Sadarsibarani’s Weblog

October 28, 2008

PENDATANG EROPA KE TANAH BATAK

Filed under: Uncategorized — rajabatak2 @ 11:10 am
Tags: , , ,

S

ir Thomas Stamford Raffles adalah orang Eropa pertama yang berkunjung ke pedalaman Tanah Batak dan berhasil menginjakkan kakinya pinggir pantai Danau Toba. Sebelumnya, Charles Miller dan Giles Holloway, telah lebih dahulu berupaya untuk masuk ke pedalaman tersebut, tetapi tidak berhasil. Catatan kedua orang inilah yang dijadikan sebagai bagian dari buku William Marsden yang berjudul The History of Sumatra yang didalamnya terdapat tulisan tentang “suku di pedalaman yang masih kanibal.” Suku inilah yang kemudian dikenal sebagai orang Batak.

Dalam sejumlah tulisan yang menyangkut Tanah Batak, tidak seorang penulis pun menyebutkan bahwa Raffles adalah orang pertama yang berhasil menginjakkan kakinya di pinggiran danau ini. Mulai dari Brassem, yang merupakan pengagum van deer Tuuk, sampai penulis sekaliber Sitor Situmorang, semua mengklaim bahwa van der Tuuk adalah orang kulit putih yang pertama kali menginjakkan kaki di pinggir danau itu. Tulisan Brasseem dimuat dalam majalah Gema, Tahun II, November 1962, dan tulisan Sitor Situmorang dimuat dalam buku Somalaing Pardede dan Modigliani. Walaupun M.O. Parlindungan dalam bukunya banyak menyebut nama Raffles tetapi hanya sebatas keinginannya untuk menjadikan Tanah Batak sebagai daerah peyangga (wig policy) antara Minangkabau dan Aceh yang beragama Islam.

Nama Raffles seharusnya mendapat porsi yang memadai khususnya dalam penulisan tentang kristenisasi Tanah Batak. Alasannya ialah karena setelah Raffles mengadakan satu kunjungan ke pedalaman Tanah Batak dia kemudian berkirim surat kepada teman-temannya di Inggeris, agar penginjil-penginjil kristen dikirim kesana. Raffles berhasil karena akhirnya dua orang pendeta, Burton dan Ward, datang walaupun ternyata kemudian keduanya terpaksa angkat kaki akibat perjanjian antara Inggeris dan Belanda yang dikenal dengan Traktat London.

Banyak kontroversi sekitar kegagalan kedua penginjil ini dalam melakukan missinya di Tanah Batak. Nommensen sendiri menganggap Burton gagal karena keterbatasan bahasa, sehingga salah dalam menafsirkan Injil. Hal ini menyebabkan orang Batak menolak kedatangannya. Sementara itu, M.O. Parlindungan sendiri mempunyai pendapat lain. Menurutnya, kegagalan Burton dan Ward terjadi karena epidemi kolera yang pada waktu itu masih berjangkit di Tanah Batak Utara, sementara H. Moh. Said mengatakan kegagalan itu karena dari awal orang Batak telah tidak senang terhadap simata putih (si bontar mata).

Untuk dapat memberikan penilaian yang jujur, marilah kita mengikuti sejarah keberadaan Raffles di Indonesia dan khususya mengenai kedatangannya ke pedalaman Tanah Batak. Untuk itu, dalam buku ini kami sengaja memuat sekelumit memoar Raffles khususnya tentang kunjungannya ke Tanah Batak, agar kita dapat melihat benih pertumbuhan iman Kristen tersebut secara jernih. Memoar itu menjadi penting karena banyak hal terungkap di dalamnya, termasuk keberadaan pasukan Paderi di Tanah Batak. Karena itu, di bawah ini akan dikutip penggalan memoar tersebut, sebagaimana dimuat dalam buku The Restless Warrior, karya Richard Mann:

“. . . He sailed from Calcutta in the Indiana, in February 1820.

Looking out from the ship, over the empty expanse of ocean, give him an empty feeling inside. ‘Was I too optimistic after the death of Colonel Bannerman?’ he asked himself. ‘Was I too impetuous in rushing to Calcutta?’ As the Indiana its way back to Sumatera, Raffles was dogged by the feeling that he was coming home empty handed.

Off the coast of Sumatera, north of Nias, the Indiana sailed into the Mentawai Strait, a strecth of water dividing the mainland from of a chain of offshore islands. At the entrance to the strait, far north of Padang, at Poncan Island the Company had a small post and Raffles decided to pause there to recover from crossing the choppy Bay of Bengal and also to try to see something of the Batak country inland.

Travellers had stopped here from time immemorial and the coast was littered with the remains of the first Eroupean explorers, the Portuguese. William Marsden had sparked his interest in the people who lived in the part of Sumatera by his descriptions of them as cannibals.

Landing first at Poncan Island, Raffles meet the British Resident, John Prince, and explained his purpose. Prince agreed to provide guides and porters for Raffles to make the journey inland to the mountain home of the Batak people. Beaching their boats at the village of Sibolga, Prince negotiated for porters and horses from the local people. While Mary Anne and little Charles stayed at Prince’s house, the Resident, Raffles, Dr. William Jack and Captain Flint set out into the interior, the Europeans and guides riding, and the porters walking. Prince said that the journey was about two hundred kilometers, once again, up and the beautiful but rugged Barisan Mountains.

In addition to cannibalism, the Bataks had a warlike reputation, but their chiefs received Raffles warmly and discovered the cannibalism was only as a punishment for crime. Still, it was used and wrote letters, filled with suitable horror, home the friends in England. As he had experienced upon arrival at the homeland plateau of the Minangkabau, here, too, Raffles found the soil rich and many gardens of carefully tended fruit and vegetables. He found the Bataks very darks skinned and, from what he was told of their history and the stone remains he saw, he felt sure that they originated either in India proper or in the nothern region arround Burma or Thailand.

Their homes were most spectacular, built on stilts, with each end of the roof rising up from a saddle in the middle and decorated plentifully with buffalo horns. Anthropology aside, he found Lake Toba, a huge mountain-locked expanse of water at the heart of the Batak homelands, one of the most beautiful lakes he had ever seen. “It was worth coming here just to see this,” he sighed looking out over the island dotted lake. “Utterly magnificent . . .”

Diterjemahkan dengan bebas:

“. . . Dengan kapal Indiana, Raffles berlayar meninggalkan Calcutta pada bulan Februari 1820. Ketika memandang ke laut lepas, dia merasakan kekosongan dalam hatinya. ‘Apakah aku terlalu optimistik dengan kematian Kolonel Bannerman?’ ia bertanya dalam hati. ‘Apakah aku terlalu tergesa-gesa pergi ke Calcutta?’ Ketika Indiana makin mendekati Sumatera, makin terasakan bahwa dia pulang dengan tangan hampa.

Di lepas pantai Sumatera, di sebelah utara Pulau Nias, kapal Indiana memasuki Selat Mentawai, hamparan laut yang memisahkan daratan Sumatera dengan rangkaian pulau-pulau lepas pantai. Di jalur masuk ke selat itu, di ujung utara Padang, di Pulau Poncan, Inggris mempunyai kantor kecil dan Raffles memutuskan untuk beristirahat di sana guna memulihkan diri dari rasa lelah akibat hantaman ombak yang dahsyat, sewaktu melintasi Teluk Benggala, selain itu untuk melihat-lihat negeri orang Batak di daratan.

Dari dulu telah banyak pelancong berhenti di sini dan pantai tersebut dipenuhi dengan sisa-sisa para penjelajah Eropa. William Marsden, penjelajah pertama Portugis, telah menimbulkan minat dalam dirinya tentang orang-orang yang tinggal di pedalaman Pulau Sumatera karena ia menggambarkan mereka sebagai kanibal.

Setelah mendarat di Pulau Poncan, Raffles bertemu dengan Residen John Prince dan mengutarakan maksudnya. Prince setuju menyediakan penunjuk jalan dan pembawa barang yang akan menyertai Raffles dalam perjalanannya ke Tanah Batak. Setelah perahu-perahu mereka mendarat di Sibolga, Prince menawar orang-orang setempat untuk mendapatkan pembawa barang dan kuda.

Sementara Mary Anne dan Charles yang masih kecil tinggal di rumah, Residen Prince, Raffles, Dr. William Jack dan Kapten Flint berjalan ke pedalaman. Orang-orang Eropa dan penunjuk jalan tersebut naik kuda dan para pembawa barang berjalan kaki. Prince mengatakan perjalanan tersebut berjarak kurang-lebih 200 kilo meter, naik-turun gunung yang indah namun terjal di rangkaian Bukit Barisan.

Selain dikenal sebagai ‘kanibal’ orang Batak juga dikenal sebagai orang yang suka berperang, tetapi para kepala sukunya menerima Raffles dengan penuh kehangatan. Raffles akhirnya tahu bahwa ‘kanibalisme’ itu hanya diberlakukan sebagai hukuman bagi penjahat. Tetapi memang betul hal itu masih diberlakukan dan dia menulis surat-surat dan dilengkapi cerita-cerita seram tentang hal itu kepada teman-temannya di Inggris.

Seperti yang dia amati di dataran tinggi yang menjadi kediaman orang Minangkabau, tanah di bukit ini pun tampak subur dan ditanami dengan buah dan sayuran yang dirawat dengan baik. Dilihatnya orang Batak berkulit gelap dan dari sejarah dan sisa-sisa patung batu yang ditemukannya, dia yakin bahwa mereka berasal dari India atau wilayah utara Burma atau Thailand.

Rumah-rumah mereka tampak sangat mengagumkan, yang dibangun di atas tiang-tiang sehingga tidak menyentuh tanah dan atapnya mendongak tegak ditengahnya layaknya pelana kuda, penuh ukiran yang indah dengan tanduk kerbau. Dia juga melihat Danau Toba, suatu hamparan luas yang dikelilingi pegunungan di jantung Tanah Batak, sebagai salah satu danau terindah yang pernah dilihatnya. “Melihat ini saja rasanya sudah tidak rugi,” desahnya sambil melihat keindahan danau yang berisikan pulau tersebut. “Sungguh menakjubkan . . .”

Dari catatan perjalanan ini, kita memperoleh dua hal penting. Pertama, segera setelah Raffles mengunjungi Tanah Batak, dia banyak berkirim surat kepada teman-temannya di Inggris. Salah satu di antaranya dikirim pada tanggal 12 Februari 1820 kepada Duchess of Sommerset. Dia berceritera tentang kunjungannya ke pedalaman Tanah Batak yang, menurut Marsden, masih “kanibal,” tentang rajanya yang disebutnya “Singah Maha Raja,” tentang kepercayaannya yang “supranatural.” Raffles meminta agar dikirimkan penginjil ke Tanah Batak. Duchess of Sommerset sendiri dikenal dekat dengan petinggi gereja karena ia banyak memberikan sumbangan kepada gereja.

Surat tersebut ternyata membuahkan hasil. Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua orang penginjil yaitu Richard Burton dan Nathaniel Ward untuk bekerja di Tanah Batak. Sebelum angkat kaki dari Tanah Batak, Burton pernah memberikan laporan kepada Jhon Prins tentang tewasnya “Singah Maha Raja,” raja orang Batak yang menurutnya meninggal karena “kebodohannya” sendiri. Para penginjil tersebut menjalankan tugasnya dengan baik dan sering disambut dengan upacara adat. Akan tetapi, sejak Traktat London ditanda tangani, yang yang mengharuskan Inggeris angkat kaki dari P. Sumatera dan karena Burton dan Ward dianggap adalah bahagian dari Raffles, kedua penginjil ini pun harus meninggalkan Tanah Batak walaupun mereka hanya penginjil biasa.

Kedua, terdapat catatan waktu yang menarik perhatian karena tampak perbedaan antara tahun yang tertulis dalam memoar Raffles dan tahun yang tertulis dalam buku M.O. Parlindungan Siregar. Di satu pihak, tarikh yang dituliskan oleh M.O. Parlindungan menyebutkan bahwa selama dua tahun, dari tahun 1818 sampai 1820, pasukan Paderi melakukan penyerangan dan pembumihangusan di Tanah Batak Utara. Di pihak lain, jika kita perhatikan memoar di atas, tertulis dengan jelas bahwa, pada bulan Februari 1820, Raffles melihat “rumah-rumah yang dibangun di atas tiang-tiang sehingga tidak menyentuh tanah dan atapnya mendongak tegak dan ditengahnya seperti pelana kuda, penuh ukiran yang dihiasi tanduk kerbau.”

Dengan demikian, bilamana kita menyimak memoar itu dan membandingkannya dengan tulisan M.O. Parlindungan, akan timbul pertanyaan: Apakah Raffles salah lihat atau catatan yang diperoleh M.O. Parlindungan tidak sahih ?

MANGHUNTAL SINAMBELA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 10:55 am
Tags: , ,

RAJA SI SINGAMANGARAJA I

Sudah sejak lama, sejak tewasnya R. Sori Mangaraja III dalam perang melawan Aceh, orang Batak hidup tanpa kehadiran seorang pemimpin. Tidak ada satu orangpun pemimpin yang dapat dijadikan panutan yang punya kewibawaan yang dapat memberikan satu putusan yang adil, bilamana terjadi satu silang sengketa. Tidak ada, yang oleh orang Batak dikatakan sebagai pamuro so mantat sior, parmahan so mantat batahi, si tiop dasing pamonoran, tu ginjang so ra mungkit-tu toru so ra monggal, gambaran dari satu pribadi pemimpin yang adil dan bijaksana.

Tidak adanya pemimpin ini menyebabkan masing-masing kelompok marga mengangkat rajanya sendiri yang dikenal dengan raja mar opat, yaitu 4 orang pemimpin yang diambil dari tetua marga masing-masing. Mereka inilah (yang di aku sebagai raja) bertindak menetapkan berbagai hal dalam kelompoknya, termasuk menyelesaikan silang sengketa. Akan tetapi otoritas mereka sangat terbatas, yaitu hanya dalam kelompok marga mereka sendiri. Hal inilah yang terjadi sampai di tabalkannya Manghuntal Sinambela sebagai raja orang Batak pertama dengan gelar Raja Sisingamangaraja.

Sejak ditabalkan sebagai raja, banyak cerita yang berkembang sekitar raja ini. Cerita-cerita yang menyelimuti dirinya, sejak masih dalam kandungan, masa remaja sampai pada masa kepemimpinannya yang mau tidak mau menyebabkan orang ber-decak kagum. Menurut cerita orang-orang tua, konon dia sering menyamar sebagai orangtua renta, meminta segelas air atau sesuap nasi kepada penduduk. Hal ini dilakukan karena sering terjadi, bila beliau melewati sebuah tempat, penduduk sudah lebih dahulu melepas orang-orang yang terpasung, bahkan melepas burung yang ada dalam sangkar, karena beliau sangat tidak senang melihat mahluk yang ter-aniaya. Kharismanya yang begitu besar, menyebabkan orang tidak berani bertatap pandang dengannya, bahkan untuk menyebut namanya, seseorang harus meminta ma’af lebih dahulu.

Cerita-cerita seperti inilah yang berkembang ditengah masyarakat, sehingga tidak heran, bila seorang Jend. Maraden Panggabean dalam otobiografinya menyatakan kekagumannya akan raja ini, walau beliau hanya mendengar cerita tentang raja ini dari ayahanda dan para orang tua. Dan bagaimana pula cerita tentang R. Sisingamangaraja XII yang bernama Patuan Bosar ? Inilah pengakuan C.B. Tampubolon yang lebih dikenal dengan Oppu Boksa II, ayahanda Ir. G.M. Tampubolon pendiri Institut Teknology Indonesia (ITI).

Pada waktu saya kecil”, demikian cerita Op.Boksa II yang kala itu telah berumur 82 tahun, “saya bermain-main di pasar Balige. Karena hari pekan, suasana pasar begitu ramai. Tiba-tiba suasana menjadi hening, ibarat jarum jatuh pun akan kedengaran. Saya heran lalu dengan susah payah saya menyelinap ingin tahu apa yang terjadi. Jalan di sekitar pasar kosong, sementara di kedua sisi jalan banyak orang berdiri, menatap ke kejauhan. Dari jauh saya melihat seorang penunggang kuda yang berjalan perlahan. Begitu dia lewat, pasar kembali ramai. Saya mencoba bertanya siapa orang tersebut. Tidak ada yang menjawab. Belakangan saya tahu bahwa yang lewat itu adalah Raja Sisingamangaraja”. Itulah cerita C.B. Tampubolon kepada saya pada tahun 1984.

Munculnya cerita-cerita tentang raja ini bukan tanpa sebab. Bila merunut pada silsilahnya dari marga Sinambela, adalah tidak mungkin dia diakui sebagai raja. Hal ini terutama karena hingga kini, sahala sihahaan (hak anak sulung) masih kental dalam masyarakat Batak. Sementara clan Sinambela adalah turunan bungsu, (anak ke 4) dari turunan Tuan Sorba Dibanua. Bila mengacu pada silsilah tersebut, munculnya Manghuntal sebagai raja, memang satu hal yang mencengangkan. Pasti ada sesuatu yang istimewa atas pemuda yang satu ini, sehingga dia diakui sebagai raja. Dari sinilah cerita-cerita diatas ber awal.

Adniel Lumbantobing sendiri, penulis pertama yang menulis riwayat raja ini, dalam awal tulisannya, merasa perlu memohon maaf dan mengucapkan sejumlah mantra yang bertujuan agar dia tidak dapat kutukan dari sahala raja tersebut. Dan bila memperhatikan pengucapan tonggo-tonggo (mantra) pada awal tulisannya, seolah ada rasa takut dalam dirinya, bila menuliskan sesuatu yang tidak benar mengenai raja tersebut.

Setelah kata-kata mantra, cerita dilanjutkan sekitar kelahiran sang raja. Dimulai dengan kehamilan ibundanya yang sudah lama ditinggal pergi oleh suaminya Raja Bona ni Onan, tanpa diberi nafkah lahir maupun bathin. “Suatu ketika, setelah lelah bekerja di sawah”, demikian menurut Adniel Tobing, “ibu yang malang ini pergi mandi ke sebuah sungai di tengah hutan (harangan sulu-sulu). Dari tempat inilah kehamilannya berawal, konon, tanpa melakukan hubungan badan dengan seorang lelaki”.

Cerita berlanjut dengan masa kehamilan yang sampai mencapai 17 bulan, menyebabkan banyak orang terheran-heran. Begitu pula ketika si anak lahir, telah mempunyai gigi yang lengkap dan, konon, lidahnya berbulu. Selain itu, pada masa kanak-kanaknya, beliau telah banyak melakukan hal-hal yang menakjubkan, termasuk berbagai mukjizat. Hal-hal seperti itu banyak diceriterakan dalam buku tersebut. Dan aneh memang, diantara sejumlah buku karya penulis orang Batak, buku ini mempunyai rekord tersendiri sebagai buku yang paling banyak di cetak ulang. Banyak buku yang diterbitkan tentang raja ini, mulai dari yang ditulis oleh A. Sibarani, atau H. Moh. Said atau O. L. Napitupulu dan bahkan oleh Prof. DR. W.B Sijabat, diterbitkan hanya sekali dan sesudah itu dilupakan orang.

Akan tetapi diantara seluruh tulisan yang saya baca, tidak satupun yang menulis, tentang siapa sebenarnya Manghuntal dan bagaimana sepak terjangnya hingga diakui sebagai raja. Tulisan singkat ini memuat hal itu, karena kemunculannya sebagai raja membawa akibat yang sangat parah bagi penduduk di Tanah Batak Utara, yaitu perang dengan pasukan Paderi yang dipimpin seorang kerabatnya bernama Pongki Nangolngolan.

Sebelum menjadi raja Batak, dia bernama kecil Manghuntal bermarga Sinambela. Pada masa remajanya, dia telah menunjukkan bakat-bakat kepemimpinan yang luar biasa. Di samping pintar berbicara, dia juga adalah seorang pemberani. Pada masa remajanya, Balige adalah pusat negeri Toba. Pada waktu-waktu yang sebelumnya disepakati, di tempat ini berkumpul para “raja” dari seluruh wilayah tetangga dimana mereka membicarakan banyak hal. Pada waktu mereka berkumpul, banyak pedagang yang datang kesana, menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Balige yang juga berfungsi sebagai kota pelabuhan menjadi sangat ramai.

Akan tetapi, sering terjadi, ketika para pedagang melakukan perjalanan ke Balige, banyak di antara pedagang ini tidak sampai di tempat. Kalaupun mereka sampai, perahu yang mereka tumpangi sudah kosong karena dibajak di tengah danau oleh sekelompok orang dibawah pimpinan Togar Natigor gelar Porhas, yang menjadi pemimpin “bajak danau” di perairan Balige. Dia adalah manusia yang paling ditakuti karena kemampuannya menyerang lawan dengan tiba-tiba. Si korban dapat kehilangan nyawa tanpa menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Hal inilah penyebab mengapa orang yang mati tiba-tiba, dikatakan di soro porhas (direnggut porhas) suatu perumpamaan yang mengisi perbendaharan bahasa Batak.

Ulah Porhas ini sangat mengganggu wibawa keturunan Sibagot Nipohan, yang pada masa itu telah diakui sebagai penguasa di Onan Raja Balige. Berkali-kali mereka mendatangi Porhas di Muara dan meminta agar dia tidak mengulangi perbuatannya, akan tetapi dia tidak pernah ambil pusing. Celakanya lagi, mereka balik di ancam untuk tidak campur tangan. Karena ulah Porhas tersebut, keturunan Sibagot Nipohan berupaya untuk menghimpun saudara-saudara mereka dari keturunan Sorba Dibanua. Mereka yakin bahwa, kalau mereka bersatu, Porhas akan dapat ditaklukkan.

Untuk maksud tersebut, pertama-tama mereka mendatangi keturunan Paittua di Laguboti. Walaupun merasa prihatin dengan apa yang terjadi, keturunan Paittua menjawab, “Semuanya bergantung pada saudara yang lain. Kalau mereka sepakat, kami juga akan sepakat.” Demikian kata turunan Paittua. Akan tetapi, sebagaimana ternyata kemudian, keturunan Paittua tidak pernah muncul di Balige sehingga mereka dikatakan sebagai orang na paet lagu. Inilah awal dari nama Paittua berubah menjadi Paettua atau Sipaettua dan nama kampungnya diberi nama lagu-lagu boti (Laguboti).

Jawaban yang sama diterima pada waktu keturunan Sibagot Nipohan mengunjungi turunan Sabungan di Silalahi Nabolak. Karena tidak menerima jawaban yang memuaskan, seorang keturunan Sabungan yang ditemukan sedang menggembala dibujuk dan dinaikkan ke perahu. Anak ini kemudian dibawa ke tempat turunan Oloan di Siogung-ogung [1].

Melihat anak remaja tersebut yang dikenal sebagai keturunan Sabungan, keturunan Oloan menyambut mereka dengan hangat dan yakin bahwa saudaranya dari turunan Sabungan akan hadir. Rasa rindu karena sudah lama berpisah menyebabkan mereka menyambut tamunya dengan rasa gembira.

Tiba hari yang telah ditentukan, keturunan Oloan hadir di Onan Raja Balige. Mereka disambut lebih hangat lagi. Walau mereka merasa tidak enak karena ketidakhadiran saudara-saudara mereka yang lain¾keturunan Paittua dan keturunan Sabungan¾penyambutan yang begitu luar biasa menyebabkan mereka sungkan untuk mundur. Pada acara marsisungkunan (mempertanyakan maksud pertemuan), keturunan Sibagot Nipohan mengutarakan ancaman yang dilakukan Porhas Siregar. Keturunan Sibagot Nipohan mengusulkan agar mereka secara bersama-sama menghadapi ancaman ini.

Turunan Oloan merasa serba salah. Memberikan jawaban “ya” tidak mungkin, karena mereka telah terikat sumpah untuk tidak mencampuri urusan Sibagot Nipohan. (baca: hal 87 pen.) Memberikan jawaban “tidak” juga tidak mungkin karena sambutan yang begitu bersahabat. Karena itu, untuk menolak, secara halus mereka mengajukan syarat yang, menurut mereka, tidak mungkin akan dipenuhi. Syarat tersebut ialah bahwa, kalau Porhas takluk mereka diakui sebagai raja.

Mengherankan, walaupun syarat itu bertentangan dengan adat kekeluargaan orang Batak ( dan hal itu sengaja dikemukakan dengan maksud agar ditolak) semua turunan Sibagot Nipohan menyatakan persetujuannya. Turunan Oloan menjadi serba salah. Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa, apabila Porhas dapat ditaklukkan, walaupun keturunan Oloan adalah anggi di partubu, hak sebagai raja (haha di harajaon) akan diberikan kepada mereka, yang menurut adat Batak sangat tidak lazim.

Jalan untuk mundur bagi keturunan Siraja Oloan pun sudah tidak ada lagi. Waktu mereka pulang, hal itu menjadi bahan pembicaraan. Baho, keturunan sulung dari Oloan, berbicara kepada adik-adiknya dengan berandai-andai: Sekiranya Porhas dapat ditaklukkan, siapakah yang menjadi Raja? Mereka serempak menjawab, “Ba ho Raja” (“Silakan, engkau menjadi raja”). Inilah awal dari nenek moyang marga Naibaho, sebagai keturunan sulung, diberi gelar Baho Raja.

Tiba waktu yang sudah disepakati, keturunan Oloan, dengan sejumlah perahu dan sampan, melancarkan penyerangan ke Muara. Penyerangan tersebut dilakukan keturunan Oloan dari arah Nainggolan, sedangkan keturunan Sibagot Nipohan melakukan penyerangan dari arah Balige. Menghadapi serangan dari dua arah, pasukan Porhas akhirnya kewalahan. Mereka mundur ke Muara dengan maksud melakukan perlawanan di darat. Sesampai di darat, Manghuntal bersama beberapa pengawalnya telah menunggu sambil bersila di tengah halaman. Porhas sangat terkejut karena tidak menduga Manghuntal sudah ada di sana.

Manghuntal mempersilakan Porhas duduk di atas tikar yang sudah digelar. Pasukan Oloan dan Sibagot Nipohan yang mengejar dari danau juga tidak percaya. Mereka menunggu apa yang bakal terjadi. Ternyata Manghuntal dan Porhas melakukan perundingan. Lewat perundingan, akhirnya dicapai kesepakatan: Mereka berdua, Porhas dan Manghuntal, akan bertarung sampai titik darah penghabisan. Apabila salah satu kalah, pasukannya dipersilakan untuk meninggalkan tempat dan tidak seorang pun boleh dilukai. Porhas menerima tantangan ini dan yakin akan memenangkan pertarungan dengan mudah, apalagi, orang yang dihadapi adalah pemuda yang masih bau kencur.

Pertarungan pun dimulai dengan disaksikan pasukan kedua belah pihak. Kedua petarung itu dengan kepintarannya masing-masing beradu kuat. Pertarungan kedua jagoan berlangsung lama, akan tetapi karena masih muda Manghuntal menang tenaga. Walaupun Porhas menang pengalaman, sepertinya tidak ada artinya berhadapan dengan Manghuntal yang masih muda. Porhas akhirnya tewas lebih banyak karena kehabisan tenaga.

Melihat kenyataan ini, nyali pasukan Porhas pun ciut. Mereka menyerah, lalu seluruhnya digiring ke sebuah tempat, yang sekarang dikenal dengan nama Lobu Siregar. Dari tempat ini kemudian mereka diusir, tanpa bekal.

Mereka hidup menggelandang. Semula mereka menuju Humbang akan tetapi disana mereka dihadang oleh marga Sihombing. Begitu pula waktu mereka menuju Pahae dihadang oleh marga Sitompul. Dalam perjalanan yang memakan waktu yang lama sebelum tiba di Sipirok yang waktu itu merupakan tanah kosong tidak berpenghuni, kadang kala mereka hanya memakan umbi alang-alang (ri) atau daun pakis (pahu). Sebagai peringatan akan penderitaan yang mereka alami, anak-anak yang lahir dalam perjalanan dinamakan Siregar Ri dan Siregar Pahu.

Penderitaan inilah yang mengakibatkan mereka menaruh dendam terhadap keturunan Sorba Dibanua. Kemudian hari, kesempatan untuk membalaskan dendam muncul, pada waktu pasukan Tuanku Rao datang ke Mandailing. Pasukan dipimpin seorang kerabat dekat R. Si Singamangaraja bernama Pokki Nangolngolan yang juga mempunyai dendam dengan penduduk di Tanah Batak Utara.

Sementara itu, Baho, si anak sulung, menuntut turunan Sibagot Nipohan untuk memenuhi kesepakatan. Turunan Sibagot Nipohan tahu persis bahwa orang yang mempunyai banyak andil dalam perang tersebut adalah Manghuntal. Sibagot Nipohan sepertinya tidak rela apabila hak raja yang mereka sandang berpindah tangan kepada Baho. Karena itu, keturunan Sibagot Nipohan berkelit dengan alasan bahwa, sesuai dengan pesan leluhur mereka yang juga merupakan leluhur Oloan¾Tuan Sori Mangaraja¾hak sebagai raja hanya dapat diberikan kepada siapa pun yang dapat mengembalikan barang pusaka leluhur mereka yang sudah lama hilang.(baca: hal 68 pen). Diingatkan dengan pesan leluhur ini, Baho pun terdiam dan sebaliknya pula turunan Sibagot Nipohan merasa nyaman karena hak sebagai raja ijolo tidak berpindah tangan.

Akan tetapi tidak demikian bagi Manghuntal. Alasan tersebut baginya seperti alasan yang dicari-cari. Benar fatwa itu ada, akan tetapi mengapa hal itu tidak dikemukakan waktu mereka bersepakat ? Karena itu dia bertekad untuk mencari barang pusaka tersebut dan akan mengembalikannya kepada yang berhak. Dalam pencarian barang pusaka inilah kembali Manghuntal memegang peranan, yang menyebabkan dirinya mau tidak mau harus diakui sebagai raja. Dia melakukan petualangan ke Barus dimana dia bertemu dengan keturunan Raja Uti. Dalam menghadapi pemuda pintar dan digdaya ini, tidak ada jalan bagi keturunan Raja Uti selain mengembalikan barang pusaka tersebut. Apalagi, sebelum meninggal, leluhur mereka telah berpesan untuk mengembalikan barang pusaka tersebut kepada orang yang berhak. Tentang pengembalian barang pusaka itu sendiri, dmuka telah kita kemukakan ada 2 versi, versi van Dijk dan versi M. Salomo Pasaribu.

Penemuan kembali barang pusaka tersebut, menyebabkan seluruh turunan Tuan Sori Mangaraja sepakat untuk menjadikan Manghuntal Sinambela menjadi raja. Penabalan ini diakui juga oleh kelompok marga lain, yang turut hadir, sehingga tersirat pengakuan Manghuntal sebagai Raja Batak. Penobatan Manghuntal sebagai raja dilakukan di Onan Raja Balige dengan dihadiri hampir seluruh kelompok marga Batak. Kepadanya diberikan gelar Raja Si Singamangaraja. Sumpah anggi di partubu, haha di harajaon menyebabkan keturunan Manghuntal secara turun-temurun diakui sebagai penerus Raja Si Singamangaraja. Raja Si Singamangaraja yang terakhir bernama Patuan Bosar dengan gelar Ompu Pulo Batu, yang tewas dalam perang melawan penjajah Belanda.

Bahwa Raja Si Singamangaraja mempunyai banyak keistimewaan, diakui banyak orang. Alis matanya yang lebat menyebabkan sorot matanya seolah-olah dapat menembus uluhati orang yang menatapnya. Sorot mata ini menyebabkan siapa pun tidak berani beradu pandang dengannya. Apabila ada orang yang mencoba berkata bohong, mulutnya akan terkatup rapat dan kakinya akan gemetaran.

Satu hal yang tidak disukainya ialah melihat orang yang diperbudak. Banyak orang yang dipasung terpaksa dia tebus dengan uangnya sendiri. Karena begitu banyak orang yang harus ditebus, dia pernah jatuh miskin dan meminta pinjaman uang dari bibinya yang kawin dengan Ompu Palti Raja. Bosan karena sering dipinjami uang, bibinya marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Karena amarah yang berlebihan, tekanan darahnya pun naik sampai ke ubun-ubun dan akibatnya bibinya tiba-tiba lumpuh dan tidak dapat berbicara. Kejadian inilah yang sering dihubungkan dengan kesaktian Raja Sisingamangaraja. Takut kejadian seperti itu akan terulang, dia memerintahkan agar segala utang judi diselesaikan di tempat. Artinya, tidak seorang pun boleh dipasung hanya karena utang judi. Sejak itu, apabila Raja Sisingamangaraja lewat di suatu tempat, mereka akan buru-buru melepaskan orang yang terpasung.

Zeentgraaf, seorang jurnalis Belanda, memberikan kesaksian tentang peran Si Singamangaraja bagi rakyat pada masa kesulitan. Dalam Java Bode, Zeentgraaf pernah menulis, “Si Singamangaraja was voor de Bataks de grote weldooner, omdat hij veelerlei zegeningen kon brengen aan zijn volk, dat omhem riep in tijden van nood.” Artinya, “Si Singamangaraja adalah seorang yang besar jasanya bagi rakyatnya karena dia dapat memberikan kebahagiaan pada masa kesukaran.” Masa kesukaran adalah suatu masa ketika terjadi musim kemarau panjang. Pada saat seperti ini, rakyat meminta pertolongan kepada beliau. Beliau kemudian berdoa (martonggo) kepada Mulajadi Nabolon dan meminta agar hujan diturunkan. Beliau dipercayai sebagai orang na siat marpangidoan tu Mulajadi Nabolon. Artinya, doa beliau kepada Tuhannya selalu dikabulkan. Upacara meminta hujan iturun adalah salah satu ujian bagi pengganti pendahulunya, selain menarik piso gaja dompak dari sarungnya. Ini adalah salah satu kelebihan raja-raja penerus, dibandingkan dengan manusia biasa.

Si Singamangaraja adalah priester koning atau raja imam, yang dihormati karena kelebihannya. Seorang intelektual Batak, Dr. F.J. Nainggolan, memberikan analogi yang tepat dalam hal ini. Dalam majalah Parsaoran, beliau menulis, “Allen een figuur, de ene slechts, werd het wel algameen vereerd, en afgodisch vereerd, de figuur van Si Singamangaraja. Geen Batak van ouden stempel, die niet met heilig onzagt de naam Si Singamangaraja, die voor de Batak was gelijk de Pausen in de middle eewen voor de volkeren in Europa.” Artinya, “Si Singamangaraja adalah satu-satunya tokoh yang umumnya diabdi dan dipuja dengan segala kemuliaan. Tidak ada seorang pun suku Batak pada zaman itu yang tidak dengan khidmat menyebut namanya. Bagi orang Batak, kedudukannya adalah sama dengan paus pada abad pertengahan bagi penduduk Eropa.”

Mengumpamakan Raja Si Singamangaraja layaknya seorang paus adalah analogi yang tepat. Itu terjadi karena Raja Si Singamangaraja bukanlah seorang raja dalam pengertian yang sebenarnya. Beliau tidak mempunyai angkatan bersenjata, tidak mengenakan pajak atau upeti yang harus dibayarkan kepadanya, dan tidak mempunyai pembantu (kawula) seperti layaknya raja-raja di Jawa. Kebesaran Raja Si Singamangaraja tumbuh dengan sendirinya sehingga, ketika menyebut namanya, orang-orang selalu mendahuluinya dengan ucapan: Santabi saribu hali santabi di sangap ni Ompui, Raja Si Singa Mangaraja. Dalam adat masyarakat Batak, ompui adalah gelar tertinggi dan dahulu, inilah yang diberikan kepada Raja Si Singamangaraja.

Itulah pengakuan F.J. Nainggolan, salah seorang intelektual Batak, yang pada zaman itu yang jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari. Beliau menikah dengan seorang wanita kulit putih dan salah seorang anaknya bernama W.F. Nainggolan atau lebih dikenal dengan nama Boyke. Boyke Nainggolan adalah perwira TT-I/Bukit Barisan, dengan pangkat terakhir mayor, dan pernah belajar di General Staff and Command College di Forth Leavenworth, Amerika Serikat.


[1] Anak itu kemudian oleh Sapalatua dianggap sebagai adik dan diberi nama Raja Parmahan. Inilah awal ikatan persaudaraan antara Tampubolon dan Silalahi.

KELOMPOK-KELOMPOK MARGA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 10:52 am
Tags: , ,

Tarombo adalah satu daftar (nama) yang memungkinkan seseorang (orang Batak) dapat diletakkan pada posisi yang tepat dalam kelompok marganya. Ke atas secara vertikal tertulis nama ayah (berikut nama saudara-saudara ayah) dan di atas nama ayah tertulis pula nama kakek (berikut nama saudara-saudara kakek) begitu seterusnya secara vertikal (sampai nama-nama leluhur). Bila ditarik secara vertikal ke atas, pada puncak yang paling tinggi tertulis nama Raja Batak. Ke samping, secara horisontal, tertulis nama-nama kerabat para leluhur dan juga kerabat kelompok marga sehingga seseorang dapat mengetahui hubungan kekerabatan antara satu kelompok marga dengan kelompok marga lain.

Tarombo adalah salah satu khasanah budaya dan bahkan “harta” orang Batak yang paling berharga. Seseorang dapat kehilangan apa saja, tetapi dia tidak boleh hilang dari tarombo. Hilang dari tarombo dianggap sama dengan kiamat. Sebagai “harta” yang paling berharga, mereka memelihara tarombo ini dengan baik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penulis tarombo yang pertama bernama W.K.H. Iypes. Semasa menjabat Asisten Residen (1917) beliau ditugasi mengadakan penelitian dalam rangka kampong vorming (penataan kampung), satu dan lain hal dimaksudkan sebagai perpanjangan tangan pemerintah penjajah di tingkat paling bawah. Agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan kepala-kepala kampung yang biasanya ditunjuk dari antara keturunan keluarga sulung. Hasilnya ialah berupa satu laporan yang sangat tebal dan karena isinya dianggap penting kemudian pada tahun 1922 dijadikan buku dengan judul Bijdrage tot de Kennis van de Stamvert wantschappen, en het Grondenrecht der Toba en Dairibataks. .

Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk dapat digunakan oleh para ambtenar yang menyusul kemudian dan juga menjadi bahan acuan untuk para demang/asisten demang dalam penyelesaian sengketa marga yang menyangkut hak-hak ulayat atas tanah milik adat. Waktu Iypes memulai pekerjaannya, orang Batak telah terbagi ke dalam banyak kelompok marga sehingga dirasa perlu untuk mencatatnya, mengelompokkannya, dan memberikan urutan sesuai dengan nomor kelahirannya. Hal ini terutama dimaksudkan agar diketahui dengan jelas, marga-marga apa saja yang ada disatu kampung (huta) dan marga apa yang menjadi pendirinya (si pungka huta). Dari antara turunan “si pungka huta,” di cari keturunan sulung, yang akan diusulkan sebagai calon kepala kampung.

Akan tetapi walaupun adat Batak mengakui sahala sihahaan, (hak khusus anak sulung), tidak secara otomatis kepemimpinan itu jatuh ke tangannya, karena ada kemungkinan justru anak yang kedua atau bahkan yang bungsu yang mewarisi kepemimpinan tersebut. Dimunculkanlah istilah anak si patujoloon, (anak yang di ke depankan). Anak si patujoloon, sebenarnya adalah kiat pemerintah untuk mencari orang yang dapat dipercaya dan menyatakan kesetiaannya kepada pemerintah penjajah. Untuk mencegah timbulnya resistensi dari pemuka adat atau masyarakat, diadakanlah pemilihan (kijzing). Orang yang memperoleh suara terbanyak, ditetapkan sebagai kepala kampung dengan besluit dari pemerintah.

Namun, tujuan utamanya sesungguhnya adalah untuk menghindarkan munculnya perlawanan rakyat yang masih tetap dilanjutkan oleh para pengikut dan pendukung Raja Si Singamangaraja XII. Masih banyak pengikut Raja Sisingamangaraja yang terus melakukan perlawanan yang merepotkan pemerintah. Jadi pemilihan raja-raja kecil ini adalah untuk meredam munculnya perlawanan rakyat tersebut. Biasanya, kepada pengikut setia ini diberi gaji dan kepada keturunannya diberikan berbagai kemudahan, terutama dalam mengikuti pendidikan sampai pendidikan tinggi.

Tulisan Iypes mengilhami penulis-penulis pribumi yang lain. Mereka umumnya adalah demang yang, karena tugasnya, banyak berhubungan dengan penyelesaian sengketa adat yang begitu marak sebagai akibat diperkenalkannya sistem peradilan yang baru. Penulis tarombo pertama adalah Waldemar Hutagalung, dengan judul Pustaha Batak: Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak (1926), yang banyak mengacu pada laporan Iypes. Menyusul M. Salomo Pasaribu dengan judul Tarombo ni Borbor Morsada (1929), . yang mengkhususkan pada silsilah turunan Guru Tatea Bulan. Kedua buku ini dicetak di Christeliyk Drukkeriy Laguboti.

Kemudian seorang guru H.B. Siahaan, yang lebih dikenal dengan gelar Mangaraja Asal, menerbitkan buku dengan judul Tarombo ni T.S. Dibanua dicetak pertama seksali di Laguboti (1940), kemudian pada tahun 1962 (cetakan kedua), dicetak di Perc. Philemon bin Harun Medan. Buku ini berisi daftar nama yang sangat panjang, mulai dari Sibagot Nipohan sampai generasi Mangaraja Asal Siahaan. (Buku ini tidak sesuai dengan judulnya, karena hanya memuat turunan Sibagot Nipohan –pen)

Pada tahun 1961, Wasinton Hutagalung, masih pensiunan demang, menulis buku yang berjudul Tarombo Marga ni Suku Batak. Wasinton Hutagalung menulis buku ini dalam bahasa Batak yang begitu indah. Beliau mengaku bahwa buku tersebut mengacu pada tulisan W.K.H. Iypes, penulis asing pertama. Salah satu yang menarik dari tulisan beliau ialah apa yang dia katakan pada awal bukunya:

Namangalitoki partubu do hu hilala molo nidok ompu i na madekdek sian langit manang na mapultak sian bulu. Ndang na so adong ringkot ni angka mythen nian, ai sian i do dapot tandaon isara ni parpingkiran ni sada-sada bangso nahinan, alai anggo sian tarombo tama do i tarbatas: mythen ma na mythen, sintuhu ma na sintuhu.”

Kata-kata Wasinton dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:

Menyatakan leluhur sebagai manusia yang turun dari langit atau melompat dari bambu adalah sama dengan mengaburkan asal-usul keturunan. Mitologi memang memiliki makna karena dari mitologi kita dapat menyelami cara berpikir suatu bangsa pada suatu zaman. Akan tetapi, dalam penulisan tarombo harus dibatasi dengan tegas mana yang termasuk mitologi dan mana yang termasuk fakta.”

Sesuatu yang sangat menarik dalam buku ini ialah upaya beliau untuk menetapkan satu kelompok marga dalam graad atau sundut (generasi), sesuatu yang tidak dilakukan oleh penulis terdahulu. Dalam bukunya Wasinton menempatkan Raja Batak pada graad pertama dan kemudian disusul oleh Tatea Bulan dan Isumbaon dalam graad kedua. Menyusul kemudian turunan masing-masing dalam graad yang ke tiga, seperti Limbong, Sagala dan Malau turunan Tatea Bulan dan Tuan Sori Mangaraja turunan Isumbaon. Dengan penetapan graad atau sundut ini, dapat diketahui kemunculan suatu marga pada graad yang ke berapa sejak Raja Batak. Sebagai contoh, kita ambil keturunan Silahi Sabungan, yang muncul pada graad ke empat dan kemudian pada generasi kelima sudah terdiri atas tujuh marga yaitu: Sihaloho, Situngkir, Rumasondi, Sinabutar, Sinabariba, Sinebang, Pintubatu dan Tambunan. Namun, sesudahnya muncul pula marga-marga baru dalam kelompok mereka, sehingga kalau semula dalam kelompok Silahi Sabungan hanya terdapat tujuh marga, sekarang telah berkembang menjadi lebih dari dua puluh marga. Timbulnya marga baru sebagai pecahan marga induk dapat diketahui dari buku Wasinton Hutagalung.

Selain itu, ada juga buku tarombo yang ditulis dalam bahasa Indonesia oleh Richard Sinaga. Buku yang berjudul Leluhur Marga-marga Batak dalam Sejarah, Silsilah, dan Legenda tersebut diterbitkan oleh Dian Utama di Jakarta pada tahun 1996. Walaupun tidak disebutkan, buku ini mengacu pada tulisan-tulisan penulis tarombo sebelumnya. Karena ditulis dalam bahasa Indonesia, buku itu dapat membantu orang-orang Batak, yang lahir dan dibesarkan di perantauan yang tidak lagi menggunakan bahasa Batak untuk memahami tarombo Batak. Yang menarik dalam buku tersebut ialah keberanian Richard untuk memasukkan suku Nias dalam rumpun suku Batak.

“Orang Nias”, kata Richard, adalah “keturunan anak ketiga Si Raja Batak yang bernama Ompu Toga Laut.” Rekaan ini muncul, mungkin karena nama toga diimbuhi oleh “laut” sehingga Richard menduga bahwa Nias adalah rumpun Batak keturunan Toga Laut. Argumentasinya, antara lain, adalah bahwa, di samping mempunyai marga dan kebetulan menganut agama Kristen yang juga dianut oleh orang-orang yang bermukim di Tanah Batak Utara, suku Nias mempunyai kebiasaan yang sama dengan suku Batak dalam hal makanan, khususnya daging babi. Alasan-alasan inilah yang dikemukakan sehingga suku Nias digolongkan dalam rumpun suku Batak. Tentu saja, pendapat ini masih perlu diperdebatkan karena, dilihat dari segi fisik maupun dari segi budaya dan bahasa dan marga, upaya memasukkan suku Nias dalam rumpun Suku Batak masih merupakan tindakan yang terlalu sumir.

Kalau dibandingkan dengan suku-suku lain yang ada di Sumatera, suku Nias berjumlah kecil. Selama berabad-abad mereka menjadi korban penjarahan para bajak laut. Selain harta bendanya dikuras habis, banyak di antara mereka dijadikan sebagai tawanan dan diperjualbelikan sebagai budak. Tari-tarian mereka yang bernafaskan perang merupakan manifestasi kehidupan mereka yang tidak terlepas dari kilatan tombak dan pedang. Apabila mereka melarikan diri ke dalam hutan, batu-batu besar dan tinggi tidak pernah menjadi penghalang.

Keadaan seperti ini menjadi salah satu faktor mengapa suku Nias selalu mengikat tali persahabatan dengan suku-suku tetangganya. Hubungan mereka dengan suku Batak, khususnya orang-orang dari Tanah Batak Utara, dipererat oleh persamaan keyakinan, yaitu sama-sama menganut agama Kristen. Secara kebetulan pula kedua kelompok ini mempunyai kebiasaan yang sama dalam menu makanan, yaitu kegemaran memakan daging babi. Namun, kesamaan-kesamaan ini bukan merupakan alasan untuk menyatakan suku Nias sebagai bagian dari rumpun suku Batak.

Kita kembali ke tarombo. Penulisan tarombo ini, sejak ditulis pertama sekali, selalu menimbulkan kontroversi, terutama menyangkut siapa yang sulung di antara satu kelompok. Hal itu terjadi dalam hampir seluruh kelompok marga. Karena tidak ada data yang dapat dijadikan sebagai acuan, mereka bertahan dengan apa yang diketahuinya. Ada faktor yang menyebabkan hal itu terjadi dan umumnya menyangkut orang-orang yang leluhurnya mempunyai isteri lebih dari satu. Karena tidak mempunyai anak laki-laki, atas desakan keluarga, leluhur tersebut kawin lagi dan dari isterinya lahir beberapa anak dan setelah beberapa lama, isteri pertama melahirkan se

orang anak laki-laki. Dalam hal seperti ini akan timbul pertanyaan: Siapakah di antara mereka sebagai anak sulung? Apakah anak isteri pertama yang lahir belakangan atau anak isteri kedua yang lebih dahulu lahir.

Ada juga masalah yang lebih pelik. Seorang janda yang sudah mempunyai beberapa orang anak, karena berbagai sebab, kemudian dijadikan sebagai isteri oleh mertuanya yang sudah balu (menduda karena isterinya meninggal). Dari menantu yang sudah menjanda ini lahir pula anak. Dengan demikian muncul persoalan: Apakah anak-anak janda yang lebih dulu lahir akan memanggil adik kepada anak yang lahir belakangan karena mereka mempunyai ibu yang sama atau apakah mereka akan memanggil bapa uda (bapak yang lebih muda) kepada anak tersebut karena dia adalah anak kakeknya, dengan demikian adik ayah mereka sendiri. Hal seperti inilah yang sering menimbulkan pertikaian yang tidak ada putusnya dalam menentukan kedudukan seseorang dalam hubungan kekeluargaan. Penyelesaian kasus seperti ini tidak pernah ada dan buku tarombo pun tidak pernah mencatatnya.

Sering juga ditemukan hubungan satu marga di antara dua marga atau lebih yang tidak didasarkan pada hubungan darah, melainkan pada hubungan perjanjian. Hubungan seperti ini lazim disebut sebagai kelompok dongan sapadan, sebagaimana terjadi antara Borbor dan Limbong, Sagala dan Lauraja. Banyak marga terlibat dalam ikatan dongan sapadan ini, seperti di kalangan marga keturunan Partano Naiborngin, yaitu Sibarani dan Sibuea. Di antara marga Sibuea dan Panjaitan terjadi hubungan persaudaraan yang didasarkan pada padan. Walaupun Sibuea adalah adik kandung Sibarani, Sibarani sendiri tidak terikat dengan padan tersebut. Hubungan persaudaraan hanya terbatas antara marga Sibuea dan Panjaitan. Apabila disusun, akan diperoleh suatu daftar yang cukup panjang tentang hubungan marga yang diikat oleh padan, sebut saja padan antara Tampubolon dengan Silalahi dan Sitompul, atau Hutagaol dan Aruan, dan atau Hutahaean dan Sitorus. Ikatan padan ini sampai sekarang masih diakui dan tetap berlaku karena telah difatwakan leluhur masing-masing.

KISAH SILAHI SABUNGAN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 10:50 am
Tags: , ,

Sabungan tinggal cukup lama bersama adiknya, Oloan, di Siogung-ogung (Pangururan-Samosir). Setelah dia merasa adiknya sudah dapat berdiri sendiri, Sabungan akhirnya pergi berkelana sampai akhirnya dia tiba di suatu tempat yang sangat indah, Paropo, di pinggir sebuah danau Toba yang sampai sekarang masih mempunyai nama sendiri Tao Silalahi. Karena tertarik dengan keindahannya, dia memilihnya sebagai tempat untuk bermukim. Ketekunannya bekerja menarik perhatian seorang pengembara yang kebetulan lewat dan datang memperkenalkan diri. Walaupun pada awalnya mereka sulit berkomunikasi karena bahasa keduanya sedikit berbeda, karena sering bertemu, akhirnya mereka dapat saling mengerti dan pembicaraan pun berjalan dengan lancar.

Pengembara tadi merasa prihatin melihat Sabungan masih hidup dalam kesendirian. Dengan sedikit malu-malu, pengembara tersebut menawarkan kepada Sabungan untuk menjalin suatu hubungan kekeluargaan. Dia bercerita tentang iboto-nya yang berjumlah tujuh orang. “Kalau engkau mau, engkau tinggal memilih,” demikian si pengembara menawarkan. Ternyata, Sabungan tertarik dengan tawaran itu. Dia akhirnya mengikuti ajakan si pengembara untuk melihat gadis-gadis tersebut. Setiba di kampung si pengembara, Sabungan tertegun melihat kecantikan ketujuh gadis itu.

Karena semuanya tampak sama-sama cantik, sulit baginya untuk menentukan pilihan. Akhirnya, Sabungan mendapat suatu akal. Dia meminta ketujuh gadis itu menyeberangi suatu sungai kecil satu per satu. Dia akhirnya memilih seorang di antara mereka, yaitu gadis yang menyeberang tanpa mengangkat kain penutup tubuhnya. Gadis itulah yang kemudian dijadikannya sebagai isteri. Pilihan Sabungan ternyata cukup tepat karena, dari isterinya ini, Sabungan memperoleh banyak anak. Dengan kelahiran anak-anaknya ini, pupus sudah anggapan orang yang selama ini meragukan kelaki-lakian Sabungan. Keraguan ini muncul karena Sabungan tidak kawin dalam tempo yang cukup lama.

Karena cukup lama tidak berumah tangga, orang menganggapnya bukan laki-laki sejati. Akhirnya, setelah dia mengawini wanita pilihannya dan memperoleh banyak anak, anggapan itu pupus dengan sendirinya. Sabungan benar-benar adalah lalahi (lelaki). Sesuai dengan kebiasaan orang Batak, nama pengganti ini lebih populer daripada nama aslinya. Sejak itu, nama lengkapnya berubah menjadi Silalahi Sabungan atau Silahi Sabungan. Ada banyak cerita yang berkembang tentang Silahi Sabungan ini. Salah satu di antaranya ialah cerita tentang bagaimana dia diperdaya oleh Raja Mangatur dari keturunan Sorba Dijae.

Konon, ke wilayah Patane di Onan Porsea datang seorang jagoan yang bernama Rahat Bulu. Nama ini adalah pemberian orang karena, siapa pun berurusan dengan Rahat Bulu (buluh yang sangat gatal), dia pasti celaka. Raja Mangatur merasa gerah dengan kehadiran orang ini dan berpikir keras bagaimana cara untuk menyingkirkannya. Sementara itu, berita tentang kehebatan Sabungan telah lama didengar oleh Raja Mangatur. Karena itu, dia berkeinginan untuk mengikat hubungan persaudaraan dengan Sabungan dengan maksud, bila sesuatu terjadi dengan Rahat Bulu yang suka mencari setori, Sabungan akan dilibatkan. Akan tetapi, dia tidak mengetahui caranya karena Sabungan telah mempunyai isteri dan anak. Untuk itu, dia mencari akal dengan mengatakan bahwa anak gadisnya sedang jatuh sakit dan hanya dapat sembuh apabila diobati oleh Sabungan. Sabungan berhasil dibujuk dan pergi mengikuti Raja Mangatur ke kampung-halamannya.

Begitu diobati oleh Sabungan, gadis itu pun sembuh. Akan tetapi, begitu dia ditinggal oleh Sabungan, penyakitnya kambuh lagi. Hal itu terjadi berulang-ulang. Agar penyakitnya benar-benar sembuh, diambil kesepakatan bahwa anak gadis itu harus dikawinkan dengan Sabungan. Walaupun usia keduanya terpaut jauh, karena alasan kemanusiaan, Sabungan akhirnya setuju.

Dari isterinya yang masih muda ini, Sabungan memperoleh seorang anak laki-laki yang rupawan dan diberinya nama Tambun.

Suatu waktu pada hari pekan, dengan bangga anak tersebut dibawa oleh ibunya mangebang ke pasar. Rahat Bulu kebetulan melihat anak kecil yang rupawan itu, lalu merampasnya dari gendongan ibunya. Dia mengatakan bahwa anak tersebut adalah anaknya sendiri sebagai hasil hubungan gelapnya dengan ibu muda tadi. Sudah tentu, hal ini di protes ibu muda itu karena dia sama sekali tidak mengenal lelaki ini. Akan tetapi, apa pun yang dikemukakan ibu muda tersebut, Rahat Bulu tetap mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya. Peristiwa itu dilaporkan kepada Sabungan. Sabungan datang ke pasar dan mencoba untuk menjelaskan bahwa anak tersebut adalah anaknya. Rahat Bulu tetap bersikeras dan mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak hasil hubungan gelapnya dengan wanita muda tersebut.

Untuk jalan keluar, diambil kesepakatan, untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, keduanya secara bergantian diminta untuk memasuki sebuah batang (peti mati terbuat dari sebatang pohon kayu besar; di belah dua, sebagian untuk tempat mayat dengan cara menoreh lobang untuk tempat mayat dan sebagian dijadikan sebagai tutup). Sebelum keduanya secara bergantian memasuki peti mati, Sabungan bertanya pada banyak orang yang hadir: ‘Porsea do hamu sude ?” (Apakah kalian percaya ?) Hadirin serentak menjawab: “Porsea … Porsea”. (percaya… percaya). Karena kedua belah pihak sudah setuju, begitu pula orang-orang yang menyaksikannya, maka dicarilah sebuah batang. Setelahnya sang ibu muda tadi dipersilahkan masuk lebih dahulu, lalu keluar dengan tidak kurang suatu apa pun.

Orang yang melihat pun ber sorak sorai. Rahat Bulu kemudian menyusul dan dengan rasa yakin akan bisa keluar dari peti mati itu dengan selamat. Akan tetapi, begitu dia masuk dan menelentangkan diri, peti mati itu langsung tertutup rapat. Segala upaya dilakukan baik oleh keluarganya yang turut menyaksikan, peti mati itu tetap saja tidak dapat dibuka. Peti mati itu kemudian diterbangkan oleh Sabungan ke Dolok Simanuk-manuk dan Rahat Bulu, konon, menjadi hantu pengganggu di sana. Konon inilah asal mula nama Onan Porsea dekat Patane tempat raja-raja berkumpul.

Karena khawatir akan terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan, anak kecil ini kemudian dibawa ke Paropo. Pada awalnya, anak itu ditaruh di suatu tempat yang tersembunyi. Sabungan tidak ingin kehadiran anak kecil ini akan membawa persoalan baru mengganggu kerukunan dalam rumah tangganya. Akan tetapi, bagaimana pun pintarnya Sabungan menyembunyikan si anak kecil ini, rahasianya akhirnya terbongkar.

Hal ini diawali dengan seringnya Sabungan menyisakan makanannya dan membawanya ke tempat yang tidak diketahui isterinya. Kelakuan ini terasa aneh bagi isterinya yang memintanya untuk berterus terang, untuk siapa makanan tersebut disembunyikan. Akhirnya, Sabungan berceritera perihal kepergiannya ke tempat Raja Mangatur dan perkawinannya dengan puterinya yang menghasilkan anak kecil tersebut. Dia juga menceritakan peristiwa yang menimpa si anak sehingga, demi keselamatannya, dia terpaksa dibawa ke kampung-halamannya sendiri. Hati isterinya terenyuh dan dapat menerima hal ini sebagai suatu kenyataan. Dia akhirnya bertekad akan menganggap anak kecil itu sebagai putera bungsunya dan memeliharanya sebagai anak sendiri.

Hal itu dikemukakan kepada anak-anaknya dan ternyata tidak seorang pun merasa keberatan. Mereka sepakat untuk menerimanya sebagai adik bungsu. Untuk memperteguh kesepakatan ini, si ibu mengumpulkan anak-anaknya dan mereka secara bersama-sama memakan sejenis makanan yang dikenal dengan sagu-sagu mallangan. Makan bersama inilah yang belakangan dikenang oleh keturunan Silahi Sabungan dengan sumpah “Sagu-sagu Mallangan,” suatu sumpah yang mengakui Tambunan sebagai adik bungsu dalam keluarga Silahi Sabungan.

Dan marga Tambunan hingga saat ini merasa lebih nyaman dalam kelompok marga SILAHI SABUNGAN, hingga merasa tidak perlu membentuk persatuan dalam kelompok marga sendiri.

PERPECAHAN KETURUNAN SORBA DIBANUA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 10:48 am
Tags: , ,

1. Munculnya Kelompok Sobu, Sumba dan Pospos

Pada awalnya, Sorba Dibanua mempunyai seorang isteri. Dalam buku-buku tarombo dikatakan bahwa, dari isterinya Anting Malela, dia memperoleh lima anak: Sibagot Nipohan, Paittua, Silahi Sabungan, Siraja Oloan, dan Juara (Huta Lima). Dapat dikatakan bahwa, dari segi keturunan, Sorba Dibanua adalah orang na gabe karena ukuran hagabeon dalam adat Batak adalah keturunan yang banyak.

Bila dari segi hagabeon ini, tidak ada alasan bagi Tuan Sorba Dibanua untuk kawin lagi. Menurut adat, hanyalah apabila seseorang tidak mempunyai keturunan laki-laki dibenarkan kawin. Akan tetapi, walau Sorba Dibanua punya banyak anak, dia kawin lagi dan hal ini menjadi penyebab hubungan antara isteri pertama bersama anak-anaknya di satu pihak dan isteri kedua bersama anak-anaknya di pihak lain menjadi renggang.

Ada cerita yang berkembang tentang perkawinan ini. Suatu ketika, Tuan Sorba Dibanua jatuh sakit. Berbagai ramuan telah diminum, tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh. Kemudian, isterinya memanggil namboru-nya yang berprofesi sebagai sibaso. Sibaso adalah tukang urut yang membantu seorang ibu pada waktu melahirkan. Lewat urut-mengurut ini, Tuan Sorba Dibanua akhirnya jatuh hati kepada sibaso tersebut. Hubungan pun berlanjut, bukan lagi sebatas antara pasien dan sibaso, tetapi lebih dari itu. Mereka melanjutkannya ke jenjang perkawinan.

Perkawinan kedua Sorba Dibanua menyebabkan hubungan kekeluarga antara kedua wanita tersebut menjadi tidak lagi jelas, karena isteri muda tersebut masih kerabat dekat isterinya atau lebih tepatnya namboru nya. Bagaimanakah Anting Malela memanggil isteri muda ini? Kalau dia memanggilnya sebagai adik, tidak mungkin, karena isteri muda tersebut adalah saudara perempuan ayahnya, atau namboru-nya. Kalau dia memanggilnya namboru, lebih tidak mungkin karena namboru-nya telah menjadi isteri muda suaminya. Hal ini menyebabkan hubungan di antara keduanya serba salah. Inilah penyebab hubungan kekeluargaan mereka dirasakan pahit (paet). Sejak itu, isteri kedua ini dikenal dengan panggilan Siboru Baso Paet. Jadi, tidak seperti yang dikatakan “orang yang sok pintar” bahwa Siboru Baso Paet adalah puteri Majapahit hanya karena ada kata paet dalam nama panggilan boru baso paet.

Untuk menjaga agar hubungan keduanya tetap berjalan dengan harmonis, Sorba Dibanua membuka perkampungan baru di Lumban Gala-gala. Di sinilah isterinya yang kedua ditempatkan, sedangkan isterinya yang pertama bersama anak-anaknya masih tetap tinggal di Lumban Gorat, Balige. Dari isterinya yang kedua tersebut, Tuan Sorba Dibanua memperoleh tiga anak: Sobu, Sumba, dan Pospos. Tuan Sorba Dibanua tetap berupaya untuk mengakrabkan putera-puteranya dari kedua isteri tersebut dengan cara bermain bersama, terutama dalam ilmu bela diri. Sayangnya, hal ini pulalah yang menjadi sumber malapetaka.

Ada beberapa versi yang tercatat tentang pertikaian di antara kedua keluarga satu ayah ini, yang menyebabkan mereka menyingkir ke tempat yang jauh. Versi pertama, menurut Wasinton Hutagalung, berkaitan dengan suatu kecurangan. Dalam latihan perang-perangan, Juara melakukan kecurangan dengan mengisi pimping yang menjadi senjatanya dengan besi. Senjata ini dilemparkan Juara, lalu ditangkap saudaranya dari keturunan isteri kedua, kemudian dilemparkan lagi ke arah Juara. Tidak disangka-sangka, pimping yang berisi besi ini menembus mata Juara. Konon, luka di mata inilah yang menjadi penyebab kematian Juara kemudian hari. Untuk menghindar dari dendam keturunan isteri pertama, keturunan isteri kedua pindah ke Humbang dan kemudian bermukim di sana. Sebagian keturunan isteri kedua ini kemudian pergi ke arah Porsea.

Versi lain, yang ditulis oleh Raja Patik Tampubolon dalam bukunya Pustaha Tumbaga Holing, berisikan kisah yang berbeda tentang kepindahan keturunan isteri kedua tersebut. Dalam bukunya, Raja Patik antara lain mengatakan, “Jolma na bisuk do Sibagot Nipohan, pangoloi jala porasi roha. Ala ni bisuk na do umbahen buhar borngin pinompar ni Boru Baso Paet sian tano Balige Raja. Ndang dohot porang manang bada, angkal do dibahen ibana asa sampak mudar ni nasida sahuta i, ndang pola dilele, nunga laho maringkati.” Artinya, Sibagot Nipohan adalah orang yang pintar dan baik hati. Kepintarannya itu digunakan untuk menakut-nakuti keturunan Baso Paet sehingga mereka meninggalkan Balige Raja, bukan karena permusuhan atau perang. Dengan akalnya, dia menakut-nakuti keturunan Baso Paet sehingga mereka lari terbirit-birit. Inilah kebaikan hati versi Raja Patik.

Apa pun versinya, yang jelas keturunan Siboru Baso Paet dengan terpaksa minggat ke tempat jauh dan bermukim di sana semata-mata untuk mencegah pertikaian di antara mereka yang bersaudara tiri. Keturunan Siboru Baso Paet, sebagaimana ternyata kemudian menjadi marak, sekarang telah mengisi wilayah-wilayah kosong sampai ke Dolok Sanggul dan Parlilitan/Dairi.

Belakangan ini timbul persoalan. Dari wilayah Dairi, muncul kelompok marga yang mengaku sebagai keturunan Jor Parliman. Mereka adalah marga Maha dan Sambo, yang menurut pengakuannya adalah keturunan Siraja (Juara) Huta Lima dari Toba. Hal ini membuat ahli tarombo geger karena, di Toba, dikabarkan bahwa Raja (Juara) Huta Lima telah mati muda tanpa keturunan. Muncul dugaan bahwa Juara yang memang suka bertualang ini telah kawin di tempat lain tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya. Pada waktu dia pulang ke Balige, karena rindu dengan kampung-halaman, dia juga bermaksud untuk memberitahukan bahwa di perantauan dia telah berumah tangga. Sayangnya, kepulangannya hanyalah untuk mengantarkan nyawanya tanpa sempat memberitahu kepada saudara-saudaranya tentang perkawinan itu. Kemungkinan besar, sewaktu pulang ke Balige, Juara tidak tahu bahwa dalam rahim isterinya telah ada janin. Anak Juara ini kemudian diberi nama Jor Paliman, yang menurunkan dua marga besar di Dairi: Maha dan Sambo.

2. Munculnya Kelompok Paittua, Silahi Sabungan

dan Raja Oloan

Pohan, anak sulung Tuan Sorba Dibanua, terkenal keras. Itulah sebabnya mengapa namanya diimbuhi dengan bagot (enau, yang memang pohonnya keras) sehingga, di Toba, nama ini dikenal sebagai Sibagot Nipohan, sementara di wilayah lain nama Pohan tetap digunakan. Sejak kecil, Pohan membimbing adik-adiknya dengan sangat keras. Karena abangnya bersikap keras, mereka tidak berani untuk membantah. Sebenarnya, hal ini jugalah yang menyebabkan keluarga Siboru Baso Paet meninggalkan Balige Raja. Kepergian anak-anak yang disayanginya ini menyebabkan Sorba Dibanua masygul. Usianya yang sudah uzur membuat dirinya menjadi rentan sehingga dia jatuh sakit. Melihat hal ini, Pohan menyuruh adik-adiknya mencari ramuan untuk dijadikan obat. Mereka bertiga¾Paittua, Sabungan dan Oloan¾pergi ke dalam hutan untuk mencari ramuan yang dimaksud.

Cukup lama mereka berkeliling di hutan tetapi ramuan yang dimaksud tidak juga ditemukan. Karena sudah lama berada di hutan tanpa hasil, mereka memutuskan untuk pulang dengan risiko bahwa mereka akan mendapat amarah abang mereka Pohan. Setiba di kampung, Paittua dan kedua saudaranya sangat terkejut. Mereka melihat orang ramai; sebagian sedang menggulung tikar dan sebagian lagi merapikan perangkat gendang. Sewaktu ketiganya bertanya tentang apa yang sedang terjadi, jawabannya lebih mengejutkan lagi: “Pohan baru saja selesai mengadakan pesta untuk memberikan sulang-sulang (makanan) kepada ayahandanya Sorba Dibanua.” Kalau tadinya mereka takut akan dimarahi karena tidak membawa ramuan yang dicari, keadaannya pun berbalik. Paittua bersama kedua saudaranya marah kepada Pohan dan memprotes kejadian tersebut. Mereka menuduh Pohan sengaja menyuruh mereka masuk hutan untuk menyingkirkan mereka. Inilah dialog di antara mereka, yang dikutip dari buku Sejarah Batak, karya Batara Sangti dengan gelar Ompu Buntilan Simanjuntak:

Paittua dan Adik-adiknya:

Na so uhum do ale hahang pambahenan mi. Ia hami burju roha nami mangoloi hatam laho mangalap pulung-pulungan tu harangan, hape hami do huroha na naeng pasiding-sidingon mu, unang dohot hami margondang. Asa molo tung hombar do i nuaeng pembahenan mi tu adat dohot uhum maradophon hami anggim, ba rap horas ma hita. Alai anggo na mangalaosi do ho antong di si, di adat dohot uhum ni Ompunta dohot Amanta, ba tung ho ma na sari di si.”

Sibagot Nipohan:

“Olo anggia, taringot tu sarita muna i, ba alusanku ma jolo tutu. Taringot tu si, ba ndang ahu na sala di si, asa hamu do na sala, ai malelenghu do hamu asa ro. Tangkas do hu paboa na baru on tu hamu, tingki ni horja i, jala hudok asa tibu hamu ro, ha pe malambathu do hamu. Molo tung na so jumpa hamu nian pulung-pulungan i, ba tibu hamu mulak paboahon, asa boto on marhusari. Ianggo on, dung jolo salpu horja asa mulak hamu, asa ndang ahu na sala di si. Alai datik pe hudok songon i, ba na sihol do ahu anggia maranggi. Ba pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi, na tading niulahan, na sega tapauli. Taulakhon pe mangan horbo santi sahali nari.”

Diaolog di atas diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:

Paittua dan Adik-adiknya:

Abang, sungguh tidak patut tindakanmu ini. Engkau suruh kami masuk hutan untuk mencari ramu-ramuan, tetapi rupanya itu engkau sengaja untuk menjauhkan kami, agar engkau sendiri berpesta (margondang, penulis). Kalau memang tindakanmu ini sesuai dengan adat dan hukum, mudah-mudahan kita selamat. Akan tetapi, apabila tindakanmu itu tidak benar, biarlah engkau sendiri yang menanggung akibatnya.”

Sibagot Nipohan: “Tentang penyesalan kalian, baiklah saya jawab. Dari jauh hari telah saya beritahukan tentang waktunya kita berpesta. Akan tetapi, kalian terlalu lama tinggal di hutan tanpa kabar. Kalau pun ramuan-ramuan tidak ditemukan, mengapa kalian tidak pulang saja dan kita cari jalan keluarnya. Namun, karena saya juga sayang kepada kalian, nanti acara seperti ini akan kita selenggarakan lagi.”

Apabila kita simak dialog di atas, ada perbedaan pendapat tentang pesta dan saat berpesta. Menurut Pohan, dari awal juga sudah diberitahukan mengenai hari pestanya. Paittua dan adik-adiknya malah tidak menyinggung hal itu dan mereka balik menuduh bahwa Pohan sengaja menyingkirkan mereka. Mereka kemudian meninggalkan Pohan dengan hati yang kesal. Akhirnya, mereka sepakat untuk pindah ke tempat lain karena Pohan sendiri tidak lagi menginginkan kehadiran mereka di Balige Raja. Sebagaimana diketahui, wilayah ini adalah daerah yang sangat subur dan letaknya yang berada di pinggir Danau Toba cukup menjanjikan. Di pinggiran danau terhampar dataran yang cukup luas yang dapat dijadikan sebagai areal persawahan. “Tanah ini kelak dapat diwariskan kepada anak-cucu,” begitu yang timbul dalam pikiran Pohan.

Walaupun berperilaku keras, ternyata Pohan mau mengalah. Dia tidak mau di cap adik-adiknya mau menang sendiri. Itulah sebabnya dia berkata: “ pauk-pauk hudali, pago-pago tarugi, na tading ta ulahi, na sega ta pa uli yang berarti bahwa, apabila ada sesuatu yang terlupakan, kita masih dapat mengulanginya dan, apabila ada kesalahan, kita masih dapat diperbaiki. Pohan menyarankan agar suatu waktu diadakan lagi pesta horbo santi. Jawaban ini tidak berterima di hati Paittua dan adik-adiknya. Pesta dapat saja dilakukan kapan saja, tetapi apa dasarnya? Pohan menjawab bahwa pesta tersebut dapat dilakukan dalam rangka memindahkan tulang-belulang adik mereka Juara. Ini dianggap Paittua dan adik-adiknya sebagai sesuatu yang mengada-ada. Bagaimana mungkin tulang-belulang orang yang meninggal tanpa keturunan dipindahkan dengan acara memukul gendang dan memotong kerbau? Namun, mereka diam saja, tanpa membantah.

Akhirnya, setelah tiba waktu yang telah ditentukan, pesta pun segera akan dilaksanakan lagi. Pohan kembali menyuruh adik-adiknya mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. Paittua mencari rotan untuk digunakan sebagai tambatan kerbau (borotan), Sabungan mencari kayu pilihan (haundolok) dan Oloan mencari dedaunan (sijagaron). Mereka kembali meninggalkan kampung, tetapi bukan terutama untuk mencari bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan yang diperintahkan abangnya. Mereka lebih dulu berkelana untuk mencari pemukiman baru yang dapat menjadi tempat mereka berpindah apabila suatu waktu mereka berpisah dengan abangnya. Tidak dijelaskan bagaimana cara mereka menelusuri tempat pemukiman baru tersebut, tetapi sebagaimana ternyata kemudian Paittua memilih tempat di Laguboti dan Oloan memilih tempat di Siogung-ogung, Pangururan. Sabungan yang belum menikah masih belum merasa penting untuk memilih tempat pemukiman. Dia memilih tetap tinggal untuk sementara bersama adik bungsunya Oloan di Siogung-ogung.

Setelah semua bahan pesta yang yang diminta oleh abang mereka dianggap sudah mencukupi, mereka pun pulang. Pohan sendiri memilih untuk berdiam diri walaupun dia merasa dongkol karena mereka begitu lama berada di tengah hutan, padahal bahan-bahan yang disuruh untuk dicari adalah bahan yang mudah ditemukan di mana-mana. Rasa dongkolnya dia pendam dalam hati. Dia hanya memerintahkan agar persipan untuk pesta segera dikerjakan. Pesta pun berlangsung, walaupun tidak begitu meriah. Namun, ketika tiba waktu pembagian jambar, terjadilah silang-selisih.

Paittua dan adik-adiknya menuntut agar seluruh jambar dibagi dengan sama rata. Sebaliknya, Pohan mengatakan bahwa bagian-bagian hewan kurban tertentu tidak boleh dibagi-bagi karena bagian tersebut adalah persembahan untuk para leluhur. Kedua belah pihak bersikukuh dengan pendiriannya dan tidak satu pun mengalah. Paittua dan adik-adiknya, yang memang sudah bertekad untuk pindah dari Balige Raja, memanfaatkan hal ini sebagai alasan. Sepertinya, mereka tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Perhatikanlah dialog berikut:

Sibagot Nipohan:

“Anggo angka parjambaran na ginoaran muna i, jambar ni suhut do i, jala sibahenon tu raga-raga, sipanganon horbo santi.”

Paittua dan Adik-adiknya:

“Ba na laho di ho do hape angka jambar i sasude. Anggo songon i do, ndang olo hami di si. Alani i, laho ma hami. Asa tung timus ni api nami pe, molo dompak ho ingkon intopan nami. Nang gaol nami pe, molo dompak ho jomba na, ingkon manigor tampulon nami. On pe, gabe i ma gabem, mago i ma magom, tung na so guru di ho be hami.”

Diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:

Sibagot Nipohan:

“Tentang bagian-bagian daging yang kalian minta, itu adalah hak tuan rumah, yang akan digunakan sebagai persembahan.”

Paittua dan Adik-adiknya:

“Oh, rupanya seperti itulah yang engkau inginkan, agar seluruh jambar menjadi milikmu. Karena itu, kami akan pergi. Sejak saat ini, urus sendirilah segala urusanmu dan jangan lagi kami diikutsertakan. Bahkan, apabila asap api kami mengarah padamu akan kami padamkan dan apabila jantung pisang kami mengarah padamu akan kami tebang.”

Paittua dan adik-adiknya pun mengemasi barang-barang mereka, lalu pergi menuju tempat yang semula telah direncanakan. Paittua memboyong keluarganya menuju Laguboti dan Oloan bersama keluarganya dengan ditemani abangnya Sabungan pergi menuju Siogung-ogung di Pangururan. Sejak kepergian mereka, kelompok ini masing-masing menjadi kelompok yang berdiri sendiri. Karena berpisah dengan jarak yang jauh, muncullah empat kelompok baru dalam keturunan Tuan Sorba Dibanua yaitu: Sipaettua, Silahi Sabungan, Siraja Oloan dan Sibagot Nipohan. Dan bagaimanakah kisah selanjutnya dari Sabungan yang menemani adiknya cukup lama di Siogung-ogung ? Inilah kisahnya.

October 17, 2008

AWAL TERBENTUKNYA TAROMBO

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:20 am

Di atas telah diuraikan tentang terbentuknya marga karena jarak suatu generasi dengan marga induknya sudah terlalu jauh sehingga ada kelompok yang menabalkan diri sebagai kelompo (marga)  tersendiri. Juga ada peristiwa tertentu, yang menjadi pemicu, apakah karena sakit hati misalnya karena pembagian jambar yang tdak adil dan atau akibat perkawinan sedarah, sehingga mereka terpaksa membentuk kelompok sendiri lepas dari marga induknya.  Keturunan marga Pandiangan misalnya, seolah terbenam karena marga pecahannya seperi Gultom, Samosir, Pakpahan dan Harianja lebih dikenal dari pada marga induknya. Juga kelompok yang dibentuk karena kebutuhan khusus, seperti keturunan Guru Mangaloksa. Dalam hal seperti ini, pembentukan kelompok berlangsung secara normal.

Akan tetapi sering terjadi pengelompokan terjadi akibat timbulnya rasa sakit hati. Perpecahan antara kelompok Lontung dan kelompok Borbor misalnya, begitu pula perpecahan di antara keturunan Tuan Sorba Dibanua  dimulai dari  tidak ada kesepakatan dalam pembagian jambar.  

Jambar adalah bagian-bagian tertentu dari seekor hewan kurban yang dipotong pada satu acara adat. Bagian tertentu ini, dibagi-bagi menurut ketentuan yang telah disepakati sesuai kesepakatan ( jolo diseat hata asa diseat raut). Artinya, disepakati dulu siapa mendapat apa, barulah dibagi-bagi.  Masing-masing kelompok kemudian membagikannya kepada seluruh anggotanya yang hadir – yang tidak hadir tidak kebagian – sehingga ada kalanya jambar tersebut hanya berupa sekerat daging. Namun, anggota  kelompok menerimanya dengan suka cita, asa na metmet ndang marungut-ungut, na ma godang marlas ni roha. Artinya, tidak seorang pun mengomel karena dia telah memperoleh bagian yang menjadi haknya,  betapapun  kecilnya.  

Namun, walaupun jambar hanya berupa sekerat daging, apabila seseorang tidak memperolehnya sesuai dengan haknya, hal itu dapat dikategorikan sebagai suatu penghinaan. Tentang jambar, ada pemeo yang mengatakan: Pangkuling tos nia ate, papangan hasisirang. Itu berarti bahwa, kalau orang salah bertutur kata, hal itu paling menimbulkan rasa sakit hati (pangkuling tos ni ate) tetapi, kalau seseorang tidak memperoleh jambar yang seharusnya menjadi haknya, hal itu dapat mengakibatkan putusnya tali persaudaraan (papangan hasisirang).

Apabila kita mengacu pada pandangan bahwa jambar adalah bukti si soada pusung ( tidak ada yang di kucilkan ),  pemakaian jambar hata tampaknya sangat tidak tepat. Jambar hata adalah hak untuk berbicara yang hanya dimiliki orang tertentu, sedangkan jambar juhut adalah hak semua orang tanpa kecuali,  yang pembagiannya telah lebih dahulu di sepakati.

Ini adalah awal, orang Batak begitu rajin menyusun daftar nama anggota keluarganya, agar bila diperlukan, tidak seorangpun yang tidak di undang (di pusungi). Dalam pertemuan antar-keluarga, daftar ini mereka bicarakan dengan asyik, misalnya, si Anu adalah keturunan si Anu dan sekarang ada di (…….. mana). Dari pembicaraan seperti ini, tersusunlah satu daftar yang panjang dan bercabang-cabang. Inilah awal  timbulnya tarombo, suatu daftar nama yang sangat panjang, di dalam daftar mana kedudukan seseorang dapat diketahui dengan jelas.

AWAL TERJADINYA PENGELOMPOKAN

Pada kehadirannya yang pertama, menurut tarombo, ada dua kelompok besar marga Batak, yaitu kelompok marga keturunan Guru Tatea Bulan dan kelompok marga keturunan Isumbaon. Akan tetapi, pada masa-masa awal, tepatnya pada generasi ketiga keturunan Guru Tatea Bulan, diantara turunan Guru Tatea Bulan telah terjadi pengelompokan baru yaitu kelompok Lontung Morsada disatu pihak dan kelompok Simarata  dipihak lain. Begitu pula di kalangan turunan Raja Isumbaon, salah satu dari turunan Tuan Sori Mangaraja, yaitu turunan Tuan Sorba Dibanua, terjadi perpecahan yaitu turunan isteri kedua yang terdiri dari Sobu, Sumba dan Pospos memisahkan diri membentuk kelompok sendiri. Masih dikalangan turunan isteri pertama  yaitu Paittua, Silahi Sabungan dan Oloan juga memisahkan diri dari saudaranya Bagot Nipohan. Berikut kisahnya:

1. Lahirnya Kelompok Lontung Morsada

Pada waktu Guru Tatea Bulan masih hidup, hubungan di antara Iborboran dan Lontung¾dua bersaudara lain ibu¾terjalin dengan baik.  Hubungan baik itu dibuktikan dengan keduanya pernah bersama-sama mencari Tunggul Nijuji untuk membalaskan dendam dan sakit hati orang tuanya Saribu Raja. Konon, Tunggul Nijuji,  pernah mempermalukan Saribu Raja lewat permainan judi. Dalam suatu permainan judi, Saribu Raja kalah sehingga tidak ada lagi yang dapat dipertaruhkan. Karena tidak ada lagi yang dapat di pertaruhkan selain bulu mata, permainan pun terus berlanjut. Saribu Raja kalah terus, sehingga bulu matanya pun dicabut satu per satu. Betapa malunya Saribu Raja,  tampil tanpa bulu mata.

Berita ini sampai ke telinga kedua puteranya, Lontung dan Iborboran. Setelah mendengar orang tuanya dipermalukan, keduanya sepakat untuk mencari Tunggul Nijuji dan sekaligus membalaskan dendam orang tuanya. Inilah awal-mula pemeo yang dikenal dengan utang ni Saribu Raja.[1]

Kalau pada masa itu hubungan keduanya berlangsung dengan baik, tidak demikian halnya pada masa Balasahunu. Balasahunu lebih mendekatkan diri pada kelompok Limbong, Sagala, dan Lauraja, mengingat adanya perjanjian (padan) di antara orang tua mereka.  Balasahunu ber-alasan, semasa  ayahnya Iborboran masih  berada dalam kandungan telah ada perjanjian diantara orang tua mereka yang disepakati pada masa kakeknya  Gr Tatea Bulan. Balasahunu berkata  bahwa perjanjian (padan) itu tidak boleh diubah begitu saja. Jadi walaupun berdasarkan garis keturunan, ikatan persaudaraan antara Lontung di satu pihak dan Iborboran di pihak lain adalah sesuatu yang alami karena mereka berdua dilahirkan dari ayah yang sama, akan tetapi karena ada padan yang telah disepakati jauh sebelumnya (Balasahunu berpegang pada hal itu) dan mendekatkan diri Limbong, Sagala dan Lauraja yang bersatu dalam apa yang disebut kelompok NAMARATA.

Dengan alasan di tao parbubuan, di pasir parompanan, togu pe partubu, togu an do dongan sa padan (walau hubungan persaudaraan adalah erat, hubungan karena perjanjian tetap jauh lebih erat). Balasahunu lebih mengutamakan ikatan perjanjian dari ayahandanya. Menurutnya, perjanjian ini tidak boleh diingkari, tidak boleh diubah sesuka hati (padan na so jadi mose, uhum na so jadi muba). Inilah awal perpisahan antara dua saudara se -ayah dan berlainan ibu ini menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Lontung di satu pihak dan kelompok Borbor dipihak lain. Balasahunu bergabung dengan marga Limbong, Sagala dan Lauraja.

Perpisahan antara Balasahunu dan Lontung mulai menjadi suatu pertikaian terbuka pada waktu Balasahunu menyelenggarakan pesta. Sebagai keturunan keluarga “satu ayah,” turunan Lontung menuntut jambar yang sudah menjadi haknya, sebagaimana sudah berlaku pada masa  Iborboran. Balasahunu menolak dengan alasan adanya padan di atas. Inilah dialog yang terjadi diantara dua bersaudara lain ibu tersebut:

Lontung:     Adong do sarita nami tu hamu raja nami, si sada jambar do hita; martimbanghon si tolu partalian, hape tung so adong do jou-jou mu tu hami, agia di panortoran, agia di parjambaran.”

Balasahunu:  Ndang pola dohonon mu hami na lupa, ai ndang holan ahu sibahen i, ai andorang di bortian dope amanta Raja Iborboran, nunga marpadan hian hami.”

Lontung:   “Ndang tading parbubuan, bahenon ni parompanan; ndang tading  partubuan,  bahenon ni parpadanan.”

Balasahunu:  “Dohot do di titi ni si jolo-jolo tubu, na so adong padan, partubu tilihon, alai na adong padan, i do ingot on; songon ni dok ni umpama, di tao parbubuan, di pasir parompanan, togu pe partubu, toguan do dongan sapadan.”

Lontung: “Molo togu urat ni bulu, alai tumogu urat di padang; togu  do hape partubu,    alai tumogu hata ni padan. Jadi, ala so dohot do hami margugu, beha dohot do hami parjambaran?”

Balasahunu: “Hasea do nang partubu, alai hasea do nang padan. Taringot tu gugu dohot parjambaran, ba mardua di roha, marbagi di tangan, ba di hami sampulu gukguk, di hamu sada bilangan.”

Dialog tersebut kami terjemahkan kurang lebih sebagai berikut:

Lontung: Kami sangat menyesalkan tindakanmu ini. Seharusnya kita berdua  harus bersama-sama dalam berhadapan dengan sitolu partalian (Limbong, Sagala, Lauraja; penulis).”

Balasahunu: “Itu tidak benar, karena jauh sebelumnya, waktu kakek kita Raja Iborboran masih dalam kandungan, kami telah terikat perjanjian (padan).”

Lontung: “Walaupun kalian terikat perjanjian, kita adalah tetap saudara  satu   ayah.”

Balasahunu:  Memang benar kita adalah saudara satu ayah, tetapi perikatan karena perjanjian bagi kami lebih utama daripada perikatan karena hubungan kekeluargaan.”

Lontung: “Kalau memang janji itulah yang kamu utamakan, bagaimana soal jambar, apakah kami ikut kebagian?”

Balasahunu: “Bukan kami katakan hubungan keluarga tidak penting, tetapi tentang jambar untuk kami sepuluh bagian dan untuk kalian satu bagian.”         

Penolakan tersebut sangat mengecewakan keluarga Lontung. Ucapan yang mengatakan sepuluh bagian untuk Balasahunu dan satu bagian untuk Lontung sangat tidak berterima bagi keluarga Lontung. Inilah awal perpecahan di antara dua saudara yang berlainan ibu ini. Kelompok keturunan marga Lontung membentuk kelompok sendiri yang diberi nama kelompok “LONTUNG MORSADA” dan keturunan Iborboran bersama keturunan Limbong, Sagala dan Lauraja membentuk kumpulan sendiri yang diberi nama  “NAMARATA”.

Pada tanggal 16 Mei 1937, pada masa M. Salomo Pasaribu, diadakan satu Kongres turunan Gr Tatea Bulan di Haunatas Laguboti. Inilah kali pertama mereka berkumpul setelah beberapa dekade terlibat pertikaian. Kongres ini merupakan Kongres Persatuan dan Kesatuan diantara seluruh turunan Gr Tatea Bulan dimana diantara mereka terjadi saling maaf memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu.  Kelompok baru dibentuk dengan nama PUNGUAN BORBOR MORSADA dan sejak saat itu nama kelompok Namarata mulai ditinggalkan.

2. Pertikaian pada keturunan Iborboran

Telah dikemukakan sebelumnya tentang anak yang lahir dari perkawinan Saribu Raja dengan Nai Margiring Laut yang bernama Iborboran. Iborboran kemudian mempunyai seorang anak, yang bernama Balasahunu. Telah dikemukakan pula tentang sebuah tombak yang diperoleh Iborboran dari kakeknya Tatea Bulan sewaktu dia masih berada dalam kandungan. Tombak ini, yang diberi nama hujur siringis dan yang juga dikenal dengan nama hujur jambar baho, dimaksudkan adalah simbol persatuan dan kesatuan keturunan Tatea Bulan. Pada waktu cerita ini berkembang, perawatan tombak  diserahkan kepada Datu Pulungan Tua, anak sulung Tuan Saribu Raja II.

Datu Pulungan Tua mempunyai dua saudara, Datu Marhandang Dalu dan Datu Bara. Mereka hidup rukun di sebuah kampung yang bernama Sipultak di sekitar Dolok Sanggul sekarang. Keturunan Datu Pulungan Tua kelak  bermarga Lubis dan keturunan Datu Marhandang Dalu bermarga Pasaribu, sementara keturunan Datu Bara bermarga Batubara. Mereka hidup dari hasil pertanian dan dengan mengumpulkan hasil-hasil hutan, seperti kemenyan, yang sewaktu-waktu mereka bawa ke Barus untuk ditukarkan dengan kebutuhan mereka yang lain.

Sebagai keturunan Guru (Tatea Bulan), ketiganya tidak melupakan ajaran leluhurnya yang ada dalam buku Pustaha Laklak. Tidak heran, karena alemu-alemu yang dikuasainya, mereka diberi gelar datu atau guru  pada awal namanya. Alemu-alemu ini ternyata kemudian menimbulkan malapetaka dalam bentuk permusuhan di antara dua bersaudara Datu Pulungantua dan Datu Marhondang Dalu. Permusuhan ini menyebabkan keturunan mereka tersebar ke mana-mana dan mereka tidak mau berada di tempat yang saling berdekatan karena dapat dipastikan mereka akan bertikai.

Pertentangan habis-habisan antara Datu Pulungan Tua dan Datu Marhandang Dalu berawal dari tombak yang dipinjam oleh Datu Marhandang Dalu dari abangnya Datu Pulungan Tua. Konon, se-ekor babi hutan selalu menghabisi tanam-tanaman Datu Marhandang Dalu. Segala jenis senjata sudah digunakan akan tetapi tidak mempan. Marhandang Dalu berkesimpulan bahwa satu-satunya senjata yang dapat membunuh babi hutan itu hanyalah tombak keluarga mereka (hujur siringis). Datu Marhandang Dalu mendatangi abangnya, untuk meminjam tombak tersebut. Datu Marhandang Dalu setuju, asalkan tombak  dikembalikan dengan utuh. Datu Marhandang Dalu setuju, akan tetapi ternyata kemudian syarat inilah menjadi  sumber mala petaka.

Dengan bermodal tombak itu, Datu Marhandang Dalu melakukan pengintaian di ladangnya. Pada waktu babi hutan dengan tenang melahap tanamannya, diam-diam Datu Marhandang Dalu datang mendekat. Tombak dilemparkan dan mengenai babi tersebut tetapi, malang, babi itu tidak mati, melainkan malah berlari kencang dengan tombak yang masih tertancap di badannya. Datu Marhandang Dalu mengikuti ceceran darah dengan harapan bahwa tombak tersebut akan diketemukan. Malang bagi Datu Marhandang Dalu, dia hanya menemukan gagang tombak, sedangkan mata tombaknya terbawa oleh babi tersebut entah ke mana. Datu Marhandang Dalu melaporkan kejadian ini kepada abangnya dan mengatakan bahwa dia bersedia menggantinya.

Apa jawaban Datu Pulungan Tua? “Sesuai perjanjian tombak yang  dipinjam harus dikembalikan dengan utuh,” katanya. Datu Marhandang Dalu diminta untuk mencarinya dan tidak boleh kembali sebelum benda itu ditemukan. Datu Marhandang Dalu terpaksa kembali masuk hutan untuk mencari ujung tombak tersebut. Begitu lama dia mencari dan banyak penderitaan dia alami. Karena penderitaan ini, dia bertekad untuk membalas tindakan abangnya pada suatu waktu. Cerita tentang penemuan ujung tombak tersebut dalam legenda penuh dengan dongeng yang tidak masuk akal. Namun, sesuatu yang tidak diceriterakan ialah kisah berikut.

Selama di hutan, Datu Marhandang Dalu berhasil menangkap seekor anak ayam hutan. Untuk mengusir rasa bosan dalam melakukan pengintaian, anak ayam itu dipelihara. Selama dalam peliharaan, kepada anak ayam itu diajarkan oleh Datu Marhandang Dalu berbagai kepintaran. Karena dilatih dari kecil, ayam hutan itu dapat mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Ayam hutan peliharaan itu dibawa pulang bersama ujung tombak yang sudah diketemukan.

Pada suatu ketika, Datu Pulungan Tua mengadakan pesta. Para pengunjung pesta yang datang ke kampung harus melewati kampung Datu Marhandang Dalu. Di tempat ini, Datu Marhandang Dalu mempertontonkan kepintaran ayamnya. Pengunjung pesta yang sedianya harus datang ke tempat Datu Pulungan Tua, karena asyik menonton tingkah ayamnya, akhirnya lupa dengan tujuan mereka. Ada juga orang yang sampai di halaman Datu Pulungan Tua tetapi, ketika ditanya mengapa mereka terlambat, mereka menceritakan apa yang dilihatnya. Orang-orang tampaknya tidak percaya. Karena ingin membuktikan sendiri, satu persatu mereka angkat kaki.

 Kampung Datu Pulungan Tua yang seharusnya ramai menjadi lengang karena ditinggal para undangan. Datu Pulungan Tua mendatangi adiknya dengan alasan untuk memeriahkan pestanya, dia pun meminjam ayam tersebut. Datu Marhandang Dalu tidak merasa keberatan dengan syarat bahwa ayam itu harus dikembalikan kepadanya sebagai pemilik tanpa kurang suatu apa pun. Datu Pulungan Tua setuju. Dia membawa ayam yang dia pinjam itu dengan diiringi para penonton. Ayam itu kemudian dimasukkan ke dalam kurungan dan pesta pun kembali dilanjutkan. Selesai pesta, Datu Pulungan Tua bermaksud untuk mengambil ayam yang ada dalam kurungan tadi untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Akan tetapi, ayam telah raib dan, ke mana pun dicari, hewan pintar itu tidak diketemukan. Datu Pulungan Tua melaporkan kehilangan ayam itu kepada adiknya Datu Marhandang Dalu.

Apa jawab Datu Marhandang Dalu? “Ayam harus dikembalikan sesuai dengan perjanjian,” katanya dengan tegas. Datu Pulungan Tua baru menyadari bahwa sebenarnya dia telah masuk perangkap yang dia galinya sendiri. Karena ayam tidak pernah diketemukan lagi, terjadilah permusuhan di antara keduanya. Keduanya saling adu kuat, adu akal dan okol, bahkan sampai “menerbangkan lesung dan batu-batu besar.” Begitu dahsyat pertempuran itu, sehingga kampung Sipultak, tempat mereka tinggal, berubah menjadi ambar (rawa). Tempat itu terletak antara Siborong-borong dan Dolok Sanggul.

Untuk menghindarkan perseteruan, keturunan Datu Pulungan Tua pun mencari tempat yang lebih jauh sebagai tempat bermukim. Dalam pencarian wilayah baru, mereka cukup lama menjadi pengembara sebelum mereka akhirnya bermukim di Pakantan dan menamakan dirinya marga Lubis. Keturunan Datu Marhandang Dalu sendiri, yang menjadi marga Pasaribu, memilih suatu lembah di Silindung sebagai tempat untuk menetap. Sementara itu, sebagian keturunan adik mereka Datubara pergi menuju Selatan dan sebagian lagi pergi menuju Utara dan memilih tempat dekat Tambunan untuk tinggal menetap.

Datu Marhandang Dalu tinggal bersama menantunya Guru Mangaloksa tinggal di lembah Silindung. Dari Silindung kemudian mereka berpencar,   satu kelompok pergi ke arah Barus,  satu kelompok lagi menuju Lintong, dan kelompok terakhir,  di Aek Nabara. Di Aek Nabara, mereka menghadang lajunya pasukan Tuanku Rao yang bergerak ke Tanah Batak Utara. Perang dengan pasukan Paderi ini dikenal sebagai Perang Balut dan marga Pasaribu sendirilah yang menghambat pasukan Paderi lewat Habinsaran.


[1] Dalam hukum adat Batak, istilah utang ni Saribu Raja dihubungkan dengan hutang yang tidak dapat dibayar karena pelanggaran adat yang sangat serius. Pelanggaran seperti ini, misalnya, adalah kawin dengan seseorang dari marga sendiri,  membakar perkampungan (manurbu huta) atau membunuh seseorang tanpa alasan yang jelas.

TIMBULNYA MARGA DAN PENGELOMPOKAN

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:17 am
Tags: , ,

 

 

D

alam banyak tulisan tentang Batak, belum pernah ada pembahasan mengenai lahir dan terbentuknya marga-marga. Marga diwarisi dari para leluhur dan diterima apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semula, marga berawal dari satu kelompok keluarga kecil (batih), yang terdiri atas seorang ayah dan seorang ibu, bersama anak-anaknya. Kelompok kecil ini biasanya disebut sapanganan (satu tempat makan bersama). Kata sapanganan sering dihubungkan dengan sapa, suatu “piring besar” yang terbuat dari batang kayu bulat dan besar, yang ditoreh berlekuk sehingga menyerupai piring. Pada waktu-waktu tertentu, anggota-anggota keluarga duduk berkeliling dengan sapa di tengah untuk makan bersama. Tidak seorang pun ketinggalan, kecuali karena suatu alasan tertentu. Bagian anggota-anggota yang ketinggalan akan disisihkan di tempat yang disebut parindahanan. Kata ini berasal dari kata par-indahan-an, yaitu sumpit kecil yang biasanya dijadikan sebagai tempat nasi.

Keluarga kecil ini berkembang makin lama makin besar karena anak laki-laki membentuk keluarga baru dan menjadi kelompok sapanganan sendiri. Anggota kelompok adalah orang-orang yang berjenis kelamin laki-laki, sementara anak perempuan tidak dihitung karena kelak dia akan masuk ke dalam kelompok marga suaminya. Akan tetapi, walaupun masih berada dalam lingkup satu keluarga, ada perbedaan antara na mardongan sabutuha dan na mardongan tubu. Istilah na mardongan sabutuha adalah kelompok satu ompu (kakek), sedangkan na mardongan tubu adalah kelompok lain ompu (kakek), tetapi masih dalam lingkup satu marga. Apabila ada acara dalam lingkup satu keluarga, orang-orang yang diundang adalah kelompok na mardongan sabutuha. Akan tetapi, apabila acaranya berukuran lebih besar dari itu, yang melibatkan marga-marga lain, kelompok na mardongan tubu harus diikutsertakan. Hampir seluruh marga Batak terlibat dalam pengelompokan seperti ini. Marga Pasaribu, misalnya, ke luar tetap memakai marga Pasaribu, walau didalam kelompok sendiri mereka masih terbagi seperti Pasaribu keturunan Habeahan, Pasaribu keturunan Gorat, dan Pasaribu keturunan Bondar. Habeahan dan Gorat misalnya adalah  kelompok dongan tubu dari Bondar dan sebaliknya.

Untuk marga-marga yang konsisten menggunakan marga induknya, marga Pasaribu adalah salah satu contoh. Banyak marga yang, karena jarak perpisahannya sudah terlalu jauh, akhirnya menabalkan diri sebagai marga yang berdiri sendiri sehingga marga induknya hampir tidak dikenal lagi. Contohnya adalah marga Pandiangan dari keturunan Lontung. Marga-marga pecahannya  seperti marga Gultom, Sitinjak, Pakpahan, Samosir dan Harianja, lebih dikenal dari marga induknya Pandiangan.

Pada awalnya, nama satu kelompok marga lebih banyak mengacu pada satu nama yang mudah diingat. Nama marga Siahaan, misalnya, muncul karena dia adalah anak sulung (sihahaan-anak pertama). Begitu juga, marga Siagian lahir karena dia adalah anak bungsu (sianggian-anak bungsu) dan marga Silitonga terbentuk karena dia adalah anak di antara sulung dan bungsu (tonga berarti tengah). Tetapi, nama marga dapat juga diambil dari nama tempat tinggal sehingga ada marga Hutagaol, yang berasal dari kata huta dan gaol, karena di kampungnya (huta) banyak tumbuh pohon pisang (gaol). Asal-usul seperti ini berlaku juga untuk marga Hutapea, yang berasal dari kata huta dan pea, karena di kampungnya (huta) ada rawa (pea).

Itulah sebabnya ada beberapa marga yang memiliki nama yang sama dari keturunan yang berbeda, seperti marga Hutapea keturunan Guru Mangaloksa di Silindung dan marga Hutapea keturunan Paittua di Laguboti, marga Lumban Gaol keturunan Marbun di Humbang dan marga Lumban Gaol keturunan Tambunan di Toba, dan marga Siagian keturunan Siregar di Sipirok dan marga Siagian keturunan Tuan Dibangarna di Toba. Padahal, walau mempunyai nama marga yang sama, mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan darah (keturunan).

Ada juga marga yang terbentuk karena suatu kebutuhan yang mendesak. Sebagai contoh, kita ambil kelompok marga keturunan Guru Mangaloksa. Guru Mangaloksa dalam perantauannya dijadikan menantu oleh Pasaribu dan tinggal menumpang di kampung mertuanya di Silindung. Dari hasil perkawinannya, lahir pula anak- anak yang tangkas dan rupawan. Sudah tentu timbul persoalan: Apakah kelak anak ini akan menumpang terus-menerus di tempat mertuanya?

Melihat kesuburan tanah yang dihuni mertuanya, hatinya tergoda dan ingin memperoleh sedikit dari tanah tersebut untuk dirinya dan anak-anaknya kelak. Hal itu dikemukakan kepada mertuanya. Mertuanya menanggapinya dengan memberi sedikit (sebakul?) tanah kepada menantunya, sesuai permintaannya. Guru Mangaloksa tersinggung, merasa dipermainkan oleh mertuanya. Karena itu, dia mencari jalan dan, dengan akal-bulusnya, mertuanya dipaksa untuk lari terbirit-birit, meninggalkan wilayah Silindung. Pelarian itu terjadi pada malam  yang gelap-gulita setelah Guru Mangaloksa menginjak-injak enceng, yang dikira oleh Pasaribu sebagai bunyi letusan senjata. Cerita tentang “Pasaribu ni eak ni Poring” (poring adalah sejenis enceng yang, apabila diinjak, akan mengeluarkan bunyi letusan) hingga saat ini masih tetap segar dalam ingatan keturunan marga Pasaribu maupun keturunan Guru Mangaloksa. Sampai sekarang, bilamana seorang keturunan Guru Mangaloksa bertemu dengan marga Pasaribu, akan selalu menghaturkan sembah, mohon maaf atas peri laku leluhurnya dahulu.

Keturunan Guru Mangaloksa pada awalnya berkembang dengan lambat. Penyebabnya adalah tempat tinggalnya yang begitu terisolir, sehingga keturunannya sulit untuk mencari jodoh. Pencarian jodoh ke tempat-tempat lain hanya dimilik oleh orang-orang yang memiliki nyali besar. Pada zaman itu, jalan-jalan di luar kampung bukanlah tempat yang aman. Itulah sebabnya banyak anak laki-laki maupun anak perempuan tetap hidup sendiri, hingga ubanan tanpa menemukan jodoh. Hal ini meresahkan para orang tua. Apalagi, dalam pergaulan sehari-hari, mereka melihat para remaja sering bercanda (margere-gere huhut marsigoitan). Walaupun melakukannya dalam batas-batas norma adat dan susila, hal itu sangat mengkhawatirkan. Puncaknya ialah ketika seorang yang bernama si Bindoran membunuh Ompu Lompo karena dia dituduh berbuat cabul kepada iboto (saudara perempuan)-nya. Khawatir peristiwa yang sama akan terulang lagi, keturunan Guru Mangaloksa kemudian mengambil satu kesepakatan untuk manompas bongbong (melanggar aturan yang selama ini berlaku). Larangan kawin dalam kelompok sendiri diibaratkan sebagai pembatas (bongbong) yang harus diretas (ditompas) agar air mengalir, tidak menimbulkan banjir.

Caranya ialah dengan meniadakan larangan kawin di antara kelompok mereka. Dengan demikian, anak-anak mereka tidak lagi mengalami kesulitan untuk mencari pasangan hidup (jodoh). Dengan kesepakatan ini, ke empat turunan Guru Mangaloksa membentuk kelompok marga yang mandiri dan masing-masing diberi nama sesuai dengan nama kampungnya: Hutabarat, Hutagalung dan Hutatoruan. Keturunan yang satu lagi, Panggabean, dari awal sudah mempunyai nama panggilan,  sehingga  dikecualikan. Nama Panggabean sendiri berawal berawal dari kegalauaan hati Guru Mangaloksa yang memperdaya mertuanya. Ada rasa sesal dalam dirinya dan dia khawatir  rasa sesal ini akan berakibat tidak baik terhadap anak yang dikandung oleh isterinya. Rasa khawatir itu menjadi sirna setelah anak yang lahir ternyata sehat dan begitu pula ibunya. Anak yang lahir  inilah yang  diberi nama Panggabean (gabe berarti tuah).

Setelah pembentukan kelompok sendiri disetujui, sesuai kesepakatan mereka dibenarkan untuk saling mengawini (marsiboruan). Marga Hutabarat dibenarkan kawin dengan marga Hutagalung, Hutatoruan atau Panggabean, dan begitu pula  sebaliknya,  sehingga kesempatan untuk memperoleh jodoh terbuka lebar. Rura Silindung menjadi ramai dan penuh dengan suka-cita. Pesta-pesta kawin berlangsung dengan tidak putus-putusnya dan berkat pun diberikan asa maranak sampulu pitu, marboru sampulu onom (memiliki banyak anak laki-laki dan perempuan). Tidak mengherankan, apabila ditelusuri di antara seluruh Puak Toba, keturunan Guru Mangaloksa  adalah marga  yang paling banyak jumlahnya.

MUNCULNYA “RAJA-RAJA TOBA”

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:06 am
Tags: , , , ,

Dalam kurun waktu yang cukup lama, barang-barang pusaka milik R. Sorimangaraja tidak pernah ditemukan. Sementara itu masyarakat semakin berkembang dimana dibutuhkan seorang rajaparhata oloan” (yang menjadi panutan). Karena barang pusaka tersebut belum diketemukan, apakah masyarakat dibiarkan tanpa pimpinan? Seperti biasanya orang Batak tidak kehilangan akal. Karena seorang raja belum bisa di tabalkan (penemu barang pusaka,pen), turunan Sibagot Nipohan sepakat mengangkat bukan hanya satu raja, bahkan empat orang sekaligus yang mereka sebut “raja na opat”, sebagai pimpinan “kollegial” (pimpinan bersama). Raja na opat ini diambil dari 4 kelompok turunan Sibagot Nipohan yaitu turunan Tuan Sihubil, Tuan Somanimbil, Tuan Dibangarna dan Sonak Malela. Dalam bukunya PUSTAHA TUMBAGA HOLING  Raja Patik Tampubolon mencatat gelar  raja-raja tersebut yaitu Pande Nabolon untuk turunan sulung Tuan Sihubil, Pande Raja untuk turunan nomor dua, Tuan Somanimbil, Pande Mulia untuk turunan nomor tiga, Tuan Dibangarna dan Pande Namora untuk turunan nomor empat, Sonakmalela. Ke–empat raja ini disebut “raja ijolo”. Masih belum puas dengan hanya empat raja, mereka masih mengangkat wakil masing-masing sebagai “paidua ni harajaon” dengan gelar-gelar sebagai berikut:  saniang naga”,  wakil Pande Nabolon, “parsinabul” wakil Pande Raja, “parsirambe” wakil Pande Mulia, “mamburbulang” wakil Pande Namora. Masih kurang puas, masih ada “raja undot solu”,  pangulu raja”, “pande aek” dan “pangulu dalu”.  

Pada waktu-waktu tertentu raja-raja ini berkumpul dibawah kerindangan pohon, merundingkan banyak hal, termasuk bila ada hal-hal yang mengganggu ketertiban. Pada saat raja-raja berkumpul, rakyat juga ikut  berkumpul, yang kemudian dimanfaatkan oleh banyak orang untuk jual-beli berbagai kebutuhan. Lama kelamaan tempat ini menjadi ramai layaknya pekan, sehingga tempat tersebut kemudian diberi nama Onan Raja (pekan yang timbul pada saat berkumpulnya raja-raja). Walaupun oleh Pemerintah Belanda pasar ini kemudian di pindah ke tempatnya yang sekarang, nama Onan Raja masih melekat sebagai nama tempat. Tidak dipungkiri, bahwa dengan adanya kepemimpinan kollegial ini orang Batak dapat hidup dalam keteraturan. Akan tetapi tidak pula dipungkiri bahwa ruang lingkup yang ada dibawah dibawah jurisdiksi raja na opat tersebut terbatas hanya pada turunan Sibagot Nipohan, tidak menyangkut marga yang lain.

Karena kepemimpinan seperti diatas terasa manfaatnya, kelompok turunan Guru Tatea Bulan  merasa perlu  membentuk   raja na opat sendiri,  juga berasal dari 4 kelompok marga mereka. Menurut Mangaraja Salomo dalam bukunya TAROMBO NI BORBOR MORSADA inilah nama-nama gelar yang diberikan kepada turunan Borbor diberi gelar Raja Oloan, turunan Limbong diberi gelar Jonggi Manaor, turunan Sagala bergelar Raja Mulamula dan turunan  Lauraja diberi gelar Raja Sori. Ke empatnya juga merupakan pimpinan kollegial dan disebut raja ijolo.

Mereka juga membantuk wakil masing-masing yang tugasnya sama dengan yang dilakukan turunan Sorba Dibanua. Hanya gelarnya yang berbeda yaitu Borsak Saniangnaga kepada turunan Borbor, Borsak Naburahan kepada turunan Limbong, Borsak Bungabunga kepada turunan Sagala dan Borsak Suliraja kepada turunan Lauraja. Mereka disebut paidua ni harajaon.

Belakangan timbul niat dari kelompok “si opat pusoran” atau lebih dikenal Turunan Guru Mangaloksa (Hutabarat, Panggabean, Hutagalung dan Hutatoruan) untuk membentuk raja na opat sendiri. Agar dapat diakui sebagai raja na manjujung baringin na, mereka berangkat ke Barus menghadap hula-hulanya Pasaribu memberikan persembahan sebagai permohonan maaf atas peri laku moyang mereka dahulu yang menyebabkan hula-hula nya tersebut lari malam dari Silindung (lih: Pasaribu ni eak ni poring). Pasaribu yang kebetulan menjadi Penguasa di Barus Hilir setuju dan selain memberikan hadiah juga memberi gelar kepada mereka. Menurut Iypes inilah gelar yang diberikan itu. Turunan Hutabarat diberi gelar Baginda Maulana, turunan Panggabean bergelar Rangkaya Tua, turunan Hutagalung bergelar Bagot Sininta dan untuk turunan Hutatoruan diberi gelar  Elamula.

Sepanjang yang kita ketahui hanya turunan Lontung Morsada yang tidak terpengaruh dengan susunan raja berampat ini. Mereka konsisten dengan kumpulan si pitu ama dibawah kepemimpinan Ompu Palti Raja. Dan sejauh itu mereka tidak pernah menggunakan istilah raja di depan nama marganya. Mereka lebih nyaman dengan sebutan TOGA  seperti Toga Sinaga, Toga Situmorang,  Toga Siregar dan Toga-Toga yang lain.

Inilah awal mula munculnya banyak raja-raja di Tanah Batak Utara, karena semua marga membentuk raja-raja na opat sendiri. Begitu pula setelah Manghuntal Sinambela ditabalkan sebagai raja benaran,  eksistensi raja-raja na opat tetap diakui dan tidak dihapuskan.  Merekalah kemudian dijadikan  sebagai kepanjangan tangan dari Raja Sisingamangaraja, sehingga Raja Sisingamangaraja tidak perlu mengangkat sendiri pembantunya. Karena berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama hal tersebut telah mendarah daging dikalangan orang Batak khususnya di Toba, sehingga orang Batak Toba menganggap diri sebagai turunan raja;  RAJA-RAJA TOBA.

LELUHUR PUAK TOBA

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 7:03 am
Tags: , ,

Dari data di atas, tampak bahwa Tatea Bulan maupun Sumba tidak lahir dari ayah dan ibu yang sama. Walaupun dalam tarombo dikatakan mereka berdua adalah putera raja Batak, pendapat itu hanyalah simbol persatuan dan kesatauan orang Batak. Keturunan Sumba yang sering dipanggil dengan keturunan Nai Sumbaon memperkuat dugaan itu. Tercatat kemudian bahwa Tatea Bulan kawin dengan seorang wanita, yang menurut Mangaraja Salomo Pasaribu, adalah keturunan pengembara yang tinggal di sekitar tempat tersebut. Dari perkawinannya dengan wanita ini, Tatea Bulan memperoleh lima orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Anak laki-laki tersebut berturut-turut adalah Miok-Miok atau Gumeleng-geleng, Saribu Raja, Limbong, Sagala dan Lauraja dan kedua anak perempuan tersebut adalah Siboru Pareme dan Nantinjo.

1. Utiraja dengan Gelar Raja Hatorusan

Sebagaimana ditulis oleh Mangaraja Salomo Pasaribu dalam bukunya Tarombo ni Borbor Marsada, setelah menetap di kaki Dolok Pusuk Buhit, Tatea Bulan memilih seorang wanita yang ditemuinya di sekitar perkampungan itu untuk dijadikan sebagai isterinya. Karena wanita tersebut masih tergolong nomaden (pengembara), dia meminta Tatea bersumpah untuk tidak menyia-nyiakan hidupnya kelak. Menurut Mangaraja Salomo, sumpah (bulan) inilah yang menyebabkan nama Tatea diimbuhi nama Bulan di ujung namanya.   Dari perkawinannya, masih menurut Mangaraja Salomo, lahir beberapa orang  putera. Anak yang pertama lahir dalam bentuk segumpal daging, dengan mempunyai kepala, mata, telinga, dan mulut, tetapi tidak mempunyai kaki     dan tangan. Namun demikian, setelah besar, anak tersebut ternyata sangat pintar. Karena bentuk tubuhnya yang aneh itu, dia diberi nama sesuai dengannya: Miok-Miok atau Gumeleng-geleng. Konon, anak yang kedua dan ketiga terlahir dengan kembar dampit: seorang pria yang diberi nama Saribu Raja dan seorang wanita yang diberi nama Siboru Pareme. Menyusul    kemudian lahir tiga orang putera, yaitu Limbong, Sagala dan Malau dan  seorang lagi puterinya yang diberi nama Nantinjo. Masih menurut Mangaraja Salomo, karena bentuk tubuhnya yang aneh, Gumeleng-geleng meminta   kepada ibunya agar dia diantarkan ke puncak Dolok Pusuk Buhit. Di tempat    ini dia bertemu dengan Mulajadi Nabolon dan dia pun meminta kepadanya  agar tubuhnya dilengkapi dengan kaki dan tangan, sebagaimana manusia normal pada umumnya. Keinginannya dikabulkan. Akhirnya, dia diberi kaki dan tangan, tetapi anehnya bentuk tubuhnya berubah menyerupai ilik (kadal). Hal yang lebih aneh lagi ialah bahwa dia diberi sepasang sayap dan, katanya, mulutnya tampak seperti moncong babi.

Gumeleng-geleng merasa sangat sedih dengan bentuk tubuhnya yang     baru ini. Dengan menangis, dia kemudian memohon kepada Mulajadi     Nabolon agar bentuk tubuhnya diubah seperti manusia biasa. Akan tetapi,      apa jawab Mulajadi Nabolon? “Saya sengaja berbuat demikian agar engkau tidak bergaul dengan manusia yang penuh dosa karena hanya engkaulah yang dijadikan sebagai perantara sembah (hatorusan ni somba) kepada-Ku,” demikian dikatakan Mulajadi Nabolon. Sejak itulah nama Gumeleng-geleng memperoleh             nama baru Raja Hatorusan, demikian menurut Mangaraja Salomo.

Karena bentuk tubuhnya yang tidak lazim ini, Miok-miok pun   menyandang beberapa nama panggilan baru. Selain Raja Hatorusan, dia juga diberi nama Raja Biak-Biak, Raja Ilik. Konon, karena merasa malu dengan  bentuk tubuhnya yang aneh itu, Gumeleng-geleng pergi ke Barus ke sebuah tempat bernama Uti dan memilih tinggal disana. Kampung Uti, dekat Sungai Simpang Kiri dan sejak itu pula, Gumeleng-geleng juga dikenal dengan nama Raja Uti. Melihat nama dan gelarnya yang begitu banyak, pastilah manusia ini seorang yang begitu luar biasa. Inilah cerita yang berkembang dikalangan   orang Batak khususnya  keturunan Borbor, sebagaimana dikisahkan M.     Salomo dalam bukunya.

 Ada cerita lain, dengan versi yang berbeda, yang berkembang di kalangan keturunan Tuan Sori Mangaraja. Cerita ini baru berkisar dari mulut ke mulut dan belum pernah dipublikasikan. Utiraja adalah anak sulung Tatea      Bulan.Dia adalah seorang pemuda yang tampan, pintar, dan digdaya. Karena kedigdayaannya ini, dia sering berkelana ke tempat yang jauh untuk menimba berbagai ilmu dan pengalaman. Sebagai anak sulung, Tatea Bulan menaruh harapan besar di pundak Utiraja untuk kelak memimpin keturunannya menjadi puak yang disegani. Dalam pengembaraannya, Utiraja pernah melanglang sampai ke Barus. Di tempat ini, dia mendengar banyak cerita tentang perang yang menghancurkan raja orang Batak yang, kalaupun ada yang tersisa, sekarang hidup entah di mana. Utiraja mendengar cerita-cerita sekitar perang ini dengan cermat. Cerita ini dihubungkan dengan keberadaan keluarganya yang ada di Dolok Pusuk Buhit dan sejumlah barang pusaka yang ada di tangan ibu Nai Sumbaon.

Dalam benaknya timbul pertanyaan: Bukankah cerita tentang Raja Batak itu adalah cerita tentang keluarga kami yang sekarang ada di Dolok Pusuk Buhit?  Hal ini pernah dia tanyakan kepada ayahnya Tatea Bulan. Akan tetapi, Tatea Bulan marah besar karena peristiwa ini telah menjadi trauma bagi dirinya. Kalau kisah ini diungkit-ungkit, hal itu akan membawa akibat yang tidak baik untuk keturunannya kelak. Tidak demikian dengan Uti. Sebagai pemuda yang digdaya, dia ingin mengembalikan masa kejayaan leluhurnya. Akan tetapi, dengan mengaku sebagai keturunan Tuan Sori Mangaraja, tanpa bukti, dapat saja dia akan menjadi bahan tertawaan. Jalan satu-satunya ialah dengan cara memberi bukti berupa barang-barang pusaka yang ada ditangan Nai Sumbaon. Utiraja paham benar bahwa memintanya dengan baik-baik adalah sesuatu yang tidak mungkin karena permintaannya ini akan ditentang ayahandanya yang terikat oleh sumpah kepada Raja Sori Mangaraja. Jalan satu-satunya ialah mengambilnya dengan diam-diam. Pada suatu malam yang gelap, barang-barang pusaka tersebut berpindah tangan dan dengan cepat pula Utiraja berangkat ke Barus. Sebelum pergi ke Barus, dia lebih dahulu bermukim di suatu tempat yang sekarang dikenal sebagai Kampung Uti, sesuai dengan namanya. Dari tempat inilah dia mulai memobilisasi kekuatan untuk mengusir orang-orang Aceh dari Barus.

Tentu saja akan timbul petanyaan: Apakah dia dapat mengusirnya dengan begitu mudah? Dengan bantuan sultan Turki, Aceh menjadi kesultanan yang besar dan sangat terkenal. Pasukan Aceh bukan saja menaklukkan Tanah Batak, tetapi juga Kesultanan Deli, Kesultanan Siak dan Indragiri hingga ke Pagaruyung. Mereka juga membuka bandar di Aceh Besar. Para pedagang Eropa lebih suka berdagang langsung di sana karena, di samping jarak tempuhnya yang lebih dekat, juga mereka dapat beristirahat di Pulau Sabang, sekaligus mengisi air minum.

Akan tetapi, sepeninggal Sultan Alaudin Ri’ayatsyah, para penggantinya semua memerintah dengan tidak becus. Misalnya, Sultan Salahuddin yang menggantikannya terpaksa dimakzulkan dan digantikan oleh adiknya Sultan Alimuddin. Kebesaran Kesultanan Aceh mulai memudar setelah Sultan Ri’ayatsyah II,  mencoba untuk mengusir bangsa Portugis dari Malaka. Upaya pengusiran Portugis ini dilakukan berkali-kali dan menguras harta kekayaan sultan. Tetapi sayangnya, walaupun pernah mereka menghancurkan armada Portugis di Selat Malaka, Portugis masih bertahan dengan kokoh dan kuat. Perang melawan Portugis ini menyebabkan Kesultanan Aceh, bangkrut.

Pengganti-pengganti Alauddin Ri’ayatsyah II juga sama, tidak berhasil mengembalikan masa kejayaan pendahulunya. Mereka lebih sibuk mengurus diri sendiri, menikmati hasil kekayaan yang ditumpuk semasa kejayaan leluhurnya. Mereka saling berebut kekuasaan dan saling menjatuhkan. Beberapa generasi setelah Sultan Alaudin Ri’ayatsyah II, hampir seluruhnya mati terbunuh atau, kalau tidak, mati karena diracun.

Dalam gonjang-ganjing seperti ini, Barus akhirnya tidak terurus. Perahu-perahu dagang juga hanya tinggal sedikit singgah di sana. Barus kebanyakan didatangi oleh pedagang lokal dari Minangkabau yang menjadi pengepul di sana. Komoditas yang dikumpulkan mereka bawa ke bandar di Aceh untuk diperdagangkan. Dalam keadaan seperti ini, Utiraja mulai memobilisasi kekuatan rakyat dengan mengaku sebagai penerus Raja Sori Mangaraja dan menabalkan diri sebagai raja dengan gelar Raja Hatorusan, yang dapat    diartikan sebagai penerus (hatorusan) Raja Sori Mangaraja. Barang pusaka yang diambil secara tidak sah dijadikan sebagai bukti bahwa dia adalah ahli waris Raja Sori Mangaraja. Mereka yang masih menginginkan masa kejayaan Raja Sori Mangaraja percaya dengan bukti tersebut.

Untuk meyakinkan, bahwa R. Uti adalah pelanjut kerajaan Raja Sori Mangaraja (pewaris barang-barang pusaka tersebut)  dibangun pula satu cerita berbentuk hikayat,  yang  diketahui  sangat luas  oleh penduduk Barus  hingga saat ini. Ini adalah penggalan dari hikayat berikut:

Bermula di hikayatkan suatu raja dalam negeri Tobah silalahi lua Baligi Parsoluhan suku Pohan. Adapun itu raja namanya Raja Kesaktian beranakkan lima orang laki-laki yang tuha bernama Mage di Pohan, yang kedua bernama Lahi Sabungan, yang ketiga bernama Raja Tumbu Padi, yang kaampat bernama Raja Pahit Tuha yang kelima bernama Raja Alang Sabatangan Pardoksi. Adapun satu masa itu Raja Kesaktian barale. Dalam pada itu masa maka disuruhnya anak bernama Alang Pardoksi  mencari minyak jujungan maka itu Alang Pardoksi pergi ka negeri Asahan di sebelah timur. Sepeninggal Alang Pardoksi mencari minyak itu Raja Kesaktian mulai juga barale….

Cerita  ini, persis sama dengan cerita berpisahnya putera Tuan Sorba Dibanua yaitu Pohan dengan ketiga adiknya, Paittua, Sabungan dan Oloan. Akan tetapi dalam turunan Tuan Sorba Dibanua yang dalam kronik disebut Raja Kesaktian, tidak ada nama Raja Tumbu Padi apalagi Raja Alang Sabatangan Pardoksi yang kemudian memisahkan diri. Berat dugaan cerita ini dipoles demikian rupa, agar turunan Raja Uti tetap diakui sebagai salah seorang pewaris barang-barang pusaka tersebut yang dia gunakan sebagai bukti bahwa mereka juga adalah pewaris sah dari  Raja Sori Mangaraja. Ikatan kekeluargaan tersebut semakin diperkuat dengan cerita lain,  masih dalam hikayat tersebut:

Alkisah maka tersebutlah perkata’ an kepada raja di Lua’ Simamora negeri Dolo’ Sanggul kampung bernama Lumban Si Tupang sukunya Simamora. Adapun itu raja bernama Tuan Mirhim, dia ada beranak tujuh orang anak laki-laki yang kecil bernama Si Namora. Si Namora itu tidak beranak yang lain-lain saudaranya suda beranak masing-masing. Dengan takdir Allah pada suatu hari maka berkelahi perempuannya dengan perempuan saudaranya sebab dari lulu diatas rumah kenai kaki itu perempuan saudaranya. Maka itu perempuan yang kenai lulu itu bertanya kepada lain perempuan katanya “ini tahi siapa disini sudah kenai aku punya kaki, mengapa tidak dibuang?“ katanya. Dalam pada itu maka menyahut perempuan yang lain dari saudaranya juga perempuan katanya: “Siapa mahu buang bukan kami punya anak yang bikin kotor disitu, kalau siapa punya anak yang bikin kotor suruh dia buang ….”

Cerita tentang Toga Simamora yang mempunyai dua orang isteri¾yang karena sering bertikai menyebabkan Toga Simamora pindah ke Barus dan kawin lagi dengan puteri Alang Pardoksi¾dapat dibaca dalam buku Tarombo Batak, karya Wasinton Hutagalung. Cerita perkawinan Simamora versi Barus ini, perlu diteliti kebenarannya karena dikatakan putera-putera Simamora dari isterinya yang ketiga yaitu puteri Datu Alang Pardoksi nama-nama mereka persis sama dengan nama-nama putera dari isterinya yang kedua.

Menjadi pertanyaan apa tujuan dari pengaburan silsilah tersebut ? Tujuan yang utama jelas, ialah tentang kepemilikan barang pusaka. Seperti telah kita kemukakan didepan,  Tatea telah lebih dahulu disumpah untuk melindungi Sumba dan ibunya dan begitu pula barang-barang pusaka milik kerajaan. Akan tetapi siapa sangka barang pusaka tersebut, justru dicuri oleh anaknya sendiri.  Tidak mau di cap sebagai pencuri R.Uti  merekayasa satu kronik silsilah dengan mana dia  ingin pengakuan, bahwa barang pusaka yang ada ditangannya adalah haknya juga.

 Namun, R. Uti rupanya tetap memberikan pesan kepada keturunannya apabila satu waktu, ada orang  meminta pengembalian barang pusaka tersebut supaya diberikan. Raja Uti menyadari bahwa barang pusaka itu bukanlah  haknya  dan  oleh karenanya harus dikembalikan kepada yang berhak. Artinya walaupun kronik silsilah tersebut diatas  di rekayasa demikian rupa R. Uti tetap berpesan, yang  hak tetap hak, yang tidak hak, harus dikembalikan kepada yang berhak. Itulah yang terjadi waktu Manghuntal Sinambela, meminta pengembalian barang pusaka tersebut. Untuk menutupi cerita aslinya, Mangaraja Salomo dalam bukunya TAROMBO NI BORBOR MARSADA membuat satu cerita yang lebih tidak masuk akal sebagai berikut:

Menurut Mangaraja Salomo, barang-pusaka itu dikembalikan setelah melewati adu kepintaran. Raja Manghuntal dapat memenuhi seluruh permintan Raja Uti. Permintaannya adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan merupakan ujian bagi Manghuntal. Permintaan Raja Uti tersebut, menurut Mangaraja Salomo, antara lain adalah:

Sada horbo tunggal sihalung jala na marngingi di ginjang, sada bulung ni ri,  nasa bidang ni bulung gaol, sada pungga na marimbulu, sada lote na morlai-lai, sada tali rihit, sada jolma na marsaongkon pinggol na jala na marsabe-sabehon susu na.

 (Satu ekor kerbau jantan yang mempunyai gigi di atas, satu lembar daun ilalang yang daunnya selebar daun pisang, satu batu asah berbulu, seekor burung puyuh yang mempunyai jengger seperti ayam jantan, seutas tali yang terbuat dari pasir, dan seorang manusia yang mempunyai telinga yang dapat dijadikan sebagai tutup kepala dan mempunyai susu yang dapat dihadang di bahu).

Permintaan tersebut jelas terlihat serba tidak masuk akal. Konon, menurut Mangaraja Salomo, permintaan itu ternyata dapat dipenuhi sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak memberikan barang pusaka tersebut. Cerita-cerita seperti inilah yang dikembangkan dengan maksud, agar pengusaan tanpa hak (dicuri) atas barang pusaka tersebut dapat ditutupi. Dan yang lebih penting lagi, tokoh Raja Uti sebagai tokoh mistis, dapat hidup terus dikalangan turunan Gr Tatea Bulan.

 Suatu tulisan lain menyinggung pengembalian barang pusaka ini dimuat dalam Majalah L.K.I. No. 38, yang ditulis oleh van Dijk. Dikatakan bahwa kedatangan Raja Manghuntal Sinambela ke Barus adalah kunjungan kepada Sultan Aceh. Sultan Aceh, menurut van Dijk, memberikan kepada Raja Si Singamangaraja seekor gajah sebagai tunggangan dan alat-alat kebesaran kerajaan, berupa sebilah tombak, sebilah pedang Jonan Pohan, sebilah keris gaja dompak dan sehelai tikar kaomasan. Dalam tulisan itu dikatakan bahwa pemberian barang pusaka itu adalah bukti ikatan antara Raja Aceh dan Raja Batak. Apa pun versinya, jelaslah bahwa kedatangan Raja Manghuntal  ke Barus adalah untuk menuntut hak milik leluhurnya. Dan dengan penemuan barang pusaka tersebut, tidak ada lagi alasan untuk turunan Tuan Sori Mangaraja menolak Manghuntal sebagai raja, karena begitulah pesan leluhur mereka “Siapa pun yang menemukan barang pusaka tersebut harus diakui sebagai raja”.

Atas keberhasilannya itulah, Manghuntal Sinambela mau tidak mau “terpaksa” diakui oleh turunan Bagot ni Pohan sebagai raja, anggi di partubu, haha di harajaon,  dan kepadanya diberi gelar Raja Si Singamangaraja.  

Di antara  barang pusaka yang pernah dimiliki, di samping stempel, yang tersisa hanyalah satu, yaitu keris gaja dompak, yang sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Keris itu diserahkan oleh Kapten Christoffel kepada Gubernur Jenderal Van Heutz di Istana Bogor sebagai bukti bahwa  Raja Si Singamangaraja XII telah tewas.

 

2. Saribu Raja

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, Saribu Raja adalah putera kedua Tatea Bulan. Dia lahir kembar dampit dengan seorang puteri yang bernama Siboru Pareme. Sebagai anak yang lahir kembar, dapat dimaklumi hubungan keduanya sangat dekat. Biasanya, untuk menjaga hal-hal yang tidak dikehendaki, anak yang terlahir kembar dampit selalu dipisahkan sejak dini. Akan tetapi, hal tersebut tidak dilakukan pada keduanya. Mereka tumbuh dan menjadi besar secara bersama-sama dan hal ini menyebabkan hubungan keduanya terjalin dengan begitu akrab.

Setelah Utiraja meninggalkan kampung Sianjur Mula-mula, harapan orang tuanya kemudian tertumpu pada Saribu Raja. Dari segi kedigdayaan dan ketampanan, sebenarnya Saribu Raja memiliki syarat yang mencukupi untuk menggantikan ayahandanya Tatea Bulan. Juga, ketekunannya mempelajari hadatuon (ilmu perdukunan) menyebabkan Saribu Raja diyakini akan dapat memimpin adiknya mengembalikan masa kejayaan nenek moyangnya kelak. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang berkenan di hati orang tuanya, yaitu hubungannya yang terlalu dekat dengan adiknya Siboru Pareme.

Rasa khawatir inilah yang mendorong Tatea Bulan cepat-cepat mencari jodoh bagi Saribu Raja, dengan maksud agar Saribu Raja dapat dipisahkan dengan Siboru Pareme. Akhirnya, Saribu Raja dikawinkan dengan seorang wanita yang masih merupakan penduduk di sekitar itu juga, yang bernama Nai Margiring Laut. Sejak mereka dikawinkan, mereka berdua diberi lahan baru (dipajae) di suatu kampung yang diberi nama Parik Sabungan. Di tempat inilah Saribu Raja bermukim.

Menghadapi kenyataan ini, Siboru Pareme merasa diperlakukan tidak adil. Menurutnya, sebagai seorang wanita, dirinyalah yang pantas dicarikan jodoh, bukan Saribu Raja. Hal ini dianggap wajar karena, dengan melihat situasi kampung yang terisolir itu, dia tidak akan mungkin mendapatkan jodoh. Sebaliknya, karena Saribu Raja adalah seorang laki-laki, dia dapat saja pergi ke tempat lain untuk mencari jodohnya. Karena itu, Siboru Pareme berkesimpulan bahwa perkawinan Saribu Raja adalah rekayasa untuk memisahkan dirinya dari abangnya. Sementara itu, dia tahu persis bahwa abangnya sebenarnya merasa cukup sayang kepadanya dan tidak ingin berpisah. Perlakuan yang tidak adil ini mendorong Siboru Pareme menggoda abangnya sendiri sehingga apa yang tidak diharapkan pun terjadi.

  Tulisan ini pernah dimuat dalam majalah Bona Pinasa yang kemudian dibantah oleh Sutan Habiaran Siregar dengan menulis buku kecil dengan judul Kisah Tuan Saribu Raja dan Si Boru Pareme, yang diterbitkan di Medan pada tahun 1994. Dalam tulisannya, Sutan Habiaran Siregar tidak membantah substansi persoalannya, melainkan hanya karena penulis bukan merupakan keturunan Raja Lontung sehingga dianggap tidak “kompeten” untuk menulis hal-hal yang menyangkut Siboru Pareme. Menurut versi Sutan Habiaran, Siboru Pareme tercium minyak sinyongnyong (dorma) Saribu Raja, yang menyebabkan dirinya jatuh cinta pada abangnya. Hal ini mengakibatkan mereka berdua mengadakan hubungan tercela. Apa pun penyebabnya, hubungan terlarang itu jelas terjadi.

  Cerita tentang anak kembar dampit banyak dikenal dalam cerita rakyat Batak, antara lain cerita tentang tunggal panaluan yang bermula dari dua orang bersaudara, Siaji Donda Hatahutan dan saudara kembarnya Siboru Tapi Nauason. Keduanya melakukan hubungan terlarang di bawah sebatang pohon kayu yang lalu menelan mereka. Kayu inilah yang kemudian diukir menjadi tongkat yang dikenal sekarang sebagai tongkat tunggal panaluan. Cerita seram lainnya tentang hubungan terlarang ini adalah kisah Siboru Naitang yang begitu tega membunuh suaminya karena dia lebih mencintai abangnya sendiri Inar Naiborngin. Cerita tentang Siboru Naitang ini, konon, melahirkan tali persaudaraan antara Naibaho dan Sihombing Lumbantoruan hingga saat ini.

  Jelaslah bahwa hubungan cinta yang dapat menjurus ke perbuatan tercela (kawin sumbang) antara dua anak kembar dampit dapat saja terjadi tanpa minyak sinyongnyong, seperti yang dilansir oleh Sutan Habiaran. Hubungan seperti ini umumnya terjadi karena kedekatan kedua anak yang berbeda jenis kelamin tersebut. Lama-kelamaan, kedekatan ini berkembang begitu dalam hingga menghapus rasa malu yang timbul karena melanggar aturan-aturan adat yang telah digariskan para leluhur. Kejadian seperti ini tidak terkecuali bagi Saribu Raja dan Siboru Pareme.

Akibat perbuatan tercela tersebut, Siboru Pareme kemudian hari berbadan dua. Hal ini menyebabkan ketiga adik laki-laki Saribu Raja lainnya¾ Limbong, Sagala dan Lauraja¾sangat marah. Bagi pelaku seperti ini hukumannnya adalah bunuh. Akan tetapi, membunuh Saribu Raja bukanlah urusan mudah. Selain karena mereka masih terikat oleh hubungan darah, kedigdayaan Saribu Raja juga perlu diperhitungkan. Sementara mereka menyusun cara untuk melakukan pembunuhan tersebut, rencana itu dibocorkan oleh anak bungsu Lauraja. Pembocoran rencana ini sempat mengakibatkan hubungan ketiga bersaudara ini menjadi renggang. Saribu Raja sadar akan kesalahannya. Melakukan perlawanan tentu saja bukanlah tindakan yang bijaksana. Satu-satunya jalan ialah melarikan diri dan menjauh dari amarah saudara-saudaranya. Sebelum melarikan diri, dia membenahi barang-barang pusaka yang menjadi milik keluarganya. Dengan diam-diam, benda-benda tersebut disimpan di suatu liang batu (batu hobon).

Sebetulnya, hilangnya barang pusaka Tatea Bulan inilah yang mendorong ketiga bersaudara itu mengucilkan Siboru Pareme ke hutan. Mereka mengharapkan bahwa suatu saat Saribu Raja akan datang untuk menjenguknya. Mereka sepakat menangkap Saribu Raja untuk ditanyakan tentang keberadaan barang-barang pusaka keluarga tersebut. Akan tetapi, Saribu Raja telah lebih dulu raib bagaikan ditelan bumi. Menurut versi Mangaraja Salomo, dalam masa berkelananya, Saribu Raja masih sempat kawin dengan beberapa orang wanita, yang antara lain mengambil bentuk dalam wujud seekor harimau belang dan dalam wujud seekor beruk (bodat simumbol-umbol). Namun, yang pasti ialah bahwa Saribu Raja berangkat ke Barus untuk menemui abangnya Raja Uti. Marga Tanjung, yang sekarang ada di Barus dan Tapanuli Tengah, adalah salah satu keturunan Saribu Raja.

3. Iborboran

Nai Margiring Laut, isteri pertama Saribu Raja, ditinggalkan dalam keadaan hamil tua dan tanpa pesan. Lama ditunggu-tunggu, Saribu Raja tidak kunjung muncul. Hal ini menyebabkan rasa khawatir timbul dalam diri Nai Margiring Laut tentang masa depan anak yang ada dalam kandungannya. Tatea Bulan dapat memaklumi apa yang tersirat dalam batin menantunya. Karena itu, Tatea Bulan memanggil ketiga anaknya¾Limbong, Sagala dan Lauraja. Tatea Bulan menyampaikan masalah ini kepada anak-anaknya dan meminta pendapat mereka. Ketiganya sepakat,  apabila anak yang lahir tersebut adalah anak laki-laki, haknya sebagai anak sulung (raja ijolo) tetap akan diakui. Tatea begitu terharu atas ketulusan anak-anaknya.

 Setelah setuju dengan kesepakatan itu, Tatea Bulan mambuhul ari (melihat hari yang baik) kapan mereka akan menyelenggarakan pesta (ritus agamis) yang dimaksudkan untuk mengukuhkan perjanjian tersebut. Tatea Bulan memimpin upacara itu secara langsung. Dengan kata-kata mantra (tonggo-tonggo), Tatea Bulan memohon Mulajadi Nabolon untuk memberkati orang-orang yang berjanji tersebut. Kemudian, secara simbolis, Tatea Bulan menyerahkan suatu tombak yang bernama hujur siringis, sebagai simbol persatuan dan kesatuan keturunan Tatea Bulan, kepada anak yang ada dalam kandungan Nai Margiring Laut. Setelah diserahkan, ogung (gendang) pun dipukul bertalu-talu. Tanpa disangka-sangka, petir dan kilat sambar-menyambar dan hujan pun turun bagaikan dicurahkan dari langit. Mereka terus manortor (menari) tanpa menghiraukan badan mereka yang telah basah kuyub. Mereka gembira, yakin doa mereka didengar Mulajadi Nabolon.

Selesai menari, mereka bersama-sama masuk rumah dan, tidak lama kemudian, dari rahim Nai Margiring Laut lahir anak laki-laki yang kemudian diberi nama Iborboran. Nama Iborboran dipilih karena kelahiran anak tersebut bertautan dengan kejadian pada waktu itu ketika mereka diborbor udan (diguyur hujan yang sangat lebat). Padan (perjanjian) itu sampai saat ini mengikat erat keturunan Saribu Raja dengan keturunan Limbong, Sagala, dan Lauraja, dan mereka bersatu dalam kelompok yang diberi nama Borbor Morsada (Persatuan Borbor).

4. Limbong, Sagala dan Lauraja

Ketiga bersaudara ini, yang juga merupakan anak Guru Tatea Bulan dan adik Utiraja dan Saribu Raja, tidak menorehkan kisah yang berliku-liku. Tidak banyak cerita dapat diungkapkan tentang mereka, kecuali bahwa kepindahan Lauraja dari Sianjur Mula-mula terjadi karena ketidakserasian hubungannya dengan kedua abangnya. Lauraja dicurigai sebagai orang yang membocorkan rencana pembunuhan Saribu Raja sehingga abang mereka yang telah melakukan kesalahan besar dengan mengawini kakak perempuan mereka keburu menyelamatkan diri.

Setelah Utiraja dan Saribu Raja meninggalkan Sianjur Mula-mula, Limbong sebagai anak sulung yang tersisa kemudian mengambil-alih kepemimpinan. Upacara-upacara persembahan kepada Ompu Namartua Dolok Pusuk Buhit selanjutnya diselenggarakan dengan dipimpin keturunan marga Limbong dengan gelar Jonggi Manaor. Gelar yang diberikan hanya terbatas di situ karena, sesuai dengan kesepakatan, gelar raja ijolo adalah hak keturunan Iborboran. Walaupun hanya berstatus paidua (nomor dua), Jonggi Manaor banyak melaksanakan tugas-tugas raja ijolo karena keturunan Iborboran sejak dulu sudah meninggalkan Sianjur Mula-mula. Hal ini terjadi karena pertikaian di antara sesama mereka yang sulit didamaikan. Pertikaian ini telah berlangsung selama beberapa dekade.

5. Siboru Pareme dan Lontung

Menghilangnya Saribu Raja mendorong saudara-saudaranya untuk mengucilkan Siboru Pareme ke dalam hutan. Motif pengucilan ini sebenarnya adalah untuk menangkap Saribu Raja. Tidak sedikit pun terlintas dalam benak mereka untuk membuang Siboru Pareme karena bagaimanapun Siboru Pareme adalah saudara mereka juga. Itulah sebabnya mengapa Siboru Pareme hanya dimodali sedikit makanan dan sebilah pisau kecil. Juga, sebuah gubuk telah didirikan sebelumnya sebagai tempat tinggalnya.

Sewaktu Tatea Bulan mengadakan pesta pengukuhan padan tentang kedudukan Iborboran sebagai raja ijolo dan mereka sedang bergembira ria di bawah guyuran hujan lebat, mereka sedikit pun tidak teringat bahwa nun jauh di sana, di kegelapan hutan, seorang ibu sedang menangis tersedu-sedu. Pohon-pohon bertumbangan dan gubuk yang menjadi tempat tinggalnya hancur berantakan diterjang badai, seolah-olah badai tersebut tidak berbelaskasihan kepada ibu yang sedang hamil itu. Badannya basah kuyub dan mengigil sambil menahan rasa dingin.

Dia pun menangis tersedu-sedu dan meratapi nasibnya tanpa ada yang mendengar, “Ai ahu on ma da Ompung marsulu-sulu bintang, marrongkaphon antaladan,  ai anggo na lilu di sirpang, adong do panungkunan dalan, alai beha ma i, on ma huroha bagian ni sibaran.  Syair ratap-tangis ini adalah keluhan seorang ibu yang menyesali takdirnya di kegelapan malam, yang bertanya kepada Tuhannya apakah dia telah salah langkah. Dia tersedu-sedu dalam kesendiriannya di hutan pada malam yang gelap dengan hanya diterangi kerlap-kerlip bintang nun jauh di atas langit sambil merenungi nasibnya tanpa mengetahui apa kesalahannya.

Begitu bangun pagi-pagi, kala matahari sedang naik, Siboru Pareme pergi menuju suatu mata air untuk membersihkan diri. Di tengah jalan, dia melihat seekor harimau yang kakinya terjepit di bawah sebatang pohon yang tumbang. Angin-badai malam itu rupanya menimbulkan petaka lain. Harimau itu mungkin berteduh di bawah sebatang pohon yang tiba-tiba tumbang. Harimau itu mencoba untuk melarikan diri, tetapi sayangnya ekor dan tubuh belakangnya tertimpa pohon, yang menyebabkan kakinya terjepit.  Berbagai upaya telah dilakukan hingga harimau itu kehabisan tenaga, namun kakinya tetap saja tidak pernah terlepas.

Raungan harimau dengan pandangan yang memelas itu mengusik rasa kasihan Siboru Pareme. Dia mencari sepotong dahan untuk mencoba mengungkit batang pohon tersebut. Walaupun hanya sedikit terungkit, hal itu sudah cukup bagi sang harimau untuk melepaskan kaki belakangnya. Harimau itu dapat berdiri walaupun untuk itu binatang tersebut terpaksa berjalan tertatih-tatih (timpang). Binatang inilah yang dikenal sebagai Babiat si Telpang (Harimau Pincang) yang kemudian menjadi sahabat Siboru Pareme dalam kesendiriannya di tengah hutan.

Menurut versi yang ditulis Punguan Borbor, Harimau Pincang ini adalah harimau “jadi-jadian” yang juga merupakan isteri Saribu Raja dan dari binatang ini diperoleh pula seorang anak yang bernama Raja Galeman. Konon, binatang ini diutus oleh Saribu Raja untuk menemani Siboru Pareme dalam kesendiriannya di tengah hutan. Sementara menurut versi komponis Nahum Situmorang dalam lagu ciptaannya yang berjudul “Lontung si Sia Marina,” persahabatan antara harimau itu dan Siboru Pareme terjalin karena ada tulang yang tersangkut di kerongkongan sang harimau dan kemudian dicabut oleh Siboru Pareme.

Kita tidak perlu mempersoalkan mana di antara versi ini yang benar. Jelas, timbul satu ikatan persahabatan antara Harimau Pincang (Babiat si Telpang) tersebut dan Siboru Pareme. Di samping menjaga Siboru Pareme dari ancaman binatang buas yang lain, harimau itu juga banyak memberikan hasil buruannya kepada Siboru Pareme sehingga dia merasa aman dan tidak khawatir akan kekurangan bahan makanan. Begitu pula, setelah anaknya lahir, yang diberi nama Lontung (Ilontungon), harimau itu tidak kurang jasanya dalam menjaga ibu dan anak ini dari segala gangguan. Bahkan, setelah Ilontungan beranjak remaja, harimau inilah satu-satunya temannya bermain, layaknya Romulus dan Remus, pendiri Roma yang dibesarkan oleh serigala. Keberadaan harimau di tengah keluarga Siboru Pareme menyebabkan ketiga bersaudara Limbong, Sagala, dan Lauraja terlihat sedikit jeri. Inilah yang mengakibatkan pengucilan Siboru Pareme, yang pada awalnya hanya untuk sementara, berubah menjadi selamanya. Dengan melihat kenyataan bahwa anak yang dilahirkan itu tumbuh sehat dan tangkas, ketiganya pun takut bahwa anak tersebut akan melancarkan balas-dendam akibat perlakuan mereka terhadap ibunya. Karena itu, mereka pun marbulan (bersumpah) untuk kelak secara bersama-sama menghadapi keturunan Ilontungan. Tempat mereka berjanji ini disebut Sabulan (satu dalam perjanjian), yang sekarang menjadi tempat asal keturunan Lontung. Dari kisah inilah lahir pemeo: Dengke ni Sabulan, tu tonggi na, tu tabo na; si ose padan tu ripur na, tu mago na. Artinya, orang yang mengingkari janji akan hancur-lebur.

Hal itu tentu saja berbeda dari apa yang ditulis oleh Sutan Habiaran Siregar tentang bulan (sumpah) Siboru Pareme yang bertekad tidak akan pulang ke kampung-halamannya. Ternyata kemudian sumpah ini terlupakan karena Iborboran (anak Saribu Raja dari isterinya Nai Margiring Laut) dapat mempersatukan keluarga ini. Bahkan, menurut cerita, Iborboran bersama Ilontungon pernah membalaskan dendam ayahnya kepada Tunggul Nijuji karena orang ini pernah mempermalukan ayah mereka Saribu Raja.

Kebersamaan dalam melancarkan balas dendam itu terjadi setelah Saribu Raja kalah dalam bermain judi melawan Tunggul Nijuji. Karena uang Saribu Raja telah habis, yang tersisa hanyalah alis dan bulu mata. Sayangnya, nasib mujur juga tidak berpihak kepadanya. Alis dan bulu matanya dicabut satu persatu hingga licin. Dapat dibayangkan bagaimana Saribu Raja yang terkenal rupawan itu tampil tanpa bulu mata. Hal itu menimbulkan rasa malu yang tidak terhingga dalam dirinya. Cerita ini melegenda dengan judul “Utang ni Saribu Raja” (Hutang Saribu Raja).

Lalu, bagaimanakah terjadi cerita tentang perkawinan Siboru Pareme dengan anaknya sendiri? Memang benar bahwa Siboru Pareme kemudian kawin dengan anaknya Ilontungan, yang ditafsirkan oleh banyak orang terjadi semata-mata karena dorongan nafsu (hisap ni daging). Sedikit pun Siboru Pareme tidak pernah berniat untuk mengelabui anak kandungnya dengan menyatakan dirinya sebagai pariban atau boru ni tulang (saudara sepupu yang boleh dinikahi). Setelah anaknya remaja, Siboru Pareme berkali-kali menyuruh Ilontungan pergi ke tempat asal orang tuanya dengan maksud agar anaknya bergaul sebagaimana layaknya orang kebanyakan dan mudah-mudahan kemudian memperoleh jodoh di sana. Ilontungon pun menurutinya, tetapi ia selalu disisihkan dalam pergaulan.Ada tiga alasan mengapa Ilontungan disisihkan dalam pergaulan.

Pertama, dia dilahirkan sebagai hasil dari perkawinan sedarah, sesuatu yang sangat tabu dalam masyarakat Batak. Kedua, Ilontungan lahir dan dibesarkan di hutan. Di samping ibunya, sahabat satu-satunya adalah harimau yang banyak memberi pelajaran kepadanya untuk menangkap binatang buruan. Ini menyebabkan perilakunya sangat berbeda dari manusia biasa. Ketiga dan yang paling tidak dapat diterima oleh Siboru Pareme adalah kata-kata yang melecehkan anaknya sebagai anak ni na latongon (putera wanita yang “kegatalan”). Latong adalah sejenis tumbuhan yang, apabila kena pada badan, akan menimbulkan rasa yang sangat gatal. Mereka menuduh Siboru Pareme telah membujuk saudara kandungnya untuk melakukan perbuatan yang tidak benar karena “gatal,” bukan karena kasih. Bahkan ditengarai, nama Ilontungon berasal dari kata latong tersebut.

Kalau pun akhirnya Siboru Pareme mengambil keputusan yang bertolak belakang dengan adat-kebiasaan manusia dengan menikahi anaknya sendiri, hal itu merupakan pemikiran yang logis. Pertimbangannya ialah karena anak tunggalnya tersebut telah dipelihara dengan taruhan nyawa. Apakah mungkin anaknya itu dibiarkan dalam kesendirian hingga mate punu (mati tanpa keturunan)? Sekali lagi, Siboru Pareme mengadu kepada Mulajadi Nabolon. Dia bertekad bahwa dirinya tidak akan membiarkan anaknya hidup sebatang kara dan mati tanpa meninggalkan keturunan, sekalipun  untuk itu harus dia bayar dengan harga yang sangat mahal.

Jalan pemikiran inilah yang mendorong Siboru Pareme untuk memperdaya anaknya dengan menyuruhnya pergi untuk menemui pariban-nya. “Wajahnya persis seperti wajahku,” demikian kata Siboru Pareme, seraya memberikan cincin yang dikenakannya kepada Ilontungon. “Apabila cincin ini masuk dengan pas ke dalam jarinya, itulah pariban-mu. Bawalah dia dan jadikanlah sebagai isterimu. Jangan kembali lagi ke kampung ini, karena saya pun akan pulang dan kembali ke rumah orang tuaku,” demikian kata Siboru Pareme kepada Lontung.

Semua tipu-daya yang direncanakan Siboru Pareme ternyata berhasil dan Ilontungon menikahi perempuan yang persis sama dengan yang digambarkan ibunya tersebut. Tampaknya, dia tidak tahu bahwa perempuan itu tidak lain adalah ibunya sendiri. Ia pun menikahinya dan dari perkawinan tersebut lahir tujuh anak laki-laki dan dua anak perempuan. Anak-anak laki-laki yang lahir tersebut, menurut tulisan Wasinton Hutagalung, secara berturut-turut adalah Situmorang, Sinaga Raja, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar dan kedua puteri tersebut adalah Siboru Amak Pandan dan Siboru Panggabean.

Perkembangan keturunan marga-marga Lontung yang begitu pesat tentu saja akan menimbulkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Lontung adalah hasil perkawinan sedarah. Anak sebagai hasil dari hubungan sedarah ini kawin pula dengan ibunya yang, menurut kaidah moral, merupakan sesuatu yang sangat tidak dapat diterima. Mungkinkah perkawinan di luar kaidah ini berkenan di hati Sang Pencipta? Namun, sebagaimana ternyata terjadi kemudian, Tuhan yang Mahakuasa memberkati perkawinan yang tidak lazim ini. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya baru: Apakah dosa yang dibuat oleh Siboru Pareme sebanding dengan dosa yang dibuat oleh lingkungannya terhadap dirinya? Dia hidup dalam kesendirian di tengah hutan dalam keadaan hamil dan melahirkan tanpa ada orang yang memberikan pertolongan. Selain itu, anak semata wayang yang dipeliharanya dari kecil hingga dewasa dikucilkan dari tengah pergaulan. Apakah Siboru Pareme akan membiarkan anak ini akhirnya mate punu? Hal ini telah mendorongnya   yang menurut ukuran kita sangat tidak patut.

6. Sumba (Raja Isumbaon)

Di atas telah banyak diutarakan cerita sekitar anak-anak Tatea Bulan, mulai dari Raja Uti, Saribu Raja, dan Siboru Pareme serta keturunan mereka. Juga sedikit telah disinggung mengenai Limbong, Sagala dan Lauraja. Masih ada anaknya yang lain, Nantinjo, yang konon mati bunuh diri. Menurut Mangaraja Salomo, anak ini adalah sangkar so anak  lahi, ulu balang parompuan, suatu istilah halus untuk seorang banci. Pada saat akan dikawinkan, karena takut rahasianya terbongkar, dia memilih untuk menerjunkan diri ke dalam danau. Dia memilih untuk bunuh diri dan menjadi hantu penunggu di Pulau Tao di Simanindo sekarang.

Lalu, bagaimanakah cerita tentang si anak kecil Sumba bersama ibundanya? Pada awalnya, Sumba dan ibunya juga tinggal di Sianjur Mula-mula. Sampai beranjak remaja, Sumba tinggal bersama saudara-saudaranya yang lain dari keturunan Guru Tatea Bulan. Hubungan Nai Sumbaon dengan isteri Tatea Bulan juga cukup akrab. Namun, ada juga rasa khawatir dalam diri ibu ini tentang masa depan anaknya yang semata wayang itu. Dia tetap merasa khawatir bahwa, apabila terjadi konflik di antara kedua keluarga ini, Sumba sebagai anak tunggal tentu tidak akan mampu menghadapi kelima saudaranya.

Hilangnya barang pusaka Raja Sori Mangaraja menyebabkan Nai Sumbaon berkesimpulan bahwa tempat tersebut sudah tidak aman lagi bagi anaknya. Dengan diam-diam dalam kegelapan malam, Nai Sumbaon membawa anaknya meninggalkan kampung Sianjur Mula-mula. Tidak seorang pun tahu ke mana ibu yang malang ini pergi. Ke mana pun dicari oleh para pengawal, Nai Sumbaon bersama anaknya tidak diketemukan dan mereka hilang-lenyap bagaikan ditelan bumi. Para pengawal mencarinya sampai ke wilayah timur. Karena upaya mereka sudah sia-sia, para pengawal tadi memutuskan untuk tidak pulang. Mereka akhirnya menetap di daerah timur dan bergabung dengan satu kelompok pelarian dari Kerajaan Haru yang ditumpas oleh pasukan ekspedisi Pamalayu. Mereka kemudian mendirikan suatu kerajaan di Dolok Silo dan keturunan mereka kemudian dikenal sebagai puak Simalungun (malungun berarti rindu, yang melukiskan kerinduan untuk bertemu dengan Isumbaon). Itulah pula sebabnya mengapa puak ini tetap memelihara hubungan dengan saudara-saudara mereka yang ada di Dolok Pusuk Buhit.

Marilah kita ikuti perjalanan Nai Sumbaon bersama anaknya. Rupanya, Nai Sumbaon mengambil jalur yang tidak biasa. Begitu keluar dari kampung Sianjur Mula-mula, dia pergi ke Siogung-ogung, lalu berjalan menuju tempat yang sekarang dikenal dengan nama Pangururan. Dari Pangururan, mereka pergi menuju suatu tempat yang dikenal dengan nama Sabulan. Di tempat ini, Isumbaon dikawinkan dengan seorang wanita setempat. Dari wanita ini lahir seorang anak yang diberi nama Sori Mangaraja, dengan mengambil nama kakeknya, dengan harapan agar anak itu dan keturunannya kelak akan tetap ingat pada leluhurnya. Kebiasaan memberi nama kakek kepada cucunya (mambuat goar) sampai sekarang masih berlaku dalam masyarakat Batak. Dalam tarombo Batak, nama Sori Mangaraja diberi gelar Tuan, begitu pula kelak kepada tiga anaknya diberi gelar : yang pertama bernama Ambat gelar Tuan Sorba Dijulu, yang kedua bernama Rasa gelar Tuan Sorba Dijae, dan yang ketiga bernama Suan gelar Tuan Sorba Dibona ( Banua).

Tempat ini kemudian bertambah ramai karena ternyata kemudian Ilontungon dan isterinya juga memilih tempat ini sebagai tempat mereka bermukim. Di tempat ini, mereka tinggal dengan aman, hidup bahagia, dan dari rahim isterinya lahir anak-anak yang tangkas dan rupawan. Akan tetapi, setelah keluarga ini beranak-pinak, muncul sesuatu yang tidak terduga. Suatu bencana alam, sebagai akibat turunnya hujan lebat selama berhar-hari, mengakibatkan banjir besar dan tanah longsor. Penghuni Sabulan lari untuk menyelamatkan diri, sebagian ke Urat, sebagian ke Harian dan sebagian lagi ke Pulau Sibandang. Bencana besar tersebut menyebabkan wilayah ini, yang semula penuh dengan air, makin meluas dan hanya tersisa sedikit daratan di Siogung-ogung. Tanah yang tersisa ini kemudian digali oleh Pemerintah Belanda dan diberi nama Tano Ponggol (tanah yang dipenggal) dan, sejak itu, wilayah ini dikelilingi air yang oleh pemerintah Belanda diberi nama Pulau Samosir dan air yang mengitarinya diberi nama Danau Toba. Kedua nama ini adalah pemberian Belanda.

  Sori Mangaraja sendiri pergi menuju Balige dan menetap di sana. Di tempat ini, setelah kawin, dia membuka perkampungan yang sekarang dikenal dengan nama Lumban Gorat. Walau  sudah merasa bahagia tinggal di

 sana, Sori Mangaraja selalu ingat dengan pesan orang tuanya untuk mencari barang pusaka leluhurnya yang hilang. Sebelum meninggal, Raja Isumbaon memberi pesan terakhir kepadanya, agar barang pusaka itu dicari sampai diketemukan, dengan pesan, “Hanya benda inilah yang dapat dijadikan bukti bahwa kalian adalah keturunan Raja Sori Mangaraja. Barang siapa pun yang menemukannya harus diakui sebagai raja

Pesan itulah yang mendorong Tuan Sori Mangarja pergi ke Sianjur Mula-mula dengan meninggalkan isterinya. Tujuan utamanya adalah untuk mencari barang pusaka leluhurnya. Namun, di tempat ini, dia kawin lagi dengan puteri setempat dari marga Sagala. Dari boru Sagala ini lahir anak yang bernama Ambat. Walaupun cukup lama bermukim di Dolok Pusuk Buhit, barang pusaka yang dicari itu tetap tidak diketemukan. Sori Mangaraja kemudian melanjutkan perjalanannya ke Uluan dengan tujuan yang sama. Di tempat ini, dia juga tinggal cukup lama dan berhasil lagi  mempersunting seorang puteri  yang memberinya seorang anak yang diberi nama Rasa. Setelah gagal dengan segala upayanya, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Balige, tempat isterinya yang pertama menunggu. Kedua anaknya dari dua isterinya yang terakhir ini dibesarkan di tempat keluarga masing-masing isterinya tersebut, Ambat di Pangururan, Samosir, dan Rasa di Uluan.

Pada suatu hari, sewaktu menanam pohon beringin, dia diberi kabar bahwa isterinya telah melahirkan seorang anak. Anak yang lahir ini diberi nama Suan, yang diambil dari kegiatan pada saat dia menanam pohon (suan berarti tanam). Jadi, ada tiga anak Tuan Sori Mangaraja. Anak pertama dari isteri kedua, Nai Ambaton, bernama Ambat. Anak kedua dari isteri ketiga, Nai Rasaon, bernama Rasa. Anak ketiga dari isteri pertama, Nai Suanon, bernama Suan.

Setelah dewasa, ketiganya dikumpulkan di Balige. Kepada ketiga anaknya, Tuan Sori Mangaraja tetap menekankan bahwa mereka adalah keturunan “raja” dan, untuk membuktikan hal itu, benda-benda pusaka tersebut harus dicari sampai dapat. Karena merasa sebagai seorang keturunan raja, Tuan Sori Mangaraja merasa dirinya berhak untuk mengangkat anak-anaknya sebagai yang “dipertuan” di wilayah mereka masing-masing. Anak pertama, Ambat, keturunan Nai Ambaton, diberi gelar Tuan Sorba Dijulu, dengan wilayah yang berpusat di Pangururan. Anak kedua, Rasa, keturunan Nai Rasaon, diberi gelar Tuan Sorba Dijae, dengan wilayah yang berpusat di Patane, Porsea. Anak ketiga, Suan, keturunan Nai Suanon, diberi gelar Tuan Sorba Dibona atau Tuan Sorba Dibanua di wilayah Balige.

PERANG ACEH

Filed under: Pemikiran — rajabatak2 @ 6:57 am
Tags: , ,

Dapat dikatakan bahwa perang antara Aceh dan Batak menjadi awal penyebaran suku Batak menjadi beberapa kelompok yang kemudian terbentuk menjadi  puak-puak tersendiri. Dari uraian berikut dapat dipastikan bahwa suku Batak semula bermukim di Barus. Sebagian di antaranya pernah ditempatkan sebagai pasukan di Singkil, Aceh. Namun, serangan Aceh memaksa kelompok ini untuk melarikan diri dari Singkil dan Barus. Mereka mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan diri ke daerah-daerah di pedalaman. Karena tujuan untuk menyelamatkan diri, mereka menjadi terpecah belah dalam berbagai rombongan. Ada yang lari ke pedalaman hutan (pedalaman Aceh) ada  yang melarikan diri hingga dataran tinggi (Tanah Karo)   dan ada pula setelah tiba di sebuah dataran lalu turun ke sebuah jurang yang dalam.

Rombongan Pertama

Perang melawan Aceh sungguh merupakan suatu perang yang sangat tidak seimbang. Aceh maju ke medan perang dengan bantuan armada dan sejumlah pasukan dari Turki yang sudah terkenal keberaniannya. Kala itu, hampir seluruh negara Arab dan sebagian Afrika telah berada di bawah kaki Turki. Uji-coba kehebatan armada dan pasukan Turki ini pertama kali dilakukan waktu menyerang Singkil. Setelah membombardir Singkil dengan meriam, pasukan di daratkan. Setelah pasukan turun, seluruh bala tentara perang, langsung melakukan pembersihan.

Pasukan Sori Mangaraja yang ditempatkan di Singkil tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka hanya bersenjatakan lembing dan golok. Dapat diduga, walaupun pasukan Batak melancarkan perlawanan dengan mati-matian, hampir seluruhnya mati terbunuh. Hanya sedikit di antaranya sempat menyelematkan diri. Sebagian melarikan diri ke tengah kegelapan hutan dan sebagian lagi melarikan diri dengan mengikuti jalur sungai, lalu memanjat gunung. Sisa-sisa pasukan inilah yang kemudian dikenal dengan orang Gayo dan Alas sekarang. Mereka inilah yang merupakan rombongan pertama suku Batak yang terbentuk.

Rombongan Kedua

Pertempuran di Barus pun berlangsung dengan sangat sengit. Perang ini dimulai dengan memborbardir pelabuhan Barus oleh pasukan Aceh hingga kota pelabuhan tersebut hancur berantakan. Pertempuran bersosoh pun            dimulai begitu pasukan penyerang melakukan pendaratan. Pedang melawan golok, dengan diselingi lemparan-lemparan tombak. Rakyat begitu ketakutan sehingga banyak di antaranya melarikan diri. Mereka terutama adalah para pedagang dan bangsawan India dan rakyat kebanyakan. Mereka melarikan diri dan bersembunyi di dalam hutan.

Setelah melihat kenyataan bahwa pasukan Raja Batak sudah takluk dan sebagian sudah ditawan, rakyat kebanyakan dan bangsawan Tamil tersebut menarik diri makin jauh ke pedalaman dengan menyusuri sungai-sungai hingga ke hulu dan memanjat tebing-tebing yang tinggi. Perjalanan makin dirasakan sulit karena bersama mereka turut sejumlah wanita, orang-orang tua dan anak-anak. Mereka akhirnya tiba di suatu dataran yang sekarang dikenal dengan nama Dataran Tinggi Karo. Mereka inilah yang kemudian hari dikenal sebagai leluhur Puak Karo dan Puak Pakpak. Keturunan para bangsawan ini dikenal dengan marga Sembiring Brahmana, Sembiring Meliala dan Colia. Sebagai kenangan bahwa mereka pernah berdiam di Barus, salah satu kelompok marga di Karo juga menamakan diri sebagai marga Barus dan turunan para bangsawan India  memakai nama marga,  Sembiring Brahmana. Dalam hidup sehari-hari banyak kebiasaan Hindu kuno yang sampai sekarang masih di pegang oleh orang Karo, seperti mar pangir ku lau, satu kebiasaan Hindu membersihkan diri di sungai Gangga.

Rombongan Ketiga

Rombongan ketiga adalah cucu Raja Sori Mangaraja III yang bernama Sumba dan ibunya Nai Sumbaon. Dengan dikawal oleh Tatea Bulan bersama sejumlah pasukan, mereka berupaya untuk menyelamatkan diri dari serangan pasukan Aceh di Barus dengan melewati kegelapan hutan. Sang ibu dan anak kecil tersebut berada di atas kuda dan begitu pula Tatea Bulan diatas kuda yang lain. Bersama mereka turut pula dibawa barang-barang pusaka kerajaan, berupa satu keris piso gaja dompak, tombak sitonggo mual, mahkota (ikat kepala) sende huliman, ulos tumtuman sutora malam, dan tikar berlapis tujuh (kaomasan) sebagai tempat duduk raja. Mereka juga membawa sejumlah perbekalan.

Jalur yang mereka tempuh berbeda dari jalur yang ditempuh oleh rombongan kedua. Apabila rombongan pelarian yang kedua menyelamatkan diri dengan melewati Sungai Simpang Kiri, rombongan ketiga menjauh dari Barus ke pedalaman dengan melewati Sungai Simpang Kanan. Selepas melewati sungai ini, mereka kemudian pergi menuju Dolok Pinapan, lalu masuk ke hutan yang gelap. Para pengawal berjalan di depan untuk merambah jalan.

Setelah melalui perjalanan panjang, rombongan tersebut tiba di suatu dataran yang sekarang kita kenal dengan Tele. Disebuah dataran yang sedikit lapang, mereka pun berhenti. Setelah yakin bahwa mereka sudah berada     cukup jauh dari musuh, Tatea Bulan memerintahkan pasukan membongkar seluruh perbekalan. Mereka memutuskan untuk beristirahat guna     memulihkan tenaga karena, dalam perjalanan yang begitu jauh, baru kali ini mereka berhenti. Dalam istirahat tersebut, Tatea berpikir keras: Apakah    mereka harus melanjutkan perjalanan atau tinggal menetap di tempat itu?

 Sementara rombongan beristirahat, Tatea mengadakan peninjauan lapangan. Dia pun naik ke bukit dan dari atas dia melihat suatu hamparan air yang begitu indah. Dia teringat dengan Barus yang merupakan tempat      mereka bermukim sebelumnya. Bersama dua orang pengawalnya, mereka menuruni bukit yang terjal sampai akhirnya mereka tiba di pinggir sebuah danau. Dia melihat tempat tersebut masih kosong tanpa penghuni. Topografi wilayah ini sangat mendukung  dan aman untuk dihuni karena tidak ada      jalan untuk keluar atau masuk kecuali yang telah mereka lalui. Karenanya apabila ada pendatang baru, walaupun kemungkinannya sangat kecil, pasti dapat diketahui sedini mungkin. Di tempat ini juga ada hamparan tanah datar  di sebuah lembah, yang dapat diolah menjadi persawahan. Air mengalir dari puncak gunung tanpa habis-habisnya sehingga, apabila diolah, tanahnya akan menjadi lahan pertanian yang subur. Tentang persawahan ini, sering kita   dengar pameo: Juma ni Limbong na dua hali marporiama, artinya  sawah di Limbong begitu subur, sehingga dapat dua kali panen dalam satu musim tanam. Juga tempat ini terletak tidak begitu jauh dari perairan Danau Toba yang akan dapat menjadi sumber makanan nabati yang tiada putusnya.                Berdasarkan pertimbangan inilah Tatea akhirnya memutuskan untuk tinggal di tempat itu.

Tatea Bulan kembali ke tempat rombongan,  setelah hampir menjelang tengah malam. Rombongan sempat merasa khawatir,  sesuatu telah terjadi terhadap Tatea dan dua pengawalnya. Mereka kemudian mendengarkan hasil peninjauan Tatea dan keinginannya agar mereka pergi menuju tempat yang telah dia pilih sebagai tempat untuk bermukim. Pagi harinya, mereka pun berangkat. Mereka berjalan  hati-hati karena di sebelah  terdapat jurang-      jurang yang menganga. Setelah tiba di tempat yang dituju, Tatea berkata:   “Inilah akhir perjalanan kita. Di sinilah kita menetap untuk selamanya dan mendirikan perkampungan. Inilah asal-usul mengapa kampung itu diberi    nama Sianjur Mula-mula. Keturunan merekalah yang kemudian dikenal    sebagai Puak Toba.

Dan sejak mereka bermukim disana, inilah untuk pertama sekali geliat manusia ada disana sejak letusan gunung Api Toba,   jutaan  tahun yang lalu. Letusan gunung api, yang dikategorikan sebagai letusan gunung api terkuat dan terdahsyat di dunia, berkekuatan 8 skala VEI, sepuluh kali lebih dahsyat dari letusan gunung Krakatau yang hanya 7 skala VEI,  mengeluarkan    material mencapai 2.800 kilometer kubik; 2000 km kubik permukaan bumi yang terangkat dan 800 km kubik hancur jadi abu.  Diteliti oleh sebuah team dari 6 universitas dari 4 negara yaitu Univeristas Cambridge dan Universitas Readning dari Inggeris, Institut Smithsonian dari Amerika Serikat, Universitas Karnatak dari India, Universitas Queensland dan Universitas Wollongong dari Australia, sejauh mana pengaruh letusan gunung ini merubah iklim dunia. Dapat dimaklumi, jika  selama jutaan tahun gunung api ini tidak dihuni oleh manusia  dan para pelarian dari Barus inilah yang kemudian menjadi manusia pertama, yang menjadi penghuni di pinggir kawah bekas letusan gunung api ini. ( Lihat juga; NATIONAL GEOGRAPHICSPECIALDOOMSDAY VOLCANO).

Kembali pada para pelarian. Apabila tahun kejadian ini dihubungkan dengan keberadaan bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1511 dan juga dengan sundut (generasi) marga Limbong dan Sagala yang sekarang ada Sianjur Mula-mula, tidak salah apabila kehadiran orang Batak di sana baru berkisar lebih-kurang 500 tahun. Kelompok yang pertama kali bermukim di sana ialah Tatea Bulan bersama seorang ibu yang bernama Nai Sumbaon dengan anaknya yang masih kecil yang bernama Sumba. Mereka inilah yang kemudian menjadi leluhur marga-marga Batak Toba yang kemudian beroecah menjadi Batak Toba dan Batak Mandailing/ Angkola.

« Previous PageNext Page »

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.