan mamaknya pun sudah tampak datang menghampiri dia. Dengan jalan merenungkan segala kejadian yang sudah-sudah ia pun berhasil mengeluarkan air matanya dan pura-pura menangis tersedu-sedu. Melihat itu Baginda Si Singamangaraja segera merangkul dan memeluk kemanakannya dan Pongki Nangolngolan pun pura-pura merangkul mamaknya. Sewaktu berangkul-rangkulan, Pongki Nangolngolan dengan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher mamaknya sehingga terputus sama sekali. Tetapi sangat menakjubkan karena kepala mamaknya segera membubung ke atas. Kemana pun dicari-cari oleh Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pongki Nangolngolan merasa tidak puas walaupun sebenarnya mamaknya telah dapat dibunuhnya. Oleh karena marahnya, pasukannya disuruh lagi membakar Bakkara, Lintong Nihuta dan Butar sendiri. Akhirnya, Pongki Nangolngolan beserta pasukannya kembali menuju Bonjol. Semua orang-orang tawanan turut dibawa serta.Cita-citanya semula untuk memiliki kepala mamaknya Si Singamangaraja X untuk dibawa ke Bonjol sebagai tanda kemenangannya tidak sampai.”

Twasnya Raja Si Singamangaraja lewat tipu daya, oleh M.O. Parlindungan kemudian ditulis dalam versi yang berlainan. Beliau katakan “omong kosong itu mithos kepala terbang (hal. 57/58). Untuk itu, dia membangun suatu cerita bahwa Tanah Batak Utara ditaklukkan melalui perang yang sangat dahsyat. Tujuan utamanya sudah tentu, untuk melepaskan dendam turun-temurun (after 26 generations). Bahwa dendam itu benar ada, tidak perlu dibantah. Akan tetapi bila kita hubungkan antara kemunculan Manghuntal Sinambela sebagai R. Sisingamangara I dan peristiwa perang pidari pada masa R. Sisingamangaraja X, kelihatan jelas bahwa dendam tersebut terlampiaskan after 10 generations, bukan 26 generations.

Perang tanding yang pernah terjadi antara Porhas Siregar dan Manghuntal Sinambela diputar ulang dan dihidupkan kembali dengan pelaku yang berbeda. Manghuntal Sinambela diwakili Lompo Sinambela yang menjadi Raja Si Singamangaraja X pada waktu itu versus Porhas Siregar yang diwakili Jatenggar Siregar. Keduanya perang tanding. Jadi, dia tidak mati dipancung oleh Pongki Nangolngolan, seperti yang selama ini diyakini oleh rakyat di Tanah Batak Utara. Untuk membangun cerita perang seperti ini, M.O. Parlindungan yang seorang pensiunan ovreste, memang jempolan. Dia berupaya untuk meyakinkan bahwa cerita tersebut adalah benar dengan membangun suatu cerita seolah-olah di Tanah Batak Utara ada 12 benteng yang semuanya dapat direbut dengan mudah, karena pasukan yang ada di Tanah Batak Utara semuanya adalah pengecut. Inilah daftar nama benteng tersebut:

1. Benteng Silantom di Humbang, dengan komandan Raja Soaloon Harianja. Benteng ini berperan sebagai pos sekunder, dengan hanya 1.000 orang pasukan kavaleri.

2. Benteng Simangumban di Pahae, dengan komandan Raja Padikkar Siagian (Siregar). Benteng ini berfungsi sebagai pos perbatasan dengan kekuatan 3.000 orang di bawah komando Amani Binsar Sinambela.

3. Benteng Pangaloan di Pahae, dengan komandan Raja Gading Nainggolan. Benteng ini berperan sebagai sistem pertahanan dengan 6.000 orang pasukan kavaleri.

4. Benteng Tanggabatu di Humbang, dengan komandan Si Singamagaraja X sendiri. Benteng ini berperan sebagai pusat dan markas besar sistem pertahanan Tanah Batak Utara dengan kekuatan 20.000 orang pasukan kavaleri. Pasukan ini siap sedia menyerang ke segala penjuru.

5. Benteng Paranginan di Humbang, dengan komandan R. Amantaras Sianturi. Benteng ini memiliki kekuatan 2.000 orang pasukan kavaleri. Benteng ini berperean sebagai pengamanan atas Bakkara.

6. Benteng Muara di tepi Danau Toba, dengan komandan Panglima Ronggur Simorangkir. Benteng ini berfungsi sebagai pengamanan atas Bakkara.

7. Benteng Bakkara di tepi Danau Toba, dengan komandan Amani Dippu Sinambela, yang merupakan pangeran mahkota, calon Raja Si Singamangaraja XI. Benteng ini berperan sebagai tempat kerajaan dinasti Si Singamangaraja sejak sepuluh generasi lalu.

8. Benteng Tamba di tepi Danau Toba, dengan komandan Raja Parultop Simbolon, yang memiliki kekuatan sebanyak 6.000 orang pasukan kavaleri. Benteng ini berfungsi sebagai pangkalan untuk mundur.

9. Benteng Salak di Dairi, dengan komandan Panglima Syarif Tanjung. Dia beragama Islam Syiah dan mengerti bahwa nasibnya berada di tangan tentara Paderi.

10. Benteng Tanjung Bunga di Pangururan, dengan komandan Raja Baganding Sagala. Benteng ini berperan sebagai pusat evakuasi.

11. Benteng Dolok Sanggul di Humbang, dengan komandan Raja Humirtok Rambe, seorang raja dari Tukka Barus yang sering diutus ke Aceh.

12. Benteng Laguboti di Toba, dengan komandan Sahala Simatupang, satu-satunya orang Toba yang pernah pergi ke Benteng Rao di Sipirok dan Lubuk Sikaping.

Benteng-benteng inilah yang kemudian direbut oleh tidak kurang dari 32.000 orang serdadu berkuda (kavaleri) yang melakukan serangan ke Tanah Batak Utara. Pasukan ini dipimpin oleh Si Pongki Nangolngolan dengan gelar Tuanku Rao. Layaknya menghadapi perang yang sangat besar, M.O. Parlindungan membagi pasukan pendatang tersebut sebagai berikut:

1. Kavaleri Colonne Tuanku Asahan, yang merupakan kekuatan utama tentara Paderi, dengan pasukan 11.000 orang.

2. Kavaleri Colonne Djagorga Harahap, dengan pasukan 4.000 orang.

3. Kavaleri Colonne Tuanku Maga, dengan pasukan 5.000 orang. Pasukan ini merupakan kekuatan utama di sayap kanan.

4. Kavaleri Colonne Tuanku Lelo, dengan pasukan 9.000 orang dan merupakaan kekuatan utama di sayap kiri.

5. Kavaleri Colonne Ahmad bin Baun Siregar, dengan kekuatan sebanyak 3.000 orang.

Pasukan yang luar biasa banyaknya ini menyerang Tanah Batak Utara dari segala penjuru. Tuanku Asahan bergerak dari Bandar Pulau, dengan mendaki lereng-lereng curam dan melakukan perjalanan dari pinggir Sungai Asahan menuju Laguboti. Di tempat ini, mereka mendapat perlawanan dari pasukan Sahala Simatupang, namun semuanya disapu bersih.

Pasukan Jagorga Harahap bergerak dari Anggoli, lewat Sibolga Julu, dan dengan mendaki mereka pun mencapai Bonan Dolok, lalu turun ke Silindung. Pasukan ini hanya mendapat sedikit perlawanan di Lobupining dan akhirnya Silindung mereka taklukkan. Dia menemukan Lembah Silindung sudah dalam keadaan kosong karena penduduknya masuk hutan.

Pasukan Tuanku Maga berangkat menuju Humbang. Dalam pasukannya turut pula sebanyak 3.000 orang Marga Siregar Salak dari Sipirok. Mereka inilah yang membuat keonaran di Dataran Tinggi Humbang pada tahun 1818 hingga menjadi sesuatu yang memalukan dan sulit dilupakan sampai hari ini. Pasukan sebanyak 3.000 orang marga Siregar Salak dari Sipirok yang tergabung dalam kavaleri Tuanku Maga ini merupakan tiga kesatuan yang terdiri atas:

1. Kavaleri Batalyon Onggang Siregar

2. Kavaleri Batalyon Paroman Siregar

3. Kavaleri Batalyon Parlindungan Siregar.

Membaca cerita di sekitar perang tersebut “bila itu benar” membuat bulu kuduk akan merinding karena tindakan mereka yang begitu kejam.

Menurut cerita M.O. Parlindungan, Tanah Batak diserang dari segala jurusan sehingga mereka mati kutu. Apalagi, menurut cerita tersebut, lawan mereka seluruhnya adalah pengecut. Walaupun diserang oleh pasukan yang jumlahnya sedikit, Raja Sisingamangaraja X yang didukung dua puluh ribu orang tetap saja lari terbirit-birit. M.O. Parlindungan dalam bukunya menggambarkan hal itu dan inilah contoh gambaran yang dia berikan:

Di waktu fajar menyingsing, Cavalry Tuanku Asahan menyerang Cavalry Singa Mangaraja X dalam sarangnya sendiri, dalam benteng Tanggabatu, yang sudah selama 5 tahun diperkuat justru untuk menangkis serangan itu. Hanya 9.000. units Padri Army Cavalry, berani-berani menyerang 20.000 units cavalry Singa Mangaraja X.

Di depan sekali memimpin Zulkarnain Aritonang. Segala jurang-jurang besar dan kecil semuanya dimasuki dan diloncati oleh Cavalry Tuanku Asahan. Cavalry Singa Mangaraja X terdesak mundur.

Pertahanan Cavalry Si Singamangaraja X di dalam benteng Tanggabatu, in no time sudah broken down, shattered to pieces. Panic. Sauve Qui Peut. Lari. Hampir seluruhnya 20.000 orang exterminated dengan pedang oleh Cavalry Tuanku Asahan dan oleh Cavalry Tuanku Maga. Dataran tinggi Humbang in a wide range, bertaburan dengan jenazah manusia dan bangkai-bangkai kuda. Si Singamangaraja X benar dapat lolos, dengan berjalan kaki liwat jurang-jurang ke Bakkara his Capital City. Ha – Ha – Ha – Ha – Ha . . .”

Lalu, bagaimana cerita M.O. Parlindungan tentang tewasnya Raja Si Singamangaraja? Inilah kutipan dari bukunya:

Setelah impasse selama satu bulan, Tuanku Rao mendadak sekali, sekaligus menerima sejumlah surat-surat dari pamannya Singa Mangaraja X. Surat itu berisi permintaan terakhir kepada his nephew Pongki Nangolngolan, bukannya kepada Tuanku Rao Panglima Tentara Minangkabau. Permintaan itu, supaya kelak tulang/belulang dari Singa Mangaraja X dimasukkan ke dalam Mausoleum Si Singamangaraja Dinasty di Bakkara dan yang kedua, sukalah kiranya Pongki Nangolngolan menjemput 6 orang putera-putera Si Singamangaraja yang semuanya berumur di bawah 7 tahun.

Benteng Bakkara yang sudah hancur lebur, tetapi masih dipertahankan oleh Si Singamangaraja X/cs, dimasuki oleh Cavalry Achmad bin Baun Siregar. Di depan sekali Djatenggar Siregar yang sudah lupa sama sekali bahwa dia sebenarnya Perwira Tentara Padri yang datang di Toba untuk membawa Islam majhab Hambali. Djatenggar Siregar serta orang-orang Siregar Salak dari Sipirok, menyerang Bakkara selaku para keturunan dari Raja Porhas Siregar, untuk memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar.

Djatenggar Siregar sangat lantam dari atas kuda, dengan suara gemuruh menantang Si Singamangaraja X, secara jantan keluar ke dalam man to man fight seperti dahulu Raja Oloan Sorba Dibanua contra Raja Porhas Siregar. Out!!! Si Singamangaraja X mengerti menerima challenge, satu lawan satu. Terjadilah a terrible swordfight on horseback. Singa Mangaraja yang sudah tua dengan Djatenggar Siregar yang masih muda. Betatapun gagah beraninya Si Singamangaraja X akan tetapi: Bukan Tandingan. Di dalam first run Djatenggar Siregar menyerang, Si Singamangaraja X sukses mengelakkan diri, tetapi kudanya wounded dengan backstroke oleh Djatenggar Siregar. Di dalam second run, Si Singamangaraja X wounded di bahu oleh Djatenggar Siregar, serta decapitated dengan backhand. Finished. Kepala dari Si Singamangaraja X ditusukkan di atas tombak dan dipancangkan di tanah. Djatenggar Siregar puas.”

Pada bagian lain M.O. Parlindungan menulis sbb:

“Kampung Lobu Siregar diserang in combined effort oleh cavalry Batalyon Parlindungan Siregar, Onggang Siregar, serta Poroman Siregar. Raja Galinggang Sihombing serta 7.000 orang anak2 buahnya mati pahlawan.

Dengan memukul gong: Pong/Pong/Pong nama dari burning ruins Lobu Siregar, dikembalikan lagi menjadi resmi Huta Baringin oleh Onggang Siregar. Puas.

Anak2 – buah dari Parlindungan Siregar pergi menjarah on horse back di Dataran Tinggi Humbang; kampung2 tidak boleh dibumi hangus, dengan syarat bahwa: Semua orang2 bermarga Sinambela dikampung itu mesti ditangkap dan diserahkan kepada Pidari. Dapat dikumpulkan total 147 orang pria bermarga Sinambela yang settled di Dataran Tinggi Humbang yang adalah para keturunan dari Si Singamangaraja I sampai Si Singamangaraja VII. Mereka semua matanya dicungkil dan ditendang lepas. Digunakan dalam latihan2 pasukan Tuanku Hitam, techniques memancung manusia dengan backhand dari atas kuda. Bestial. Sumpah dari Togar Natigor Siregar sudah mulai terlaksana oleh orang2 Siregar Sipirok eks Muara/Toba. After 26 generations.”

Sumpah Togar Natigor Siregar. Sumpah inilah yang ingin di putar balik oleh M.O. Parlindungan yang menurutnya sudah berlangsung dalam 26 generasi? “ruins Lobu Siregar dikembalikan lagi menjadi resmi Huta Baringin”.

Tentang tewasnya Raja Sisingamangaraja inilah yang dicatat oleh I.L. Nommensen dalam bukunya (apostelik di Tanah Batak) apa yang dikatakan oleh M.O. Parlindungan menderkati kebenaran. Inilah catatan tersebut dalam buku berjudul Ompui Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, menyebutkan hal berikut:

Kemudian datanglah pasukan Padri dari Padangjulu yang dipimpin Tuanku Imam dan Tuanku Rau, yaitu Si Pongki, kemenakan Raja Si Singamangaraja, membunuh pamannya nenek (maksudnya kakek, pen.) dari Si Singamangaraja yang terakhir. Mereka datang dari Bonjol. Tuanku Rau berpesan kepada pamannya Si Singamangaraja agar datang menjumpai dia ke Butar karena ia hendak memberikan buah tangan kepada beliau. Ia akan menunggu di bawah pohon rambung besar yang ada di Butar.”

Dengan alasan memberikan buah tangan atau hadiah, dia memancing raja untuk keluar dari Bakkara. Pada awalnya para penasihat memberi saran untuk tidak pergi. Kalau niatnya jujur, apakah tidak sebaiknya Si Pongki sendiri yang datang? Akan tetapi, terdorong rasa rindu pada kemanakannya Raja mengabaikan nasehat itu. Raja Si Singamangaraja berangkat dengan para pengiringnya membawa ulos (selendang), yang akan diberikan kepada kemanakannya itu. Tetapi setelah mereka bertemu, Tuanku Rau memenggal kepala pamannya dan pengiring Si Singamangaraja pun larilah…”

Lebih menarik adalah laporan Richard Burton (penginjil yang dikirim oleh Inggeris Baptist Mission) kepada Resident Prins di P. Poncan yang mengatakan bahwa raja Singah Maharaja raja orang Batak, telah tewas karena kebodohannya sendiri. Burton berada di Tanah Batak tidak lama setelah Raffles berkunjung kesana, menyusul kedatangan pasukan paderi.

KAPANKAH HAL ITU TERJADI ?

Salah satu yang menarik untuk dikaji terkait dengan kehadiran pasukan Paderi di Tanah Batak Utara adalah tahun kejadiannya. M.O. Parlindungan memastikan peristiwa itu berlangsung sekitar tahun 1818–1820. Dalam tempo dua tahun, katanya, pasukan Paderi merajalela di Toba, dengan merampok, membunuh, dan memperkosa.

Sementara itu, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dalam almanak yang dicetak ulang setiap tahun sejak diterbitkan, mencatat peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1825–1829. Tidak ada keterangan tambahan dalam catatan tentang peristiwa itu. Catatan dalam almanak Huria Kristen Batak Protestan ini dijadikan sebagai patokan oleh banyak penulis seperti Sitor Situmorang. Karena itu, wajarlah apabila timbul pertanyaan: Manakah yang benar di antara kedua catatan tersebut, apakah tulisan M.O. Parlindungan yang mencatatnya terjadi sekitar 1818-1820 atau catatan dalam almanak HKBP yang mencatatnya terjadi tahun 1825-1829 atau dua-duanya tidak benar.

Keabsahan Tarikh M.O. Parlindungan

Dalam satu sisi, tulisan M.O. Parlindungan tentang lamanya kejadian itu tidak salah bila masuknya kaum Paderi ke Tanah Batak. Mereka pertama sekali singgah di Tanah Batak Selatan dan melakukan syiar Islam di sana (1818). Pada awal kedatangannya, mereka mendapat sambutan yang cukup baik walaupun tidak dapat dibantah bahwa ada sekelompok kecil pada awalnya kurang menerima kehadiran mereka seperti marga Nasution yang sekarang bermukim di Langgapayung (Labuhan Batau).

Ketika mereka melakukan tugasnya untuk mengislamkan Tanah Batak Selatan selama dua tahun, mereka menemukan kenyataan bahwa banyak orang menyimpan segudang dendam terhadap saudara mereka di Tanah Batak Utara. Mereka inilah yang kemudian dimanfaatkan dan dimobilisasi Tuanku Rao untuk mara ke Tanah Batak Utara.

Akan tetapi, kapankah serangan ke Tanah Batak Utara itu terjadi ? Apakah benar pasukan Paderi berangkat ke Tanah Batak pada tahun 1818 ? Apabila diperhatikan Memoar Raffles dalam buku THE RESTLESS WARRIOR karya Richard Mann (Gateway book 1966; hal. 369/30), kejadian itu pasti berlangsung setelah bulan Februari 1820. Hal itu dapat disimpulkan karena pada bulan dan tahun tersebut dalam memoar Raffles terdapat tulisan berikut:

Akan tetapi, kapankah serangan ke Tanah Batak Utara itu terjadi ? Apakah benar pasukan Paderi berangkat ke Tanah Batak pada tahun 1818 ? Apabila diperhatikan catatan Raffles yang berkunjung ke Tanah Batak Utara (lihat tulisan pendatang-pendatang Eropa ke Tanah Batak: Perjalanan Raffles), kejadian itu pasti berlangsung setelah bulan Februari 1820. Hal itu dapat disimpulkan karena pada bulan dan tahun tersebut dalam memoar Raffles terdapat tulisan berikut:

“As he had experienced upon arrival at the homeland plateau of the Minangkabau, here, too, Raffles found the soil rich and many gardens of carefully tended fruit and vegetables.

Their houses were most spectacular, built on stilts, with each end of the roof rising up from a saddle in the middle and decorated plentifully with buffalo horns.”

Diterjemahkan sebagai berikut:

“Seperti yang dia amati ketika ia tiba di dataran tinggi yang menjadi kediaman orang Minangkabau, tanah di bukit ini pun tampak subur dan ditanami dengan buah dan sayuran yang dirawat dengan baik.

Rumah-rumah mereka tampak sangat mengagumkan, yang dibangun di atas tiang-tiang sehingga tidak menyentuh tanah dan atapnya mendongak tegak ke atas layaknya pelana kuda, penuh ukiran yang dihias dengan tanduk kerbau.”

Dari memoar Raffles ini terlihat jelas bahwa kedatangan pasukan Paderi ke Tanah Batak Utara pasti berlangsung di atas bulan Februari 1820. Alasannya ialah karena, dalam kunjungannya, Raffles masih melihat tanaman yang subur dan rumah-rumah yang diukir dengan sangat indah. Dia sama sekali tidak melihat puing-puing yang tersisa setelah terjadi pembakaran besar-besaran oleh pasukan Tuanku Rao, seperti yang digambarkan oleh M.O. Parlindungan.

Mereka berada di Tanah Batak Utara tidak cukup lama, karena berjangkitnya penyakit cholera, sebagai akibat banyaknya bangkai manusia yang tidak pernah dikuburkan. Penyakit inilah yang dikenal dengan “begu antuk”, satu penyakit yang sampai waktu itu belum diketahui penyebabnya apalagi obatnya. Pasukan yang tadinya berjumlah ribuan, hanya sedikit yang sampai di markas mereka di Sipirok. Mereka banyak yang tewas dalam perjalanan pulang karena diserang penyakit, kelelahan dan kelaparan.

Keabsahan Tarikh dalam Almanak HKBP

Peristiwa penyerbuan pasukan Paderi itu pun tidak mungkin terjadi pada tahun 1825-1829 sebagaimana tercatat dalam almanak HKBP. Alasannya ialah karena pada tahun 1822, Belanda telah membangun dua benteng¾satu Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batusangkar¾sebagai persiapan untuk menaklukkan pasukan Paderi.

Selain itu, apabila dirujuk isi perjanjian yang ditandatangani di Masang pada tanggal 22 Januari 1824, (Amran; Rusli “ SUMATRA BARAT HINGGA PLAKAT PANJANG” Pen.Sinar Harapan 1981 Hal. 435/436). Perjanjian yang sangat berat sebelah ini tidak mungkin di tanda tangani kalau pihak Paderi masih kuat. Berikut ini dikutip sebagian dari isi perjanjian tersebut:

1. Paderi akan selalu hidup damai dengan pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat, baik di pantai maupun di daerah pedalaman.

2. Paderi akan mengajak para pemimpin di VI – Kota, sebagian di Agam, Limapuluh Kota dan Lintau yang masih bermusuhan dengan Belanda untuk hidup damai dengan pemerintah Belanda.

3. Paderi akan melakukan segala-galanya untuk mengembalikan meriam-meriam Belanda yang direbut orang-orang Paderi.

4. Paderi akan mengajak penduduk Rao turun ke Rao untuk berdagang.

Perjanjian tersebut sangat merugikan pihak Paderi. Salah satu pasal dalam perjanjian tersebut, yaitu Pasal 9, menyatakan bahwa “kaum Paderi hanya boleh membeli garam dari pemerintah Belanda” dengan harga f180 per koyan. Padahal, garam yang didatangkan dari Tanah Batak mempunyai harga tiga kali lebih murah. Perjanjian yang sangat berat sebelah ini sangat tidak dapat diterima oleh banyak tokoh kaum Paderi. Akan tetapi karena posisi mereka yang sudah dalam keadaan lemah Perjanjian itu dengan terpaksa harus diterima.

Pada tahun 1825, perang Diponegoro dimulai sehingga pasukan Belanda yang ada di Minangkabau dikerahkan kembali ke Pulau Jawa. Kesempatan itu digunakan kaum Paderi untuk memperkuat diri. Bonjol yang tadinya merupakan pusat penyebaran Islam dijadikan sebagai benteng. Di kedua sisinya digali parit yang dalam, sementara di depannya mengalir sungai yang sangat deras. Beberapa meriam dimasukkan ke dalam benteng, bersama bahan makanan yang luar biasa banyak. Ini adalah persiapan yang dilakukan kaum Paderi untuk kembali memerangi penjajah Belanda. Kemudian hari, setelah perang Diponegoro disudahi, serangan kembali diarahkan ke Bonjol. Benteng yang kokoh itu akhirnya dapat juga ditaklukkan walau dibutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan untuk merebut benteng yang sangat kuat itu, Belanda harus mendatangkan bantuan pasukan pribumi dari Pulau Jawa di bawah pimpinan Sentot Alibasyah bekas panglima Pangeran Diponegoro dan pasukan dari Tanah Batak di bawah pimpinan Raja Gadumbang Lubis *) Dalam merebut benteng ini banyak jatuh korban termasuk Raja Gadumbang yang tewas dalam satu pertempuran.

*) Raja Gadumbang Lubis adalah kakek dari R.Junjungan Lubis mantan Gubernur Sum.Utara 1960.


[1] Anak itu kemudian oleh Sapalatua dianggap sebagai adik dan diberi nama Raja Parmahan. Inilah awal ikatan persaudaraan antara Tampubolon dan Silalahi.

October 28, 2008

SEJAUH MANA PENGARUH PERUBAHAN ITU?

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:41 am
Tags: ,

Perubahan yang begitu cepat, mengilhami penulis lagu dengan menciptakan lagu rakyat SITARADINGDANG. Syairnya, nunga mumpat angka talutuk, nunga sega gadu-gadu, menggambarkan kegalauan akan perubahan tersebut. Menurut syair lagu tersebut, segala sudah berubah, tidak ada lagi pembatas (talutuk-gadu2) hingga timbul ke khawatiran. Tetapi, benarkah ?

Harus diakui bahwa perubahan itu, berlangsung dengan sangat cepat. Dan harus diakui pula tatanan hidup orang Batak, sangat banyak berubah. Akan tetapi perubahan tersebut hanya menyentuh kulit luarnya saja. Sisi paling dalam kehidupan orang Batak, terutama adat dan budayanya, masih tetap berjalan sebagaimana biasa. Kita ambil contoh suatu perkawinan, tata cara adat lebih mendominasi upacara pemberkatan yang dilakukan di gereja. Walaupun upacara pemberkatan di gereja dilakukan lebih dulu, segera sesudahnya keluarga kedua mempelai mengimbau sanak famili dengan sapaan, “Asa rap udur ma hita, marindahan na las dohot minum aek sitio-tio, huhut manggarar adat na hombar tusi” (Agar semua kerabat makan dan minum bersama dan kemudian melaksanakan upacara adat yang dimaksudkan, untuk membayar adat sehubungan dengan perkawinan tersebut). Upacara adat perkawinan ini penuh dengan pernak-pernik yang membutuhkan banyak waktu dan biaya.

Dengan perkataan lain, perubahan tersebut tidak membawa akibat yang mendalam bagi kehidupan adat dan budaya orang Batak karena mereka masih tetap memegang prinsip-prinsip seperti yang tertuang di bawah ini. Prinsip-prinsip hidup tersebut tertuang dalam bentuk umpasa-umpasa yang telah diwarisi secara turun-temurun:

Sinuan bulu sibahen na las, sinuan adat sibahen na horas.

Ini adalah umpasa orang Batak tentang betapa pentingnya adat. Hanya dengan berpegang teguh pada adat inilah orang Batak percaya, kehidupannya akan sejahtera. Akan tetapi, apakah adat orang Batak itu? Adat ialah aturan tingkah laku yang mengatur hak dan kewajiban orang-perorang ketika ia berada dalam kelompoknya dan juga ketika ia berhadapan dengan kelompok lain di luar kelompok sendiri. Kelompok sendiri disebut sebagai na mardongan tubu dan kelompok lain disebut sebagai hula-hula dan tau boru. Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang telah mereka warisi turun-temurun. Sepanjang menyangkut sikap berdasar kasih ini, sama sekali tidak ada perubahan yang dilakukan oleh gereja.

Ia ojakan ni adat i ma marga, ndang hataan adat ia so marojahan tu marga.

Maksudnya ialah marga adalah dasar dari adat. Tidak ada yang dapat dibicarakan dalam adat, apabila marga-marga tidak ada sebagai landasannya. Maka bilamana seorang tidak setuju dengan adat, yang harus dilakukan ialah tidak mencantumkan marga dalam namanya. Marganya harus dibuang jauh-jauh karena, karena sepanjang seseorang masih menggunakan marga, ia akan tetap terikat dengan kelompoknya dan marga lain, setidaknya marga keluarga ibu yang melahirkannya.

Inilah faktor yang penyebab, apabila seorang anak hendak kawin dengan seorang pria atau wanita dari suku non-Batak, bila perkawinan akan dilaksanakan menurut tata cara adat, hal pertama yang harus dilakukan ialah memberikan marga kepada calon pasangan tersebut. Bila yang akan diberi marga tersebut adalah laki-laki (mangain anak), biasanya marga yang diberikan adalah marga boru (marga saudara perempuan bapak). Apabila calon pengantin tersebut adalah wanita (mangain boru) maka marga yang diberikan adalah marga hula-hula (marga saudara laki-laki ibu)

Persoalan akan sedikit rumit, bila yang akan di ain (yang diangkat) calon pengantin pria. Bila hal itu yang terjadi, maka persetujuan dari saudara-saudara, juga persetujuan dari kelompok ompu na mar haha-mar anggi sangat diperlukan. Acara untuk hal ini harus dibuat secara khusus, dimana hula-hula dari sang bapak angkat juga hadir dan memberi ulos kepada berenya (tubu magodang-lahir sudah besar). Tata cara yang sama berlaku juga untuk seorang calon pengantin wanita, akan tetapi karena marga yang disandang tidak dipakai dalam keseharian, upacaranya dapat dilakukan secara sederhana.

Si sada somba, si sada raga-raga; si sada hasangapon, si sada hailaon.

Ini adalah prinsip orang Batak dalam membina kesatuan marga. Karena itu, merombak sikap hidup yang mereka warisi tersebut akan sangat sulit sepanjang orang Batak masih menggunakan marga sebagai suatu identitas kelompok. Kelompok ini saling mempunyai keterkaitan dengan kelompok lain entah sebagai akibat perkawinan diri sendiri atau perkawinan ayah dan saudara ayah. Di kalangan kelompok marga sendiri, orang-orang Batak harus saling asih dan saling asuh. Alasannya ialah karena apa pun yang terjadi dalam diri seseorang, selalu ditekankan bahwa ai si sada somba, si sada raga-raga, si sada hasangapon, si sada hailaon do na mardongan tubu. Artinya, semua yang terjadi dalam diri kita, suka atau duka adalah milik bersama.

Karena itu, sebesar apa pun silang-sengketa yang timbul di kalangan orang-orang satu marga, selalu diupayakan penyelesaiannya. Orang-orang yang bersaudara dalam satu marga diibaratkan sebagai tampulon aek (air yang ditebas). Hubungan mereka tidak akan pernah putus, bagaikan air yang ditebas dengan golok atau pedang, setajam apa pun.

Anak do hamatean, boru hangoluan.

Ungkapan ini bicara tentang kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan dalam satu keluarga. Mengapa orang Batak selalu mendambakan anak laki-laki? Alasan yang pertama ialah perannya sebagai penerus keturunan karena anak laki-lakilah yang dapat melanjutkan tarombo dalam marganya. Alasan yang kedua ialah karena, apabila seseorang meninggal dunia, dia harus meninggal di rumahnya sendiri di hadapan anak laki-lakinya dan tidak boleh di rumah anak perempuannya. Anak perempuan (boru) memang berkewajiban untuk membantu, apabila orang tuanya sudah tua dan sakit-sakitan, tetapi tugasnya hanya terbatas di situ. Begitu juga, apabila orang tuanya meninggal dunia, biasanya sebagian biaya menjadi beban boru. Itulah sebabnya dikatakan boru hangoluan. Biasanya, boru melakukan tugas-tugas ini dengan harapan bahwa Tuhan akan memberi berkat yang lebih kepadanya, karena ia sudah melakukan kewajibannya menghormati orang tuanya.

Julu ni mual sipatio-tioon, tanduk ni ursa sipausa-usao.

Inilah ungkapan orang Batak yang memberikan gambaran tentang sikap terhadap hula-hula. Bagi orang Batak, hula-hula adalah sumber berkat, bagaikan mata air yang harus dijaga kebersihannya. Apabila mata air dikotori, air yang dialirkan pun akan kotor sehingga tidak dapat lagi diminum. Setiap orang harus menjaga agar sumber air minum tersebut tidak kotor. Tanggung jawab yang utama dalam hal ini ada di pihak boru. Karena itu, boru mempunyai kewajiban untuk menjaga kehormatan keluarga mertuanya. Artinya, apabila ada sesuatu yang kurang atau diperlukan, boru akan melakukan apa pun demi menjaga kehormatan itu. Dengan demikian orang Batak percaya, dia akan memperoleh berkah yang berkelimpahan. Sering terjadi, seorang yang hidupnya susah dan sering berdoa kepada Tuhannya akan tetapi karena hidupnya terus dirundung susah, kembali menilik perlakuannya terhadap hula-hulanya. Adakah sesuatu yang kurang?

Si soli-soli do adat; siadapari gogo;

Ini adalah suatu prinsip dalam memberi dan menerima dalam satu acara adat. Bagi orang Batak, adat bukan semata-mata menyangkut perkawinan, sejak dilahirkan dan bahkan sampai meninggal pun, orang Batak tetap terikat pada adat. Karena itu, apabila seseorang tidak ingin tersisih dari masyarakat adat, dia harus menggeluti adat ini dan hadir dalam acara-acara keluarga, khususnya acara yang menyangkut adat. Pada saat hadir, dia akan memberikan sesuatu yang sudah ditetapkan dalam aturan adat, bergantung pada kedudukannya pada waktu itu. Ada orang yang membawa beras (boras si pir ni tondi), ada yang membawa ikan (dengke si mudur-udur), dan ada yang memberi sumbangan dalam bentuk uang (tumpak) dan ada yang memberi ulos. Semuanya itu dicatat karena, apabila suatu waktu nanti orang yang memberikan itu mengundang orang yang sedang menyelenggarakan acara adat, dia akan menerima kembali minimal senilai yang sudah pernah diberikannya.

Aturan main itulah yang ingin diungkapkan oleh prinsip ai dos do nangkokna, dos do nang tuatna; si soli soli do adat, siadapari gogo (naik atau turun sama saja karena, apabila hari ini kita menerima adat, besok kita harus membayarnya). Inilah yang disebut adat, suatu pola tingkah laku yang mengatur hak dan kewajiban seseorang dalam hubungannya dalam kelompok sendiri maupun dengan kelompok di luarnya. Karena dilakukan berdasarkan kasih, gereja merasa tidak perlu membatasinya.

Asing dolok, asing do duhut na; asing luat, asing do nang adat na.

Ungkapan ini ingin menandaskan bahwa adat sebagai suatu norma berlaku umum pada seluruh puak Batak. Yang berbeda ialah tata caranya dalam mengimplementasikannya, yang berlainan di masing-masing wilayah. Di wilayah Toba misalnya, menurut tata cara yang sudah dibiasakan, pihak keluarga pengantin wanita (hula-hula) memberi ulos kepada pihak keluarga pengantin laki-laki (boru). Sebaliknya, di wilayah Pakpak (Dairi), pihak boru memberikan ulos kepada hula-hula-nya. Apakah orang Toba akan mencap orang-orang yang berasal dari Pakpak (Dairi) sebagai orang yang tidak beradat? Prinsip asing dolok, asing do nang duhut na; asing luat, asing do nang adat na (masing-masing wilayah mempunyai adat-kebiasaan tersendiri) merupakan solusi dalam perbedaan tersebut. Dalam hal seperti ini, berlaku juga prinsip yang mengatakan bahwa si dapot solup do na ro, yang berarti bahwa, si pendatang sendirilah yang harus menyesuaikan diri dengan adat yang berlaku di wilayah setempat.

Aek godang, tu aek laut; dos ni roha do sibahen na saut.

Menurut pepatah Melayu: Bulat air dalam pembuluh, bulat kata dalam mufakat. Adat adalah suatu kesepakatan, artinya dalam hal-hal tertentu, adat itu dapat menyesuaikan diri pada situasi dan lingkungan. Kita tidak dapat memaksakan satu hal, bila situasinya tidak memungkinkan. Kalau sesuatu itu akan memberatkan suhut, tidak ada salahnya diambil kebijakan.

Tata cara adat harus tetap pada prinsip ai sinuan bulu sibahen na las, sinuan adat sibahen na horas,- artinya, adat itu dibuat dengan maksud agar si pelaku adat melakukannya dengan penuh bahagia. Prinsip-prinsip inilah yang sejak lama telah dianut para leluhur orang Batak, sehingga adat dapat bertahan di bawah gempuran segala pengaruh, termasuk pengaruh modernisasi. Selalu diusahakan agar tata cara adat, tidak memberatkan orang yang kurang mampu. Karenanya orang tua berkata lata pe na lata, duhut-duhut do sibutbuton, hata pe ni pa hata, hata ni suhut do si unduk on.

Artinya apa pun yang dibicarakan, pedomannya adalah kemampuan suhut. Bila suhut mampu, tidak ada masalah, akan tetapi bila suhut kurang punya kemampuan, jangan dipaksakan. Hanya dengan acuan ini, adat yang telah dimulai oleh leluhur (pinungka ni parjolo) akan dapat bertahan langgeng, tidak lekang oleh panasnya matahari dan tidak luntur karena hujan (tu ari so ra biltak, tu aek so ra mengge). Karena adat bagi orang Batak adalah sesuatu yang perlu di lestarikan, sebagai identitas diri, yang patut dibanggakan.

KULI KERJA PAKSA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:38 am
Tags: , ,

Yang baru diuraikan di atas adalah perubahan-perubahan yang dibawa oleh penjajah Belanda, khususnya penataan dalam sistem tatanan masyarakat. Sistem pemerintahan baru ini merombak sistem persekutuan yang dahulu hidup di tengah masyarakat. Apabila dahulu sistem persekutuan tersebut lebih banyak ditujukan untuk menyelenggarakan persembahan (horja), persekutuan yang dibentuk Belanda lebih banyak ditujukan sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Orang-orang yang ditunjuk akan diberi besluit pengangkatan dan, di samping itu, mereka juga diberi gaji. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa jabatan itu menjadi rebutan.

Selain itu, ada banyak lagi aturan yang dibuat oleh pemerintah penjajah setelah Tanah Batak resmi dijadikan sebagai tanah jajahan Belanda. Salah satu di antaranya adalah pembayaran belasting (pajak). Orang yang menolak untuk membayar pajak dapat disandera (gijzeling). Tahanan hanya boleh dibebaskan apabila pajaknya sudah dilunasi.

Di luar itu, ada juga aturan tentang rodi. Pemerintah penjajah mewajibkan setiap kepala kampung mengirimkan sejumlah pria dewasa untuk mengerjakan fasilitas umum tanpa dibayar. Tenaga kerja ini biasanya dikerahkan untuk membangun sejumlah jalan raya. Jalan raya inilah yang oleh orang-orang tua dinamakan dalan kuli karena jalan tersebut dikerjakan oleh kuli-kuli tanpa bayaran tadi. Kuli-kuli ini hanya diberi makanan dan minuman seadanya. Pengiriman tenaga kerja ini menjadi tanggung jawab kepala kampung. Seseorang dapat menolak dengan cara memberikan penggantian sejumlah uang yang setara dengan upah satu tenaga kerja.

Jalan raya pertama yang dihasilkan adalah ruas yang menghubungkan Sibolga dan Tarutung. Jalan yang berliku-liku ini dikerjakan kuli kerja paksa (rodi). Menyusul kemudian jalan raya yang menghubungkan Tarutung dan Balige sampai Porsea dan kemudian jalan raya yang menghubungkan Sibolga dan Padang Sidimpuan. Pembuatan jalan raya ini persis sama seperti pembuatan ruas dari Anyer ke Panarukan, yang dikerjakan oleh kuli-kuli kerja paksa pada jaman Daendels.

Hal inilah yang menyebabkan timbulnya perubahan besar dalam kehidupan orang Batak. Aturan-aturan lama akhirnya digusur oleh aturan-aturan baru. Perubahan besar ini digambarkan dalam kata-kata nunga mumpat taluntuk, sega gadu-gadu, nunga mago uhum na buruk, ro uhum na imbaru (kayu patok telah tercabut, pematang sawah telah rusak, aturan lama telah hilang, diganti dengan aturan baru).

KAMPUNG VORMING

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:34 am
Tags: , ,

Suatu persoalan yang membawa pertentangan dalam masyarakat muncul sejak kepada penduduk pribumi diperkenalkan suatu sistem pemerintahan penjajah yang tadinya belum mereka kenal, seperti pembayaran belasting dan kerja rodi. Untuk tidak menggoncang tatanan kehidupan masyarakat, pemerintah penjajah menggunakan penduduk pribumi sebagai perpanjangan tangannya. Penduduk pribumi yang dapat dipercaya, diangkat sebagai kepala kampung dan dijadikan sebagai ujung tombak pemerintah.

Untuk tidak menimbulkan resistensi, pemerintah menugaskan seorang ambtenar Belanda, bernama W.K.H. Iypes, untuk mengadakan penelitian tentang sistem kepemimpinan tradisional dalam masyarakat Batak, yang akan digunakan sebagai dasar untuk penataan kampung (kampung vorming). Penelitian itu bukan saja dilakukan di Tanah Batak Utara, melainkan juga sampai ke Tanah Batak Selatan. Dalam penelitiannya ada beberapa hal yang mendapat catatan Iypes. Pertama, lingkungan masyarakat yang paling kecil-huta- kampung adalah milik satu marga. Gabungan beberapa huta dipimpin oleh “marga raja,” yaitu marga yang mendirikan huta tersebut dari awal (si pungka huta). Kedua, gabungan banyak huta merupakan satu wilayah (bius), merupakan persekutuan spiritual. Peranan raja-raja bius, kelihatan dalam satu upacara (horja) yang dahulu kala dilaksanakan sekali setahun, dalam memberi persembahan kepada ompu-ompu na martua. Sekarang ini, horja seperti ini tidak pernah lagi dilakukan. Wilayah persekutuan ini disebut horja bius.

Nama-nama persekutuan spiritual ini dalam masing-masing wilayah diberi istilah yang berbeda-beda. Di Tanah Batak Utara, persekutuan spiritual ini disebut bius; di Tanah Batak Selatan persekutuan ini disebut kuria; sementara di Tanah Karo persekutuan yang sama disebut urung. Masing-masing wilayah persekutuan ini dipimpin seorang “raja.” Laporan Iypes disusun dengan begitu lengkap sehingga tulisannya mencapai ratusan halaman.

Bagian yang paling menarik ialah susunan tabel yang dibuat. Tabel tersebut terdiri atas empat kolom dan setiap kolom di isi dengan keterangan mulai dari nama persekutuan adat (horja), nama wilayah (negeri atau luat), nama kampung, dan nama-nama marga yang dianggap sebagai pendiri kampung (si pungka huta).

Dengan melihat tabel tersebut akan dapat diketahui bahwa kampung A misalnya, adalah milik marga X yang merupakan marga pendiri kampung. Gabungan beberapa kampung yang disebut negeri, ditetapkan pula marga sabungan sipendiri kampung (si pungka huta). Dari marga pendiri kampung dipilih salah satunya yang pantas diangkat sebagai kepala negeri atau kepala kuria atau kepala urung. Laporan Iypes ini kemudian dijadikan acuan bagi pemerintah penjajah untuk mengangkat (ra)jaihutan, kepala negeri dan kepala kampung di suatu tempat.

Berdasarkan laporan Iypes ini, Tanah Batak yang tadinya hanya terdiri dari beberapa bius dibagi menjadi ratusan bius, yang lebih menitik beratkan pembentukan administrasi pemerintahan. Bius sebagai wilayah persekutuan spritual dihapus, digantikan dengan bius sebagai wilayah administrasi pemerintahan. Berdasarkan pembagian tersebut menyusul pengangkatan kepala-kepala kampung dan kepala-kepala negeri dengan besluit dari pemerintah dan kepada mereka diberi gaji bulanan.

Kepala kampung (hampung) adalah instansi paling bawah, diatasnya adalah kepala negeri yang sering pula digelar Jaihutan. Di atas kepala-kepala negeri ditetapkan pula jabatan baru, yaitu asisten demang dan demang. Asisten demang memimpin suatu wilayah yang sekarang kita kenal sebagai kecamatan dan demang memimpin suatu wilayah kawedanaan, yaitu gabungan beberapa kecamatan. Di atas mereka diangkat seorang pengawas yang dinamakan konteler (controleur), yang mewakili pemerintah. Demang dan asisten demang biasanya ditunjuk dari penduduk pribumi yang sejak awal sudah mendapat pendidikan dfisamping mnegerjakan administrasi pemerintahan, juga menyelesaikan sengketa-sengketa penduduk pribumi. Diatasnya diangkat seorang Assisten Residen, berkedudukan di Tarutung, sementara Residen berkedudukan di Sibolga. Begitulah administrasi pemerintahan pada waktu itu.

Pengangkatan kepala kampung dan kepala negeri, juga diembel-embeli syarat yang tidak tertulis, yaitu yang bersangkutan telah menganut agama Kristen. Hal inilah menjadi pemicu orang berlomba-lomba memeluk agama ini, karena dengan menjadi kristen, hambatan menjadi raja dapat diatasi. Untuk tujuan ini tidak jarang satu-satu kelompok marga masuk Kristen sekali gus dengan harapan tetua mereka akan diangkat jadi raja. Dugaan itu timbul karena besluit pengangkatan biasanya dibawa petugas gereja dan diumumkan pada hari minggu, setelah upacara gereja selesai.

Tentang hal ini, Nommensen mencatat dalam bukunya:

Pada waktu itu, Kompeni mengangkat Raja Ihutan dan Raja Pandua menjadi kepala kampung sehingga banyak orang yang kecewa. Jelas bahwa banyak dari mereka yang memeluk agama Kristen bukan karena keinginan akan hidup yang kekal, tetapi mengharapkan keuntungan duniawi.”

Akan tetapi, kenyataan yang mereka hadapi sering berbeda dari harapan yang tadinya mereka bayangkan. Anggapan bahwa, dengan memeluk agama Kristen, pengangkatan mereka sebagai raja akan berjalan dengan mulus sering menyebabkan mereka kecewa. Tentang hal ini, Nommensen juga mencatat:

Besoknya, mereka sampai ke Lumbanbalik yang seperti sarang elang di puncak gunung. Raja di sana menyangka bahwa mereka membawa besluitnya (surat penetapan menjadi raja). Dengan gembira ia menyambut kedua pendeta itu, tetapi setelah ia mengetahui bahwa kedatangan mereka bukan membawa besluit pemerintah Belanda, melainkan Injil Tuhan, terdengarlah ejekan orang-orang kampung itu.”

Begitulah catatan Nommensen yang tahu persis bahwa faktor agama bukan berarti segalanya. Adat kebiasaan dan faktor kesetiaan tetap menjadi pertimbangan utama. Apabila orang yang diangkat adalah keturunan sulung suatu marga, biasanya tidak timbul masalah. Akan tetapi, jika karena pertimbangan tertentu calon yang akan diangkat kesetiaannya diragukan, pemerintah mengangkatnya lewat pemilihan (kijzing). Dapat diduga dalam pemilihan seperti ini selalu dimenangkan si bolon partubu (keluarga besar), yang bukan dari keturunan sulung. Kecewa karena kalah, keturunan sulung, yang kebetulan si etek partubu (keluarga kecil), memilih pindah ke wilayah lain yang jaraknya cukup jauh dari kampung asalnya.

Bila di runut banyak perpindahan satu kelompok marga, berpindah dari kampung asalnya karena alasan seperti diatas (kalah bersaing dalam kijzing). Ada perpindahan dalam suasana damai, artinya hubungan dengan bona pasogit tetap dipelihara. Namun, sering terjadi banyak di antarany yang karena kecewa membakar jembatan, sekolah, dan bahkan rumah-rumah pendeta. Benda-benda seperti ini menjadi sasaran kemarahan sehingga menimbulkan banyak kerugian. Ada juga yang memilih bergabung dengan kelompok-kelompok perlawanan pasca R. Si Singamangaraja XII, yang pada waktu itu masih muncul, seperti kelompok pimpinan Gr Somalaing, Sarbut Tampubolon dan Jaga Siboru Torop.

PENDATANG BARU DAN ATURAN-ATURAN BARU

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:30 am
Tags: , ,

Di antara sejumlah orang kulit putih yang datang ke Tanah Batak Utara, hanya dua orang, Lyman dan Munson, tidak mengecap ‘keramahtamahan’ orang Batak. Ingwer Ludwig Nommensen sendiri, semasa tinggal di Barus, didatangi enam orang raja Batak yang memintanya hadir di tengah mereka. Permintaan itu ditolak karena persoalan izin yang dihadapinya.

Ketika I.L. Nommensen berada di Tanah Batak, berkecamuk pula suatu penyakit yang ditingglkan oleh pasukan Paderi. Penyakit ganas itu yang penyebabnya belum diketahui, menyerang penduduk sehingga banyak kampung dipenuhi ratap tangis. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena penyakit itu datang dengan tiba-tiba entah dari mana. Banyak dukun dikerahkan tetapi mereka sendiri tidak luput dari serangan. Mereka menyebut penyakit ini begu antuk, yang sebenarnya adalah penyakit kolera.

Kehadiran penyakit ini, menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Nommensen. Kebetulan, pada waktu itu, Huta Dame baru ditempati. Sementara penduduk di huta (kampung) sekitarnya dipenuhi ratap tangis, tidak seorang pun penduduk di Huta Dame menjadi korban. Akibatnya, mereka menganggap Nommensen sebagai “dukun sakti” sehingga mereka beramai-ramai datang meminta taor (obat) kepadanya.

Nommensen memberi taor bukan dengan pil atau tablet, melainkan dengan kata-kata. Untuk melawan begu antuk tersebut, dia mengajarkan perlunya kebersihan dan sanitasi. Mereka diminta untuk tidak “buang air besar” di sembarang tempat dan memasak air sebelum diminum. Mereka menyaksikan hasil yang luar biasa sehingga orang-orang percaya kepadanya.

Apabila semula dia dituduh sebagai kaki tangan gomponi (kompeni), kini mereka percaya bahwa Nommensen membawa Barita Na Uli (Injil). Karena mereka sudah percaya, kepada mereka kemudian diperkenalkan firman Tuhan, mulai dari firman pertama yang memperkenalkan Tuhan Allah Maha Pencipta langit, bumi dan segala isinya. Mereka dapat mengartikannya dengan mudah karena, jauh sebelumnya, mereka telah mengenal-Nya dalam wujud Mulajadi Nabolon. Juga, mereka dianjurkan untuk tidak membuat pahatan-pahatan atau patung-patung untuk disembah dan itulah firman yang kedua. Hal ini juga dapat mereka pahami dengan mudah karena mereka tidak pernah melakukan hal seperti itu. Di Tanah Batak tidak ada pahatan, kecuali gorga dan si singa yang merupakan hiasan di depan sebuah ruma (rumah) Batak.

Apalagi, tentang larangan menyebut nama Tuhan Allah secara sembarangan sebagai firman yang ketiga, aturan ini sangat berterima di lubuk hati mereka karena, jangankan menyebut nama Tuhan Allah, menyebut nama orang tua, ayah dan ibu, bagi mereka adalah sesuatu yang sangat tabu. Namun, sesuatu yang mengherankan bagi mereka adalah firman keempat yang mengatakan bahwa bumi dan segala isinya diciptakan oleh Tuhan dalam tempo enam hari dan Dia beristirahat pada hari yang ketujuh. Mereka menerimanya dengan setengah tidak percaya. Orang-orang yang percaya beranggapan bahwa pastilah Tuhan Allah yang diperkenalkan oleh Nommensen jauh lebih hebat daripada Mulajadi Nabolon yang mereka kenal.

Di sinilah terlihat bagaimana kehebatan Nommensen. Dia berkata bahwa Debata (Allah) yang diperkenalkannya adalah Mulajadi Nabolon yang telah mereka kenal sebelumnya. Debata Mulajadi Nabolon (Allah Maha Pencipta) menjadi suatu nama yang merupakan perpaduan ajaran yang dibawa oleh Nommensen dengan kepercayaan mereka sebelumnya. Hal ini sangat melegakan karena ajaran yang diberikan oleh Nommensen bukanlah ajaran yang mengubah kepercayaan mereka, melainkan menyempurnakannya.

Sejumlah aturan-aturan gereja diperkenalkan pula. Aturan yang pertama tentu saja adalah berkumpul di rumah Tuhan (gereja) pada hari yang ketujuh (Minggu). Mereka bersama-sama mendengarkan firman Tuhan, nyanyian-nyanyian kudus diperdengarkan, doa-doa dipanjatkan, dan mereka tidak lupa mengumpulkan persembahan dalam bentuk uang (kolekte). Ini merupakan penyempurnaan dari sesuatu yang telah mereka lakukan jauh sebelumnya. Nyanyian-nyanyian dalam bentuk gondang, doa dalam bentuk tonggo-tonggo, dan persembahan dalam bentuk hewan¾kerbau atau lembu¾telah biasa mereka lakukan sebelumnya. Hal yang tidak biasa ialah bahwa, jika dahulu persembahan dilakukan sekali setahun ketika mereka menyelenggarakan pesta mangase taon (tahun baru Batak), sekarang mereka melakukannya sekali seminggu.

Dalam hal ini, Nommensen juga cukup bijaksana. Pesta tahun baru yang biasanya dilakukan orang Batak pada Artia Sipaha Sada (hari pertama pada bulan pertama menurut kalender Batak yang biasanya jatuh pada masa-masa turun ke sawah), sekitar bulan April tahun Masehi, diubah tanggalnya menjadi 1 Januari. Dengan latar belakang ini, pesta tahun baru (taon baru) adalah salah satu pesta besar di Tanah Batak Utara dan diperingati jauh lebih besar daripada perayaan Natal. Pesta ini dimulai pada tengah malam setiap awal tahun ketika keluarga berkumpul untuk mengucapkan doa puji-pujian. Kemudian, anak-anak yang masih kecil dan yang beranjak remaja keluar dari rumah dalam kelompok-kelompok untuk mendatangi rumah kerabat dekat. Dengan bernyanyi sekaligus mengucapkan selamat tahun baru, mereka disambut oleh para orang tua dengan minuman dan kue-kue dan mereka juga diberi hadiah dalam bentuk uang.

Firman Tuhan yang kelima, tentang kewajiban menghormati orang tua, jauh sebelumnya telah diterapkan orang-orang Batak, bahkan cenderung berlebihan. Penghormatan kepada orang tua bukan saja dilaksanakan semasa hidupnya, bahkan juga sesudah kematian mereka. Tulang-belulang mereka, pada waktu yang sudah disepakati, digali dan dikumpulkan untuk disemayamkan kembali di sebuah pemakaman baru (tambak na pir). Acara penggalian ini dilangsungkan dalam suatu pesta besar yang memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Bukti-bukti tentang hal ini, berupa bangunan tambak na pir, masih dijumpai sepanjang jalan-jalan raya di Tanah Batak Utara.

Gereja secara bijaksana tidak melarang hal ini dengan syarat bahwa orang yang sudah meninggal tersebut tidak boleh diberi sesajian, seperti layaknya perlakuan terhadap orang-orang yang masih hidup, yang merupakan kebiasaan orang Batak dahulu kala. Untuk mencegahnya, tulang-belulang yang sudah digali harus dititipkan di suatu tempat yang memungkinkan penatua gereja dapat melakukan pengawasan sampai tiba waktunya disemayamkan kembali di kuburannya yang baru. Inilah cara yang menjadi kekhasan Nommensen: memadukan kultur dengan agama.

Hal yang sama terjadi pula dalam perkawinan. Jika dahulu seseorang dibenarkan kawin dengan lebih dari satu orang isteri, gereja mengeluarkan aturan yang ketat. Seorang pria hanya dibolehkan kawin dengan satu orang wanita. Mereka tidak boleh bercerai kecuali karena kematian. Perkawinan dengan isteri kedua, karena tidak mempunyai keturunan¾biasanya anak laki-laki¾dari isteri pertama, hanya ditolerir dan dibernarkan oleh adat, bukan gereja. Juga dalam hal usia, dilakukan suatu pembatasan yang tegas. Pria hanya boleh menikah setelah ia mencapai usia 18 tahun dan seorang wanita berusia 16 tahun.

Upacara adat dalam perkawinan dapat dilakukan setelah upacara pemberkatan di gereja. Upacara adat ini dianggap penting karena, menurut adat, suatu perkawinan baru dianggap sah apabila segala hutang dan kewajiban adat yang menyangkut perkawinan telah dipenuhi. Sesuai dengan aturan adat, orang Batak selalu beranggapan bahwa, walaupun suatu perkawinan telah dikukuhkan setelah diberkati menurut aturan gereja, perkawinan itu baru dianggap sah apabila hutang yang timbul sebagai akibat perkawinan itu dilunasi. Kawin lari, misalnya, adalah contoh yang pas untuk itu. Seorang pria dapat membawa lari wanita pilihannya dan meminta gereja untuk memberkati mereka berdua untuk menjadi suami-isteri. Perkawinan itu dianggap sudah sah menurut aturan gereja, tetapi belum sah menurut adat.

Firman-firman Tuhan lainnya, seperti firman yang keenam (Jangan membunuh!), firman yang ketujuh (Jangan berzinah!), firman yang kedelapan (Jangan mencuri!) , firman yang kesembilan (Jangan bersaksi dusta!), dan firman yang kesepuluh (Jangan menginginkan milik sesamamu!), semuanya bersifat universal karena larangan-larangan tersebut berlaku umum di mana pun. Perbuatan-perbuatan jahat tersebut bukan hanya dilarang menurut agama mana pun (Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu) tetapi juga dilarang dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali dalam kehidupan orang Batak.

Perbedaannya terletak dalam bentuk sanksinya, yang dalam hukum adat Batak mengandung aturan-aturan tersendiri. Tujuannya ialah untuk mengatur ketertiban masyarakat. Juga, perbedaan lainnya terdapat pada cara memberi hukuman tu angka parsala. Orang Batak, misalnya, mengenal hukuman mati bagi penzinah atau hukuman pengucilan bagi pembuat onar. Dalam aturan gereja, hukum mati dilarang karena nyawa manusia adalah milik Tuhan. Juga, bersaksi dengan cara martolon (sumpah) diganti dengan cara meletakkan tangan di atas Kitab Suci. Menurut keyakinan gereja, Tuhan kelak akan memberikan hukuman kepada orang-orang yang bersaksi dusta. Agama Kristen mengajarkan bahwa kelak akan ada suatu kehidupan baru yang memastikan semua orang akan dihakimi berdasarkan kesalahan maupun kebajikan yang dibuatnya. Itulah yang harus dipercayai.

Tidak dapat dibantah bahwa aturan-aturan yang diberlakukan gereja sangat bermanfaat untuk membenahi tata tertib masyarakat. Misalnya, penetapan batas umur untuk kawin memberikan manfaat yang sangat besar. Dahulu, sebelum masuk agama Kristen, seorang anak dapat dijodohkan (dipaorohon) dengan seorang anak yang berusia berapa saja, bahkan walaupun anak itu masih berada dalam kandungan.

Hal yang sama juga terjadi dengan sinamot (mas kawin), terutama menyangkut seorang perempuan yang meninggal tanpa keturunan. Apabila seorang wanita tidak melahirkan anak, keluarga laki-laki dapat menuntut keluarga wanita untuk mengembalikan mas kawin yang pernah diterimanya. Begitu pula, seorang wanita yang meninggalkan suami diharuskan untuk mengembalikan dua kali lipat jumlah sinamot yang diterimanya (na sada gabe dua utang ni si pahilolong). Hal tersebut sering menimbulkan pertikaian yang tidak habis-habisnya dan melibatkan bukan saja keluarga, tetapi juga dapat meluas menjadi pertentangan antar-marga.

Di samping itu, ada juga aturan yang turut melibatkan pemerintah, seperti penetapan hari pasar (onan) yang sebelumnya diselenggarakan setiap empat hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa, apabila hal tersebut dibiarkan, akan ada masa-masa pasar yang jatuh tepat pada hari Minggu. Hal ini sangat mengganggu hati Nommensen dan dianggap menghambat upaya kristenisasi di Tanah Batak. Karena itu, Nommensen mengambil prakarsa untuk membicarakan hal ini dengan “raja-raja” lewat bantuan controleur Belanda. Atas kesepakatan mereka bersama diputuskan bahwa hari pasar berlaku setiap tujuh hari dan tidak akan ada hari pasar yang jatuh pada hari Minggu.

Dalam penetapan pertama, hari pasar ditentukan demikian: hari Senin di Laguboti, hari Selasa di Narumonda, hari Rabu di Uluan, hari Kamis di Habinsaran, hari Jumat di Balige, dan hari Sabtu di Sigumpar. Penetapan hari pasar ini berkembang dalam skala yang lebih luas sehingga berlaku sampai sekarang aturan yang menetapkan pasar diselenggarakan hari Senin di Laguboti, hari Selasa di Siborong-borong, hari Rabu di Porsea, hari Kamis di Dolok Sanggul, hari Jumat di Balige, dan hari Sabtu di Tarutung.

Inilah antara lain aturan-aturan baru yang ditetapkan setelah masuknya Nommensen ke Tanah Batak.Harus diakui bahwa aturan-aturan tersebut membawa manfaat yang sangat banyak bagi masyarakat. Contohnya, aturan mengenai monogami sangat bermanfaat untuk mewujudkan tatanan keluarga yang baik. Dahulu kala, seseorang dibenarkan untuk mempunyai isteri lebih dari satu (poligami). Hal ini sering menimbulkan persoalan yang berlarut-larut di antara orang-orang yang bersaudara tiri. Persoalan ini terutama menyangkut hak atas tarombo dan hak atas barang pusaka. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak persoalan yang timbul, dimulai dari persoalan seperti ini. Dalam kaitan ini, status seorang anak harus jelas dulu, apakah dia anak mata (anak yang lahir dari perkawinan sah menurut adat) atau anak ni imbang (anak yang lahir dari isteri kedua yang tidak di sahkan menurut adat).

INGWER LUDWIG NOMMENSEN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:24 am
Tags: , , ,

Ingwer Ludwig Nommensen adalah satu nama yang harus diakui sebagai seorang yang berjasa membawa masa cerah di Tanah Batak, khususnya di Tanah Batak Utara. Perubahan dari masa gelap menjadi masa terang dimulai sejak kehadirannya di Tanah Batak Utara. Tanpa kehadirannya dapat dipastikan bahwa keberadaan orang Batak tidak akan lebih daripada saudara-saudaranya yang lain yaitu suku-suku yang masih terbelakang, atau bahkan mungkin juga seperti suku Anak Rimba (Kubu). Karena jasa dan pengabdiannya yang besar bagi mereka, orang Batak memberi Nommensen gelar tertinggi dalam masyarakat adat Batak, yaitu ompui, suatu gelar yang tadinya hanya diberikan kepada Raja Si Singamangaraja.

Kegagalan penginjil-penginjil terdahulu tidak menyebabkan upaya kristenisasi Tanah Batak menjadi kendur. Pada tahun 1856, suatu yayasan di Ermelo, Belanda, memberangkatkan empat orang pendeta ke Tanah Batak, yaitu van Dalen, Koster, van Asselt dan Dammerboer. Hanya saja, karena yayasan ini, tidak mempunyai dana yang cukup, mereka dimodali dengan sejumlah kepintaran seperti bertukang. Dengan kepintaran ini diharapkan mereka dapat mencari nafkah, sambil bekerja di ladang Tuhan. Sayang, kepintaran ini tidak terlalu dibutuhkan di Tanah Batak. Mereka terpaksa mencari pekerjaan lain, van Dalen, Koster dan Dammerboer lebih banyak bertugas sebagai pengawas sekolah, van Asselt bekerja serabutan, kadang-kadang menjadi pengawas perkebunan kopi dan kadang-kadang menjadi sinder (pengawas pembuatan jalan). Hal ini menyebabkan mereka tidak dapat melaksanakan tugas kegerejaannya secara maksimal.

Berbeda dengan ke-empat penginjil di atas, Nommensen datang ke Tanah Batak, dikirim oleh Reinische Mission Gesselschaf (R.M.G.) yang berkantor pusat di Barmen, Jerman, suatu yayasan yang memiliki keuangan yang lumayan kuat. Nommensen diberangkatkan ke Tanah Batak dengan menumpang kapal Pertinax dan tiba di Padang pada tahun 1862, setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Bersama Nommensen turut dikirimkan Dina Malga, tunangan Pendeta van Asselt, yang sudah lebih dulu bertugas di Tanah Batak.

Sambil menunggu kapal yang akan berlayar menuju Sibolga dari Padang, Nommensen menghadap gubernur untuk meminta izin dalam menunaikan tugasnya di Tanah Batak. Izin diberikan untuk bekerja di Barus dan wilayah sekitarnya. Masalah “sekitarnya” ini kelak menimbulkan persoalan antara Nommensen dan penguasa di Barus.

Dengan kapal Samuel, dia bersama Dina Malga dan Punrau berangkat ke Sibolga. Punrau adalah seorang Dayak yang tadinya bekerja pada Pendeta Rott. Rott kemudian bertugas di Borneo. Sayangnya, Root bersama isterinya dibunuh dengan sadis, Punrau mealarikan diri dan sampai di Padang dengan maksud mencari pekerjaan.

Bersama Punrau, Nommensen menuju Barus setelah lebih dahulu menyerahkan Dina Malga kepada tunangannya yang sudah menunggu di Sibolga. Mereka tiba di Barus pada 25 Juni 1862 dan untuk sementara menginap di rumah Tuan Stible, wakil pemerintah penjajah di Barus. Nommensen kemudian menyewa sebuah rumah kecil dekat pasar di pinggir pantai. Pekerjaannya yang pertama dimulai dengan menebus dua orang pria yang disandera karena hutang judi. Di tempat ini, seperti yang biasa berlaku di Tanah Batak, seorang yang mempunyai hutang dapat disandera dengan cara memasungnya. Orang itu, baru akan dilepaskan apabila keluarganya menebusnya. Apabila tidak ditebus, orang tersebut akan dijadikan sebagai budak, bahkan sampai turun-temurun.

Nommensen, sengaja menebus kedua orang ini¾kebetulan dua-duanya orang Batak¾ dengan maksud agar ada orang yang dapat membantunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, tujuan yang lebih penting lagi ialah agar ada orang yang dapat diajak untuk mengobrol guna memperlancar bahasa Batak yang sudah dia pelajari sebelumnya. Karena keduanya diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, tidak terniat dalam hati mereka untuk melarikan diri.

Sementara itu, di Barus, dia berupaya untuk mengadakan pendekatan dengan pemuka masyarakat setempat. Pemuka masyarakat inilah yang mau mendampinginya untuk mengadakan kunjungan ke pedalaman Tanah Batak. Keikutsertaan pemuka masyarakat ini menyebabkan Nommensen diterima dengan baik. Sebelumnya, para pemuka masyarakat ini telah mengenal orang-orang dari pedalaman tersebut dalam transaksi jual-beli di Barus. Perjalanan yang sangat melelahkan dengan naik-turun gunung dan melewati jalan-jalan yang terjal dan licin menyebabkan Nommensen dua kali jatuh sakit.

Setelah kembali ke Barus, dia mendapat teguran keras dari penguasa setempat. Alasannya ialah karena izin yang diperolehnya ialah sebatas seperempat jam perjalanan dari Barus, sementara Nommensen telah mengadakan perjalanan selama berhari-hari. Karena teguran ini, harapannya untuk kembali masuk ke pedalaman menjadi sirna. Merasa tidak ada yang dapat dikerjakan di Barus, Nommensen mengemasi barang-barangnya untuk pulang kembali ke Sibolga. Dari tempat ini, dia bermaksud untuk pergi ke Sipirok yang menjadi tempat van Asselt dan kawan-kawannya lebih dahulu bekerja. Sebelum berangkat, Nommensen melepaskan orang-orang yang bekerja untuk dia, kecuali Punrau. Dia berlayar ke Sibolga dengan sebuah perahu yang mesinnya rusak. Mereka tiba di Sibolga dengan kekuatan dayung dan layar yang patah-patah.

Di Sibolga, Nommensen bertemu dengan orang yang bekerja pada van Asselt. Nommensen mengikuti mereka melewati perjalanan yang berliku-liku. Alangkah gembira hati Nommensen ketika ia bertemu dengan orang-orang yang bekerja di ladang Tuhan. Nommensen mendengar berbagai cerita suka dan duka ketika mereka berbincang-bincang. Walaupun ada banyak dukanya, semangat mereka tidak pernah kendur. Keluhan yang utama ialah kesulitan dana.

Dalam perbincangan itu, timbul pemikiran dalam benak Nommensen: Apakah orang-orang itu tidak lebih baik bergabung dengan yayasan yang mengirimnya ? Untuk itu, di Parausorat diadakan musyawarah antara Nommensen dan sejumlah pendeta yang telah lebih dahulu dikirim oleh Kongsi Bijbel Nederland. Rapat yang diadakan pada tanggal 7 Oktober 1861 itu kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan. Dalam rapat diputuskan bahwa tugas yang selama ini diemban oleh Kongsi Bijbel Nederland yang berpusat di Emerloo; Belanda, dialihkan kepada Reinische Mission Gesselschaft yang berpusat di Barmen; Jerman. Kemudian, di antara mereka diadakan pembagian tugas. Nommensen sendiri mendapat tugas di Silindung sesuai dengan keinginannya.

Nommensen berangkat ke Silindung pada 7 November 1863. Pada kedatangannya yang pertama, Nommensen menginap di sopo Ompu Tunggul, kerabat Obaja Lumbantobing (Raja Pontas). Dia diusir secara halus dengan alasan karena, pada waktu itu, sedang musim panen. Nommensen pindah ke sopo lain tetapi, tiga hari kemudian, dia diusir lagi dengan alasan yang sama. Karena mendapat perlakukan seperti ini, Raja Amandari Lumbantobing dari kampung lain mengirimkan utusan dan mempersilakan Nommensen datang ke kampungnya.

Kejadian ini membuat Obaja marah kepada Ompu Tunggul. Sebuah rumah kosong di Pearaja, yang ditinggalkan pemiliknya karena sering sakit-sakitan, dibeli oleh Nommensen melalui Raja Pontas. Banyak hambatan dihadapi Nommensen dalam pembangunan rumah ini, mulai dari para pekerja yang sering dihasut oleh raja-raja sampai tidak adanya orang yang mau menjual kayu kepadanya. Dengan rasa dongkol karena sering dihalang-halangi, akhirnya Nommensen mengundang raja-raja Silindung. Setelah mereka berkumpul, Nommensen mengeluarkan dua surat bermaterai, satu dari gubernur di Padang dan satu lagi dari residen Tapanuli di Sibolga, yang mengizinkannya bekerja di tempat itu.

Dalam pertemuan itu, Nommensen meletakkan sebuah buku tebal dihadapannya dan siap untuk mencatat nama orang-orang yang hadir. Kemudian Nommensen bertanyak kepada mereka nama masing-masing untuk dicatat dalam buku besar yang sudah tersedia. Juga kalau ada diantara mereka yang tidak setuju dengan pembangunan rumah tersebut supaya dinyatakan apa alasannya. Apakah yang kemudian terjadi?

Khawatir bahwa catatan itu akan membawa masaalah dikemudian hari, satu persatu mereka menjawab bahwa mereka tidak mempunyai nama. Mereka juga berkata bahwa mereka bukan tidak setuju dengan pembangunan rumah, akan tetapi mereka mengusulkan sesuai kebiasaan, diusulkan agar Nommensen memotong seekor kerbau untuk disantap bersama. Merasa sudah berada di atas angin, Nommensen menolak. “Pelit juga tuan ini” kata mereka bergumam.

Akhirnya, rumah selesai didirikan dan kampung yang menjadi tempat rumah itu berdiri diberi nama Huta Dame. Nama ini bermakna bahwa dari tempat inilah dimulai suatu misi yang didasarkan pada kasih. Keberhasilan Nommensen mendirikan perkampungan ini diikuti oleh keberhasilan-keberhasilannya yang lain dengan susul-menyusul. Pekerjaannya benar-benar diberkati Tuhan.

GERRIT VAN ASSELT

Parausorat, dalam sejarah perkembangan Huria Kristen Batak Protestan di Tanah Batak, adalah tempat yang bersejarah. Titik awal kristenisasi Tanah Batak, khususnya Huria Kristen Batak Protestan, dimulai dari tempat ini. Juga sekolah seminari yang pertama, didirikan oleh pendeta Schereiber. Tempat ini tidak dapat dilepaskan dari nama Gerrit van Asselt, seorang penginjil yang dikirim oleh Nederlands Bijblegenootschap, suatu yayasan yang juga pernah mengirimkan van der Tuuk ke Tanah Batak. Yayasan ini juga mengirim penginjil-penginjil ke Borneo (yang sekarang dikenal sebagai Kalimantan). Sebelum dikirim ke berbagai daerah, para penginjil ini diajarkan berbagai kepintaran, antara lain kepandaian bertukang, dengan harapan bahwa, dengan kepandaiannya ini, mereka akan memperoleh penghasilan sekaligus bekerja di ladang Tuhan. Hal yang sama juga terjadi pada van Asselt.

Sebelumnya, van Asselt bersama penginjil-penginjil lain, seperti Koster dan Dammerbur, bekerja serabutan. Koster dan Dammerbur bekerja sambilan sebagai guru, sementara Gerrit van Asselt bekerja sebagai sinder (pengawas pembuatan jalan). Sebagai sinder, dia berkenalan dengan seorang pemasok bahan-bahan dan tenaga kerja, bernama Jarumahot dengan gelar Husni bin Idris Nasution, seorang penganut agama Islam. Di antara keduanya terjalin persahabatan dan van Asselt bahwa dia adalah seorang pendeta.

Sebagai pendeta dia sedang mencari sebidang tanah yang dapat digunakan untuk membangun gereja dan rumah pendeta. Jarumahot begitu terharu mendengar cerita van Asselt ini. Karena sudah terikat persahabatan, Jarumahot menawarkan sebidang tanah kosong kepada van Asselt. Tanah yang cukup luas itu diberikan kepada van Asselt secara gratis. Ada pendapat bahwa pemberian tanah gratis ini adalah balas budi, karena Jarumahot memperoleh banyak keuntungan selama menjadi pemasok kebutuhan pembuatan jalan. Keuntungan yang diperolehnya belum sebanding dengan apa yang diberikannya kepada van Asselt.

Apapun latar belakang pemberian tanah tersebut, di tempat itu van Asselt bersujud, berdoa kepada Tuhan, mengucapkan terima kasih karena doanya telah dikabulkan. Ditempat itu dibangun gereja dan rumah pendeta. Juga didirikan sebuah sekolah dengan dinding yang terbuat dari tepas (anyaman bambu-topas). Lama-kelamaan, sekolah ini akhirnya dinamakan singkola topas, yang merupakan sekolah Kristen yang pertama di Tanah Batak. Pada awal kedatangannya setelah gagal di Barus, Nommensen sempat juga menjadi guru di singkola topas ini.

Di antara enam orang putera Jarumahot, tiga orang masuk Kristen dan tiga orang lainnya tetap menganut agama Islam. Salah seorang anak yang masuk Kristen adalah demang pertama di Toba, yang bernama Tanduk Nasution. Seorang puteranya, yang bernama Petrus Nasution, menjadi pendeta dan seorang lagi yang bernama St. Johannes Nasution menjadi sintua (penatua gereja). Dari ketiga anak yang menganut agama Islam, seorang menjadi pengusaha dan dua orang lainnya menjadi penyebar agama Islam di Angkola, yang bernama Haji Ali Nasution dan Kalifah Jamalirun Nasution. Walaupun mempunyai keyakinan yang berbeda-beda, keluarga ini tetap hidup rukun dan saling menolong.

Lalu, bagaimanakah keadaan Gereja Parausorat sekarang? Melihat perkembangan yang begitu pesat dalam institusi HKBP, adalah pantas bila HKBP menaruh perhatian akan keberadaan Gereja ini yang bila dibandingkan dengan gereja-gereja HKBP yang ada di Nusantara, keadaannya begitu menyedihkan.

HENRY LYMAN DAN SAMUEL MUNSON

Henry Lyman dan Samuel Munson adalah orang kulit putih yang datang ke Tanah Batak “hanya untuk mengantar nyawa.” Kedatangan kedua pendeta dikirim oleh American Baptist Mission (Gereja Baptis Amerika), untuk melanjutkan pekerjaan British Baptist Mission yang terbengkalai. Kedatangan kedua menambah seram cerita disekitar suku pedalaman ini yang sebelumnya telah muncul dalam buku William Marsden.

Kedua penginjil ini datang ke Tanah Batak atas permintaan Elout lewat isterinya yang mempunyai kerabat di gereja Baptist Amerika. Mereka datang hanya bermodal tekad tanpa pengetahuan bahasa dan adat kebiasaan setempat. Membayangkan bahwa Tanah Batak adalah serupa dengan praire di Amerika mereka melengkapi diri dengan senjata berburu yang dimaksudkan selain untuk jaga diri, sekaligus berburu binatang yang dapat djadikan sebagai santapan. Setelah mendarat di Sibolga, mereka berangkat ke pedalaman dengan beberapa orang penunjuk jalan dan tukang pikul barang-barang.

Sampai didekat perkampungan di Sisangkak mereka beristirahat melepas lelah. Sewaktu beristirahat ditempat yang agak jauh mereka melihat semak bergerak-gerak. Menyangka semak yang bergerak itu adalah akibat binatang buas, tanpa selidik binatang itu di tembak. Alangkah terkejutnya setelah diperiksa binatang itu adalah seorang wanita tua, yang mengintip kedua manusia aneh yang berjalan didepannya. Letusan senjata itu menggemparkan kampung Sisangkak, lalu mengusut dari mana arah datangnya suara. Lyman dan Munson, berusaha menyalamatkan nyawa wanita tua tersebut sementara penunjuk jalan dan tukang pikul barang sudah lebih dahulu melarikan diri. Peduduk memberitahu, Panggalamei ponakan wanita tua tersebut, yang kemudian datang ramai-ramai. Tembakan dari jarak dekat, menyebabkan nyawa wanita tua itu tidak terselamatkan. Lyman dan Munson tidak kuasa memberi penjelasan karena keterbatasan bahasa.

Panggalamei adalah seorang manusia trengginas. Dia ditakuti, bahkan oleh penduduk setempat. Dia gemar bermain judi, walau sering kalah dan kalau kalah dia suka mengamuk. Manusia seperti inilah yang dihadapi kedua penginjil ini yang apa boleh buat, berlakulah hutang nyawa dibayar nyawa (hosa do ali ni hosa). Keduanya dibunuh dan untuk menghilangkan jejak, mayatnya dibuang ke jurang yang dalam. Perintah untuk tidak berbicara kepada siapa pun, tentang kematian kedua orang kulit putih ini, menyebabkan penyelidik dari Amerika yang datang kemudian, menemukan penduduk yang tutup mulut. Hal ini menyebabkan bertambah seramnya cerita manusia yang hidup di pedalaman ini.

Begitu pula waktu Nommensen, mendatangi Panggalamei di Sisangkak mencoba menyelidiki kematian kedua penginjil ini. Panggalamei begitu terkejut mengira yang datang adalah hantu manusia yang dibunuhnya. Dengan alasan akan memberi tahu isterinya, Panggalamei menghilang kedalam hutan dan tidak muncul-muncul. Nommensen pun tidak mendapat keterangan apa-apa, baik dari Panggalamei maupun penduduk setempat.

FRANZ WILHELM JUNGHUHN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:17 am
Tags: , ,

Sebelum kedatangan van der Tuuk, seorang pria Belanda keturunan Jerman mengawali kariernya di Indonesia sebagai dokter militer. Pada awal kedatangannya di Indonesia, penyakit yang sering muncul ialah penyakit malaria. Setelah memperoleh bibit kina, pemerintah Belanda mempercayakan tugas kepada Junghuhn untuk mencari lahan yang sesuai sebagai tempat untuk menanam pohon tersebut. Untuk tugas yang sangat mulia ini, Junghuhn melakukan perjalanan ke pedalaman Sumatera. Perjalanannya dimulai dari pedalaman Minangkabau dan berakhir di pedalaman Tanah Batak.

Inilah awal keterlibatannya dalam bidang botani, di samping banyak menulis tentang adat-kebiasaan setempat suku-suku yang dikunjunginya (etnologi).

Dalam perjalanannya ke Tanah Batak, dia juga mendengar tentang sebuah danau yang sangat indah, tetapi keinginannya untuk mencapai danau itu hingga kepulangannya ke Batavia tidak pernah terpenuhi. Salah satu penyebabnya adalah kedatangan pasukan Tuanku Rao yang menjadikan daerah Batak Utara sangat tertutup sehingga tidak ada orang yang berani untuk menjadi penunjuk jalan bagi Junghuhn dan pengangkut barangnya ke sana.

Dalam bukunya, M.O. Parlindungan menulis bahwa, dalam perjalannya ke Tanah Batak, Junghuhn sempat bertemu dengan Raja Si Singamangaraja. Bahkan, menurutnya, Junghuhn sempat membuat foto sang raja yang filmnya ditemukan oleh Residen Poortman di perpustakaan Universitas Leipzig. Tidak dijelaskan mengapa, dalam sejumlah penerbitan, karya foto ini tidak pernah dipublikasikan. Hal ini menarik karena, hingga Raja Si Singamangaraja yang terakhir, foto raja tersebut tidak pernah ada. Lukisan Raja Si Singamangaraja XII yang kita kenal sekarang, adalah hasil reka-reka Agustin Sibarani dengan dibantu oleh Batara Lubis, beripa rangkaian wajah beberapa anggota keluarga, ditambah cerita orang yang pernah bertemu dengan beliau, salah satunya Ompu Babiat ayahanda Sitor Situmorang.

Pertemuan Junghuhn dengan Raja Si Singamangaraja, menurut M.O. Parlindungan, bahkan diiringi pertandingan minum tuak. Pertemuan itu dipastikan tidak pernah terjadi karena, apabila hal itu benar, Junghuhn pasti akan memperoleh akses untuk berkunjung ke Danau Toba. Selain itu, sepanjang yang diketahui, seluruh keturunan Raja Si Singamangaraja, tanpa peduli apa pun agamanya, bahkan hingga kini, berpantang untuk menenggak minuman keras, termasuk tuak, dan memakan daging babi, anjing, atau hewan yang dimasak dengan bercampur darah. Bahkan, konon, Raja Si Singamangaraja yang terakhir tidak pernah merokok kecuali makan sirih. Di samping air putih, minumannya adalah kopi kental tanpa gula. Data-data ini diperoleh dari keturunan Raja Si Singamangaraja.

Junghuhn melakukan banyak perjalanan di Nusantara, termasuk di Pulau Sumatera. Di tempat ini, dia banyak mengambil tanah dan juga berbagai tanaman yang diperlukan untuk penelitian. Hasil penelitiannya banyak dimanfaatkan oleh pemodal-pemodal besar yang kemudian melakukan investasi di Indonesia. Dia telah menerbitkan banyak buku, termasuk topik tentang Batak.

Di antaranya terdapat sejumlah karya yang terkenal, seperti Java Zijnegedaante, Zijn Plantengroei en Inwendige Bouw (Jawa, Wujudnya, Tumbuhannya, dan Struktur Dalamnya) dalam empat jilid. Dia juga menerbitkan peta Pulau Jawa dalam empat lembar besar dengan judul Topographische und Naturwissenchaftsliche Reischen Durch Java (Topografi dan Pengetahuan Alam di Pulau Jawa). Karya-karya inilah yang membuat dirinya lebih dikenal sebagai zoologis dan botanikus daripada sebagai dokter.

VAN DER TUUK

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 11:16 am
Tags: , ,

Van der Tuuk dikenal sebagai manusia eksentrik. Tinggi dan berat badannya berukuran super, yang menjadikannya cukup menonjol bahkan di kalangan bangsanya sendiri. Pria ini lahir di Malaka pada tahun 1824 dari seorang ayah Jerman dan ibu, yang menurut Van Der Tuuk, adalah keturunan Alfonso D’albuquerque. Van der Tuuk adalah seorang ahli bahasa Arab dan Sansekerta. Kepintarannya mempelajari bahasa menyebabkan dia dipilih oleh Kongsi Bibel (Nederlands Bijbelgenootschap) menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Batak, yang menurutnya merupakan “suatu pekerjaan yang tidak disukainya.”

Perkenalannya yang pertama dengan aksara Batak dimulai di London. Di tempat ini, dia meneliti sejumlah tulisan dari kulit kayu. Pada tahun 1849, dia bertolak ke Batavia dan selanjutnya menuju ke Padang. Dari Padang, beliau melanjutkan perjalanan menuju Barus karena tempat itu cukup memadai untuk mempelajari bahasa dan tulisan Batak. Dia juga sering pergi ke Sipirok dan Penyabungan dan di sana dia bertemu dengan Raja Lambung yang memberikan keterangan bahwa pusat kerajaan Batak ada di kampung Bakkara di pinggir Danau Toba. Juga, cerita tentang keindahan danau ini didengarnya dari Raja Lambung. Van der Tuuk belum mengenal siapa Raja Lambung dan Raja Lambung sendiri tidak pernah memberi tahu siapa dirinya.

Pada awalnya, banyak orang menduga bahwa van der Tuuk ingin mempelajari ilmu perdukunan karena hanya ilmu inilah satu-satunya yang diketahui orang Batak. Dia begitu rajin membuat catatan. Bahkan, “lidahnya juga ikut menulis,” demikian kata orang karena van der Tuuk mempunyai kebiasaan mengigit-gigit pensil. Di kalangan orang Batak, dia dikenal sebagai si balga igung karena, selain badannya, juga hidungnya berukuran besar. Akan tetapi, dia lebih dikenal sebagai Si Pandoltuk (Tukang Gebuk) karena, selain bunyi julukan mirip dengan bunyi van der tuuk, dia selalu membawa tongkat untuk mengusir hewan-hewan perliharaan orang Batak yang mendekat kepadanya. Kepada orang Batak, dia memperkenalkan diri sebagai Si Raja Tuk. Dalam bahasa Batak, kata tuk berarti mampu. Sebagaimana dia katakan sendiri, dia cukup mampu membantu orang Batak dari tipu daya orang-orang pesisir¾Padang dan Melayu¾yang berprofesi sebagai pedagang. Para pedagang ini sering memperdaya mereka dalam jual-beli. Hasil bumi dari pedalaman sering dihargai sangat murah sementara barang kebutuhan sehari-hari dijual dengan harga yang sangat tinggi. Ketika itu, cap orang Batak sebagai orang bodoh dan bebal masih sangat kental.

Untuk mempermudah dirinya berkomunikasi, dia membuka sebuah warung kecil didepan rumahnya yang, menurut sahabat yang pernah mengunjunginya, tidak lebih baik daripada kandang sapi. Bagi orang Batak yang membeli sesuatu dari warungnya, harganya sering dibuat lebih murah sehingga orang-orang Batak tertarik untuk berbelanja. Orang-orang sering heran, karena orang yang berbelanja selalu diajak mengobrol dan dia tidak lupa mencatat kata-kata yang tidak dimengertinya. Lebih mengherankan lagi, kalau ada orang yang dapat menuliskan cerita-cerita yang diketahuinya, dia berani membayarnya dengan uang yang jumlahnya lumayan besar.

Dari orang-orang Batak yang sering datang kepadanya, dia mendengar cerita tentang ‘seorang raja yang terkenal sakti,’ yang bermukim di Bakkara. Orang-orang tidak berani menatap mata raja ini dan bahkan menyebut namanya saja dianggap tabu. Hal ini mendorongnya untuk pergi ke Bakkara guna bertemu dengan raja tersebut. Kepergian itu juga didorong oleh keinginannya untuk melihat Danau Toba, yang juga dia dengar sebagai danau yang sangat indah. Keinginan kerasnya ini menyebabkan ada sangkaan bahwa van der Tuuk sebenarnya adalah Raja Lambung yang ingin menuntut haknya sebagai raja di Bakkara. Salah sangka ini pulalah yang menjadi sumber kesalahpahaman ketika van der Tuuk diterima langsung oleh Raja Si Singamangaraja di Bakkara.

Pada awalnya, van der Tuuk berharap akan tinggal lama di Bakkara. Dengan bekerja langsung di jantung Tanah Batak, dia yakin bahwa dirinya akan dapat mengerjakan tugasnya dengan lebih mudah. Namun, sayangnya, keinginannya itu tidak terwujud karena dengan terpaksa, pada suatu malam yang gelap, dia harus angkat kaki dari Bakkara. Tentang peristiwa ini, berikut ini dikutip tulisan W.A. Brassem yang dimuat dalam majalah Gema, Tahun II, November 1962:

“Soal yang kedua ialah, oleh sesuatu yang tidak jelas diketahui, orang percaya, bahwa ‘Si Pan Dor Tuk’ sebetulnya adalah putera Raja Batak, tidak kurang dari Raja Lambung sendiri. Raja Lambung ini ialah saudara yang lebih tua dari Raja Si Singamangaraja yang berkuasa pada masa itu (Raja Pendeta Gaib dari orang Batak). Pada suatu ketika, Raja Lambung ini tertawan pada suatu serangan orang-orang Melayu yang beragama Islam dari Selatan dan dibawa lari. Dialah sebetulnya yang berhak atas takhta kerajaan Raja Si Singamangaraja. Inilah sebabnya juga, ketika van der Tuuk kemudian sebagai orang Eropa yang pertama mengadakan perjalanan ke Danau Toba, dia dimusuhi oleh Raja Si Singamangaraja yang ketika itu bertakhta di Bakkara.

Sebenarnya kesalahpahaman itu juga timbul akibat kesalahan van der Tuuk. Dia sering menyebut dirinya Si Raja Tuk seperti yang biasa dia lakukan dalam memperkenalkan diri. Tuk gogo na berarti mampu untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain. Orang Batak percaya bahwa orang yang mempunyai kemampuan seperti itu hanyalah Raja Si Singamangaraja. Inilah sumber kesalahpahaman tersebut. Pengertian tuk gogo na inilah yang ditafsirkan dengan keliru. Orang Batak menduga van der Tuuk adalah Raja Lambung yang, dengan mengubah wujud aslinya, datang untuk menuntut haknya sebagai raja di Tanah Batak. Raja Si Singamangaraja yakin dengan hal itu.

Untuk mencegah terjadinya perebutan takhta, suatu rencana akhirnya disusun untuk membunuh van der Tuuk. Rencana itu ternyata bocor sehingga, di tengah malam yang gelap gulita, diam-diam van deer Tuuk meninggalkan Bakkara dengan perasaan sedih. Dia merasa sedih bukan karena apa-apa, tetapi karena tadinya dia berpikir bahwa di tempat ini dia akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Namun, akhirnya van der Tuuk dapat juga menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya dengan sangat baik. Banyak karya van der Tuuk sekarang tersimpan di perpustakaan di Belanda. Di samping terjemahan Bibel dalam Bahasa Batak, dia juga menyusun kamus bahasa Batak–Belanda dan tata-bahasa Batak yang pertama. Di samping itu, dia mengumpulkan banyak bahan tulisan, termasuk cerita-cerita rakyat dan juga aji-ajian para dukun.

Selain mempelajari bahasa Batak, van der Tuuk juga ditugaskan untuk mempelajari bahasa Lampung dan Sunda. Terakhir, dia ditugaskan untuk mempelajari bahasa Bali dan tinggal di Buleleng. Karena suka bekerja keras, walaupun usianya sudah lanjut dan hidup tidak teratur, dia akhirnya jatuh sakit. Dia dibawa ke Surabaya untuk menjalani pengobatan, tetapi sayangnya pada tanggal 16 Agustus 1894 dia meninggal dunia.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.