Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

KELOMPOK-KELOMPOK MARGA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 10:52 am
Tags: , ,

Tarombo adalah satu daftar (nama) yang memungkinkan seseorang (orang Batak) dapat diletakkan pada posisi yang tepat dalam kelompok marganya. Ke atas secara vertikal tertulis nama ayah (berikut nama saudara-saudara ayah) dan di atas nama ayah tertulis pula nama kakek (berikut nama saudara-saudara kakek) begitu seterusnya secara vertikal (sampai nama-nama leluhur). Bila ditarik secara vertikal ke atas, pada puncak yang paling tinggi tertulis nama Raja Batak. Ke samping, secara horisontal, tertulis nama-nama kerabat para leluhur dan juga kerabat kelompok marga sehingga seseorang dapat mengetahui hubungan kekerabatan antara satu kelompok marga dengan kelompok marga lain.

Tarombo adalah salah satu khasanah budaya dan bahkan “harta” orang Batak yang paling berharga. Seseorang dapat kehilangan apa saja, tetapi dia tidak boleh hilang dari tarombo. Hilang dari tarombo dianggap sama dengan kiamat. Sebagai “harta” yang paling berharga, mereka memelihara tarombo ini dengan baik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penulis tarombo yang pertama bernama W.K.H. Iypes. Semasa menjabat Asisten Residen (1917) beliau ditugasi mengadakan penelitian dalam rangka kampong vorming (penataan kampung), satu dan lain hal dimaksudkan sebagai perpanjangan tangan pemerintah penjajah di tingkat paling bawah. Agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan kepala-kepala kampung yang biasanya ditunjuk dari antara keturunan keluarga sulung. Hasilnya ialah berupa satu laporan yang sangat tebal dan karena isinya dianggap penting kemudian pada tahun 1922 dijadikan buku dengan judul Bijdrage tot de Kennis van de Stamvert wantschappen, en het Grondenrecht der Toba en Dairibataks. .

Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk dapat digunakan oleh para ambtenar yang menyusul kemudian dan juga menjadi bahan acuan untuk para demang/asisten demang dalam penyelesaian sengketa marga yang menyangkut hak-hak ulayat atas tanah milik adat. Waktu Iypes memulai pekerjaannya, orang Batak telah terbagi ke dalam banyak kelompok marga sehingga dirasa perlu untuk mencatatnya, mengelompokkannya, dan memberikan urutan sesuai dengan nomor kelahirannya. Hal ini terutama dimaksudkan agar diketahui dengan jelas, marga-marga apa saja yang ada disatu kampung (huta) dan marga apa yang menjadi pendirinya (si pungka huta). Dari antara turunan “si pungka huta,” di cari keturunan sulung, yang akan diusulkan sebagai calon kepala kampung.

Akan tetapi walaupun adat Batak mengakui sahala sihahaan, (hak khusus anak sulung), tidak secara otomatis kepemimpinan itu jatuh ke tangannya, karena ada kemungkinan justru anak yang kedua atau bahkan yang bungsu yang mewarisi kepemimpinan tersebut. Dimunculkanlah istilah anak si patujoloon, (anak yang di ke depankan). Anak si patujoloon, sebenarnya adalah kiat pemerintah untuk mencari orang yang dapat dipercaya dan menyatakan kesetiaannya kepada pemerintah penjajah. Untuk mencegah timbulnya resistensi dari pemuka adat atau masyarakat, diadakanlah pemilihan (kijzing). Orang yang memperoleh suara terbanyak, ditetapkan sebagai kepala kampung dengan besluit dari pemerintah.

Namun, tujuan utamanya sesungguhnya adalah untuk menghindarkan munculnya perlawanan rakyat yang masih tetap dilanjutkan oleh para pengikut dan pendukung Raja Si Singamangaraja XII. Masih banyak pengikut Raja Sisingamangaraja yang terus melakukan perlawanan yang merepotkan pemerintah. Jadi pemilihan raja-raja kecil ini adalah untuk meredam munculnya perlawanan rakyat tersebut. Biasanya, kepada pengikut setia ini diberi gaji dan kepada keturunannya diberikan berbagai kemudahan, terutama dalam mengikuti pendidikan sampai pendidikan tinggi.

Tulisan Iypes mengilhami penulis-penulis pribumi yang lain. Mereka umumnya adalah demang yang, karena tugasnya, banyak berhubungan dengan penyelesaian sengketa adat yang begitu marak sebagai akibat diperkenalkannya sistem peradilan yang baru. Penulis tarombo pertama adalah Waldemar Hutagalung, dengan judul Pustaha Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak (1926), yang banyak mengacu pada laporan Iypes. Menyusul M. Salomo Pasaribu dengan judul Tarombo ni Borbor Morsada (1929), . yang mengkhususkan pada silsilah turunan Guru Tatea Bulan. Kedua buku ini dicetak di Christeliyk Drukkeriy Laguboti.

Kemudian seorang guru H.B. Siahaan, yang lebih dikenal dengan gelar Mangaraja Asal, menerbitkan buku dengan judul Tarombo ni T.S. Dibanua dicetak pertama seksali di Laguboti (1940), kemudian pada tahun 1962 (cetakan kedua), dicetak di Perc. Philemon bin Harun Medan. Buku ini berisi daftar nama yang sangat panjang, mulai dari Sibagot Nipohan sampai generasi Mangaraja Asal Siahaan. (Buku ini tidak sesuai dengan judulnya, karena hanya memuat turunan Sibagot Nipohan –pen)

Pada tahun 1961, Wasinton Hutagalung, masih pensiunan demang, menulis buku yang berjudul Tarombo Marga ni Suku Batak. Wasinton Hutagalung menulis buku ini dalam bahasa Batak yang begitu indah. Beliau mengaku bahwa buku tersebut mengacu pada tulisan W.K.H. Iypes, penulis asing pertama. Salah satu yang menarik dari tulisan beliau ialah apa yang dia katakan pada awal bukunya:

Namangalitoki partubu do hu hilala molo nidok ompu i na madekdek sian langit manang na mapultak sian bulu. Ndang na so adong ringkot ni angka mythen nian, ai sian i do dapot tandaon isara ni parpingkiran ni sada-sada bangso nahinan, alai anggo sian tarombo tama do i tarbatas: mythen ma na mythen, sintuhu ma na sintuhu.”

Kata-kata Wasinton dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:

Menyatakan leluhur sebagai manusia yang turun dari langit atau melompat dari bambu adalah sama dengan mengaburkan asal-usul keturunan. Mitologi memang memiliki makna karena dari mitologi kita dapat menyelami cara berpikir suatu bangsa pada suatu zaman. Akan tetapi, dalam penulisan tarombo harus dibatasi dengan tegas mana yang termasuk mitologi dan mana yang termasuk fakta.”

Sesuatu yang sangat menarik dalam buku ini ialah upaya beliau untuk menetapkan satu kelompok marga dalam graad atau sundut (generasi), sesuatu yang tidak dilakukan oleh penulis terdahulu. Dalam bukunya Wasinton menempatkan Raja Batak pada graad pertama dan kemudian disusul oleh Tatea Bulan dan Isumbaon dalam graad kedua. Menyusul kemudian turunan masing-masing dalam graad yang ke tiga, seperti Limbong, Sagala dan Malau turunan Tatea Bulan dan Tuan Sori Mangaraja turunan Isumbaon. Dengan penetapan graad atau sundut ini, dapat diketahui kemunculan suatu marga pada graad yang ke berapa sejak Raja Batak. Sebagai contoh, kita ambil keturunan Silahi Sabungan, yang muncul pada graad ke empat dan kemudian pada generasi kelima sudah terdiri atas tujuh marga yaitu: Sihaloho, Situngkir, Rumasondi, Sinabutar, Sinabariba, Sinebang, Pintubatu dan Tambunan. Namun, sesudahnya muncul pula marga-marga baru dalam kelompok mereka, sehingga kalau semula dalam kelompok Silahi Sabungan hanya terdapat tujuh marga, sekarang telah berkembang menjadi lebih dari dua puluh marga. Timbulnya marga baru sebagai pecahan marga induk dapat diketahui dari buku Wasinton Hutagalung.

Selain itu, ada juga buku tarombo yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh Richard Sinaga. Buku yang berjudul Leluhur Marga-marga Batak dalam Sejarah, Silsilah, dan Legenda tersebut diterbitkan oleh Dian Utama di Jakarta pada tahun 1996. Walaupun tidak disebutkan, buku ini mengacu pada tulisan-tulisan penulis tarombo sebelumnya. Karena ditulis dalam bahasa Indonesia, buku itu dapat membantu orang-orang Batak, yang lahir dan dibesarkan di perantauan yang tidak lagi menggunakan bahasa Batak untuk memahami tarombo Batak. Yang menarik dalam buku tersebut ialah keberanian Richard untuk memasukkan suku Nias dalam rumpun suku Batak.

“Orang Nias”, kata Richard, adalah “keturunan anak ketiga Si Raja Batak yang bernama Ompu Toga Laut.” Rekaan ini muncul, mungkin karena nama toga diimbuhi oleh “laut” sehingga Richard menduga bahwa Nias adalah rumpun Batak keturunan Toga Laut. Argumentasinya, antara lain, adalah bahwa, di samping mempunyai marga dan kebetulan menganut agama Kristen yang juga dianut oleh orang-orang yang bermukim di Tanah Batak Utara, suku Nias mempunyai kebiasaan yang sama dengan suku Batak dalam hal makanan, khususnya daging babi. Alasan-alasan inilah yang dikemukakan sehingga suku Nias digolongkan dalam rumpun suku Batak. Tentu saja, pendapat ini masih perlu diperdebatkan karena, dilihat dari segi fisik maupun dari segi budaya dan bahasa dan marga, upaya memasukkan suku Nias dalam rumpun Suku Batak masih merupakan tindakan yang terlalu sumir.

Kalau dibandingkan dengan suku-suku lain yang ada di Sumatera, suku Nias berjumlah kecil. Selama berabad-abad mereka menjadi korban penjarahan para bajak laut. Selain harta bendanya dikuras habis, banyak di antara mereka dijadikan sebagai tawanan dan diperjualbelikan sebagai budak. Tari-tarian mereka yang bernafaskan perang merupakan manifestasi kehidupan mereka yang tidak terlepas dari kilatan tombak dan pedang. Apabila mereka melarikan diri ke dalam hutan, batu-batu besar dan tinggi tidak pernah menjadi penghalang.

Keadaan seperti ini menjadi salah satu faktor mengapa suku Nias selalu mengikat tali persahabatan dengan suku-suku tetangganya. Hubungan mereka dengan suku Batak, khususnya orang-orang dari Tanah Batak Utara, dipererat oleh persamaan keyakinan, yaitu sama-sama menganut agama Kristen. Secara kebetulan pula kedua kelompok ini mempunyai kebiasaan yang sama dalam menu makanan, yaitu kegemaran memakan daging babi. Namun, kesamaan-kesamaan ini bukan merupakan alasan untuk menyatakan suku Nias sebagai bagian dari rumpun suku Batak.

Kita kembali ke tarombo. Penulisan tarombo ini, sejak ditulis pertama sekali, selalu menimbulkan kontroversi, terutama menyangkut siapa yang sulung di antara satu kelompok. Hal itu terjadi dalam hampir seluruh kelompok marga. Karena tidak ada data yang dapat dijadikan sebagai acuan, mereka bertahan dengan apa yang diketahuinya. Ada faktor yang menyebabkan hal itu terjadi dan umumnya menyangkut orang-orang yang leluhurnya mempunyai isteri lebih dari satu. Karena tidak mempunyai anak laki-laki, atas desakan keluarga, leluhur tersebut kawin lagi dan dari isterinya lahir beberapa anak dan setelah beberapa lama, isteri pertama melahirkan se

orang anak laki-laki. Dalam hal seperti ini akan timbul pertanyaan: Siapakah di antara mereka sebagai anak sulung? Apakah anak isteri pertama yang lahir belakangan atau anak isteri kedua yang lebih dahulu lahir.

Ada juga masalah yang lebih pelik. Seorang janda yang sudah mempunyai beberapa orang anak, karena berbagai sebab, kemudian dijadikan sebagai isteri oleh mertuanya yang sudah balu (menduda karena isterinya meninggal). Dari menantu yang sudah menjanda ini lahir pula anak. Dengan demikian muncul persoalan: Apakah anak-anak janda yang lebih dulu lahir akan memanggil adik kepada anak yang lahir belakangan karena mereka mempunyai ibu yang sama atau apakah mereka akan memanggil bapa uda (bapak yang lebih muda) kepada anak tersebut karena dia adalah anak kakeknya, dengan demikian adik ayah mereka sendiri. Hal seperti inilah yang sering menimbulkan pertikaian yang tidak ada putusnya dalam menentukan kedudukan seseorang dalam hubungan kekeluargaan. Penyelesaian kasus seperti ini tidak pernah ada dan buku tarombo pun tidak pernah mencatatnya.

Sering juga ditemukan hubungan satu marga di antara dua marga atau lebih yang tidak didasarkan pada hubungan darah, melainkan pada hubungan perjanjian. Hubungan seperti ini lazim disebut sebagai kelompok dongan sapadan, sebagaimana terjadi antara Borbor dan Limbong, Sagala dan Lauraja. Banyak marga terlibat dalam ikatan dongan sapadan ini, seperti di kalangan marga keturunan Partano Naiborngin, yaitu Sibarani dan Sibuea. Di antara marga Sibuea dan Panjaitan terjadi hubungan persaudaraan yang didasarkan pada padan. Walaupun Sibuea adalah adik kandung Sibarani, Sibarani sendiri tidak terikat dengan padan tersebut. Hubungan persaudaraan hanya terbatas antara marga Sibuea dan Panjaitan. Apabila disusun, akan diperoleh suatu daftar yang cukup panjang tentang hubungan marga yang diikat oleh padan, sebut saja padan antara Tampubolon dengan Silalahi dan Sitompul, atau Hutagaol dan Aruan, dan atau Hutahaean dan Sitorus. Ikatan padan ini sampai sekarang masih diakui dan tetap berlaku karena telah difatwakan leluhur masing-masing.

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.